Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 231 - Penyesalan


__ADS_3

Anna memejamkan kedua matanya.


Fokusnya bukan pada serangan jarak jauh dan prajurit yang sudah datang mendekat itu, melainkan pada perasaan dalam hati yang sangat mengganggu pikirannya.


Sebenarnya, ia merasa sedikit tidak nyaman saat membunuh makhluk-makhluk yang wujudnya sangat mirip dengan manusia itu.


'Rasanya seperti membantai manusia di Bumi saja.'


Tapi, Anna tidak memiliki pilihan lain, selain menghabisi mereka. Mengalah dan pergi bukanlah pilihan yang akan ia ambil dalam sebuah pertempuran seperti ini.


Anna pun mulai mengamuk. Menghabisi seluruh pasukan kerajaan yang mengandalkan serangan jarak dekat itu.


Tombak di tangannya berputar, menebas, menusuk dan menghancurkan seluruh prajurit disekitarnya.


Selain kuda-kuda yang sama sekali tidak disentuhnya, tak ada satupun prajurit di sekitarnya yang bisa selamat dari tombak Igigi di tangannya.


•••


Saat sudah lebih dari 7.000 prajurit mati, yang tersisa kini hanyalah para prajurit yang terdiri dari para prajurit baru dan prajurit yang mentalnya telah runtuh.


Melihat kebrutalan dan kesadisan lawannya, mereka akhirnya memilih untuk memutarkan kuda dan melarikan diri.


"Jika kita memaksakan diri, kita semua mungkin akan mati! Ayo kembali dulu dan laporkan ini pada panglima besar!" teriak salah satu prajurit, memberikan saran pada rekan-rekannya.


Mendengar akhirnya ada yang berani bersuara dan mengajak untuk melarikan diri, para prajurit yang memang sangat ingin pergi dari tempat berbahaya itu, langsung memutar balik kuda mereka dan kabur bersama-sama.


"Kau benar! Ayo kita laporkan dulu pada panglima besar!"


Tapi, Anna yang sudah kehilangan kendali pada dirinya, tidak membiarkan mereka lari begitu saja. Ia mengejar pasukan itu tepat di belakang mereka dan terus menghabisi para prajurit yang bisa dikejarnya dengan kecepatan kuda yang ia tunggangi.


"Sudah terlambat untuk lari!" teriak Anna dengan sangat lantang, sembari menebaskan tombaknya kesana kemari.


Melihat bagian ekor pasukan sedang di habisi dengan sangat brutal, para prajurit yang berada di barisan depan, memacu kudanya semakin kencang.


Wajah mereka putih pucat. Selama hidup mereka, baru kali ini mereka melihat seseorang dengan kekuatan mengerikan seperti itu.


Di kemudian hari, akan beredar rumor bahwa mereka pernah melihat sosok demigod yang paling mengerikan dari yang pernah ada.


•••

__ADS_1


Anna terus mengejar mereka sampai di pertengahan wilayah antara kerajaan Eclovar dan hutan milik suku Trovan.


Ia baru berhenti setelah merasa bahwa kuda yang ia tunggangi sudah kelelahan. Lagi pula, prajurit yang melarikan diri itu hanya tersisa seribuan orang saja.


Anna meninggalkan kuda itu dan pergi kembali ke wilayah Trovan dengan melakukan perjalanan udara.


Dari atas, ia melihat ribuan mayat yang baru saja dihabisinya bergelimpangan di sepanjang jalan menuju hutan suku Trovan.


Anna tiba-tiba merasa sedikit menyesal dan sedih karenanya.


Tentu saja, selain rupa mereka yang sangat mirip dengan manusia, Anna baru terpikir, mungkin di antara para mayat itu, ada keluarga mereka yang sudah menantikan kepulangannya. Bisa saja mereka adalah seorang ayah, atau anak yang bekerja demi menghidupi keluarga.


"Sialan. Ada apa dengan ku tadi?" Anna tiba-tiba merasa sangat bersalah.


Ia pun turun di antara tumpukan mayat itu, menatap mereka satu per satu dan menangis di sana.


"Maafkan aku..."


•••


Anna baru kembali lagi ke hutan suku Trovan dua hari kemudian hanya untuk menjemput dewi Ezili dan dewa Ogun. Ia berencana untuk mengajak mereka pergi mencari keberadaan dewi Lyn setelah itu.


Anna baru kembali ke hutan itu setelah menyesali perbuatannya sehabis membantai para prajurit yang mungkin hanya ada di sana demi memenuhi pekerjaan atas bayaran mereka.


Anna juga membuatkan batu nisan untuk semua prajurit tersebut dari batu-batu sungai dan menggantungkan plat nama mereka di atasnya.


°°°


Sesampainya di hutan, Anna langsung pergi ke tempat berkumpulnya para Werewolf dan manusia setengah monyet.


Melihat makhluk sadis itu kembali hadir di tengah-tengah mereka, kepala suku yang saat pertama kali Anna di tangkap telah mengacuhkannya, kini menyapanya terlebih dahulu dan menyambut kedatangannya dengan sangat ramah.


"Anda sudah kembali? Apa Anda ingin menjemput hewan peliharaan Anda?"


Anna tidak menanggapi sapaan dan pertanyaan kepala suku bangsa Werewolf. Dengan tatapan sedihnya, Anna hanya mengangguk pelan pada serigala tua itu setelah diam mematung cukup lama.


Melihat ekspresi sedih dari makhluk yang sebelumnya mereka bicarakan dengan ketakutan selama dua hari berturut-turut itu, semua warga yang berada di sana tentu saja bingung.


Mereka mengira Anna akan kembali dengan mengancam dan mungkin juga akan langsung membunuh mereka yang sudah memenjarakannya tanpa tahu seberbahaya apa dia. Namun, apa yang mereka lihat dari ekspresinya, nyatanya sangat berbeda.

__ADS_1


Ia sama sekali berbeda dengan makhluk yang mengamuk dua hari yang lalu. Wajahnya tampak tanpa semangat dan bersedih.


Pada saat itu, Lorelei yang sudah mereka bebaskan dari sel tahanan, datang mendekat.


"Ikutlah dengan ku...," ucap Lorelei pelan.


Anna memaksakan senyumnya dan mengangguk.


Keduanya akhirnya pergi menuju rumah pohon yang kepala suku sediakan untuk Lorelei dan dua hewan peliharaan Anna.


°°°


"Apa dia sedih setelah membunuh para prajurit itu?" tanya seorang Werewolf pada temannya.


"Mungkin. Sudah ku bilang kan, tim pengintai melihatnya mengangkut semua mayat dan menguburkannya di tempat yang agak jauh dan sepi."


"Aneh. Apa kau pernah melihat seseorang pembantai sadis yang langsung menyesali perbuatannya hanya sesaat setelah ia membantai orang banyak?"


•••


Lorelei mengajak Anna duduk di beranda rumah pohon yang berada sangat tinggi dari permukaan tanah.


Dari tempat itu, mereka dapat melihat pemandangan hutan dan perbukitan yang berada di sisi utara wilayah suku Trovan.


Pemandangan yang bisa mereka lihat dari sana benar-benar sangat indah.


"Kau bisa duduk di sini untuk menenangkan hati mu," ucap Lorelei pelan, sembari mengusap-usap punggung tangan Anna.


Ia melihat kuku-kuku jari tangan gadis itu masih hitam. Wajahnya yang cantik juga tampak baru di bersihkan seadanya saja, hanya untuk menyingkirkan debu dan lumpur dari mata, hidung dan mulutnya.


"Kau merasa seperti membunuh bangsa mu sendiri, kan?" ucap Lorelei. Ia bisa menebak apa yang sedang Anna rasakan.


Walaupun tidak menyahuti ucapan Lorelei, Anna menoleh padanya dan menatapnya dengan tatapan sayu.


"Kau harus terbiasa. Kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin saja kau akan bertempur melawan iblis-iblis dari dimensi lain. Mereka juga berwujud manusia, sama seperti mu."


"Karena itu juga aku membiarkan mu," tambah dewa Ogun, yang sejak tadi juga berada di ruangan itu, namun Anna mengacuhkannya.


Anna diam agak lama, memikirkan apa yang mereka katakan, sebelum akhirnya berbicara.

__ADS_1


"Sebenarnya aku tidak mengerti. Kenapa dewi Ann tidak mengatakan pada para dewan pengawas saja bahwa portal sihir yang dewi Lyn lalui telah di belokkan? Bukankah dengan begitu mereka akan membantu mencarinya juga?"


"Keluarga Arnix akan dimusnahkan dewan pengawas jika itu terjadi," sahut dewi Ezili.


__ADS_2