Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 45 - Raid Ilegal (2)


__ADS_3

“L-lari!!!” Teriak pria brewok yang ia tujukan pada Anna, karena dia langsung menatap gadis itu ketika mengatakannya.


Saat sudah berada pada jarak yang cukup dekat dengan keempat Hunter, Minotaur berjalan perlahan menghampiri manusia dihadapannya dengan kedua kaki kekarnya yang menyerupai kaki banteng.


Tubuh kekarnya yang mirip seperti tubuh pria dewasa itu, memiliki lebar dua kali lipat dari tubuh pria dewasa dengan tingginya yang mencapai dua kali lipat pria dewasa.


Sementara tatapan matanya yang tajam itu cukup untuk membuat tubuh lawannya, yang tampak mungil, menggigil ketakutan.


Minotaur yang memiliki kepala menyerupai kepala seekor banteng itu menerjang dua manusia yang paling dekat dengannya menggunakan sebuah senjata yang mirip dengan sebuah lembing yang terbuat dari batu.


Pria brewok yang menjadi tujuan Minotaur, berusaha menghindar dengan melompat mundur sejauh yang ia bisa, serta memberi serangan balasan dengan melemparkan sebuah bola api dari tangannya setelahnya.


Serangannya itu melabrak tepat ke kepala Minotaur yang membuat makhluk itu menghentikan langkah kakinya sesaat.


Marah setelah mendapatkan serangan telak yang mengenai kepalanya, Minotaur mengaum dan menggeleng-gelengkan kepalanya yang tak mempan dengan serangan pria brewok tadi.


Setelah mendengus kencang, monster itu kembali menyerang dengan kecepatan yang lebih tinggi.


Kali ini, Minotaur menyerang dengan kedua tanduk di kepalanya.


‘Bang!!!’


Tandukan Minotaur bertemu dengan perisai Tanker yang melompat menghadangnya.


Perisai di tangan Tanker pecah, sementara itu tubuhnya terpental akibat tak kuat menahan serangan Minotaur hingga terbang menghantam dinding goa dibelakangnya.


‘Bammmm!’


Tidak ingin membuang kesempatan, pria brewok kembali mengirimkan dua bola api dari kedua tangannya.


Minotaur menepis dua serangan itu dengan mudah menggunakan lembingnya.


Minotaor sudah bersiap melompat menerjang pria brewok. Namun niatnya terhenti saat mendapatkan serangan kejutan dari arah kirinya.


Sepuluh bilah es yang masing-masing berukuran sebuah jari beterbangan ke arah dadanya.


‘Wush... wush... wushh...’


Bilah-bilah es itu pecah berhamburan saat bertemu dengan tubuh Minotaur yang kekar. Tak ada dampak apapun yang tertinggal disana.


Bukannya melukai lawannya, serangan yang berasal dari Ren itu berhasil membuat perhatian Minotaur kini beralih padanya. Monster itu pun berbalik dan menyerang pria itu.


“Kau hanya bisa mengeluarkan benda itu?” Tanya Anna dengan tatapan tak percaya.


Ren hanya menjawabnya dengan mengangguk sambil fokus melihat pergerakan Minotaur yang kini menghampiri mereka. Wajahnya pucat. Dia bahkan tidak sempat merespon pertanyaan yang lebih menyerupai sebuah protes dari gadis itu.


“Bekukan kakinya…” Pinta Anna.


“Kau gila? Energi Mana ku belum bisa untuk melakukan yang seperti itu.” Sahut Ren dengan nada suara yang terdengar kesal.


“Hah?! Kau serius?”


“…”


“…”

__ADS_1


“Apa yang kau tunggu?! Cepatlah lari!!!” Teriak Ren, meminta Anna untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.


Pada saat itu...


Dari arah datangnya Minotaur tadi, muncul dua Minotaur lain yang langsung pergi menyerang ke arah pria brewok yang posisinya lebih dekat dengan mereka.


Tidak ingin mati sia-sia, pria brewok berusaha memberikan perlawanan. Ia kembali melepaskan serangan-serangan bola apinya dari kedua tangannya, walaupun hal itu ia lakukan dengan panik dan terburu-buru. Alhasil, dua bola apinya meleset tanpa menemui sasaran.


Minotaur yang langkahnya tak terhenti, kian dekat pada pria brewok dan kini mulai mengarahkan tanduknya pada Hunter itu.


Dalam keadaan terdesak, pria brewok berguing-guling kebelakang sambil terus menghindari tandukkan-tandukan dua Minotaur yang menyerangnya layaknya banteng yang siap menghabisi torero.


“Aku tau mereka lemah, tapi baru tau kalau sangat payah!” Umpat Anna dalam hatinya saat melihat pria brewok sedang terancam nyawanya.


“Ren, kau uruslah dulu yang ini sambil melarikan diri.”


“Apa maksudmu?”


Tanpa menjawab pertanyaan Ren yang sedang sibuk melarikan diri dari Minotaur yang berusaha menyerangnya dengan lembing, Anna melompat tinggi hingga hampir mencapai langit-langit goa.


Pria brewok yang masih bergulingan kesana kemari menghindari amukan dua lawannya, akhirnya bertemu dengan dinding goa yang menghentikan pergerakannya.


Sudah tidak ada ruang gerak lagi dibelakang pria brewok untuk menghindari serangan Minotaur pertama yang datang dari arah kanan, sedangkan Minotaur kedua menyerang dengan tanduk panjangnya dari arah kirinya.


“A-aku akan mati.” Ucap pria brewok yang hanya bisa pasrah menanti dua serangan yang datang dari dua arah berbeda.


‘Banggg!!!’ ‘Krakkkk!’


Salah satu tanduk Minotaur patah dan terbang menancap ke tubuh Minotaur lain.


Sementara itu, sesosok bayangan yang baru saja menghentikan serangan dua Minotaur tadi terbang ke arah lain, menuju Minotaur yang saat ini sedang memburu Ren, yang masih berusaha menyerangnya dengan bilah-bilah es yang bermunculan dari ujung-ujung jarinya sambil terus berlari mundur berusaha menjauhi Minotaur.


‘Craaakkkkk!!!’


Sebuah tongkat besi menghantam keras kepala Minotaur. Serangan itu telah memecahkan tengkorak kepalanya.


Tubuh Minotaur yang kehilangan kepalanya itu ambruk, kejang-kejang dan tak lama kemudian tidak bergerak lagi.


Setelah melihat lawannya jatuh tersungkur dan tewas, Anna pergi ke arah pria brewok.


Minotaur lain, yang tadi kehilangan satu tanduknya, mengaum kencang. Goa itu bergetar hebat akibat suara auman yang mengandung energi sihir yang lumayan besar.


Anna menarik kerah rompi pria brewok dan melemparkan tubuh pria brewok pada Ren yang sedang kebingungan melihat Minotaur yang tadi mengejarnya tiba-tiba ambruk dengan kepalanya yang pecah.


Pria brewok jatuh bergulingan dan berhenti di dekat kaki Ren.


Sementara itu 10 meter dari mereka, Anna berdiri berhadapan dengan dua Minotaur.


Minotaur saling bertatapan sebelum kembali menatap manusia kecil yang memiliki tinggi badan hanya separuh tubuh mereka.


Mereka nampaknya tahu bahwa mereka tidak bisa menyerang makhluk di hadapan mereka itu dengan sembarangan, mengingat makhluk itu menghancurkan kepala rekan mereka hanya dengan satu serangan.


“Ada berapa lagi teman mu di dalam?” Tanya Anna pada dua Minotaur yang terus menatap dan mengawasinya.


"..." "..."

__ADS_1


“Ah, mereka tidak mengerti ya...” Gumam Anna dengan perasaan sedikit menyesal.


Dengan pengalamannya selama melakukan raid di belasan Dungeon sebelumnya, hampir semua monster berwujud binatang tidak bisa berbicara padanya, tidak seperti Orc yang dapat berkomunikasi dengannya.


“Sayang sekali, jika tidak pulau itu akan semakin ramai.”


Anna melompat ke arah Minotaur, yang terkejut dengan tindakan lawannya yang tiba-tiba dan membuatnya mundur satu langkah ke belakang, hanya karena reaksi terkejutnya barusan.


Anna menginjak pangkal paha Minotaur dan menghantamkan tongkatnya dari arah bawah dagu Minotaur hingga memecahkan moncongnya. Puing-puingnya dari pecahan moncong Minotaur, terbang berhamburan ke segalah arah.


Anna kemudian melakukan gerakan berputar dan melesat menyerang Minotaur lain yang dengan refleks menangkis serangan itu dengan kedua tangannya.


‘Kraaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk!!!’


Sapuan tongkat itu berhasil mematahkan dan memutuskan kedua tangan Minotaur dan terus menembusnya sampai akhirnya memecahkan kepalanya, yang tadinya ingin makhluk itu lindungi.


Tubuh Minotaur itu ambruk ke tanah.


Sementara itu, Minotaur yang kehilangan moncongnya meringis kesakitan dan memegangi wajahnya dengan kedua tangannya.


“Oh, maaf. Kau jadi tersiksa karena rasa sakit.” Ucap Anna yang sedang melayang di atas Minotaur itu sambil mengangkat tongkat besi dengan satu tangannya.


Tidak ingin membiarkan Minotaur tersiksa rasa sakit, Anna kemudian mengangkat tongkat besinya, lalu mengayunkannya kebawah dengan gerakan ringan.


Bersamaan dengan itu, tongkat digenggamannya melesat menuju kepala Minotaur dan memecahkannya.


Tubuh Minotaur ambruk, kejang-kejang dan tak lama kemudian tubuh itupun berhenti bergerak.


Setelah menyelesaikan 'pekerjaannya', Anna turun dan menjejakkan kakinya di lantai goa, lalu menoleh pada Ren yang sejak tadi berdiri mematung melihat aksi gila gadis itu.


“Tunggu sebentar, aku akan mengurus sisanya.” Ucap Anna yang kemudian mengambil tas ranselnya sebelum akhirnya menghilang dari pandangan mereka.


Setelah melihat Anna menghilang ke dalam lorong goa, Ren dan pria brewok bertatapan dalam diam sampai hampir satu menit.


“S-siapa dia sebenarnya?” Tanya pria brewok.


Ren menggeleng. Tubuhnya masih diam membeku sambil terus menatap pria itu dengan mulutnya yang masih menganga sejak tadi.


"Bukankah dia pacarmu?"


"..."


"Apa dia Hunter berperingkat A? Atau S?" Tanya pria brewok.


Walaupun kalimatnya seakan bertanya, tapi dia sebenarnya tidak menujukan pertanyaan itu pada Ren yang ia tahu belum memiliki banyak pengetahuan. Pertanyaan itu lebih bertujuan pada dirinya sendiri.


"Tapi, bukankah dia tadi terbang? Apakah Hunter berperingkat tinggi bisa terbang seperti itu?"


Mendengar kata demi kata pria brewok, Ren semakin takjub dengan Anna dan menoleh ke arah lorong goa dimana Anna tadi pergi dan menghilang kedalamnya.


Beberapa detik kemudian, terdengar suara meraung-raung yang menggema dari arah goa yang lebih dalam.


Tidak sampai 1 menit setelahnya, suara-suara itu lenyap dan keadaan kini menjadi benar-benar sunyi hingga mereka dapat mendengarkan suara jantung masing-masing yang berdegup kencang bersama suara nafas mereka yang terdengar berat akibat ketegangan yang mereka rasakan.


Tak lama kemudian, Anna kembali sambil memeluk satu pelukan penuh patahan tanduk Minotaur di depan tubuhnya. Sementara di bagian belakang tubuhnya, dia menjejalkan tanduk-tanduk Minotaur secara paksa hingga merobek ranselnya yang besarnya hampir sama dengan tinggi tubuhnya.

__ADS_1


•••


__ADS_2