Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 13 - Kembali


__ADS_3

Tubuhnya bergetar hebat hingga membuat ranjang yang ditidurinya selama dua minggu belakangan itu berguncang hebat dan menimbulkan suara berisik yang memekakan telinga.


Walaupun kejadian itu hanya berlangsung selama sekitar 10 detik, namun hal itu cukup untuk membuat orang yang berada dekat dari tempat kejadian dapat menyadarinya.


Gina Stewart yang baru saja hendak menyiapkan makan siangnya, yang sudah sangat terlambat, terkejut saat mendengar suara gaduh di dalam apartemennya.


Suara itu semakin lama terdengar semakin nyaring dan mengganggu pendengarannya. Namun suara berisik itu tiba-tiba lenyap tak lama kemudian.


Dengan segera Gina meninggalkan potongan daging yang baru saja hendak di masukkannya ke dalam oven dan berlari menuju asal suara yang kemudian diketahuinya adalah kamar orang yang sudah selama beberapa hari ini terbaring koma dan dalam pengawasannya.


Saat Gina baru saja membuka pintu, dan baru hendak masuk ke dalam kamar, dia menghentikan langkahnya saat melihat orang yang dirawatnya selama dua minggu ini duduk di ranjangnya.


Namun, dia akhirnya kembali berlari kecil menghampiri orang itu untuk memeriksa keadaannya.


Gina terdiam beberapa saat begitu bertatapan langsung dengan Anna Lloyd yang sepertinya baru saja terbangun dari mimpi buruknya, alih-alih tampak seperti orang yang baru saja terbangun dari koma.


Gina berusaha menenangkan gadis itu dengan mengusap-usap kepalanya yang terbalut perban di dua per tiga bagian wajahnya.


Setelah dapat menguasai dirinya dan dapat mengatur pernafasannya dengan normal, Anna menatap Gina Stewart yang menunduk di samping ranjang dengan tatapan kosong selama beberapa detik sebelum melihat ke arah kedua tangannya yang dia rasakan terkekang oleh sesuatu.


“Gips?” Pikir Anna Lloyd saat melihat kedua tangannya yang terbalut gips dari bagian pergelangan tangan sampai dengan ketiaknya.


Tatapannya kemudian beralih ke kedua kakinya yang juga terbalut dengan gips dari bagian telapak kaki sampai dengan pahanya.


“K-kau sudah sadar...” ucap Gina Stewart dengan wajahnya yang terlihat jelas kebingungan atas kejadian yang sangat tidak terduga itu sambil sesekali melirik ke monitor yang berada di belakang gadis itu


Kedua matanya membesar saat melihat informasi organ vital gadis itu tampak normal di sana. Benar-benar sebuah keajaiban yang sangat tak disangkanya, karena kondisi gadis itu masih dalam keadaan buruk saat dia melihatnya satu jam yang lalu.


Namun saat kembali melirik pada Anna, yang tampaknya entah sedang kebingungan atau sedang merasa takut, Gina berusaha berbicara untuk menenangkannya dan memintanya untuk kembali berbaring, namun gadis itu dengan cepat menolaknya.


Anna menepis pelan tangan Gina yang ingin membantunya untuk merebahkan tubuhnya kembali.


Dengan mengangkat kedua kakinya, dia berusaha untuk beralih ke tepi ranjang, namun Anna menghentikan gerakannya lagi saat merasakan ada beberapa benda yang tersangkut di tubuhnya dan mengganggu pergerakannya.


Anna juga baru menyadari ada sebuah masker oksigen yang melekat di wajahnya dan beberapa selang yang menghubungkan tubuhnya dengan dua buah peralatan medis.


Melihat ‘pasiennya’ akhirnya menyadari keadaannya, Gina Stewart berusaha untuk tersenyum dan kembali berbicara pada Anna.


“Tidak apa-apa... Berbaringlah kembali, aku akan memanggilkan dokter.” Ucap Gina dengan nada suaranya yang lembut yang sedang berusaha berbicara setenang mungkin agar gadis di hadapannya tidak panik.


Walaupun Anna tidak merespon kalimatnya, dia akhirnya bergerak untuk membaringkan tubuhnya kembali dan tentu saja Gina dengan cepat berdiri dan menopang punggungnya untuk membantunya berbaring.


“Aku akan segera kembali. Aku akan menghubungi dokter yang selama ini menangani mu, ok...?” ucap Gina yang kemudian dengan cepat pergi meninggalkan Anna untuk mengambil smartphonenya.


Gina langsung mencari kontak dokter pribadi keluarganya yang selalu datang secara rutin selama dua minggu belakangan untuk mengontrol keadaan Anna Lloyd.


Namun saat dia baru akan menekan tombol panggilan, smartphone itu tiba-tiba lenyap dari genggamannya.


Gina sangat terkejut hingga dengan spontan melompat mundur, terutama saat dengan sekilas melihat seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

__ADS_1


Dengan kedua mata melebar dia menatap orang yang baru saja merebut smartphonenya itu yang tak lain adalah Anna Lloyd.


Tubuhnya sedikit gemetar dan jantungnya berdetak lebih cepat karena hal itu sangat mengagetkannya. Gina bahkan sempat mengumpulkan energi sihir di kedua tangannya dan hendak menyerang gadis itu sebelum akhirnya dia menyadarinya.


“K-kau...?” Gina Stewart menatap Anna lekat-lekat selama beberapa detik sebelum akhirnya dia menoleh ke arah pintu kamar tempat Anna tadi berada.


“Di mana ini?” tanya Anna yang kemudian mengembalikan smartphone yang baru saja direbutnya itu kembali pada Gina, saat Gina Stewart baru berpaling kembali padanya.


Gina masih sedikit syok dengan apa yang baru saja terjadi.


Belum pernah dia melihat seseorang bisa berlari secepat apa yang dilakukan gadis itu, hingga membuatnya tidak menyadarinya tadi.


“Apa dia tadi berlari? Atau berteleportasi?” pikir Gina sambil mengambil smartphone dari tangan Anna.


Tatapannya masih tidak lepas dari Anna yang kini terlihat menatap sekeliling ruangan seakan sedang berusaha untuk mengenali tempat mereka saat ini berada.


“Dimana ini?”


“I-ini apartemen ku...” sahut Gina setelah dia mendapatkan kesadarannya kembali.


Anna kemudian berjalan ke arah kitchen set sambil berbicara kembali.


“Jangan hubungi siapapun.” Ucap Anna sambil terus berjalan ke arah meja dan mengambil sesuatu di sana dan memakannya dengan rakus.


Gina hanya bisa melihat pemandangan itu dari tempatnya berdiri dan tidak berusaha bergerak sedikitpun sambil menyaksikan apa yang sedang gadis itu lakukan.


Setelah mengosongkan isi botol itu dengan sekali minum, Anna merobek dan mencabuti gips yang mengganggu pergerakan tubuhnya itu dengan santai dan terlihat tanpa usaha, seakan sedang merobek selembar kertas.


“Di mana aku bisa membuang ini?” Tanya Anna tanpa menoleh pada Gina dan terus mencabuti sisa-sisa gips yang melekat di tubuhnya. Anna tidak ingin membuang gips dan menghamburkan serpihannya secara sembarangan.


Gina Stewart segera berlari ke arah lemari di kitchen set dan mengambil sebuah kantong plastik sampah dari laci lalu menyerahkannya pada Anna dengan patuh.


Tak lama kemudian, kedua gadis itu memunguti serpihan-serpihan gips yang berhamburan di lantai hingga tempat itu bersih seperti semula.


Anna juga melepaskan perban yang menutupi dua pertiga bagian wajahnya karena dia juga merasa terganggu akibat perban yang juga menutupi mata kirinya itu mengganggu pengelihatannya.


Setelah selesai dengan pekerjaannya dan memasukan semua sampah itu kedalam kantongan plastik, Anna mengajak Gina Stewart untuk duduk di sofa yang berada di tengah ruangan, yang juga Gina turuti dengan patuh.


Kedua gadis itu kini duduk dengan berseberangan dipisahkan oleh sebuah meja kaca di antara mereka.


Anna merapikan rambut panjangnya dan mengikatnya menjadi satu di atas kepalanya. Dia lalu mengambil sebuah boneka besar berbentuk beruang yang ukurannya hampir sama dengan tinggi badannya, lalu memeluknya untuk menutupi tubuh telanjangnya.


“Siapa namamu?” tanya Anna dengan gaya bicaranya yang tidak formal, walaupun dapat menebak bahwa gadis cantik di hadapannya itu memiliki usia yang sedikit lebih tua darinya.


“G-gina... Gina Stewart.”


“Aku Anna Lloyd. Kau bisa memanggil ku Anna.”


Gina Stewart mengerutkan keningnya begitu mendengar nama yang sangat familiar di telinganya.

__ADS_1


“Lloyd?”


“Ya.”


“Lloyd yang itu?” tanya Gina seakan tak percaya.


Melihat raut wajah Anna yang sama sekali tidak berubah, Gina memperbaiki pertanyaannya.


“Kau dari keluarga Lloyd yang terkenal itu? Tuan Brandon Lloyd?”


Mendengar pertanyaan itu, wajah tenang Anna mendadak berubah menjadi serius.


Dia menoleh ke salah satu dinding apartemen yang seluruhnya berbahan kaca seakan ingin mengecek keadaan di luar sana. Namun karena hanya hutan dan perbukitan yang dapat dilihatnya dari situ, karena itu adalah bagian belakang gedung, dia kembali menatap pada Gina yang tampak masih menunggu jawabannya.


“Tahun berapa sekarang?”


“2050.”


Mendengar itu, kedua matanya berkedip-kedip. Dia tampak tidak asing dengan angka itu.


“Pantas model bangunannya tampak sama dan tidak ada kemajuan apapun dari perabotan di rumah ini.” Pikir Anna yang akhirnya mengingat bahwa dia kembali ke tahun yang sama dengan saat dia meninggalkan Bumi.


Awalnya, dia mengira bahwa bumi sudah sangat maju pesat setelah ribuan tahun dia tinggalkan.


“Atau semuanya hanya mimpi?” pikirnya lagi. Namun saat dia merasakan energi Mana di tubuhnya masih sama seperti yang dia miliki saat berada di ‘planet aneh’ itu. Dia kembali menatap Gina Stewart.


“Sudah berapa lama aku tidur?"


'Tidur?' Gina mengkerutkan keningnya.


“Dua minggu... Tepatnya 15 hari.” Sahut Gina akhirnya.


Sebagai tuan rumah dan sebagai orang yang harusnya lebih banyak bertanya, Gina malah tampak sangat patuh.


Dia masih ingin menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya ingin segera ditanyakannya. Namun, mengingat gadis di hadapannya itu baru saja terbangun dari komanya, maka dia menyimpan semua pertanyaannya terlebih dulu.


Dan juga, Gina sedikit merasa aneh dengan kepribadian Anna yang terlihat tidak merasa canggung dengan orang yang bahkan baru ditemuinya.


“Hah?!” Anna hendak berdiri saat terkejut mengetahui hal itu namun dia mengurungkannya mengingat tubuhnya yang telanjang di balik boneka beruang dalam pelukannya.


“Dua minggu? Bukannya aku berada di planet brengsek itu selama ribuan tahun?” pikir Anna tidak memahami keadaannya.


[Kau berada di sana selama lima belas ribu tahun dan seratus dua puluh tiga hari]


Sahut seorang pria yang tiba-tiba terdengar berbicara di arah kanan Anna dan terdengar sangat dekat dengannya.


Mendengar suara seseorang yang tiba-tiba berbicara dengan sangat dekat dan seakan berada di depan telinganya, Anna sangat terkejut sampai dia menjatuhkan boneka beruang yang dipeluknya dan berdiri.


Anna kemudian menoleh ke segala arah berusaha mencari orang yang baru saja berbicara padanya. Namun dia tidak menemukan siapapun disana selain mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2