
Maxim menatap kedua orang yang baru saja keluar dari gang gelap dengan kewaspadaan penuh.
Dia terus memerhatikan keduanya dengan menatap lekat-lekat wajah mereka untuk mengingat apakah ia pernah melihat kedua orang itu sebelumnya, atau setidaknya salah satu dari mereka. Namun, dia sama sekali tidak mengingat pernah melihat wajah mereka dimanapun sebelumnya.
Di antara kedua orang itu, Maxim hanya menatap sebentar pada gadis imut yang berjalan di samping lelaki muda yang ia tebak masih di kisaran usia awal dua puluhan.
Tentu saja, Maxim lebih mengawasi si pria, karena dialah orang yang ia rasakan memiliki energi sihir yang sangat besar yang Maxim tahu berada paling tidak di sekitaran peringkat S.
°°°
Sementara itu, Rudyard Lau benar-benar terdiam saat mengenali salah satu dari dua orang yang baru saja mencul dari gang gelap tersebut.
Malahan, dia sudah sangat mengenal orang itu dengan baik.
Bahkan, dia sendirilah yang terakhir kali meninggalkan orang itu dalam keadaan sekarat di sebuah bangunan tua yang berada tak jauh dari tempat mereka saat ini berada.
Rudyard yang saat itu tak tega membunuhnya tahu, bahwa Bimo akan mati hanya dalam beberapa menit setelah dia meninggalkannya.
“Bimo?!” Seru Rudyard akhirnya.
Walaupun yakin dengan pengelihatannya saat ini, namun dia juga yakin Bimo saat itu pasti sudah tewas.
Bimo Gandri hanya melirik sebentar pada Rudyard Lau.
Setelah dia akhirnya terbangun kembali dari tidur panjangnya, dia memang mengingat kejadian-kejadian yang menimpanya. Bimo tahu, pria paruh baya itu terlibat juga dalam konspirasi usaha pembunuhan terhadap dirinya.
Berawal dari Cassey yang menyerang dan menyiksanya dengan brutal, lalu tubuhnya di seret dan dipindahkan ke sebuah bangunan tua.
Dalam keadaannya yang sekarat, dia juga mengingat Rudyard Lau meninggalkannya sendirian dengan keadaan hampir mati disana.
Untung saja pada saat dia benar-benar dalam keadaan lemah, Miyuki datang menolongnya.
Bimo tidak ingat lagi bagaimana Miyuki menyelamatkannya, karena dia langsung kehilangan kesadaran saat wajah Miyuki yang kabur, muncul di hadapannya.
Bimo tidak menggubris pria paruh baya itu. Dia terus berjalan melewatinya, menuju kafe dan memeluk salah seorang gadis remaja yang tadinya menatap dirinya dengan air mata yang berlinang di pipinya.
“Kakak…”
Yola memeluk erat saudaranya.
Kedua bersaudara itu hanya saling berpelukan dan menangis lama, tanpa berbicara sepatah katapun.
Saat menjelang kematiannya dulu, wajah terakhir yang Bimo ingat hanyalah wajah adik semata wayangnya itu, Yola Silvia. Sampai-sampai pada saat itu dia mengira Yola lah yang telah muncul dihadapannya sebelum kematiannya.
Dia agak menyesal karena sebelumnya tidak menyempatkan diri untuk pulang ke rumah mengunjungi adik semata wayangnya itu.
°°°
Rudyard Lau masih terdiam di tempatnya dengan tubuh yang gemetar dan kedua matanya yang terus menatap Bimo dengan rasa tidak percaya.
Dia kini tahu bahwa Hunter yang sejak sebelum kemunculannya sudah menyebarkan aura mengerikan itu ternyata adalah Bimo Gandri, Hunter lemah yang bahkan lebih lemah dibandingkan Anna yang sebenarnya memiliki peringkat yang sama dengan pria tersebut.
“B-bagaimana bisa dia masih hidup dan meningkatkan energi Mana nya sampai sedemikian besar?” Rudyard menggumam dalam kebingungannya.
°°°
Di seberang jalan, Maxim yang sebelumnya gemetar ketakutan saat melihat kemunculan Bimo, kini tersadar.
Dengan cepat dia berusaha menarik keempat pengikutnya yang melayang tinggi di atas tubuhnya.
Namun, walaupun Maxim menarik mereka sekuat tenaga, bahkan sudah menggunakan energi sihirnya juga, dia sama sekali tidak bisa menurunkan keempat pengikutnya tersebut. Malahan, pria itu sampai bergelantungan dengan memegangi kaki para pengikutnya saat mengupayakan menarik mereka agar jatuh kembali ke tanah.
“Sial, apa yang sebenarnya terjadi? Kekuatan apa yang menyebabkan mereka terbelenggu dan terbang seperti ini?” pikir Maxim sambil terus berusaha menarik mereka.
Saat usahanya sia-sia, Maxim akhirnya menyerah.
Dengan tatapan bersalah pada keempat pengikutnya, Maxim akhirnya melepaskan mereka untuk segera melarikan diri dari tempat itu.
Ini mungkin satu-satunya kesempatan yang dimilikinya, saat Hunter berbahaya, yang mungkin akan segera menyergapnya itu kini sedang lengah.
__ADS_1
Maxim memang tidak mengenal siapa Hunter peringkat S yang baru saja muncul dan belum tahu seberapa kuat dia.
Namun, dia benar-benar tahu, berurusan dengan seorang berperingkat S, sama artinya dengan bunuh diri.
°°°
Anna menepuk pelan pundak Bimo, lalu berbicara pada pria itu.
“Bisa kau selesaikan urusan mu nanti?” tanya Anna seraya menatap wajah Bimo yang berlinang air mata.
Tersadar oleh tepukan Anna di pundaknya, Bimo segera melepaskan pelukannya dari adiknya.
Setelah mengusap wajahnya yang basah oleh air mata, dia akhirnya menatap Anna.
Saat pandangan mereka bertemu, kedua mata Bimo menatap sedih pada Anna. Ia teringat kembali rekaman CCTV yang Miyuki tunjukan padanya, dimana di sana ia melihat Cassey yang menyiksa Anna dengan brutal, sama seperti Cassey juga menyiksa dirinya.
Bahkan, akhir dari video itu membuatnya hampir saja menghancurkan monitor yang berada di hadapannya, sebelum Miyuki akhirnya menghentikan niatnya.
"Tsk... Jangan menatap ku seperti itu," ucap Anna, membuyarkan ingatan Bimo. "Ada hal yang harus kau lakukan sekarang."
“Apa yang harus saya lakukan, nona Anna?”
Anna menunjuk pada Maxim, yang sudah mulai berlari pergi dan hendak melarikan diri.
“Jangan biarkan orang itu lolos.”
Bimo menoleh dan menatap pada Maxim yang sudah lari menjauh, lalu melihat beberapa orang yang sedang melayang-layang di udara.
Ini adalah pertama kali Bimo memerhatikan mereka, karena sebelumnya ia fokus menatap adiknya yang hanpir saja ia tinggalkan sebatang kara di dunia yang kacau ini.
Bimo agak tertarik dengan pemandangan orang-orang yang sedang melayang tanpa sebab itu. Dia juga tidak merasakan ada energi sihir yang membuat mereka dalam keadaan itu.
"Kau mau melamun berapa lama?" tanya Anna yang berhasil mengejutkan Bimo yang tampak melamun.
"M-maaf... Saya akan membawanya kembali." Ucap Bimo.
Setelah memberikan jawaban pada Anna, Bimo langsung berlari cepat untuk mengejar Maxim yang sudah menghilang di balik gedung.
Bimo melemparkan tubuh Maxim dengan kasar ke hadapan Rudyard Lau yang langsung menatap wajah Maxim yang babak belur itu dengan ketakutan.
“Tuan Lau, lama tidak bertemu.” Sapa Bimo akhirnya, setelah tadi dia mengacuhkan pelayan dengan kedudukan tertinggi di keluarga Lloyd tersebut.
Sama dengan Anna, sebenarnya Bimo juga merasa tidak nyaman untuk menyerang pria paruh baya itu, yang walaupun selalu bersikap angkuh pada pelayan muda di keluarga Lloyd, namun bagaimana pun dia adalah orang yang sering membantu Anna untuk berkomunikasi dengan Brandon Lloyd.
Rudyard yang merasa terpojok, menoleh pada seorang wanita muda yang tadi datang bersama Bimo.
Anehnya gadis itu tadi hanya berjalan sampai di dekatnya dan diam disana, seakan ingin menjaganya agar tidak melarikan diri.
“Dia teman nya, kan? Dia hanya Hunter berperingkat F.” pikir Rudyard sambil mengamati Miyuki yang diam seraya menatap Bimo dengan kedua matanya yang berseri, tanpa memerdulikan Rudyard.
Tidak ingin membuang kesempatan itu, Rudyard Lau dengan cepat berlari menuju Miyuki. Dia ingin menggunakan gadis itu sebagai sandera untuk meloloskan diri dari sana.
Namun, saat cengkeraman Rudyard sudah berada tak jauh dari leher Miyuki, gadis itu dengan cepat menunduk untuk mengelak dari ancaman cengkeraman Rudyard.
Miyuki kembali menghindari sergapan Rudyard yang berusaha memeluknya dengan kedua tangan, lalu dengan cepat, gadis itu pergi menuju Bimo.
Terkejut dengan kecepatan yang Miyuki miliki, Rudyard menatapnya dengan kedua matanya yang melotot seakan hendak melompat keluar dari tempatnya.
“Saya memang berperingkat F. Tapi saya adalah Hunter dengan kelas Assassin, tuan pengecut.” Ejek Miyuki yang kemudian tersenyum sinis pada Rudyard.
Miyuki kembali menatap pada Bimo, kedua matanya berseri setiap dia menatap pria itu. “Produk ku, ayo ringkus dia sekarang.” Ucap Miyuki seraya menunjuk pada Rudyard Lau.
Bimo Gandri masih diam. Dia agak ragu untuk menyerang Rudyard Lau.
Melihat lawannya ragu, Rudyard tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan langsung menyerangnya dengan melontarkan bola api dari kedua telapak tangannya pada Bimo.
Wushhh... Wush... Booommm!
Ledakan terjadi saat serangan Rudyard bertemu dengan tubuh Bimo Gandri.
__ADS_1
Asap hitam tebal membumbung di udara saat bola api Rudyard meledak.
Tahu kalau dia tidak akan bisa mengalahkan Bimo Gandri yang kini telah berperingkat S, Rudyard menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.
Namun, saat ia sudah berbalik dan lari, pria paruh baya itu merasakan energi sihir besar datang dengan cepat menuju punggungnya.
Dengan cepat, Rudyard kembali berbalik dan langsung menembakan bola apinya lagi.
Wush… wush… wush…
Bomm… bommmm...!
Kedua mata Rudyard terbelalak saat melihat asap hitam mengitari seluruh tubuh Bimo.
Itu adalah hal yang sudah ia harapkan dari seorang Hunter peringkat S, apalagi lawannya itu adalah Hunter dengan kelas Tanker. Rudyard tahu bahwa sekuat apapun serangannya yang masih berperingkat B, tidak akan berpengaruh apa pun pada lawannya.
Karena sibuk memerhatikan energi Mana yang sudah melindungi tubuh Bimo, pria paruh baya itu lengah dan terlambat untuk mengelak, saat sebuah pukulan menyasar tepat ke dadanya.
Bukkkk!!!
“Arghhh…!”
Rudyard terpental saat tinju Bimo menghantam dadanya dengan keras.
Tubuh pria tua itu bergulingan beberapa kali di aspal sebelum akhirnya terhenti setelah membentur tembok bangunan.
Rudyard terbatuk berkali-kali. Darah segar keluar dari mulutnya. Ia memegangi dadanya yang terasa sangat sakit setelah terkena pukulan telak. Tulang dadanya retak.
Andai Bimo menggunakan sedikit lebih banyak energi sihir lagi pada pukulannya, sudah pasti tinjunya akan menembus tubuh kurus Rudyard.
Walaupun ingin, Rudyard sama sekali tak bisa menggerakan tubuhnya lagi, apalagi bangkit dari duduknya. Untung saja ada tembok bangunan yang menopang punggunggnya. Jika tidak, ia pasti sudah jatuh terkapar.
Namun demikian, Rudyard tetap berusaha bergerak dengan seluruh tenaga yang ia miliki. Dalam pikirannya, dia ingin segera pergi meninggalkan tempat itu, bagaimanapun caranya, agar tidak tertangkap oleh pihak Asosiasi dan akan mengakibatkan ancaman bagi Brandon Lloyd.
Saat Rudyard sudah kehabisan tenaga dan tangan yang menopang tubuhnya terpeleset, pria tua itu akhirnya terhuyung jatuh.
Tepat saat kepala pria paruh baya itu hendak menghantam lantai, Anna yang tiba-tiba saja muncul di dekatnya, langsung menahan kepala Rudyard agar tidak membentur lantai beton di bawahnya.
Walaupun pria paruh baya itu juga orang yang terlibat dalam rencana Brandon Lloyd untuk menutupi kejahatan Cassey, Anna tetap tidak tega saat melihat orang yang dulunya baik padanya itu terluka demikian parah.
Anna menopang tubuh kurus Rudyard lalu mendudukan dan menyandarkannya kembali pada tembok bangunan.
“Anda terluka parah, jangan bergerak dulu. Gina Stewart akan segera datang.” Ucap Anna pelan.
Dia masih tidak nyaman menatap wajah Rudyard Lau yang kini pucat setelah mengalami cidera dalam yang sangat parah.
Kedua mata Rudyard melebar menatap Anna. Dia yakin tadi melihat Anna muncul di hadapannya dengan tiba-tiba.
Rudyard terbatuk-batuk dan mengeluarkan beberapa teguk darah dari mulutnya saat ia hendak berbicara pada Anna.
Luka fisik dan luka dalam pada dadanya akibat tinju Bimo tadi membuat tulang dan organ dalamnya hancur, dia dalam keadaan sekarat.
Anna berdiri dan mengabaikan Rudyard yang sudah tidak berdaya. Ia pergi menghampiri Miyuki, yang menatapnya dalam diam.
"Miyu, bawa mereka ke toko bunga bersama mu," pinta Anna, setelah dia berada di dekat Miyuki. Namun, gadis itu masih menatapnya dalam diam dengan mulutnya yang menganga.
Hal serupa juga tampak pada Bimo. Dia yakin Anna tadi berpindah tempat dari kafe, ke tempat Rudyard Lau yang kini sudah pingsan.
"Miyu, kau mendengar ku?" Tanya Anna, sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Miyuki.
"Ya?"
"Bawa mereka semua ke toko bunga sekarang. Orang-orang dari Asosiasi akan segera tiba." ucap Anna sekali lagi.
Walaupun bergerak dengan lambat dan masih menatap Anna beberapa saat lagi, Miyuki akhirnya membawa Bimo, Ren dan Yola untuk pergi ke tempat yang Anna minta.
Saat mereka hendak berbelok ke gang yang membawa dia dan Bimo tadi ke tempat Anna berada, Miyuki menoleh sekali lagi pada Anna, kemudian menoleh pada orang-orang yang masih melayang di udara.
'Itu pasti perbuatan Anna.'
__ADS_1
•••••••