
“Kau tidak pergi sekarang? Maksudku, bukankah kau harus pergi ke Dungeon?” Tanya Anna pada Gina yang tampak santai menemaninya.
“Tidak apa-apa.” Sahut Gina sambil melirik jam di smartphonenya. “Aku masih punya waktu empat jam lagi.”
Gina juga berpikir untuk menunggu Anna sampai selesai mengikuti ujian kedua, karena dia bisa menebak bahwa Anna kemungkinan besar akan gagal di ujian kedua dan akan menghiburnya lalu mengantarkannya pulang kembali. Dari saat ini sampai waktu ujian kedua akan dimulai tidak membutuhkan waktu yang lama.
Gina kemudian berbicara kembali.
“Lulus tidaknya kau akan ditentukan setelah mengikuti tes kedua dan ketiga. Kita nantinya akan selalu bertarung melawan monster-monster di dalam Dungeon, jadi tes fisik dan bertarung adalah yang paling menentukan.”
“Jika kau dianggap tidak layak, maka kau akan dianggap belum mencukupi standar calon siswa dan tidak akan diterima. Tapi karena kau sudah mendaftar di tahun ini, maka kau akan mendapatkan kesempatan panggilan lebih dulu untuk diterima sebagai siswa Akademi tahun depan.” Gina menjelaskan.
Anna mengangguk. “Ya.”
“Nah, dari ujian ini juga nantinya akan menentukan pembagian kelas. Pihak Akademi akan membagi siswa dengan adil. Karena nantinya, teman-teman satu kelasmu akan menjadi rekan satu tim dalam mengikuti praktek-praktek raid Dungeon.”
Anna mengangguk sekali lagi. Walaupun Gina baru saja memberitahunya informasi penting, tapi Anna menganggap tidak terlalu membutuhkan informasi tersebut.
Ada hal lain yang benar-benar perlu dia tau yakni bagaimana cara cepat untuk mendapatkan lisensi. Jadi, Anna bertanya.
“Apakah seseorang bisa mendapatkan lisensi dalam waktu cepat setelah menjadi siswa Akademi?"
Gina hampir tertawa dengan pertanyaan itu. Tapi, sebenarnya ada tampak sedikit kebanggaan di wajahnya.
“Itu sedikit sulit. Hanya seseorang yang dinilai memiliki kecakapan lebih yang mungkin dapat lulus dalam waktu cepat.” Sahut Gina.
“Apakah ada yang pernah melakukannya?”
“Ya, itu terjadi lima tahun lalu. Seorang siswa lulus hanya dalam waktu dua tahun.”
“Dua tahun?” Anna tampak terkejut mengetahui jangka waktu yang ditempuh siswa tersebut.
“Itu sangat lama.” Pikir Anna.
“Ya, hanya dua tahun.” Sahut Gina yang kemudian tersenyum.
Berbeda dengan Anna, Gina mengira Anna tau bahwa jangka waktu dua tahun adalah jangka waktu yang sangat singkat, mengingat biasanya seseorang membutuhkan waktu sedikitnya 4 tahun untuk dapat lulus dan memiliki lisensi.
Banyak dari siswa yang akhirnya baru dapat lulus setelah mengikuti pelatihan selama 6 sampai 7 tahun, dan banyak juga yang pada akhirnya mengundurkan diri karena tidak sanggup untuk mengikuti pembelajaran berat yang ditetapkan Akademi Hunter.
“Aku mengerti. Terima kasih.” Sahut Anna sambil menatap para peserta ujian.
“Ok, semoga berhasil. Aku akan mendukungmu... berjuanglah... ok?” Ucap Gina memberi semangat. Ia kemudian berbalik pergi dari tempat mereka berdiri setelah mendapat jawaban anggukkan dari Anna.
“Kau mau kemana?” Tanya Anna dengan sedikit bingung. “Bukankah dia bilang memiliki banyak waktu?” Pikirnya
Gina berbalik sebentar dan berbicara lagi. “Aku... akan menonton dari sana...” Ucap Gina sambil menunjuk ke arah tribun.
Anna menoleh ke tribun dimana banyak para wali siswa sedang menanti dan menonton anak-anak atau saudara mereka mengikuti tes.
“O-oh...”
Anna membalas lambaian tangan Gina dan ia pun melangkah pergi hendak menuju barisan antrian.
“Kau takut hingga tak ingin walimu meninggalkanmu sendiri?” Sindir seorang gadis yang berdiri di belakang Anna dengan tersenyum menghina.
Anna menoleh padanya dan menyipitkan matanya saat dia mengenal gadis itu.
__ADS_1
Gadis itu terkejut saat bertatapan langsung dengan gadis cantik yang sebelumnya tidak dia lihat wajahnya dengan jelas, karena sebelumnya dia hanya bisa melihat Anna dari arah samping dan belakang.
Milena William, yang adalah adik dari salah satu teman Cassey Lloyd, bahkan tanpa malu menatap Anna dengan takjub.
“Apa dia mengenal ku?” Pikir Anna sedikit khawatir. Ketahuan Cassey dengan begitu cepat, akan sedikit mengganggu rencananya.
Saat sadar dari lamunannya setelah sebelumnya terkesima melihat wajah Anna, Millena mencibirnya lagi dan pergi meninggal Anna untuk mengantri di barisan yang berada agak jauh dari barisan kelompok Anna.
“Oh, dia tidak mengenali ku?” Pikir Anna sambil mengerutkan keningnya. “Yah ku rasa tidak ada yang mengenali ku yang tertutupi segala ketenaran Cassey.” Gumamnya dengan perasaan bersyukur, lalu ia pergi menuju barisan kelas Warrior dan ikut mengantri disana.
Untuk mencegah ada orang yang mengenalinya, Anna akhirnya mengambil masker yang lupa dipakainya tadi. Dia kemudian mengenakan masker tersebut, lalu menarik tudung hoodienya untuk menutupi kepalanya.
•••
Pada ujian pertama, seluruh siswa diminta untuk meletakkan tangan mereka pada sebuah mesin pemindai dimana alat itu akan mengukur experience point calon siswa, untuk mengetahui peringkat dasar calon siswa dan seberapa besar energi mana yang mereka miliki.
Calon siswa-siswi yang memiliki tingkatan yang sama atau tidak begitu jauh akan dikumpulkan di satu barisan yang sama.
Ada 3 tempat pemisahan yang disediakan untuk mengelompokkan mereka. Kelompok bawah, menengah dan atas.
Saat tiba gilirannya, Anna berjalan perlahan menuju mesin sambil memperhatikan beberapa calon siswa yang sudah melakukan pemindaian sebelum dirinya.
Dia mengukur sebereapa besar energi mana yang mereka miliki, lalu menyembunyikan sedikit lagi energi mana miliknya.
Anna meletakan salah satu telapak tangannya pada mesin pemindai, meniru seperti apa yang dia lihat dari peserta lain yang melakukan hal serupa sebelum gilirannya.
Tak lama setelah dia meletakkan telapak tangannya pada mesin pemindai, pada monitor diatasnya tampak data dirinya.
NAME : ANNA
RANK : F
MP : 600,600
CLASS : WARRIOR
Setelah datanya tertera, Anna dipersilahkan untuk pergi ke kelompok menengah.
Setelah pengecekan experience point pada seluruh calon siswa selesai dilakukan, tes kedua pun segera dimulai.
Pada tes kedua, calon siswa diminta untuk bertarung dengan instruktur untuk mengetahui kemampuan bertarung para calon siswa Akademi. Tes kedua bertujuan agar Akademi dapat menilai siswa mana saja yang kira-kira sanggup untuk mengikuti pelatihan berat yang akan mereka jalani nantinya. Jika mereka tidak lolos tes kedua ini, mereka akan pulang lebih awal.
Para siswa akan diberikan waktu selama 3 menit untuk dapat bertahan dari serangan-serangan dasar para instruktur di dalam sebuah lingkaran yang telah disediakan. Selain hal tadi, tes kedua ini juga bertujuan untuk membagi tim yang akan mengikuti tes ketiga yang merupakan tes sesungguhnya.
Beda kelas Hunter, maka akan berbeda pula tes bertahan yang akan diberikan.
Anna melihat ujian itu sebagai hal yang menarik. Ini adalah pertama kalinya dia melihat ujian masuk Akademi.
Saat tiba gilirannya, Anna dipersilahlan untuk pergi ke lingkaran khusus untuk calon siswa yang memiliki kelas Warrior.
Sebelum masuk ke dalam lingkaran tersebut, seorang petugas memintanya untuk memakai rompi yang sudah Akademi sediakan. Rompi yang terbuat dari kulit monster Dungeon tersebut sangat berguna untuk melindungi diri agar tidak terluka.
Setelah memakai rompinya, Anna dipersilahkan untuk memilih senjata yang terletak di atas sebuah meja.
“Silahkan pilih senjata yang biasa kau gunakan.” Ucap pria itu.
“Aku akan melakukannya dengan tangan kosong.” Sahut Anna dengan santai.
__ADS_1
“A-apa?!” Pria itu terkejut. “Kau belum pernah belajar dasar-dasar menjadi Hunter sebelumnya?!” Tanya pria itu dengan sedikit marah.
Tidak ada Hunter dengan kelas Warrior yang tidak menggunakan senjata sebagai media untuk bertarung.
Hanya kelas Healer dan Mage-lah yang dapat memaksimalkan kekuatan mereka walaupun tanpa perantara senjata apapun.
“Oh...”
Anna menyesal mendengar itu. Dia memang belum pernah tau dasar-dasar peraturannya. Keluarganya pun bahkan tidak pernah memberitahukannya. Dia hanya berlatih bersama para pelayan keluarga Lloyd dengan tujuan hanya untuk melindungi diri saja, bukan dengan tujuan untuk menjadi Hunter profesional.
“Kalau begitu...”
Anna menatap beberapa senjata di meja kemudian menatap instruktur penguji yang sudah menunggu di dalam lingkaran pertarungan.
“Aku hanya harus bertahan selama tiga menit kan?” Tanya Anna pada petugas itu.
Dengan sedikit senyuman menghina di bibirnya, petugas itu menjawabnya.
“Ya. Semoga beruntung.” Sahut petugas itu. “Bisa bertahan sepuluh detik saja kau sudah hebat.” Pikir petugas itu saat memperhatikan tubuh Anna yang ramping tanpa otot terlatih seperti orang yang tidak pernah melakukan latihan fisik, padahal dia seorang Warrior.
"Sayang sekali, tubuh indahnya akan babak belur setelah ini."
Anna mengangguk. "Kalau begitu… Aku akan memilih ini.”
Anna beralih ke sebuah rak yang khusus digunakan untuk meletakkan tombak-tombak panjang. Dia lalu mengambil sebuah tombak sebagai senjatanya.
Melihat pilihan senjata gadis itu, mata petugas itu menyipit. “Kau tahu cara menggunakannya kan?” Tanya pria itu curiga. Dia takut gadis itu akan mengalami celaka jika sebelumnya tidak pernah berlatih menggunakan senjata yang terbilang sukar untuk digunakan.
Memilih tombak panjang sebagai senjata memiliki resiko yang lebih tinggi untuk kesulitan saat menggunakannya dibandingkan sebuah pedang. Terutama dari kondisi fisiknya, pria itu menilai bahwa tubuh Anna tampak sangat terawat dan tidak menunjukkan tanda-tanda pernah mengikuti sebuah latihan.
“Tentu.” Sahut Anna yang kemudian masuk kedalam lingkaran pertahanan untuk memulai tesnya.
Lingkaran itu tidak terlalu besar. Diameternya hanya 6 meter.
Sejauh ini, hanya sedikit calon siswa yang mampu bertahan di kelas Warrior.
Instruktur penguji di kelas Warrior ini adalah seorang pria bertubuh besar dengan otot-ototnya yang sangat menonjol dari balik seragam instruktur Akademi yang ia kenakan.
Pria itu menatap Anna dengan sedikit keraguan. Dia tadi mendengar apa yang petugas tempat peminjaman senjata dan Anna bicarakan dan dia memiliki pemikiran yang sama dengan pria itu saat melihat Anna yang tampak seperti seorang putri manja yang tidak pernah melakukan kegiatan seperti pelatihan fisik malah memilih tombak sebagai senjatanya.
"Pilihan yang tidak tepat."
“Apa kau siap?” Tanya pria itu.
Anna yang sebelumnya berdiri tegak dan menjepitkan tombak panjang itu di ketiaknya langsung memasang kuda-kuda saat pria itu bertanya padanya.
“Tentu.” Sahut Anna yang langsung memasang kuda-kuda bertarung dan memegang tombak itu dengan kedua tangannya.
Berbeda dengan penampilannya yang tampak lemah, gerakannya saat hendak memasang kuda-kuda dan posisi kuda-kudanya saat ini nampak kokoh seperti seorang profesional bela diri.
Dia juga tampak seperti seorang pendekar di film-film aksi yang sudah dilatih dalam akting hingga terlihat seperti seorang pendekar yang sangat berpengalaman dalam bertarung.
“Semangat adik ku!!!”
Teriakan seseorang terdengar dari tribun penonton.
Tanpa menoleh pun, Anna sudah tau yang berteriak adalah Gina Stewart.
__ADS_1
Sementara itu, instruktur penguji menoleh ke arah datangnya suara karena suara orang itu terdengar sangat tidak asing baginya. Saat dia melihat pemilik suara adalah orang yang sama seperti yang dia pikirkan, dia terkejut. Pria itu kemudian menatap Anna lagi dengan seksama.