
“Tapi sayangnya aku tidak punya banyak waktu lagi, tim raid itu akan segera masuk ke dalam Dungeon ini.” Pikir Anna.
Jadi dia bertanya pada Orc.
“Berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk membawa semua batu sihir itu?”
“S-setengah hari, Dewi Agung.” Sahut Orc bertubuh kekar.
Anna menggelengkan kepalanya. Sepertinya dia harus melewatkan kesempatan untuk mendapatkan kristal sihir ‘gratis’ itu untuk saat ini.
“Aku tidak punya banyak waktu. Akan ada pemburu yang akan tiba di tempat ini nanti. Aku harus pergi sebelum mereka tiba.” Ucap Anna yang juga ingin mengingatkan mereka bahwa ada tim raid yang nanti pasti akan memburu mereka.
Ketiga Orc yang sedang berlutut, saling bertukar pandang. Wajah dua Orc lain tampak pucat mengingat mereka telah kehilangan pasukan.
Anna dapat melihat ketakutan di wajah dua Orc yang telah kehilangan pasukan mereka.
Dia memiliki sedikit penyesalan, karena dia-lah yang ‘bertanggung jawab’ atas musnahnya pasukan kedua Orc itu.
Anna berbicara kembali.
“Aku akan membantu kalian untuk pergi dari tempat ini.” Ucap Anna yang kemudian melompat turun dari singgasana.
Sementara itu, ketiga Orc kembali bertatapan karena tidak mengerti maksud perkataan gadis itu. Mereka menyangka akan dibawa menuju gerbang.
Tanpa memperdulikan raut wajah bingung ketiga Orc, Anna berjalan menjauh dari mereka. Setelah berada sekitar 10 langkah dari ketiga Orc yang sedang memperhatikannya, Anna mengangkat tangan kanannya lalu menggerakkannya membentuk sebuah lingkaran penuh di depannya.
Setelah gadis itu selesai membuat lingkaran dengan gerakan seperti melukis di udara, sebuah gerbang tanpa pelindung sihir, yang berdiameter 5 meter muncul di hadapannya.
Anna menoleh pada ketiga Orc yang kini sedang terpana dengan mata yang melebar dan mulut yang menganga karena tidak mempercayai apa yang mereka lihat dengan mata mereka.
Mereka memang tahu bahwa ‘seseorang sepertinya’ dapat menciptakan sebuah gerbang yang menghubungkan dua dunia seperti itu, namun ini adalah pertama kalinya mereka melihatnya secara langsung. Dan juga, dia membuatnya tanpa menggunakan pilar sihir.
“Kalian bisa bersembunyi disana.” Ucap Anna. Gadis itu kemudian menatap Orc bertubuh kekar yang masih memiliki pasukan bersamanya. “Bawa juga pasukanmu.”
Secara hampir bersamaan, ketiga Orc kembali berlutut dengan dahi mereka menyentuh tanah.
“Terima kasih Dewi Agung!” seru ketiganya secara bersamaan.
•••
Anna memperhatikan dunia ciptaannya itu. Dia telah mempelajari cara menciptakan sebuah dunia dari petunjuk yang didapatkannya saat masih berada di planet asing.
Yang harus dilakukannya hanyalah membayangkan tempat seperti apa yang diinginkannya sambil melukis sebuah lingkaran penuh di udara dengan jarinya, maka dia dapat menciptakannya. Sesederhana itu.
Walaupun Anna belum pernah mencobanya, ternyata ia telah berhasil menciptakan dunia yang sama persis seperti apa yang dibayangkannya.
Tentu saja, dunia ciptaannya itu adalah sebuah pulau yang berada di tengah samudera luas, mirip seperti tempat tinggalnya selama 15.000 tahun. Hanya tempat seperti itulah yang bisa gadis itu bayangkan tadi.
Saat semua Orc telah melewati gerbang dan pindah ke dunia ciptaan Anna, ketiga Orc berpangkat panglima menghampiri gadis itu.
“Terima kasih Dewi Agung!” ucap ketiganya secara bersamaan.
Untuk pertama kalinya Anna tersenyum pada mereka. “Aku akan meninggalkan kalian disini untuk sementara waktu. Aku akan kembali lagi nanti.”
“Tempat ini luar biasa, kita akan mengalami penuaan jauh lebih lambat di bandingkan di dunia kita.” Ucap Orc Penyihir sambil menunjuk pada gelang di tangan kirinya.
Dua Orc di dekatnya ikut menatap pada gelang yang tampak terbuat dari kayu tersebut dan tampak cengiran di wajah mereka yang menampakkan taring-taring di dua sudut bibir mereka.
Anna tampak tertarik dengan apa yang baru saja Orc Penyihir katakan. Gadis itu kemudian pergi mendekati Orc tersebut dan terbang melayang di hadapannya untuk ikut melihat ke arah gelang.
“Apa maksudmu?” tanya Anna saat dia hanya melihat kelap-kelip cahaya kecil pada gelang kayu itu dan tidak mengerti artinya.
“Waktu yang berjalan di tempat ini seratus berbanding satu dengan waktu yang berjalan di tempat kami.” Jawab Orc masih dengan cengiran di wajahnya.
__ADS_1
“Maksudmu?”
“Seratus hari di tempat ini, sama dengan satu hari di dunia kami. Usia kami hanya mengikuti usia di dunia asal kami yang artinya kami dapat hidup jauh lebih lama di tempat ini.” Ucap Orc Penyihir menjelaskan.
“A-apa?” Anna Lloyd menatap wajah Orc Penyihir lekat-lekat sebelum akhirnya menatap kembali pada gelang, berusaha untuk mempelajari kelap-kelip di gelang itu yang berpindah dari satu titik ke titik lain. Namun tetap saja dia tidak mengerti sama sekali.
Anna kembali menatap Orc Penyihir. “Jadi maksudmu satu hari di tempat tadi, sama dengan seratus hari disini?”
“Ya, Dewi Agung. Begitu juga dengan dunia para pemburu itu. Menurut Dewa Agung, waktu yang berjalan di dunia kami dan dunia para pemburu adalah sepuluh berbanding satu.” Ucap Orc Penyihir menjelaskan dengan penuh semangat.
Anna mengedip-ngedipkan kedua matanya berusaha mencerna ucapan Orc Penyihir. Beberapa saat kemudian, dia tersenyum. “Kalau begitu, bukankah kami masih punya waktu untuk mengumpulkan kristal sihir?” pikir Anna.
Tahu bahwa waktu yang berjalan di tempat itu lebih cepat dibandingkan di Dungeon tadi, Anna memerintahkan semua Orc untuk kembali ke tempat mereka sebelumnya. Dan saat mereka kembali ke sana, disana sudah malam hari.
“Ini benar-benar seperti apa yang dia katakan.” Gumam Anna sambil menatap keadaan di dalam Dungeon.
“Kalau sepuluh banding satu, harusnya kami masih punya waktu.” Pikir Anna.
Gadis itu kemudian pergi ke bagian depan ketiga Orc dan pasukan Orc yang berdiri berbaris di belakang ketiga panglima Orc.
Walaupun mereka tidak mengerti mengapa mereka tiba-tiba diminta untuk kembali, namun karena mereka takut pada Anna, mereka hanya bisa menuruti perintah gadis itu dan diam untuk menunggu perintah selanjutnya.
“Kumpulkan semua kristal... maksud ku batu-batu sihir, dan pindahkan kesana.” Ucap Anna dengan suara nyaring dan kemudian menunjuk ke arah gerbang dunia ciptaannya. “Lakukan sekarang dengan cepat sebelum pemburu-pemburu itu datang.” Tambahnya.
“Baik, Dewi Agung!” sahut semua Orc serempak dan mereka langsung pergi ke tempat kristal-kristal sihir berada.
Anna masih berada disana untuk menunggu mereka bekerja sampai tengah malam tiba.
Dengan kedua mata yang berbinar dan senyum bahagia di bibirnya, Anna menatap tumpukan kristal sihir yang menggunung di hadapannya. Dia kemudian memperhatikan Orc yang bekerja memindahkan kristal-kristal sihir itu ke dunia ciptaannya.
Saat Orc Penyihir lewat didepannya setelah kembali dari mengantarkan kristal sihir ke dunia buatan Anna, Anna memanggilnya.
“Ya, Dewi Agung?” Orc Penyihir berjongkok di depan Anna dengan satu lututnya menopang tubuhnya di tanah.
“Ya, Dewi Agung.”
“Apakah tempat ini sebenarnya sangat luas?”
“Ya, Dewi Agung.”
Anna diam sebentar. Dia mencoba untuk merasakan energi sihir di dalam Dungeon itu kembali, tapi dia tidak menemukan adanya monster lain disana.
“Mungkin aku tidak bisa mencapai monster yang lain” pikirnya.
“Apakah teman-temanmu yang lain berada di lokasi yang sangat jauh?”
Orc Penyihir diam.
“Maksudku, selain dari pasukanmu dan dua teman mu tadi, apakah pasukan lain berada di tempat yang sangat jauh?”
Orc Penyihir masih diam, tapi kali ini dia sedikit melirik pada Anna. Dia merasa ada yang aneh dengan pertanyaan itu.
“Kau tidak ingin menjawabnya?”
“T-tidak, maksud hamba… kami dalam zona perang, Dewi Agung.”
“Zona perang?”
“Ya. Wilayah kekuasaan kami sedang diisolasi dalam zona perang.”
Anna berpikir lagi untuk mencerna maksud perkataan Orc Penyihir.
“Maksudmu, ada seseorang yang mengisolasi kalian?”
__ADS_1
“Ya, Dewi Agung.”
“Siapa dia?”
Orc Penyihir kembali melirik pada Anna sebelum memberikan jawabannya.
“Dewa Agung.”
Anna tidak melanjutkan pertanyaannya. Dia tidak terlalu terkejut dengan jawaban itu. Mereka telah memanggilnya sebagai Dewi Agung, itu berarti ada seseorang yang juga memiliki kekuatan seperti dirinya.
Dia menebak-nebak, mungkin itu adalah makhluk yang sama seperti yang membuatnya terisolasi di planet asing.
Anna ingin melanjutkan pertanyaannya, namun dia melihat Orc lain sudah hampir menyelesaikan pekerjaan mereka. Dan lagi dia sudah hampir tidak memiliki waktu lagi untuk berlama-lama di tempat itu.
Anna memandang seluruh Dungeon sekali lagi. Kali ini, dia berusaha merekam pemandangan di tempat itu sedetail mungkin. Dia bermaksud untuk kembali lagi ke tempat ini suatu hari nanti untuk mencoba melakukan suatu hal yang dipikirnya mungkin bisa memberikan jawaban bagaimana cara ‘Dewa Agung’ itu mengisolasi para Orc di tempat ini.
Tapi, Orc Penyihir sepertinya dapat membaca apa yang Anna pikirkan. Dia berkata.
"Dewa Agung membuat pilar sihir sebelum mengisolasi kami."
Anna kembali menatap pada Orc Penyihir, namun dia tetap diam. Dia tau apa yang Orc Penyihir maksudkan. Itu adalah pilar sihir yang berada di suatu tempat di dalam Dungeon dan berfungsi untuk membuat penghalang gerbang sementara, agar para monster tidak bisa langsung keluar menuju dunia manusia.
Dan tim raid, biasanya akan menghancurkan pilar sihir itu setelah 'membersihkan' isi Dungeon. Dungeon akan tertutup 1 hari setelah pilar sihir tersebut dihancurkan.
Itu adalah pengetahuan umum dari Dungeon yang pernah Anna dengar dari cerita-cerita keluarganya.
Tapi itu dari sisi manusia, dia belum mengetahui kegunaan pilar sihir dari sisi monster.
"Jadi, apa fungsi pilar sihir itu?" Tanya Anna pada Orc Penyihir.
"Pilar sihir dibuat untuk mengisolasi kami dari dunia kami dan dunia para pemburu. Tapi sihir penahan gerbang untuk pergi ke dunia para pemburu akan menghilang setelah beberapa waktu."
Saat Orc Penyihir tidak melanjutkan kalimatnya, Anna menyuruhnya untuk melanjutkan.
"Lalu?"
"Jika gerbang ke dunia para pemburu sudah terbuka, maka ruang terisolasi juga akan terbuka. Maka, seluruh bangsa kami akan bersatu untuk menaklukkan dunia para pemburu."
Anna mengangguk. Dia sudah dapat sedikit menebak tentang apa yang Orc Penyihir ceritakan.
Di dunia manusia, saat itu adalah saat dimana Dungeon Break terjadi. Saat semua monster keluar dari dalam gerbang dan memburu manusia.
"Lalu apa tujuan Dewa itu membuat hal-hal ini?"
Orc Penyihir menundukkan kepalanya lebih dalam. "Hamba hanya mengetahui tentang hal itu, Dewi Agung."
Anna mendengus.
'Jadi aku harus menemukan si pembuat pilar sihir untuk mengetahui apa tujuannya membuat Dungeon ini dan gerbang-gerbangnya.' Anna menyimpulkan.
•••
Saat semua kristal sihir telah dipindahkan, Anna memanggil dua panglima Orc lainnya yang langsung datang padanya dan berlutut di hadapannya.
Anna kemudian berbicara pada ketiga panglima Orc.
“Kalian tinggalah dulu di sana untuk sementara waktu dan jaga batu-batu sihir itu sampai aku kembali nanti. Dan hiduplah secara rukun. Mengerti?” Ucap Anna sambil menatap ketiga Orc itu secara bergantian.
Setelah mendapatkan jawaban dari ketiga Orc, Anna menyuruh mereka untuk masuk kedalam gerbang.
“Aku akan menutup gerbangnya.” Ucap Anna yang kemudian disusul dengan gerakan tangannya melukis di udara dengan arah kebalikan dari yang dilakukannya saat membuka gerbang.
“Aku akan kembali nanti, jadi sampai bertemu lagi.” Ucap Anna sesaat sebelum gerbang tersebut menghilang di hadapan ketiga Orc yang menatap bingung padanya.
__ADS_1
•••••••