
Sepanjang hidupnya, baru tiga kali Anna pernah merasakan dia sedang dalam keadaan terancam bahaya.
Yang pertama adalah saat Cassey ingin membunuhnya. Yang kedua, saat ia hampir mati ketika tanpa sengaja melakukan perjalanan antar galaksi.
Namun diantara ketiganya, Anna merasa bahwa saat inilah yang ia rasa paling berbahaya.
Selain ketiga orang yang sedang menatapnya dengan sangat seksama, Anna juga merasakan dinding goa di sekitarnya terasa hidup dan terkandung energi sihir besar di dalamnya.
Namun demikian perasaan terancam bahaya itu bukan hanya terjadi pada Anna. Sama seperti yang sedang ia rasakan, Anna juga dapat menangkap adanya rasa khawatir yang sama dari tatapan ketiga makhluk di hadapannya.
Sangat mudah mengetahui ekspresi wajah mereka karena mereka memiliki wujud dan wajah yang sangat mirip dengan manusia.
Ketiganya makhluk itu sebelumnya tampak duduk dan mengobrol dengan santai. Namun mereka tiba-tiba bangkit berdiri sampai menjatuhkan bangku yang mereka duduki, lalu menatap Anna dengan mata melotot ketika Anna sudah menjejakan kaki di lantai goa.
“A-ann Arnix? K-kenapa sang dewi bisa ada di sini?"
Salah satu dari mereka berbicara dengan tergagap pada kawannya.
Anna tertegun. Walaupun ketiga makhluk di hadapannya sangat mirip dengan manusia, namun bahasa yang mereka gunakan sama dengan bahasa yang digunakan makhluk berkulit merah yang lehernya kini berada di cengkeramannya.
'Mereka bukan manusia. Aku belum pernah mendengar bahasa seperti yang mereka gunakan di Bumi. Bahasa itu sama dengan bahasa yang digunakan monster tadi.'
Anna juga tertarik dengan apa yang baru saja makhluk itu katakan. Akhirnya dia mendengar sebuah nama yang ia duga pasti adalah nama pemilik tubuhnya, karena ia melihat tatapan makhluk itu yang menatap tubuhnya dari atas sampai ke bawah. Tatapan itu terlihat seperti mereka sedang berusaha mengenalinya.
Anna hendak membuka mulutnya dan berbicara, namun ia teringat kembali akan pembicaraannya dengan makhluk yang sedang pingsan dalam cekikannya.
'Mereka mungkin tidak akan menjawab pertanyaan ku kalau mereka tahu aku bisa berbicara dengan bahasa mereka, kan? Kalau pemilik tubuh ku ini adalah musuh mereka, kemungkinan besar mereka akan langsung menyerang ku.'
"Dewi Arnix. Tidak saya sangka engkau masih bernyawa. Mungkinkah engkau berhasil lolos dari kebinasaan?" Ucap salah satu makhluk dengan nada bertanya.
Anna membuka mulutnya, ternganga. Bukan karena apa yang makhluk itu katakan, namun karena terjemahan yang ia dengar di telinganya terasa tidak akrab layaknya seseorang sedang berbicara pada lawan bicaranya.
'Dia sedang membaca puisi?'
Anna berdehem satu kali sebelum akhirnya membuka mulut dan berbicara.
"Ya. Aku telah lolos dari kebinasaan." Anna diam sebentar untuk berpikir dengan cepat apa yang akan ia katakan selanjutnya. "Apa yang sedang kalian lakukan disini? Dan kenapa kalian tidak mengajak ku duduk bersama?"
Glup...
Anna merasa sedikit gugup setelah mengatakan apa yang terlintas di pikirannya, berharap mereka mau mengajaknya berbicara agar ia bisa mendapatkan setidaknya sesikit informasi mengenai siapa dirinya dan mengapa gerbang Dungeon bisa bermunculan di Bumi.
Setelah Anna menyelesaikan kalimatnya, ia melihat ketiga makhluk itu saling bertatapan dengan wajah bingung.
Setelah sepertinya saling menyepakati sesuatu, salah satu dari mereka berbicara, "Kau bukan sang dewi. Siapa kau sebenarnaya?"
__ADS_1
Mendengar perubahan gaya bahasa dan gaya bicara yang sebelumnya puitis menjadi normal layaknya orang berbicara biasa. Anna tercengang.
'Apakah pemilik tubuh ini sejenis bangsawan? Kenapa tadi mereka berbicara dengan sopan dan puitis lalu sekarang berbicara kasar saat menebak jika aku bukan pemilik tubuh asli?'
"Aku..."
"Binasakan dia!" Teriak salah satu dari mereka, tanpa memberi Anna kesempatan untuk berbicara lagi.
Anna tiba-tiba merasa dinding batu di sekitarnya bergejolak. Saat ia menatap dinding batu tersebut, sesosok makhluk yang mirip dengan makhluk berkulit merah yang sedang ia cekik bermunculan dari dalam dinding goa.
Walaupun rupa mereka mirip, namun warna kulit mereka agak sedikit lebih cerah dibandingkan makhluk yang pingsan di cengkeraman Anna.
Ada puluhan makhluk yang bermunculan dari dalam dinding batu dan mereka langsung menyerang Anna.
Anna langsung memecahkan kepala 6 makhluk yang masih mengambil ancang-ancang untuk menusuk atau menebasnya, dengan tombak tulang di tangannya.
Namun, karena gerakan menyerangnya, pada saat itu juga Anna lengah.
Salah satu dari ketiga makhluk di sekitar meja kayu tiba-tiba lenyap dan muncul kembali di hadapan Anna.
Begitu ia muncul di depan Anna, makhluk itu langsung menyerang Anna hanya dengan menggunakan tangan kosong.
Anna sempat melihat ancang-ancang gerakan tangan yang kemudian bergerak dengan sangat cepat meninju ke arah bagian bawah tubuhnya.
Plak… Banggg!!!
Ledakan besar terjadi saat dua energi sihir saling beradu.
Saking besarnya energi sihir tersebut, makhluk berkulit merah yang tadi terlepas dari cengkeraman Anna beserta tombak di tangannya yang lain, meledak. Begitu pula dengan makhluk-makhluk yang baru keluar dari dalam dinding goa. Tubuh mereka langsung hancur berkeping-keping.
Akibat ledakan dari hasil adu tenaga sihir mereka, Anna dan penyerangnya sama-sama terpental.
Namun, karena kalah unggul jumlah orang, Anna harus menerima serangan lagi dari lawan lain yang menyerang dirinya dengan tembakan pedang sihir hitam yang terbang dengan sangat cepat ke arahnya.
Saat pedang hitam itu melesat ke arahnya, Anna bahkan bisa merasakan hawa sihirnya tiba mendahului pedang yang masih terbang ke arahnya.
Banggg!!!
Anna berhasil menangkis serangan itu, tapi dia kembali terpental hingga hampir jatuh ke dalam lubang hitam yang merupakan pintu masuknya ke goa tadi.
Tidak sampai di situ, sebelum Anna sempat menstabilkan pijakannya, serangan ketiga datang.
Serangan dari makhluk ketiga berupa panah hitam, melaju ke arahnya dengan kecepatan yang bahkan hampir tidak bisa Anna lihat dengan kedua mata spesial yang sebenarnya sudah ia fokuskan sejak serangan pertama tadi.
Anna yang tidak diberikan waktu untuk berpikir dan bergerak, hanya bisa menangkis kembali serangan ketiga dengan membuat perisai sihir di depan tubuhnya.
__ADS_1
Bannggg!!!
Walaupun ia sempat menangkis serangan tersebut, namun daya ledak dari beradunya energi sihir mereka, membuatnya terpental lebih jauh.
Sialnya, kali ini Anna terpental keluar dari lubang hitam dan kembali ke Dungeon tempat ia berada sebelumnya.
Anna berusaha menahan laju tubuhnya yang terbang menjauh dari lubang hitam. Lalu, dengan memberikan hentakan pada kedua kakinya, ia kembali melesat menuju lubang hitam.
Namun, lubang hitam beserta seluruh awan gelap yang mengitarinya tiba-tiba lenyap seakan tak pernah ada di sana sebelumnya.
"Sial!"
Anna menoleh kesana-kemari, berharap lubang hitam itu berpindah ke tempat lain, namun ia tidak menemukannya sama sekali, karena lubang hitam itu sudah benar-benar lenyap.
Merasa kesal dengan hilangnya sebuah petunjuk penting, Anna hendak berteriak untuk melampiaskan kekesalannya.
"Sial, benar-benar sangat sial!" Umpat Anna pada akhirnya.
°°°
Setelah Anna dapat menstabilkan emosinya, ia mengingat bagaimana kekuatan energi Mana ketiga makhluk tadi.
Akhirnya, ia merasakan sedikit kengerian juga jika harus bertarung sekaligus melawan ketiganya.
"Untung saja mereka tidak menyerang ku bersama-sama."
Saat Anna tadi merasakan energi Mana dari masing-masing makhluk itu, ia menilai bahwa masing-masing dari mereka mungkin memiliki kekuatan yang setara dengan dirinya.
Mengingat itu, dia jadi merinding. Kenekatan nya mungkin akan berakibat fatal jika ia memaksakan diri untuk bertarung lebih jauh.
Anna mendesah pelan, sedikit merasa beruntung karena makhluk-makhluk itu langsung menyudahi pertarungan.
"Jika aku bertemu lagi dengan mereka, aku harus bertarung dengan serius sejak awal." Gumam Anna.
"Tapi... Apa mereka itu makhluk yang menghubungkan gerbang Dungeon ke Bumi? Dan kenapa mereka ini terlihat sangat mirip dengan manusia?" Gumam Anna seraya menatap kedua tangannya. Yang ia maksudkan dengan 'mereka' pada kalimat kedua adalah ketiga makhluk tadi dan juga pemilik tubuhnya yang asli.
Saat Anna mengingat kembali ketiga makhluk tadi, pemikiran-pemikiran mengenai kemungkinan siapa mereka, mulai bermunculan di dalam benaknya.
Namun, walaupun ia sudah kehilangan jejak mereka, setidaknya ada satu hal yang Anna dapat.
Anna akhirnya mengingat kembali nama yang sempat terucap oleh salah satu makhluk dan berusaha mengingat dan menyimpan nama itu di dalam benaknya.
Walaupun ia belum tahu siapa Ann Arnix yang disebutkan tadi, setidaknya ia mendapatkan nama dari pemilik tubuhnya saat ini, karena ia yakin nama itu adalah nama pemilik tubuhnya.
“Tapi, apa namanya tadi? Anarniks? Tapi sepertinya nama nya memiliki dua suku kata, kan? An Arniks? An? Kenapa namanya juga mirip nama ku?”
__ADS_1