Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 211 - Dewan Pengawas Para Dewa


__ADS_3

Anna terkejut karena tiba-tiba saja merasakan kekuatan sangat besar yang membuat kedua kakinya tiba-tiba tertekuk hingga ia jatuh berlutut. Ia juga tidak bisa menggerakkan kedua kakinya lagi untuk bangkit berdiri melawan kekuatan tersebut.


Kekuatan itu bahkan membuat seluruh penduduk dunia atas dan dunia bawah, beserta para Orc dan Elf, pingsan seketika.


Saat itu, Anna merasakan kehadiran sebuah benda di atas kepala mereka. Sebuah bola kristal biru yang memiliki cahaya sangat terang, melayang-layang dengan gerakan yang sangat tenang dan lembut.


Benda itu, sebenarnya benda yang kehadirannya sudah di tunggu-tunggu dewa Igigi, hingga ia rela merendahkan diri di hadapan Anna agar Anna lengah sementara ia mengulur waktu.


Melihat kristal biru yang sudah hadir di tempat itu, dewa Igigi pun langsung menyembah bola kristal itu sembari membentur-benturkan kepalanya ke tanah.


Ia tahu apa arti dari kehadiran bola kristal tersebut, yang merupakan perantara dari titah para dewan pengawas para dewa yang akan segera memberitakan titah keputusan para dewan pengawas mengenai masalah yang terjadi di Nibiru.


"Jika mereka sudah mengirimkan perantara, berarti hukuman atas kejahatan yang di lakukan dewi Ann akan segera di putuskan."


Itulah yang berada di dalam pikiran dewa Igigi.


°°°


Melihat kesempatan itu, dewa Igigi berbicara sambil menangis dan memohon ampunan dan bantuan pada dewan pengawas para dewa.


"Yang maha tinggi dewan pengawas. Ampuni kelancangan hamba yang telah membuat malu para dewa dengan kehilangan para bawahan setia hamba beserta kedua tangan hamba," ucap dewa Igigi di tengah tangis pilunya. Ia kemudian melanjutkan, "Jika bukan karena dewi Ann yang telah melanggar aturan untuk tidak mencampuri urusan para makhluk ciptaan, sudah pasti hal memalukan seperti ini tidak akan pernah terjadi pada hamba."


Anna yang masih terkejut akibat merasakan kekuatan aneh yang mengekang kedua kakinya dan tidak bisa dilawannya sama-sekali, jauh lebih terkejut lagi saat melihat dan mendengar apa yang dewa Igigi lakukan dan katakan.


Dengan marah, Anna menyahuti apa yang baru saja dewa Igigi katakan. "Tunggu! Bukankah kau yang tiba-tiba datang dan menyerang ku? Aku juga sudah mengatakan pada mu bahwa aku bukan... Akkkhhh...!"


Anna tiba-tiba merasa tenggorokannya tercekik. Apa yang ingin dikatakannya terhenti dan ia tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi.


"Siapa yang menyuruh mu bicara?!"


Suara bentakan terdengar dari dalam bola kristal biru yang sedang melayang-layang di atas kepala mereka itu.


Seperti tidak ingin mendengar pembelaan diri Anna, kekuatan sihir yang berasal dari bola kristal itu kini mengekang seluruh tubuhnya, bahkan membuatnya tidak bisa berbicara sama sekali.


Kekuatan mutlak yang sangat berbeda dengan saat ia terbelenggu oleh bola metal dewa Igigi, terutama oleh cambuk kejut prajurit Anunnaki yang hanya bisa mencelakainya saat ia sedang lengah.


Jadi, Anna akhirnya diam dan hanya bisa menyimpan kekesalannya pada dewa Igigi di dalam hatinya saja.

__ADS_1


Sihir yang membelenggu itu membuatnya tidak bisa berbicara, juga membekukan seluruh tubuhnya dari batas dada hingga ke kakinya.


Namun demikian, Anna masih bisa menggerakkan lehernya. Ia kemudian menoleh pada dewa Igigi dan menatapnya dengan sangat marah.


Tapi, tak lama kemudian, Anna akhirnya merasa bahwa sihir pembelenggu yang menahan pita suaranya untuk berbicara akhirnya di lepaskan.


Berpikir bahwa mungkin saja dewan pengawas akan salah paham dan salah mengenali dirinya yang sedang berada di dalam tubuh dewi Ann, Anna berniat untuk berbicara lagi. Ia tahu bahwa mungkin saja dewan pengawas itu akan membuatnya tidak bisa berbicara lagi, namun ia harus mencobanya.


Saat Anna masih mempertimbangkan untuk memberitahukan hal itu, tiba-tiba, muncul dua sosok lain yang sudah dalam posisi berlutut saat kemunculan mereka di waktu yang bersamaan.


Wujud dua makhluk yang Anna perhatikan sebagai sosok pria dan wanita itu sangat mirip dengan rupa dewa Igigi. Tubuh mereka sehitam langit malam tanpa bintang.


Setelah keduanya menyapa utusan dewan pengawas para dewa yang berbentuk bola kristal biru, keduanya menoleh pada dewa Igigi dan menatapnya dengan sangat marah.


"Kau bodoh! Dia bukan dewi Ann!" Bentak sang pria, yang tak lain adalah dewa Anu, penanggung jawab galaksi dimana mereka saat ini berada.


"Apa?!"


Mendengar itu, dewa Igigi terkesiap. Ia pun menoleh dan menatap Anna dengan kedua mata yang melebar. Menatap ulang Anna, dari ujung kepala hingga ujung kaki nya.


"Dia bukan dewi Ann, anak ku," sahut dewi Ki dengan suara lembut. "Kami tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi dewi Ann sedang dalam misi yang dewan pengawas berikan pada keluarga Arnix. Dengan menempatkan jiwa makhluk ciptaan di dalam tubuhnya, itu mungkin bagian dari misi yang dewi Ann jalankan," tambah dewi Ki, dengan cara bicaranya yang sangat halus dan sabar, walaupun ia tahu telah di hadapkan dengan hukuman atas masalah yang putranya ciptakan.


"A-apa...?" mendengar itu, dewa Igigi menoleh sekali lagi pada Anna dan menatapnya dengan marah.


Anna yang di berikan tatapan seperti itu, menatapnya balik dengan tatapan dan raut wajah mengejek.


'Syukurlah ada orang lain yang menjelaskannya mendahului ku.'


°°°


"Igigi!"


Suara yang baru saja berbicara, menggelegar seperti guntur yang secara tiba-tiba terdengar tanpa adanya hujan di siang bolong. Itu adalah suara dari salah satu dewan pengawas yang berbicara dengan perantaraan bola kristal biru di atas kepala mereka.


Mendengar suara yang penuh wibawa itu, dewa Igigi langsung gemetar dan kembali membungkuk hingga dahinya menyentuh tanah.


Hal serupa juga di lakukan oleh dewa Anu dan dewi Ki.

__ADS_1


Dewan pengawas para dewa kembali berbicara,


"Kau dengan bodohnya tidak bisa membedakan dewa dari makhluk ciptaan. Dan kau ingin menularkan kebodohan mu itu pada dewan pengawas?!" Ucap dewan pengawas, dengan suara yang menggelegar.


Mendengar itu, Anna menarik nafas lega. "Jadi dia sudah tahu," pikir Anna, yang akhirnya bisa merasa sedikit tenang.


Dewan pengawas kembali berbicara, dengan suara menggelegar yang sama. "Dengan pelanggaran yang Igigi lakukan, kami akan mengirimkan para dewa untuk membinasakan keluarga ini."


Mendengar titah itu, tentu saja ketiga dewa yang dimaksud gemetar di saat yang bersamaan.


"Tapi, karena Ann juga melakukan kesalahan karena telah menggunakan jiwa makhluk ciptaan tanpa seijin Lyn, maka seluruh dewan pengawas memberikan keringanan pada keluarga Anu,"


"Kami hanya akan mengirimkan Ann untuk menghukum kalian. Tapi, karena Ann juga melakukan kesalahan, maka kalian diizinkan untuk melawannya dengan kekuatan penuh,"


"Jika kalian bisa mengalahkan Ann dan membinasakannya, maka kejahatan yang Igigi lakukan akan di ampuni!"


Anna dapat melihat reaksi ketiga dewa yang sedang berlutut di sampingnya. Mereka tampak sangat terkejut namun terlihat senang di saat yang hampir bersamaan. Anna bahkan melihat ada sedikit senyuman di sudut bibir mereka.


Anna berpikir, tampaknya hukuman tersebut justru sangat menguntungkan bagi keluarga dewa Anu.


Belum lagi ketika sebuah cahaya biru yang berasal dari bola kristal tiba-tiba saja menyinari kedua pangkal lengan dewa Igigi yang baru saja terputus.


Setelah terkena cahaya biru tersebut, kedua tangan dewa Igigi yang tadi terputus telah tersambung kembali. Begitu pula dengan luka tusukan pedang di dadanya yang tiba-tiba saja menutup kembali setelah cahaya biru melewatinya.


"Terima kasih atas titah dewan pengawas. Kami akan menjalani hukuman dengan hati lapang!" Sahut dewa Anu sembari menyembah pada kristal biru lebih dalam, sampai menimbulkan bekas kepalanya pada tanah yang berada di bawah dahinya.


Setelah mengucapkan titah, Anna mendengar lagi suara dewan pengawas dari kristal biru itu memanggil sosok yang membuatnya penasaran, namun juga membuatnya bingung.


"Ann Arnix, datanglah ke Nibiru untuk melakukan eksekusi pada keluarga Anu," perintah dewan pengawas, yang tentu saja membuat Anna bingung dan sedikit takut.


Anna berpikir, jika dewi Ann di panggil, mungkin saja kesadarannya akan hilang lagi dan ia akan kembali merasa seperti berada di dalam balok es seperti yang pernah ia rasakan dulu setelah melakukan perjalanan antar galaksi.


'Ini gila, kenapa masalah yang menimpa ku tidak habis-habis?!'


Namun, saat Anna masih khawatir memikirkan hal itu, di hadapan mereka, muncullah sebuah balok es besar dengan tubuh seorang wanita yang membeku di dalamnya.


•••

__ADS_1


__ADS_2