
Setelah semua malaikat berkerumun di sekitar dinding belati yang Miyuki bentuk, Miyuki meneriakkan mantra sihirnya lagi.
"Sword of the Death, part 6... Gates of Death!"
Wusssshhh... Wushhhh... Wushhh...!!!
Tepat setelah sihirnya bekerja, Miyuki melenyapkan semua belati pelindung. Ia melompat dan menyambar tubuh Anna, dewa Ogun dan dewi Ezili, membawa mereka pergi jauh dari tempat itu.
°°°
Setelah dinding pelindung lenyap, serangan semua malaikat menembus udara, tertuju pada sosok yang baru saja Miyuki pindahkan dari tempat yang agak jauh, menuju kepungan para malaikat.
Baaaaaaaaaaaaaaaang...!!!
Ledakan besar terjadi setelah serangan serempak para malaikat terarah pada tubuh dewan Ra yang Miyuki pindahkan ke tempatnya tadi berdiri.
Ratusan pedang berkilauan tertancap di tubuh dewan Ra.
Hal itu membuat semua malaikat penyerangnya tertegun beberapa saat sebelum akhirnya sadar dan segera mencabut senjata mereka dari tubuh dewan Ra yang terluka parah akibat serangan para pengikutnya sendiri.
Serangan dari Miyuki tidak sampai di situ.
Miyuki memindahkan lagi tubuh dewan Ra ke hadapannya dengan sihir Gates of Death, lalu menikam dewan Ra dengan serangan sihir pembunuh yang ia miliki.
"Sword of the Death, part 2... Life-Destroying Blade!"
Wushhhh...
Gerakan ayunan wakizashi Miyuki sangat cepat. Ia mengarahkan senjatanya tepat ke jantung dewan Ra.
Tapi, dalam gerakan yang sangat cepat itu, Miyuki bisa melihat pergerakan jemari dewan Ra yang juga sangat cepat, mengarah ke jantungnya.
Merasa sudah terlambat untuk menghindari serangan lawan, Miyuki tetap meneruskan serangannya.
Tidak masalah jika aku mati asal dia juga mati bersama ku.
Itulah pikiran yang melintas cepat dalam benak Miyuki.
Mengorbankan diri untuk menghabisi musuh umat manusia, sangat sepadan untuk harga dari nyawanya.
Wushhhh...
•••
Miyuki mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, memerhatikan dinding transparan yang terbentuk dari cahaya keemasan yang kini menyelimuti tempat keberadaannya, di mana Anna, dewa Ogun dan dewi Ezili juga berada di sana.
__ADS_1
Miyuki akhirnya menoleh, menatap wanita berwajah karismatik yang sedang berjongkok sembari mengarahkan kedua telapak tangannya pada Anna.
"Rin?" gumam Miyuki, setelah melihat wanita cantik yang baru saja menariknya keluar dari ancaman maut.
"Maaf mengganggumu. Serangan itu tidak akan berhasil membunuhnya. Harusnya kau mengarahkan serangan ke otaknya, bukan jantungnya."
Miyuki terdiam, lalu berpaling, menatap dewan Ra yang telah di bawa pergi menjauh oleh para dewan pengawas lain.
"Siapa kau?" tanya Miyuki setelah berpaling lagi menatap wanita itu. Ia juga memerhatikan energi sihir yang wanita itu kirimkan pada Anna.
'Healing skill?'
"Aku Lyn Arnix."
Deg...
'Lyn Arnix? Dia... dewa tertinggi galaksi Milky Way, kan?'
"Kau benar."
"Huh?" Miyuki tersentak, menyadari jika dewi Lyn bisa membaca pikirannya. "Ah... Aku lupa. Kalau Anna saja bisa membaca pikiran, apalagi dia, kan?" pikir Miyuki.
"Maaf datang terlambat," ucap dewi Lyn, sembari membantu Anna bangkit berdiri.
"Syukurlah Anda datang sebelum kami mati," sahut Anna.
Anna benar-benar bersyukur karena dewi Lyn mau datang untuk menyelamatkannya alih-alih langsung mengakhiri kehidupan umat manusia untuk menyingkirkan semua pengganggu yang datang ke Bumi.
Anna juga sudah sangat bersyukur saat dulu tahu jika dewi Lyn mau mengulangi kehidupan sampai 7 kali padahal ia bisa menyerah saja pada kehidupan umat manusia.
•••
Di sisi lain, keluarga dewan pengawas para dewa menarik kembali pasukan malaikat yang sebelumnya hendak menyerang dewi Lyn.
Mereka khawatir jika mengganggu dewi penguasa pusaran putih itu, maka kakaknya akan datang menuntut balas.
"Apa yang kalian lakukan?! Kenapa menghentikan mereka menyerang?!" umpat dewan Ra, tidak suka dengan sikap pengecut anggota keluarganya.
"Dia Lyn Arnix! Kau berani mengganggunya? Kita sebaiknya mundur dulu!" umpat tetua keluarga dewan pengawas, membalas hardikan dewan Ra.
"Aku bisa mengalahkannya, kau pikir dia memiliki kekuatan yang cukup untuk bisa mengalahkanku?!"
"Ra! Kau mungkin bisa menghabisinya, tapi bagaimana kau bisa mengalahkan Ann?!"
"Pinjamkan kekuatan kalian padaku. Aku akan menghabisi Ann juga."
__ADS_1
"Ra! Kau tidak tahu apa yang sudah terjadi? Kau tidak sadar kenapa kami menyusulmu ke sini?"
Dewan Ra mengernyitkan dahi. Untuk pertama kalinya ia menyadari penatua keluarganya itu, juga anggota keluarga lain tampak sangat gelisah.
'Ku pikir-pikir, mereka sudah tampak gelisah sejak kedatangan mereka tadi. Tidak mungkin mereka gelisah karena kekuatan makhluk ciptaan yang mirip Ann itu, kan?'
Dewan Ra berusaha menenangkan diri.
Sambil menatap penuh selidik pada penatua, dewan Ra bertanya, "Apa ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuanku?"
Penatua keluarga menghela nafas panjang. Ia diam menatap dewan Ra beberapa saat sebelum akhirnya bercerita.
•••••••
Sebelum para keluarga dewan pengawas para dewa datang ke pusaran putih, di kuil suci dewan pengawas agung...
Keluarga besar dewan pengawas berkumpul di kuil suci, setelah mereka mengetahui rencana pembelotan dewan Ge, Ra dan Re dari hukum yang ditetapkan Absolut.
Ketiga dewan pengawas itu ingin membuat dunia mereka sendiri untuk menandingi Absolut yang mereka anggap tidak memerhatikan mereka lagi.
Kasih sayang Absolut pada keluarga dewa Arnix sangat tergambar jelas dan bisa mereka rasakan.
Keluarga dewa Arnix dinilai telah diberikan hak spesial untuk mendapatkan sihir terkuat milik Absolut, padahal mereka juga sangat menginginkannya.
Tidak senang dengan perlakuan Absolut yang mereka nilai tidak adil, dewan Ge, Ra dan Re pun menyusun rencana untuk menghancurkan keluarga dewa Arnix dan mereka hampir saja berhasil jika Anna tidak secara kebetulan selamat dari kematian dan mengacaukan rencana mereka.
Setelah semua rencana itu diketahui, keluarga dewan pengawas para dewa akhirnya berunding untuk menjatuhkan hukuman pada keluarga dewa Arnix dengan tuduhan jika mereka sudah mencampuri kehidupan para makhluk ciptaan di pusaran putih.
Dewi Ann dan dewi Lyn akhirnya datang memenuhi undangan dewan pengawas agung untuk memberikan pembelaan di dalam kuil suci yang kini berisi ribuan keluarga dewan pengawas.
•••
Dewi Lyn berjalan dengan tenang, berkeliling sambil memerhatikan wajah para dewan pengawas yang duduk di kursi berbentuk lingkaran itu sementara kakaknya, dewi Ann, tidak melakukan pergerakan apa pun.
Dewi Ann berdiri dengan tenang tepat di tengah-tengah kuil suci sambil terus menatap dewan pengawas agung yang duduk di singgasananya.
"Kau berani berjalan-jalan di hadapanku, Lyn!" Bentak dewan pengawas agung, tidak suka dengan apa yang sejak tadi dewi Lyn lakukan.
Biasanya, para dewa harus berlutut saat berada di kuil suci, namun dewi Lyn dan dewi Ann tidak melakukannya sama sekali sejak kedatangan mereka.
Dewi Lyn berpaling, menatap lurus pada dewan pengawas agung. Ia tersenyum sinis.
"Anda semua ingin menyergap kami di sini, kan? Kenapa kami harus berlutut di hadapan kalian yang sedang menunggu kesempatan untuk menyerang kami?"
"Kau berani berbicara kasar padaku?!"
__ADS_1
"Anda tahu kenapa kami masih diam padahal kami bisa saja langsung menyerang Anda semua?" dewi Lyn bertanya balik dengan mengabaikan hardikan dewan pengawas agung.
Cara bicara dan sikapnya sangat tenang. Padahal, ada ribuan dewan pengawas para dewa yang masing-masingnya memiliki kekuatan jauh di atasnya.