
Di sisi lain, 4 Hunter yang menyaksikan pertarungan antara Raja Orc dan sosok berkostum beruang merasakan dampak dari pertarungan tersebut.
Terutama Gina dan Jester yang berperingkat lebih rendah dari dua Hunter lainnya.
Mereka sudah mulai merasakan sesak nafas saat Raja Orc berteriak pada pasukan Orc yang tampak ingin pergi meninggalkan area pertarungan.
Dampak sihir yang lebih parah mereka rasakan saat Raja Orc menggunakan skill menjijikannya, lendir beracun.
Kedua Healer itu bahkan harus menggunakan buff kesehatan untuk menjaga agar diri mereka tidak mengalami luka dalam.
Namun, saat ledakan yang di hasilkan dari benturan dua bola skill Raja Orc yang telah di ambil alih oleh sosok berkostum beruang tersebar ke seluruh penjuru area dan juga tempat mereka berada, keempat Hunter yang sebenarnya selalu waspada itu merasakan bahwa mereka akan segera mengalami celaka.
Kejadiannya berlangsung begitu cepat hingga Wang Zhu Ming dan Ronald Stewart pun tak terpikir untuk melarikan diri dari sana.
Namun anehnya, mereka sama sekali tidak merasakan dampak ledakan energi sihir tersebut.
“A-apa ini…?”
Ronald Stewart adalah orang pertama yang menyadari adanya gelembung aneh yang mengelilingi area tempat mereka berada.
Gelembung yang berkilauan dengan warna keemasan itulah yang telah melindungi mereka hingga tidak terkena dampak ledakan energi sihir.
Mereka bahkan tidak merasakan gelombang sihir apapun lagi saat ini.
‘Perasaan hangat ini…’
Gina yang sudah merasa familiar dengan aura nyaman ini, menatap pada hujan debu di hadapannya, yang dihasilkan oleh ledakan energi sihir tadi.
Walaupun dia tidak bisa melihat sosok berkostum beruang karena debu yang beterbangan menutupi seluruh area, namun ia tahu sosok itu berada di dalam sana.
Namun, debu-debu yang mengepul di udara itu tiba-tiba menghilang bersama hembusan angin yang tiba-tiba menyisir seluruh area.
Wushhhhhhhhh...
Di hadapan mereka, tampak kawah besar dengan dua makhluk yang saling berhapan di dalamnya.
Kedua matanya Gina bergetar saat menatap lekat-lekat salah satu sosok yang berada di sana. Sosok dengan kostum beruang.
“Anna…,” gumamnya dengan suara yang hampir tak terdengar. “Itu pasti dia.” Ucap Gina dalam hatinya.
Saat dia akhirnya menyadari siapa orang yang berada di dalam kostum beruang itu, rasa khawatirnya menjadi bertambah kuat.
°°°
Raja Orc yang terluka parah akibat skill nya sendiri, yang telah dikembalikan padanya, terbatuk-batuk seraya meludahkan beberapa teguk darah hitam dari mulutnya.
Walaupun pandangannya terhalang kabut debu, ia dapat menebak jika makhluk yang membuatnya terluka parah itu juga pasti sedang terluka parah sama sepertinya.
“Serangan yang tidak diperhitungkan secara matang.” Pikir Raja Orc.
Namun tak lama kemudian, kabut debu itu menghilang terbawa angin yang datang entah dari mana.
Di hadapannya, sosok lawannya melayang-layang di udara dan tampak baik-baik saja.
Makhluk itu tampak sedang melakukan gerakan mengipas dengan salah satu tangannya.
Saat itulah Raja Orc menyadari bahwa hembusan angin tadi, pasti berasal darinya.
Hanya setelah melihat lawannya tidak terluka sama sekali, Raja Orc kini menatap makhluk di hadapannya itu dengan perasaan takut.
Dia kini sudah cidera parah, sedangkan musuhnya tampak baik-baik saja.
Ia tadi melihat datangnya dua gumpalan yang adalah skill nya yang telah di ambil alih dan menangkisnya dengan kedua tangannya. Karena itulah, kini kedua tangannya terluka parah hingga tak bisa lagi ia gerakkan.
Ledakan sihir itu benar-benar sangat mengerikan hingga menyisakan kawah yang sangat besar disana.
Hanya karena ia memiliki ketahanan yang sangat kuat, tubuh Raja Orc tidak ikut meledak. Namun, ia terluka parah.
Raja Orc berusaha bangkit berdiri dengan kedua kakinya yang gemetar, namun ia kini sudah kehilangan semua kekuatannya akibat menahan ledakan tadi.
Ia pun akhirnya jatuh dengan kedua tempurung lututnya menghantam tanah.
Raja Orc menoleh ke sekelilingnya untuk melihat dampak yang diakibatkan oleh ledakan tadi.
Ia mengira pasti hanya dirinya dan lawan tangguhnya itu saja yang berhasil selamat dari ledakan itu.
Namun, ketika ia melihat pasukan Orc yang berada di kejauhan itu baik-baik saja, kedua kelopak matanya bergetar.
Di sekeliling pasukan Orc itu tampak gelembung cahaya keemasan yang sepertinya telah melindungi mereka dari ledakan energi sihir.
Saat Raja Orc telah selesai mengamati situasinya. Makhluk berkulit kendor itu tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Kau sudah melihat sendiri, kan? Aku tadi tidak sedang mengada-ada saat memperingatkan mu." Anna mengatakannya sambil menatap tajam pada Raja Orc.
Raja Orc terkejut saat melihat lawannya muncul tiba-tiba di hadapannya. Dengan refleks, ia mundur beberapa langkah dengan kedua lututnya yang gemetar akibat cidera dan rasa takut yang kini menghinggapinya.
“Aku hanya ingin menunjukkan pada mu bahwa mereka baik-baik saja, agar kau tidak mati penasaran. Karena itulah aku tadi tidak langsung membunuh mu. Selamat tinggal.”
Banggggg!!!
__ADS_1
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Anna menghempaskan telapak tangannya ke dahi Raja Orc, tanpa menunggu tanggapan monster itu pada kata-katanya.
Kepala Raja Orc meledak.
Tubuh Raja Orc yang telah kehilangan kepalanya itu, mengejang selama beberapa detik sebelum akhirnya jatuh dan tidak bergerak lagi.
Setelah Raja Orc tewas, Anna menoleh pada dua pengawal Raja Orc yang masih berpelukan dan menatapnya dengan takut.
Karena mereka berada tak jauh dari area pertarungan sebelum terjadinya ledakan energi sihir, maka mereka juga berada di dalam kawah, sama seperti pasukan Orc yang masih hidup.
Anna juga melindungi mereka berdua dengan sihirnya hingga mereka tidak terkena dampak ledakan.
Bahkan, selain pasukan Orc dan 4 Hunter yang berada di atas sana, di pinggiran kawah, Anna juga melindungi semua mayat High Orc agar tidak meledak terkena dampak ledakan energi sihir tadi.
“Masih mau menyerang ku?” tanya Anna pada dua High Orc yang saling berpelukan itu.
Dengan cepat, keduanya menggelengkan kepala.
Anna tersenyum senang melihat jawaban itu. Dia memang menginginkan dua High Orc itu menjadi pengikutnya dan memang tidak menginginkan Raja Orc yang tampak menjijikkan baginya untuk jadi pengikutnya.
Jadi, Anna sengaja menunjukkan pertarungan tadi untuk menggertak kedua High Orc. Jika tidak, sejak awal dia bisa saja membunuh Raja Orc dengan mudah.
“Kalian harus bangga karena aku membutuhkan sedikit usaha hanya untuk meyakinkan kalian.” Ucap Anna pada mereka.
Kedua High Orc hanya diam, tak mengerti arti perkataan makhluk itu.
Anna kemudian memanggil semua Orc yang masih diam membeku di tempat yang agak jauh darinya.
Mereka masih menatap Anna dengan perasaan takut bercampur takjub setelah tadi menyaksikan betapa mudahnya dia membunuh raja mereka yang sangat digdaya di mata bangsa Orc.
Tanpa keraguan lagi, semua Orc berlarian menghampiri Anna.
Saat mereka sudah berada di hadapan Anna, mereka semua berlutut.
“Dewa Agung!” ucap semua Orc secara bersamaan.
Anna : “…”
‘Cara berpikir mereka benar-benar sangat sederhana.’
“Kalian semua, bawa semua mayat-mayat bangsa kalian kembali ke dalam gerbang. Lakukan sekarang.” Perintah Anna.
Pasukan Orc tanpa banyak bertanya langsung pergi untuk menjalankan perintah.
Setelah mereka semua pergi, Anna menatap pada kedua High Orc.
“Kalian berdua, bawa mayat itu ke dalam gerbang.” Ucap Anna sambil menunjuk pada mayat Raja Orc.
Namun saat mereka hendak menyentuh tubuh Raja Orc, Anna menghentikannya.
"Tunggu dulu."
Kedua High Orc berhenti dan menoleh pada Anna. Mereka kemudian saling bertatapan karena tidak mendengar perintah lanjutan darinya.
Tapi, tak lama kemudian, mereka akhirnya mengerti mengapa Anna menghentikan mereka.
Mereka melihat asap berwarna hijau kehitaman menguap dari rubuh Raja Orc.
Asap itu kemudian berkumpul menjadi satu dan membeku dengan bentuk bola, sebesar kepalan tangan manusia.
Bola itu kemudian terbang dan mendarat di tangan Anna.
'Racun ini mungkin akan berguna suatu hari nanti.'
"Sekarang, bawalah mayatnya kembali ke dalam gerbang." Perintah Anna sekali lagi.
Mereka berdua mengangguk lalu menggotong tubuh besar Raja Orc pergi menuju gerbang Dungeon.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya di situ, Anna akhirnya pergi menemui 4 Hunter yang menyaksikan dengan seksama apa yang terjadi dari atas kawah.
°°°
Wang Zhu Ming dan Ronald Stewart langsung mengangkat senjata mereka saat melihat sosok berkostum beruang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
Saat sosok berkostum beruang itu mengangkat salah satu tangannya, kedua Hunter itu bersiap dalam posisi bertahan.
Mereka tahu, jika mereka menyerang secara gegabah, maka nasib mereka akan sama persis seperti monster yang kepalanya baru saja diledakkan tadi.
Jester Bailey bahkan sudah mengirimkan buff pertahanan pada mereka semua. Namun, skill nya itu tiba-tiba menguap begitu saja.
Terkejut dengan fenomena itu, Jester mencobanya beberapa kali lagi, namun tetap berakhir sama.
Dia pun akhirnya sadar bahwa skill nya sepertinya tidak berfungsi karena mereka saat ini masih berada di dalam cahaya emas yang mengelilingi area sekitar mereka berada.
Hanya satu diantara mereka yang tampaknya mengerti arti uluran tangan itu.
Tanpa keraguan, Gina Stewart melangkahkan kakinya dan berjalan menghampiri sosok berkostum beruang itu.
Ronald terkejut dan hendak menghalangi putrinya itu, namun menghentikan niatnya saat melihat Gina menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Aku akan baik-baik saja,” ucap Gina pelan sambil menatap ayahnya.
Gina kemudian menaruh tangannya pada telapak tangan yang terulur dihadapannya.
Saat kedua tangan mereka sudah bersentuhan, tubuh mereka, bersama dengan gelembung keemasan yang sejak tadi mengelilingi para Hunter itu tiba-tiba lenyap bak ditelan udara.
Ketiga Hunter yang masih berada di sana terkejut dan menoleh ke sekitarnya mencari-cari kemana perginya mereka.
°°°
Anna dan Gina muncul kembali tepat di depan gerbang, hingga membuat beberapa Orc yang kebetulan melintas disana terkejut sampai-sampai menjatuhkan mayat yang sedang mereka gotong.
Saat melihat siapa yang baru saja mengagetkan mereka, Orc-orc itu tidak berani melakukan protes dan akhirnya kembali melanjutkan pekerjaan yang telah di embankan pada mereka.
Gina menatap sosok berkostum beruang itu dengan tatapan sayu. “K-kau…”
Sebelum Gina menyelesaikan kalimatnya, Anna menariknya masuk ke dalam gerbang.
Setelah berada di dalam gerbang, Anna melepaskan resleting kostum, yang sebenarnya adalah sarung boneka, lalu memberikannya pada Gina.
“Maaf karena aku memakainya tanpa izin mu.” Ucap Anna dengan wajahnya yang tampak menyesal.
Dengan gerakan pelan, Gina menerima kostum itu dari tangan Anna tanpa melihatnya. Pandangannya masih tertuju pada kedua mata Anna.
Banyak hal yang sebenarnya ingin dia tanyakan pada gadis itu. Mengenai bagaimana dia bisa sekuat itu, bagaimana dia bisa berbicara dalam bahasa Orc. Dan, yang terpenting, apakah dia sebenarnya berpihak pada umat manusia atau sebaliknya.
Namun, kata-kata yang ingin Gina ucapkan seakan tertahan di tenggorokannya dan tak bisa keluar dari mulutnya.
Anna mendesah pelan. Walaupun Gina tidak mengatakan apapun, dia dapat menebak apa yang sedang Gina pikirkan hanya dari sorot matanya.
“Aku akan menceritakannya nanti saat aku sudah kembali. Kau sebaiknya kembali keluar, mereka pasti mengkhawatirkan mu.”
Gina mengangguk pelan, lalu ia memerhatikan beberapa Orc yang lewat sambil mengangkat mayat rekan mereka.
“Aku akan menghancurkan pilar sihirnya. Katakan pada mereka agar tidak masuk kesini, karena gerbangnya akan segera tertutup.”
Gina mengangguk lagi, lalu menatap pakaian yang Anna kenakan.
“Kau tidak kedinginan? Kau bisa memakai ini.” Ucap Gina sambil menyerahkan kembali sarung boneka itu pada Anna, saat ia melihat Anna hanya mengenakan tanktop dan hotpants.
Anna tertawa kecil.
“Aku tidak apa-apa. Bawalah itu kembali.”
Gina akhirnya menyadari bahwa kekhawatirannya itu adalah hal yang tidak perlu. Bagaimana mungkin seorang yang bisa menghancurkan pasukan High Orc dengan mudah bisa merasa kedinginan?
"Jadi, kau membawa ku kesini hanya untuk memberikan ini pada ku?" tanya Gina sambil mengangkat kostum beruang ditangannya.
Anna tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak ingin kau menebak-nebak dan berpikir salah tentang ku."
Gina juga tersenyum pada Anna. Tatapan matanya membuat Anna merasakan perasaan hangat di hatinya.
"Aku akan selalu percaya pada mu." Ucap Gina pelan.
Gina akhirnya mengingat bahwa gerbang Dungeon ini harus segera di tutup sebelum hal buruk lain terjadi.
"Kalau begitu, aku akan keluar sekarang," ucap Gina, sambil menyerahkan kembali kostum beruang pada Anna. "Pakailah ini, mereka dari tadi menatap mu."
Anna mengikuti arah tatapan Gina yang tertuju pada Orc yang sedang berlalu-lalang, "Baiklah."
“Oh, satu hal lagi. Tolong jangan katakan apapun mengenai diri ku pada mereka,” pinta Anna.
Gina mengangguk. Dia teringat kembali saat hampir saja menceritakan keadaan Anna saat berada di ruang pertemuan, di kantor Asosiasi. Untung saja saat itu Steven menghentikannya dengan tanpa sengaja.
Namun saat Gina mengingat bahwa Anna sama sekali tidak berbicara dengan menggunakan bahasa manusia saat berada di luar gerbang tadi, Gina mengerutkan dahinya.
“Tadi… kau sengaja tidak berbicara dengan bahasa manusia?”
Anna mengangguk.
“Dan… kau bisa berbicara dalam bahasa mereka…,” ucap Gina sambil melirik pada beberapa Orc yang lewat.
Anna tersenyum.
“Biarlah mereka mengira aku juga bagian dari Orc." Ucap Anna, yang membuat mereka berdua akhirnya tertawa bersamaan.
“Kau bisa keluar sekarang. Aku akan menghancurkan pilar sihirnya.”
“Kau akan pulang, kan?”
“Tentu saja. Aku merindukan masakan mu.”
“Aku akan menunggu mu.”
Setelah menatap Anna selama beberapa saat lagi, Gina akhirnya berbalik dan pergi menuju gerbang.
Anna menatap punggung Gina, sambil mengenakan kembali kostum beruangnya.
__ADS_1
•••••••