Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 21 - Orc


__ADS_3

Orc bertubuh besar itu mempersilahkan Anna untuk duduk di tempat duduk miliknya, yang adalah singgasananya, dengan sopan. Sementara dia sendiri duduk berlutut di hadapan gadis itu setelah dia mengambil dua tusuk daging panggang besar dari api unggun.


Orc itu menawarkan salah satunya pada Anna, tapi Anna langsung menolaknya. Walaupun sebenarnya tampak menggiurkan, namun dia tidak tau daging hewan apa itu.


“Bisa saja itu daging manusia.” Pikir Anna yang tiba-tiba merasa mual.


Melihat Anna tidak menerima tawarannya, Orc meletakkan kedua tusuk daging panggang itu di sampingnya dan ia tetap berlutut di hadapan Anna.


Anna masih menatap Orc yang sedang membungkuk padanya, sambil memikirkan hal-hal aneh yang baru saja di alaminya. Tentang bagaimana dia secara tiba-tiba bisa berbicara dengan bahasa mereka. Tentang Dungeon berperingkat tinggi yang ternyata tidak semenakutkan yang dikiranya.


Anna tidak menyangka bahwa keberadaannya selama 15.000 tahun di planet asing itu bisa membuatnya menjadi orang yang benar-benar berbeda, bahkan secara ajaib bisa berbicara dengan bahasa Orc yang bahkan tidak pernah dipelajarinya.


“Siapa sebenarnya pemilik inti Mana yang ada di tubuhku ini? Bagaimana aku tiba-tiba bisa mengerti bahasa makhluk asing ini hanya dengan memiliki inti Mana-nya saja? Apakah ada maksud tersembunyi dari pemilik inti Mana itu? Tidak mungkin kan dia memberikan inti Mana yang sangat berharga pada ku?” Ini adalah pertama kalinya pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul dalam benaknnya.


Selama dia berlatih di planet asing itu, pertanyaan-pertanyaan mendasar seprti itu tidak pernah muncul dalam benaknya. Anna hanya menikmati proses perjalanan latihannya pada saat itu yang dia rasa sangat menyenangkan.


“Yah… aku hanya akan menjalani hidupku dengan baik mulai sekarang…” Anna mendesah pelan, yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah menyusun ulang rencana hidupnya dan menjalaninya dengan kemampuan yang saat ini dimilikinya.


Anna kembali pada Orc yang tetap bersujud di hadapannya dan mengingat kembali awal pertemuan mereka tadi.


“Mengapa kalian langsung menyerang ku?” tanya Anna dengan ekspresi dingin di wajahnya.


Orc yang sebelumnya sudah dalam posisi membungkuk, kembali merendahkan tubuhnya hingga tubuhnya berposisi lebih rendah dari Anna yang berada di atas singgasana besar dan kini berada lebih tinggi darinya.


“M-maafkan hamba Dewi Agung...” Orc memohon dengan suara dan tubuhnya yang gemetar. Mengingat pasukannya yang dapat dimusnahkan dengan mudah, Orc yang gemetaran itu membungkukkan tubuhnya lebih dalam lagi sampai dahinya menyentuh tanah.


“Hamba tidak menyadari dengan siapa hamba berhadapan, Dewi Agung.” Dia kini benar-benar sangat takut dengan makhluk dihadapannya yang dikiranya adalah Dewa.


“Dewi? Ternyata mereka mengenal ‘kata Dewi’ juga?” Pikir Anna sambil menahan tawanya. Rasa jengkelnya pada Orc itu perlahan mereda.


Mendengar cara bicara Orc yang berubah menjadi santun dan suaranya terdengar melembut walaupun tetap terdengar sedikit nyaring dan serak, Anna benar-benar merasa tidak percaya makhluk yang dikatakan berbahaya oleh orang-orang di luar sana itu bisa bersikap demikian.

__ADS_1


“Jadi, apa yang sebaiknya ku lakukan pada makhluk ini? Dia tampak imut untuk di bunuh.” Anna mulai memikirkan nasib Orc itu. Tentu saja dengan perbedaan kekuatan mereka yang sangat jauh, Anna dapat menentukan nasib Orc di hadapannya.


Anna berdehem sambil melirik ke arah lain untuk menghilangkan rasa canggungnya saat melihat Orc berbadan besar itu sama sekali tidak merubah posisi tubuhnya dan tidak berani mengangkat kepalanya.


“Angkat kepalamu. Bagaimana aku bisa berbicara padamu jika kau seperti itu?” pinta Anna. Dia tidak berbicara dengan nada kasar kali ini.


Walaupun Anna memintanya untuk melakukan hal itu, Orc sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya. “Hamba tidak layak untuk menatap Anda, Dewi Agung.”


Melihat kegigihan Orc, akhirnya dia menyerah. Gadis itu mengalihkan tatapannya dari Orc yang membungkuk dan menyembahnya. Dia kini menatap sekelilingnya.


Sejak tadi, Anna bisa merasakan energi sihir yang lumayan besar bergerak ke arahnya. Itu bukan jenis energi sihir yang ada pada manusia yang sudah pasti bukan Hunter-hunter dari tim raid.


Energi sihir itu, jenisnya, sama seperti yang dimiliki Orc dihadapannya.


“Apakah mereka teman-temanmu?” tanya Anna pada Orc. “Maksudku, mereka yang sedang dalam perjalanan ke tempat kita.”


Orc itu sedikit mendongakkan kepalanya saat tidak mengerti arti pertanyaan itu. Dengan masih bersujud, Orc kemudian menoleh ke arah kanan dan kirinya lalu meliat ke arah belakangnya, namun tidak ada siapa pun di sana.


“Kalau kau hendak menjebakku, ku pastikan kau akan bernasib sama seperti pasukanmu.” Ucap Anna dengan suara dingin.


Ancaman itu membuat tubuh Orc kembali bergetar. Seluruh tubuhnya terasa dingin saat ia merasakan energi Mana yang baru saja Anna tempatkan di telapak tangannya, belum lagi cahaya keemasan yang terpancar dari bola energi Mana itu benar-benar menerangi lingkungan tempat mereka berada.


“H-hamba tidak mengerti maksud pertanyaan Anda, Dewi Agung... M-maafkan hamba...” sahut Orc cepat.


Orc sempat berpikir apakah yang di maksudkan 'Dewa' dihadapannya adalah pesaing-pesaingnya di tempat mereka ini, namun karena selama ini mereka tidak pernah mencampuri urusan masin-masing, maka dia berpikir tidak mungkin merekalah yang sedang berdatangan ke tempat ini.


Anna masih menatap Orc dengan tatapan dingin beberapa saat sampai dia akhirnya menyerap kembali energi Mana-nya saat melihat Orc sepertinya berkata jujur.


Anna kemudian mengabaikan hal itu. Dia berpikir dapat mengatasinya nanti karena monster-monster itu sepertinya masih terlalu lemah baginya, tidak semenakutkan yang orang-orang katakan saat dia mendengarkan pembicaraan mereka di depan gerbang tadi.


Anna kembali berbicara pada Orc. “Aku memiliki sebuah pertanyaan. Mengapa kalian menyerang manusia?”

__ADS_1


Sambil masih dengan tubuh gemetaran, Orc bertanya balik. “M-manusia?”


“Maksudku, mengapa kau menyerang ku?”


“Hamba… hamba kira Dewi Agung adalah salah satu dari para pemburu itu.”


Anna berpikir sejenak, dia dapat menebak bahwa para pemburu yang dimaksudkan Orc itu adalah tim raid.


“Tapi, bukankah Dungeon ini adalah Dungeon baru? Bagaimana kau bisa tahu tentang para pemburu itu?”


“D-dungeon?”


“Hmm…”


Orc tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Dia terdiam untuk beberapa saat untuk memikirkan kembali pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu Anna tanyakan padanya.


“Sebagai salah satu dari mereka, mengapa dia tidak mengetahuinya?” pikir Orc, sedikit merasa curiga.


“Yah… simpan dulu jawabanmu.” Ucap Anna yang kemudian bangkit berdiri dan kembali menatap sekeliling tempat itu.


Orc yang baru menyadari kehadiran pihak lain, terkejut dan menoleh ke arah kanan kirinya.


Dari dua arah berlawanan, tampaklah bangsa Orc berbondong-bondong menghampiri dan mengepung tempat mereka berada.


Dari arah kiri, Orc yang bertubuh tinggi besar dengan tubuh kekarnya yang memiliki otot-otot yang menonjol yang sama seperti Orc yang sedang berbicara pada Anna, berjalan menghampiri mereka dengan ratusan pasukan dibelakangnya.


Sementara itu di sebelah kanan, Orc yang bertubuh tinggi kurus dengan mengenakan pakaian yang menutup hampir seluruh tubuhnya, juga memimpin ratusan pasukannya yang berpakaian serupa dengannya menghampiri Anna.


Hanya beberapa menit kemudian, ratusan Orc dengan tampilan dan aura tidak bersahabat itu telah mengepung mereka.


•••

__ADS_1


__ADS_2