Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 141 - Pertarungan Anna


__ADS_3

Setelah Anna tiba di luar pelindung sihir Tzaca, monster-monster langsung menyerangnya. Namun, kecepatan datangnya serangan monster jauh lebih lambat dari pada kecepatan Anna menyerang monster-monster tersebut.


Crakkk… Crakkk… Crakkk… Crakkk…


Anna memukul dua kepala monster tiap kali tombak di tangannya mengayun. Anna melakukannya dengan berlompatan ke sana ke mari, menghampiri tiap monster untuk melakukan aksinya.


Tombak itu berpindah dari tangan kiri ke tangan kanannya selama beberapa kali, tergantung pada lebih dekat mana monster dengan salah satu sisi tangannya.


Hanya dalam sekejap mata, seluruh monster berkulit merah muda yang berada di sekeliling sihir pelindung Tzaca tewas.


°°°


"D-dia menghabisi monster level SS semudah ini...?"


“Bagaimana caranya dia bergerak secepat itu?”


“A-aku tidak tahu, aku bahkan tidak bisa melihatnya bergerak selain hanya melihat kepala monster yang pecah.”


Ucap Hunter-hunter yang berada di sekitar Gina.


Gina sendiri terkagum-kagum dengan kecepatan bergerak Anna. Gina sudah lama tidak melihat Anna bertarung, karena belakangan ini Anna hanya menonton mereka melakukan raid ilegal tanpa pernah ikut campur lagi.


“Jangankan mereka. Bahkan setelah aku berada di peringkat SS, aku masih tidak bisa mengikuti kecepatan gerakannya walaupun sudah berusaha mengikuti dengan menggunakan energi sihir yang ku fokuskan di kedua mata ku.” Pikir Gina, mengagumi kelincahan dan kecepatan Anna.


°°°


Tiga monster yang menunggangi Ty-Rex sudah berada dekat ke gerbang.


Pada saat itulah, sosok seseorang membuat pemimpin monster menghentikan laju lari tunggangan mereka.


Merasa terkejut dengan kemunculan makhluk di hadapan mereka, tiga monster yang marah segera memacu kembali Ty-Rex yang mereka tunggangi dan pergi menyerbu Anna.


Tanpa menunggu ketiganya mendekat, Anna langsung berteleportasi ke hadapan monster yang berada di sisi kanan dan kiri pemimpinnya.


Syuuttt… Crakkkkk… Crakkkk…


Begitu Anna muncul di atas kedua monster, ia langsung menghempaskan tombaknya dan menghancurkan kepala monster dan Ty-Rex sekaligus hanya dalam 1 kali serangan.


Melihat dua pengawalnya mati hanya dalam satu kali serangan, pemimpin monster kembali menghentikan laju lari tunggangannya.


Monster itu menatap pada keempat mayat tanpa kepala di tanah, lalu melihat ke sekitarnya, mencari pelaku penyerangan.


“Apa yang kau cari? Aku ada di sini,” ucap Anna, dari arah depan Ty-Rex yang di tunggangi monster.


“K-kau bisa berbicara dengan bahasa kami?” tanya monster dengan wajah bingung.


Anna mengernyitkan kedua alisnya.


“Hei, bukannya manusia yang berada di balik gerbang hitam itu juga bisa berbicara dengan bahasa mu? Kenapa kau tampak kaget saat aku juga bisa melakukannya?”


”Kau... berani-beraninya mengatakan mereka manusia seperti…,” monster menghentikan kalimatnya.


Sayang sekali ia terlambat mengenali siapa lawan yang harus dihadapinya ini. Saat ia mengenalinya, kedua matanya melebar dan tubuhnya langsung gemetar ketakutan.


“D-dia Ann Arnix…,” pikir monster. “Tapi kenapa rambutnya berwarna hitam dan matanya berwarna biru?”

__ADS_1


Anna memaksakan senyumnya saat melihat perubahan raut wajah pada monster. Ia menebak, sepertinya monster tersebut telah mengenalinya. Tepatnya, ia menebak bahwa monster menyangkanya adalah si pemilik tubuh yang ia gunakan sekarang.


“Kau sudah mengenali siapa aku dan masih berani melawan ku?”


Mendengar apa yang baru Anna katakan, tubuh monster gemetar semakin hebat. Tentu saja, dalam mimpi pun ia tidak akan pernah berani bertarung dengan musuh utama bangsanya itu, walaupun ia diberikan 10.000 pasukan untuk membantunya.


Namun, monster tersebut tentu saja lebih takut jika harus mengkhianati sumpah yang menjadi dasar hukum bangsanya.


Bangsa mereka akan selamanya berperang dengan bangsa makhluk di hadapannya ini.


Mengingat sumpah tersebut, monster berkulit tubuh merah darah, mencabut pedang di pinggangnya lalu mengacungkannya pada Anna yang berdiri tegap di bawah sana.


"Tsk... Sepertinya akan membuang waktu saja jika aku harus mengorek keterangan darinya," gumam Anna, kesal. "Lebih baik aku segera menghabisinya dan pergi ke dalam gerbang di atas sana."


Anna mengangkat kembali tombak di tangannya lalu menyilangkan tombak tersebut di depan dadanya, bertepatan dengan monster yang baru saja menghunuskan pedang dan mengarahkan pada dirinya.


Dengan menekan rasa takutnya, monster berteriak. "Kami..."


Stab...!!!


Monster itu tiba-tiba kehilangan suara hanya sedetik setelah ia membuka mulutnya.


"Apa yang terjadi?! Argghh... leherku...," batin monster, yang tiba-tiba tak bisa mengeluarkan suaranya lagi dan merasa sakit pada lehernya.


Crakkk!!!


Monster kehilangan nyawa saat tombak yang tadinya berada di udara, jauh di atas kepalanya, meluncur tepat dan menghancurkan kepala makhluk tersebut.


Mata tombak menusuk bagian atas kepala monster hingga tembus ke tubuh Ty-rex dan terus tembus hingga tombak tersebut masuk lebih dari separuhnya ke tanah bebatuan.


°°°


Setelah ia tiba di bawah tubuh Ty-Rex yang lawannya tunggangi, ia melemparkan tombaknya ke dagu Ty-Rex hingga melesat menembus kepala Ty-Rex dan kerongkongan monster yang duduk di atasnya.


Saat tombak terbang jauh ke langit, Anna menarik kembali tombak tersebut dengan sihirnya.


Tombak itu akhirnya memutar kembali menuju kepala monster dan menembusnya hingga berhenti saat tertancap di tanah berbatu.


°°°


Anna mengibaskan tangannya untuk menyingkirkan mayat Ty-Rex beserta penunggangnya, saat kedua tubuh tersebut akan jatuh menimpanya.


Kedua tubuh yang sudah tak bernyawa itu melayang jauh sampai menghantam bukit karang di kejauhan lalu pecah seketika.


•••


Glup...


Semua orang dan makhluk yang melihat bagaimana cara Anna mengalahkan lawan tanpa memberinya kesempatan untuk menyerang, hanya bisa menelan ludah mereka.


Mereka, terutama kawanan Anna yang memiliki energi Mana besar, tahu bahwa monster berkulit tubuh merah darah itu memiliki energi Mana yang sangat besar hingga membuat mereka berpikir dua kali jika harus bertarung melawannya.


"Seberapa besar kekuatannya?"


Kira-kira pertanyaan itulah yang muncul di benak semua orang dan makhluk yang melihat kejadian itu.

__ADS_1


°°°


Anna menarik tombak yang tertancap di tanah kemudian ia berjalan beberapa langkah dan memungut pedang panjang berbahan tulang yang tadinya merupakan senjata milik pemimpin monster Dungeon.


Saat Anna baru hendak menegakkan tubuhnya, sehabis membungkuk untuk mengambil pedang, ia merasakan adanya serangan datang dari arah belakangnya.


Serangan itu mengandung energi Mana yang sangat besar dan juga memiliki kecepatan yang jarang dia temui setelah ia memiliki kekuatannya saat ini.


Bannnngggg!!!


Ledakan besar terjadi di tempat Anna berdiri tadi.


Ledakan tersebut bahkan membuat seluruh area dalam radius 50 meter dari tempat Anna berdiri hancur, meninggalkan debu tebal yang membumbung tinggi di udara.


Bahkan, energi sihir yang ditinggalkan dari serangan itu membuat semua makhluk yang berada dalam radius 100 meter dari pusat ledakan dapat merasakan tekanan sihirnya.


"Kekeke... Aku hanya menguji mu. Memang sangat aneh Ann Arnix memiliki warna rambut hitam dan bola mata biru. Tapi, kau tidak akan bisa menghindari serangan ku tadi jika kau bukanlah dia," ucap seseorang yang sedang melayang-layang di udara dan kini berhadapan-hadapan dengan Anna.


Anna tidak menanggapi ucapan makhluk di hadapannya, yang berwujud manusia sama seperti dirinya.


Anna hanya diam, menatap tajam nakhluk tersebut, yang memiliki kekuatan sihir sangat besar, sama seperti tiga makhluk yang pernah ia temui.


Namun yang membuat Anna terkejut, makhluk di hadapannya ini bukanlah salah satu dari mereka bertiga.


Makhluk itu menatap lurus pada kedua senjata yang berada di kedua tangan Anna seraya melengkungkan kedua alisnya.


"Tapi..., kemana senjata mu? Kenapa kau membawa dua benda tak berguna itu?" tanya makhluk itu pada Anna.


Mendapat pertanyaan tersebut, Anna melemparkan pedang milik monster berkulit tubuh merah darah tadi dengan kecepatan yang sangat tinggi pada makhluk di hadapannya, walaupun serangan itu ia lakukan tanpa menggunakan energi Mana sama sekali.


Teppp...


Makhluk itu dengan mudah menangkap ujung pedang, saat sudah berjarak beberapa jari dari tenggorokannya.


Anna kemudian melemparkan tombaknya, namun tidak mengarahkannya pada makhluk dihadapannya.


Tombak itu melesat jauh lalu menancap tepat di depan seorang Hunter, yang merupakan pemilik tombak tersebut.


Anna sengaja 'membuang' semua senjata yang ia miliki, karena ia tahu senjata-senjata itu tidak akan berguna untuk menghadapi makhluk di hadapannya.


"Hahaha... Kenapa kau malah membuangnya ke arah ku?"


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Anna pada makhluk itu, tanpa memerdulikan pertanyaannya.


Makhluk itu diam. Ia kini terlihat sedang menatap Anna dengan tatapan penuh selidik.


"Pertanyaan itu harusnya aku lah yang menanyakannya. Siapa kau? Ann Arnix tidak pernah mau menyentuh senjata lain, selain miliknya," ucapnya, yang kemudian menatap lurus pada kedua mata Anna, "Rambut, juga kedua bola mata mu itu..., kalian berwajah sama tapi dengan warna rambut dan bola mata berbeda. Dan setelah ku dengar-dengar, kau juga memiliki suara yang berbeda."


"Tidak sopan bertanya balik saat seseorang bertanya terlebih dulu pada mu. Kau jawab pertanyaan ku itu." Sahut Anna.


Makhluk itu tertawa sampai agak lama.


Setelah ia puas tertawa, ia kembali menatap Anna dengan wajah serius.


"Ternyata kau benar-benar bukan dia. Hampir saja aku tertipu," ucapnya, yang kemudian menyeringai lebar. "Jika kau bukan dia, maka tidak ada yang ku takutkan dari mu. Mari kita coba dulu sehebat apa diri mu, sebelum kau ku beri tahu siapa diri ku." Ucap makhluk itu dengan nada suara dingin dan tatapan mata menghina.

__ADS_1


•••


__ADS_2