Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 20 - Dungeon (2)


__ADS_3

“Sialan, dia menyuruh memanahi ku rupanya!” umpat Anna sambil sibuk menangkis puluhan anak panah yang menghujaninya.


Seperti sudah sangat terlatih, pasukan Orc terus mengirimkan anak panah itu tanpa ada jeda.


Tanpa bergerak dari tempatnya, Anna terus menangkis dan menghindari beberapa anak panah yang lolos dari jangkauan senjata rampasannya.


Setelah kehabisan anak panah, pasukan Orc dengan marah melempari Anna yang masih melayang-layang di udara dengan batu, kayu, dan sebagian melemparkan busur mereka yang sudah tak berguna.


Anna yang belum memiliki pengalaman bertarung hanya berusaha menghindari atau menangkis puluhan anak panah, batu, dan kayu yang berdatangan ke arahnya.


Seandainya dia adalah Hunter yang sudah berpengalaman, bisa saja gadis itu terpikir untuk memukul batu-batu itu dan mengarahkannya kembali pada penyerang-penyerangnya karena dengan kemampuannya saat ini, benda-benda yang kini menyerang ke arahnya maupun anak-anak panah tadi terlihat sangat jelas dan lambat.


Saat Orc-orc itu kehabisan benda untuk dilempar, mereka hanya berteriak-teriak sambil mengacungkan tinju mereka pada Anna.


Melihat pasukan Orc yang berada di darat kehabisan ‘peluru’ dan tampak sedang marah-marah, hal itu malah membuat Anna, yang merasa menjadi korban, juga ikut marah.


Anna melesat menuju Orc yang bertubuh lebih besar dan mendarat di hadapannya.


“Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian menyerangku? Aku hanya ingin melihat-lihat tempat ini!” Bentak Anna sambil mengacungkan telunjuk kirinya pada Orc bertubuh besar.


Mendengar gadis itu mengumpat, Orc bertubuh besar yang tadinya hendak langsung menyerang, terdiam sejenak dan menatap Anna dengan bingung.


“K-kau bisa bicara dengan bahasa kami?” tanya Orc bertubuh besar.


“Tentu, bukankah kalian berbicara dengan bahasa manu-“


Anna terdiam saat menyadari bahasa yang digunakannya bukanlah bahasa Inggris ataupun bahasa Indonesia yang biasa digunakan di Asia Tenggara, khususnya di Kota C. “Hah? Bahasa apa ini?” Pikir Anna yang baru pertama kali mendengar bahasa yang baru saja keluar dari mulutnya sendiri.


Gadis itu menatap Orc bertubuh besar dengan kerutan di keningnya. “Bahasa apa ini?” tanya Anna pada Orc.


Orc bertubuh besar menatapnya dengan tak percaya, sementara pasukannya sudah mengelilingi Anna sambil ikut menyimak apa yang sedang pemimpin mereka dan gadis itu bicarakan.


“Bukankah kau makhluk dari luar gerbang?” Orc bertubuh besar balik bertanya.


“Makhluk?” kedua alisnya hampir bertautan mendengar kata itu. “Ya. Dan aku tidak ada maksud untuk bertarung dengan kalian.” Sahut Anna sambil terus mendongak menatap tajam pada Orc yang memiliki tinggi badan dua kali tubuhnya.

__ADS_1


Sebagai bukti niat baiknya, Anna melemparkan pentungan di tangannya ke tanah.


“Kau makhluk dari kaum pemburu tapi kau tidak ingin bertarung dengan kami?” tanya Orc lagi dengan penasaran. Ia merasa ucapan dan tindakan Anna dengan membuang senjatanya, masih tidak dapat dipercayainya.


Mendengar dirinya tadi disebut makhluk, membuat Anna sedikit memiringkan kepalanya, dia merasa sedikit tidak nyaman. “Ya, aku hanya ingin melihat-lihat Dungeon ini.”


“Dungeon?”


“Ya… maksud ku…”


“Ini rumah kami, tanah kelahiran kami. Dan kau sebut Dungeon?!” ucap Orc dengan geram. Kulit wajahnya yang berwarna kehijauan, menggelap.


“Rumah dan tanah kelahiran?” pikir Anna merasa aneh dengan apa yang baru Orc ucapkan.


“Kau makhluk pemburu dan kau mengatakan tidak ingin bertarung dengan kami? Kau penipu!!!” Bentak Orc tiba-tiba. “Bunuh penipu ini!!!” teriak Orc itu memerintahkan pasukannya untuk menyerang Anna, yang langsung dituruti mereka.


Mendengar perintah dari pemimpin mereka, pasukan Orc langsung berhamburan menyerbu Anna yang tampak terkejut saat mendengar seruan Orc bertubuh besar. Gadis itu mengira niatnya akan diterima dengan baik dan mereka akan membiarkannya pergi.


Anna bermaksud untuk langsung pergi dan keluar dari gerbang Dungeon jika saja monster-monster itu berdamai dengannya, karena dia tidak ingin terpergok tim raid yang mungkin saja akan bertemu dengannya di dalam Dungeon.


Orc-orc yang kehilangan senjata mereka karena sebelumnya telah menggunakannya untuk melempari gadis itu, menyerang dengan menggunakan tangan kosong.


Tentu saja, dengan mudah Anna dapat menghindari serangan-serangan yang tampak lambat di matanya.


Namun beberapa saat kemudian, karena serangan itu datang dengan bertubi-tubi, banyak diantara pukulan dan tendangan mereka lolos dan menghujani tubuh Anna yang ramping dan lebih kecil dari para Orc.


“Hah? Apa yang sebenarnya mereka lakukan?” pikir Anna yang seketika bingung saat beberapa pukulan mendarat di tubuhnya.


Pukulan-pukulan dan hantaman senjata tajam itu terasa seperti sebuah pijatan di tubuhnya. Anna mengira akan sangat menyakitkan jika pukulan-pukulan dari tangan-tangan kekar Orc itu sampai mengenainya. Gadis itu sampai berpikir, bahkan tubuhnya akan langsung remuk saat menerima satu saja pukulan mereka.


Saat sudah menghadapi pertarungan itu secara langsung, akhirnya dia tahu apa yang dirasakannya sesaat setelah melewati gerbang tadi benar. Lawan-lawannya ini memang jauh lebih lemah darinya. Ini tidak semenakutkan seperti yang kedua Hunter tadi bicarakan.


“Ternyata perbedaan energi Mana bisa berdampak begini…” pikir Anna sambil mengkerutkan alisnya.


Mengetahui hal itu, Anna menghentikan tangkisan dan tidak berusaha menghindari lagi serangan mereka. Gadis itu diam dan berdiri mematung dan matanya menatap dengan malas ke arah pasukan Orc yang ‘memijatinya’ tanpa henti.

__ADS_1


Tapi semakin dibiarkan, pasukan Orc itu semakin memukulinya dengan bersemangat, berbeda dengan perkiraannya yang mengira mereka akan langsung berhenti saat melihat serangan mereka tak berefek padanya.


“Brengsek-brengsek ini. Beraninya kalian meraba-raba tubuh seorang gadis!!!” bentak Anna yang membuat beberapa Orc yang berada paling dekat dengannya terkejut dan sempat menghentikan serangannya, sebelum akhirnya kembali menyerang dengan kekuatan penuhnya saat melihat musuhnya tampak baik-baik saja.


Dengan marah, Anna mengalirkan sedikit energi sihirnya ke kedua tangannya. Hanya sedikit.


Dia tahu, jika dia menggunakan energi sihir yang sedikit lebih banyak, itu akan berbahaya untuk pasukan Orc yang mengerumuninya seperti semut yang mengerumuni gula.


Pada saat Anna berlatih dulu, dan menggunakan banyak energi Mana lalu mengarahkannya ke lautan, gelombang tsunami tiba-tiba terjadi dan itu berlangsung selama berhari-hari.


Satu-satunya benda yang tidak terpengaruh dengan ledakan energi Mana-nya saat itu hanyalah batu tempat dimana pedang kembar di pulau itu berada. Dia bahkan sudah mencoba berulang kali untuk menghancurkan batu itu namun satu pun goresan tak berbekas disana.


Anna Lloyd merentangkan kedua tangannya. Satu detik kemudian, gadis itu melepaskan energi Mana yang sudah terkumpul di kedua telapak tangannya. Dan...


‘BOOOOOOOMMMMM!!!’


Tubuh semua pasukan Orc meledak.


Daging dan darah hitam seperti oli berceceran di udara.


Anna dapat melihat mata Orc yang bertubuh besar itu terbuka lebar, hampir selebar mulutnya yang menganga karena apa yang baru dilihatnya benar-benar sangat mengejutkan.


Anna sendiri tak kalah terkejutnya.


Dengan wajah linglung gadis itu menatap sekelilingnya dan melihat serpihan-serpihan daging, tulang dan darah hitam yang telah mengembun berjatuhan ke tanah.


Beberapa saat kemudian, dengan wajah yang sama-sama tampak linglung, Anna dan Orc bertubuh besar saling bertatapan tanpa berbicara sepatah katapun.


“M-maaf...” kata Anna Akhirnya.


“A-aku tidak menyangka mereka selemah itu...” ucapnya lagi dengan nada menyesal dan dengan perasaannya yang tulus saat melihat air mata mulai bercucuran dari kedua mata Orc.


“Dia pasti sedih dengan kematian teman-temannya.” Pikir Anna.


Dia juga merasa seakan seperti seorang 'penipu' sebagaimana yang Orc tadi katakan. Anna menatap Orc dengan canggung sambil menggaruk-garuk kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2