
Ada seorang siswi yang langsung duduk bersama Anna dan Ren setelah mereka berdua memesan makanan ringan dan mengambil salah satu tempat duduk.
“Hai. Kau masih mengingat ku?” tanya Lucy Logan sambil menatap Anna dengan mata yang berseri.
“Tentu, Lucy.” Sahut Anna yang juga menatap Lucy dengan senang.
Lucy terkejut saat mendengar Anna bahkan bukan hanya mengingatnya, namun juga menyebutkan namanya.
“Bagaimana kau tahu nama ku? Aku tidak ingat pernah berkenalan langsung dengan mu.” Tanya Lucy penasaran.
“Aku membaca di name tag mu saat ujian.”
“Ah, begitu...” sahut Lucy malu-malu. Dia kemudian menoleh pada Ren, lalu tersenyum padanya. “Hallo, Ren.”
Kini giliran Ren yang kaget saat siswi terbaik di kelas B itu mengenalnya. Ren dan Lucy kebetulan berada di kelas yang sama. Mungkin, satu-satunya siswa yang tidak menatap Ren dengan tatapan meremehkan di kelasnya hanyalah Lucy.
Mereka memang tidak pernah mengobrol secara langsung, namun Lucy juga tidak pernah bersikap meremehkannya.
Dari penilaian Ren, Lucy adalah siswi yang sangat serius dalam semua pelatihan yang diikutinya, walaupun terkadang berbicara dengan sedikit ‘kasar’ pada teman sekelas mereka, saat melihat ada hal tidak tepat yang mereka lakukan, walaupun sudah di ajari berulang kali.
“Nona Logan.” sahut Ren pelan, sambil menganggukkan kepalanya.
“Panggil saja dengan nama depan ku. Lucy.” Ucap Lucy yang kemudian menoleh pada Anna lagi. “Aku ingin menyapa mu sejak tadi, tapi...”
Anna tersenyum. “Yah, masa remaja memang agak rumit.”
Lucy mau tidak mau tertawa mendengarnya.
“Kakak-kakak ku pernah mengatakan, ‘Janganlah melakukan hal yang terlalu konyol saat kau masih remaja. Kau akan malu di kemudian hari saat mengingatnya'."
“Sepertinya mereka melakukan banyak kekonyolan di masa remaja dan tidak ingin kau mengulanginya,” Anna mengomentari. “Aku akan mengingatnya. Ucapkan terima kasih ku pada kakak mu.” Tambahnya.
“Mereka sudah meninggal di dalam Dungeon.” Sahut Lucy dengan santai, walaupun dia akhirnya tersenyum pahit.
“Ah..., maafkan aku. Aku turut berduka.” Anna tiba-tiba menyesali apa yang baru dikatakannya tadi.
Merasakan suasana canggung yang tiba-tiba terjadi karena kata-katanya, Lucy segera mengalihkan pembicaraan, “Aku sudah menunggu mu selama ini. Kemana saja kau?”
Anna menatap Lucy sesaat sebelum memberikan jawabannya. Dia kini mengerti kenapa gadis ini tampak terlalu serius saat menghadapi ujian masuk dulu.
'Mungkin karena dia tidak ingin hal buruk yang menimpa kakak-kakaknya terulang pada orang lain.'
Walaupun begitu, Anna menilai bahwa Lucy juga terlihat ingin mempercayai rekannya di saat yang bersamaan.
‘Mungkin ada penyebabnya lainnya juga?’
Anna menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi, lalu berbicara, “Aku ada sedikit urusan, jadi mengambil cuti di awal.”
Lucy mengangguk kecil, lalu kembali berbicara. “Sayang sekali kita tidak berada di kelas yang sama.”
Anna tertawa.
"Apa yang kau tertawakan? Siapapun pasti akan nyaman berada satu tim dengan mu." ucap Lucy dengan sungguh-sungguh. Dia mengingat betapa kuat dan bagusnya teknik bela diri Anna.
Lucy kemudian menunjuk Ren yang dengan refleks mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengar apa yang baru saja Lucy katakan.
"Lihat. Kau setuju kan, Ren?"
Ren terkejut lagi saat Lucy tiba-tiba menyebut namanya dan menunjukknya.
"Ya? Oh... Ya. Tentu."
Keterampilan Anna yang Ren lihat, bahkan lebih menakjubkan dari yang Lucy rasakan saat satu tim dengan gadis itu.
Anna bahkan membunuh monster nyata di Dungeon berperingkat C dengan mudah. Apalagi hanya monster virtual seperti di ujian penerimaan siswa.
Ren tiba-tiba mengingat ujian yang dilaluinya sendiri dan sangat kerepotan menghindari monster-monster virtual yang memburunya, padahal itu hanyalah monster dari Dungeon berperingkat E yang kemampuannya sudah diturunkan sebanyak 75% dari aslinya.
Saat itu dia merasa bangga dan beruntung karena bisa lolos. Namun saat mengingat Anna bahkan bisa membunuh monster asli di Dungeon peringkat C, dia merasa dirinya yang terlalu bangga itu sangat konyol.
°°°
__ADS_1
Melihat Anna tidak merespon, Lucy berpikir sejenak sebelum akhirnya bertanya, "Jangan bilang, kau tidak tahu kalau teman sekelas akan menjadi rekan di tim yang sama sampai kita lulus dari Akademi?"
Lucy mengingat betapa minimnya pengetahuan Anna saat mereka mengikuti ujian dulu.
'Dia memang berbakat, tapi sepertinya dia malas membaca.'
Anna tertawa lagi, sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku belum sempat mencari informasi apapun tentang ujian saat itu. Aku merencanakannya di malam hari dan pergi mendaftar di pagi hari."
"Apa?!"
Mengetahui hal itu bahkan lebih mengejutkan di bandingkan mengira Anna adalah seorang yang malas mencari informasi.
"Kau..., lain kali berhati-hati. Ada rekan-rekan mu yang akan celaka kalau kau teledor." Ucap Lucy seraya menatap Anna dengan tajam. Namun, saat dia menyadari kalau kata-katanya berlebihan, dia menyesalinya. "Oh... Maafkan aku," ucap Lucy pelan.
"Tidak apa. Terima kasih sudah mengingatkan." Sahut Anna dengan lembut. Dia menatap Lucy dan merasa bersimpatik padanya.
'Pasti karena kakak-kakaknya.'
"Andai saja bisa pindah ke kelas A." Ucap Lucy memecah suasana yang hening sesaat.
"Kau bisa pindah ke kelas C kalau kau mau." Sahut Anna. Namun, dia hanya bercanda.
Lucy memicingkan matanya. "Kau benar-benar sudah mempelajari hal yang tidak berguna."
Memang ada peraturan tertulis di Akademi. Seorang siswa dapat pindah ke kelas yang lebih rendah atas permintaannya sendiri dalam jangka waktu 1 bulan setelah penerimaan siswa. Namun mereka tidak bisa meminta pindah ke kelas yang lebih tinggi.
Akademi juga tidak akan memberikan rekomendasi di kemudian hari untuk memindahkan siswa di kelas rendah ke kelas yang lebih tinggi walaupun siswa itu menunjukkan bakat dan kerja kerasnya.
Hal itu ditujukan untuk keseimbangan tim di tiap kelas.
“Kau sebegitunya ingin satu tim dengan ku?” tanya Anna pada Lucy.
Lucy mengangguk cepat, “Ya. Aku ingin belajar banyak dari mu.” Lucy kemudian menatap Anna dengan penuh selidik, lalu bertanya, "Kau ingin pindah ke kelas ku?"
Mengingat Anna berada di kelas A, dia bisa minta dipindahkan ke kelas B.
Anna menghela nafasnya perlahan, sambil terus menatap kedua mata Lucy dia berkata, “Aku akan mengajari mu.”
Anna menatapnya sambil tersenyum. “Seharusnya aku yang menanyakan itu.”
Lucy mengangguk cepat sekali lagi. “Aku serius, bela diri mu sangat hebat!”
Anna kembali tertawa. Pujian itu sangat menghiburnya.
“Tapi...,” Lucy menoleh pada Ren dan Anna secara bergantian, “Apa kalian sudah lama saling mengenal?”
Tatapan Lucy berhenti pada Ren. Melihat gadis itu tampak menunggu jawaban darinya, Ren melirik Anna yang duduk di seberangnya.
“Kami baru tiga kali bertemu, aku sebenarnya berteman dengan kakaknya.” Sahut Anna, saat melihat Ren tampak enggan untuk menjawab pertanyaan Lucy.
Lucy agak terkejut mendengarnya.
“Tapi, kalian tampak sangat akrab.”
“Apakah kita tidak terlihat akrab?”
“Ya?”
Lucy mengernyitkan alisnya mendengar itu. Lucy kemudian mengingat bahwa dia dan Anna juga baru bertemu sebanyak 2 kali dan Anna tampak sangat terbuka ingin berbicara dengannya seperti seorang kenalan lama.
Dia kemudian tertawa canggung.
“Ah... kau memang mudah di ajak berbicara.” Lucy kemudian menoleh pada beberapa siswa yang berada di meja lain yang dia tahu sedang membicarakan Anna dengan tuduhan tidak baik. “Mereka akan menyesal karena salah menilai mu.”
Anna hanya tersenyum, tidak menanggapinya.
“Tapi, kau sebenarnya terlihat sulit di dekati.” Ucap Lucy lagi.
“Hah? Apa aku terlihat seperti itu?" Anna agak kaget mengetahui itu untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Selama ini dia melihat Cassey sebagai orang yang mudah di dekati, karena sangat ramah pada siapa saja. Jadi, dia berusaha ingin seperti kakak tirinya itu. Hal itu sepertinya berhasil karena dia banyak memiliki teman di SMA, walaupun di luaran dirinya tidak sepopuler Cassey.
“Kau selalu mengenakan masker mu, seakan memberi tahu orang-orang kalau kau tidak ingin berbicara pada mereka karena sedang mengalami penyakit menular.” Lucy tertawa kecil, lalu menoleh pada Ren. “Iya kan? Jangan-jangan kau juga tidak pernah melihat wajah Anna sepenuhnya?”
Ren agak terkejut karena tiba-tiba dilibatkan. Namun dia akhirnya menganggukkan kepalanya.
Anna juga menatap Ren.
“Padahal kita sudah berkencan di pertemuan kedua kita.” Ucap Anna sambil menatap Ren dengan pura-pura tampak menyesal.
“Hei...” Ren menatap Anna dengan wajahnya yang memerah.
Sementara Lucy mengangguk-anggukkan kepalanya pelan sambil menatap dua orang di hadapannya secara bergantian. “Jadi, hubungan kalian seperti itu... Pantas saja. Aku memang sudah menduganya.”
Anna tertawa, dia mengerti apa maksud perkataan Lucy. Itu tentang dia dan Ren yang berjalan sambil bergandengan tangan.
“Ok, maafkan aku sudah mengganggu waktu kalian.” Ucap Lucy. Dia kemudian menatap Ren. “Aku salut pada mu. Kau bahkan mau berkencan dengannya tanpa tahu wajahnya.” ucap Lucy dengan tatapan respek pada Ren. Lucy kemudian mengambil seiris kentang panggang di hadapannya. “Aku minta satu.”
“Oh, makan lah. Kau bisa pesan apa saja yang kau mau, aku akan membayarnya.” Ucap Anna sambil mengeluarkan amplop dari kantong seragamnya, mengambil sebuah kartu di dalamnya, lalu menyerahkannya pada Lucy.
Lucy menerimanya dan sedikit terkejut dengan nilainya.
“Keluarga mu pasti kaya raya.” Ucap Lucy. Tapi dia mengatakannya sambil menatap Ren. "Kau benar-benar pria idaman," tambahnya.
Lucy tahu itu adalah amplop yang tadi Ren serahkan pada Anna. Dia juga melihatnya dari kejauhan.
Ren langsung mengerti. Sambil melambai-lambaikan kedua tangannya di depan tubuhnya, dia langsung menyangkal perkiraan itu. “Tidak... Aku... hanya mengembalikan uang yang ku pinjam.” Sahut Ren, menutupi asal uang yang sebenarnya.
Namun hal itu malah membuat Lucy menatapnya dengan curiga.
“Kau..., jangan-jangan kau mendekatinya untuk memeras uangnya? Hati-hati, dia bisa menghajar mu!” Lucy mengingatkan.
“Hei, kau salah paham.” Sahut Ren.
Anna hanya mendengarkan pembicaraan mereka sambil tertawa. Dia sedikit terkejut melihat Lucy ternyata seorang yang ceplas-ceplos saat berbicara dan juga tahu bahwa gadis itu tidak memandang teman dari latar belakangnya, karena dia bahkan tidak tahu Ren berasal dari daerah pinggiran dan mengiranya anak seorang kaya raya.
Anna kemudian melepaskan maskernya, lalu mengambil gelas di depannya dan meminum coklat hangat yang sudah mulai dingin.
Lucy dan Ren tidak melihat kapan Anna membuka maskernya. Namun keduanya terdiam saat melihat wajah Anna yang terpampang jelas saat sudah tidak mengenakan masker.
Lucy mengedip-ngedipkan matanya seakan tak percaya pada pemandangan di hadapannya.
‘Ini benar-benar nyata. Ada seorang dewi khayangan di depan ku.’
Anna hampir tertawa saat melihat Lucy menatapnya dengan mulut yang menganga. Dia sudah terbiasa mendapat tatapan seperti itu sejak dulu. Walaupun dia sedang tidak berada di tubuhnya sendiri, namun dia tahu wajahnya dan wajah pemilik tubuhnya sekarang ini sama persis.
Kelebihan tubuhnya saat ini adalah beberapa bagian tubuhnya terlihat lebih matang. Selain itu, rambutnya benar-benar sangat halus dan berkilau, demikian juga kulitnya yang lebih putih bercahaya.
Tubuhnya ini sepertinya benar-benar sangat terawat sebelumnya.
“Ada apa? Pesanlah makanan dan minuman mu.” Ucap Anna pada Lucy, yang diam menatapnya dengan wajah takjub.
“Ah, y-ya...," sahut Lucy dengan tergagap. Ia akhirnya berdiri dan pergi ke bar untuk memesan minumannya.
Dalam perjalanannya menuju bar, Lucy memperhatikan siswa-siswi di meja lain yang sedang terpaku menatap Anna.
‘Nah, kalian semua terdiam sekarang.’
°°°
“Jangan melamun, makanlah. Kau tadi kehilangan sebagian makanan mu, kan?” ucap Anna, membuyarkan lamunan Ren yang sedang terpaku menatap wajahnya tanpa malu.
Sebenarnya, bukan hanya Ren. Semua orang yang berada di kafe, terpukau saat melihat wajah Anna.
Mereka semua secara tak sengaja menghentikan aktifitas masing-masing untuk melihat kecantikan Anna yang menyerupai seorang dewi khayangan yang hanya bisa mereka bayangkan saja dan tak pernah mereka lihat sebelumnya.
Saat Anna mengejutkannya, Ren langsung mengalihkan tatapannya dan mengambil kentang panggang dan langsung memakannya.
Setelah itu, Ren tidak berani lagi menatap Anna, sampai mereka keluar dari kafe dan berpisah di koridor.
Ren dan Lucy pergi ke ruang kelas untuk bersiap mengikuti pelajaran siang, sementara Anna, pergi menuju ruangan kepala Akademi.
__ADS_1
Saat mereka masih di kafe tadi, Anna mendapatkan panggilan dari wali kelasnya, untuk pergi menghadap kepala Akademi saat jam pelajaran siang.
•••••••