
“Tzaca, apakah daratan di planet mu ini sangat luas?”
Tzaca mengambil sebuah benda dari dalam jubahnya. Benda itu berbentuk persegi delapan.
Setelah melihat benda itu sebentar, Tzaca memasukkan kembali benda itu kedalam saku jubahnya.
Tzaca kemudian menunjuk pada sebuah arah.
“Sepanjang daerah itu banyak dataran luas,” ia kemudian berputar sebanyak 90° dan menunjuk ke arah depannya, “Di arah ini, banyak lautan luas.” Tzaca kini berpaling sebanyak 90° lagi, “Arah ini banyak hutan belantara, dewi agung." Tzaca mengakhiri penjelasan dengan gaya kakunya seperti biasa.
Anna mengangguk kecil setelah menunggu Tzaca memberikan informasinya secara lengkap.
Padahal, awalnya, Anna tadi hanya ingin mendengar jawaban 'ya' atau 'tidak' saja.
“Lalu, apa masih ada bangsa mu yang menghuni di daratan atau hutan-hutan?”
“Ya, dewi agung. Bangsa kami berjumlah kira-kira tiga miliar jiwa.”
“Hah?!”
Anna terperanjat.
3 miliar adalah jumlah yang sangat banyak. Setahu Anna, semua bangsa Orc memiliki skill bertarung dengan energi Mana minimal rata-rata seperti seorang Hunter berperingkat C.
'Itu berarti, jika gerbang masih terbuka…'
Anna tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi.
“Tapi, raja kalian sudah tewas. Apakah bangsa mu akan tetap ingin terus bertempur jika sudah tidak memiliki raja mereka lagi? Atau akan ada penunjukkan raja baru?”
Tzaca diam sejenak. Ia kini benar-benar yakin bahwa dewi agungnya ini pasti tidak saling mengenal dengan dewa yang telah membuat pilar sihir dan juga pembuat batas zona perang.
Namun, jika harus di suruh untuk memilih, Tzaca lebih suka mengikuti kehendak dewi agung di hadapannya ini di bandingkan yang lain.
“Ada tujuh raja yang mendiami planet kami, dewi agung. Yang telah Anda binasakan adalah raja penguasa kerajaan Tchazabala, kerajaan kami.”
"Tujuh raja? Jadi, ada tujuh kerajaan di planet ini?"
"Ya, dewi agung."
Anna mengangguk pelan. Dia kemudian berbalik lalu melompat ke atas singgasana besar yang dulunya milik Tzullu dan duduk bersila di sana. Anna duduk diam sampai agak lama.
Dalam lamunannya, Anna mengingat-ingat kembali informasi tentang pengetahuan Dungeon yang sudah dipelajarinya, baik dari anggota keluarganya, dari mempelajari di situs resmi Asosiasi, maupun dari pengalamannya sendiri.
Dia akhirnya sedikit tahu mengapa monster yang sama bisa keluar dari gerbang dungeon break yang berbeda, di negara berbeda pula.
‘Pasti gerbang-gerbang itu terhubung pada lokasi-lokasi berbeda juga di planet ini.’
Itulah kesimpulan Anna. Dia pernah membaca, dulu ada juga dungeon break dengan monster-monster Orc. Berarti, semua gerbang yang membawa Orc ke Bumi, terhubung dengan planet ini.
Anna juga menebak, monster-monster lain juga pasti memiliki planet-planetnya sendiri, sama seperti bangsa Orc.
Dia sebenarnya penasaran dengan sosok yang disebut dewa oleh Tzullu dan Tzaca, namun mereka tidak tahu siapa dewa itu karena tidak pernah bertemu secara langsung dan hanya mendengar ceritanya dari penatua-penatua Orc.
Namun, dari yang para penatua ceritakan pada mereka, dewa hanyalah sosok jiwa tanpa raga yang menggunakan energi sihir berwujud asap hitam sebagai perantara jiwanya untuk menyampaikan semua titahnya.
°°°
Setelah diam agak lama, Anna akhirnya berdiri.
“Tzaca, kembalilah ke dalam gerbang. Katakan pada yang lainnya, aku akan datang nanti.”
“Baik, dewi agung.”
Setelah menundukkan kepalanya lebih dalam, Tzaca bangkit berdiri dan pergi kembali menuju gerbang dunia ciptaan Anna, sementara High Orc penyihir mengikutinya dengan setia di belakang.
Anna merasakan tubuhnya agak oleng ketika dia hendak pergi dari tempat itu, sampai-sampai dia harus berdiri diam agak lama hingga dapat menguasai tubuhnya lagi dengan normal.
"Apa sih yang sebenarnya terjadi?"
Anna juga merasa planet Orc ini seakan menghisap energi Mana nya. Sejak ia berada di sini tadi, Anna sudah kehilangan sebanyak 0.01% energi Mana.
Energi Mana itu benar-benar lenyap dan tidak pulih seperti biasanya, walaupun dia tidak menggunakannya selama berbicara dengan bangsa Orc tadi.
__ADS_1
Setelah merasakan tubuhnya kembali normal, Anna pun melompat ke udara, lalu terbang dan pergi dari tempat itu.
°°°
Dalam perjalanannya berkeliling planet Orc, Anna akhirnya menemukan beberapa kerajaan seperti yang Tzaca infomasikan.
Karena merasa ada sesuatu yang salah pada kesehatannya, Anna hanya bersembunyi sambil mengamati aktifitas di dalam wilayah kerajaan-kerajaan tersebut.
Dia berusaha sebaik mungkin menghilangkan aura keberadaannya. Gadis itu berpikir, akan bahaya jika dia ketahuan dan terpaksa harus bertarung melawan mereka.
Anna sedikit khawatir saat mengingat saat ini dia sudah kehilangan 0.02% energi Mana nya yang entah menguap kemana tanpa bisa pulih.
Dia juga berpikir, mungkin saja energi Mana yang ia gunakan saat bertarung akan hilang begitu saja tanpa pernah kembali.
Anna masih belum bisa memahami keadaan planet yang bisa menyerap kekuatannya ini.
°°°
Selain Orc dengan 'spesies' sama seperti Tzullu, Anna menemukan ada Orc dengan ‘spesies’ lain di sana.
Makhluk berwajah Orc itu memiliki dua sayap di samping tubuhnya dan hanya memiliki dua kaki, tanpa memiliki tangan.
Orc bersayap yang tinggal di sekitar kawah berapi itu, memiliki energi sihir yang bahkan lebih kuat dari Raja Orc.
Namun, jumlah mereka tidak banyak.
Anna menyandarkan tubuhnya pada sebuah batu besar. Sakit kepala yang sejak tadi ia rasakan bertambah parah.
Walaupun sudah beberapa kali mencoba menghilangkannya dengan menggunakan sihirnya, entah kenapa sihirnya itu tidak bekerja.
“Apakah aku kelelahan?” pikir Anna.
Namun, itu bukanlah kesimpulan yang tepat. Karena dia tahu bahwa dia bahkan tidak menggunakan lebih dari 5% energi Mana nya saat bertarung dengan pasukan Orc di Bumi.
Sejauh ini, dia bahkan tidak pernah menggunakan energi Mana nya lebih banyak dari 3% selain saat sedang bertarung dengan Raja Orc sambil melindungi 4 Hunter dan pasukan Orc tadi.
Karena merasa kondisinya sedang tidak baik-baik saja, Anna tidak ingin memaksakan dirinya lebih jauh lagi untuk menyelidiki planet ini dan memutuskan untuk pulang ke Bumi terlebih dulu.
"Aku akan kembali lagi nanti."
Setelah memfokuskan pikirannya kesana, tubuhnya pun lenyap dari tempat itu.
Itu adalah metodenya untuk berteleportasi.
Biasanya, keadaan di sekitarnya akan langsung menjadi gelap atau terang dalam waktu kurang dari 1 detik, sebelum dia akhirnya tiba di tempat tujuan.
Namun, kali ini benar-benar berbeda.
°°°
Anna mendapati dirinya kini berada di antara kabut kristal yang berkelap-kelip.
Dia merasakan tubuhnya bergerak dengan sangat cepat menembus kabut kristal tersebut.
Kini, tubuhnya berada di kehampaan yang gelap. Namun, dia dapat melihat benda-benda berukuran besar, seperti Bumi dan Bulan dari remang-remang cahaya yang ada disana.
'Apakah itu planet?'
Saat masih menebak-nebak keberadaannya, Anna melihat bongkahan batu yang sangat besar di hadapannya dan ia kini sedang menuju kesana dengan kecepatan yang sangat mengerikan.
Dia sebenarnya tidak yakin apakah benda besar itu adalah sebuah batu biasa atau sebuah planet, melihat dari ukurannya yang mirip dengan ukuran Bulan.
'Apa itu asteroid raksasa?!'
Tahu bahwa tubuhnya akan menabrak batu raksasa itu dengan keras, Anna ingin menghancurkan batu dengan kekuatan sihirnya, namun tangannya sama sekali tidak bisa digerakkannya. Ia baru menyadari bahwa seluruh tubuhnya kaku tanpa bisa ia gerakkan sama sekali.
Anna berusaha keras untuk menggerakkan tubuhnya dengan panik, sambil terus menatap pada batu besar yang semakin dekat.
Andai itu batu biasa seperti yang biasa dia lihat di Bumi atau di dalam Dungeon, Anna tidak akan merasa khawatir.
Karena ukuran batu hitam itu sebesar ukuran sebuah Bulan itulah Anna khawatir, terutama dengan kecepatannya yang menghampiri 'batu raksasa'.
Namun, saat ia seharusnya menabrak batu raksasa itu, anehnya, dia menembusnya.
__ADS_1
‘Apa yang terjadi?! Dan kenapa aku tidak bisa menguasai tubuh ku?!’
Anna sangat panik.
Setelah melewati benda tadi, dia kini berada dalam kegelapan yang panjang.
Walaupun dapat melihat ada 1 titik kecil cahaya di kejauhan, namun dia merasa sepertinya tidak akan tiba disana dalam waktu singkat.
Energi Mana nya secara perlahan terkuras.
Sejauh ini, Anna merasakan energi Mana nya telah terkuras sampai 8%. Itu bahkan lebih besar dari energi Mana yang ia gunakan untuk bertarung melawan Raja Orc.
Cahaya keemasan keluar dari seluruh pori-pori halus di tubuhnya.
‘Akh…! Ada apa sebenarnya?!’
Anna berteriak akibat rasa paniknya, namun teriakannya itu seakan tertelan kembali karena dia sama sekali tidak bisa membuka mulutnya.
Tubuhnya terus bergerak dengan kecepatan cahaya, namun masih berada di dalam kegelapan yang panjang.
Anna tahu jika tubuhnya sedang bergerak cepat, karena dia akhirnya bisa melihat titik putih tadi mengembang menjadi sedikit lebih luas seperti sebuah pusaran kabut asap, yang berwarna putih.
Semakin lama, energi Mana nya semakin terkuras.
Anna menyadari bahwa penggunaan energi Mana nya sudah melebihi 50%. Dia bahkan tidak pernah membayangkan akan menggunakan energi Mana sebanyak itu dalam keadaannya yang tidak bisa bergerak sama sekali.
Semakin lama berada dalam kegelapan, dan semakin banyak energi Mana nya yang terkuras, tubuhnya terasa semakin panas.
Anna mencoba membaca mantra-mantra yang pernah ia pelajari dalam pikirannya saat dia berada di planet asing dulu, namun apa yang dikehendakinya sama sekali tidak terjadi.
Saat penggunaan energi Mana nya sudah mencapai 90%, Anna merasakan panas yang amat sangat di sekujur tubuhnya.
Namun demikian, pusaran putih yang berada jauh di depannya tampak semakin mengembang dan dia dapat melihat debu-debu kristal di dalamnya.
‘Itu bintang?’
Anna akhirnya menyadari bahwa benda yang sebelumnya dia kira sebagai debu itu ternyata adalah bintang-bintang.
'Gila! Apa aku berada di luar angkasa?!'
Saat penggunaan energi Mana nya mencapai 95%, percikan-percikan api mulai membakar cahaya keemasan yang sejak tadi melindunginya, terutama saat dia sudah memasuki wilayah kabut kristal.
Saat cahaya keemasan itu terbakar habis, seluruh tubuhnya mulai terbakar.
Anna merasakan sesak di dadanya. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Seluruh organ di dalam tubuhnya bergejolak seakan hendak meledak.
Saat dia sudah hampir kehilangan kesadaran, Anna merasakan adanya aliran energi sihir mengalir keluar dari seluruh bagian tubuh sebelah kirinya.
Energi sihir itu semakin lama semakin mengurangi rasa panas di tubuhnya.
Semakin lama, tubuhnya terasa semakin hangat saat energi sihir itu mengitari seluruh permukaan tubuhnya seakan ingin menjadi pelindung yang melapisi seluruh tubuh Anna dengan cahaya kebiruan.
[“Aku akan melindunginya, sisa nya ku serahkan pada mu.”]
[“Tentu. Serahkan pada ku.”]
[“Semoga kita semua selamat.”]
[“Aku akan berusaha. Ini adalah pertama kalinya kita melawan hukum perjalanan antar pusaran, tanpa melalui gerbang.”]
Walaupun sayup terdengar, Anna dapat mendengarkan dua suara berbeda, berbicara di dekatnya.
Yang pertama adalah suara seorang wanita, dan suara seorang pria menyahut setelahnya.
‘Suara pria ini?! Suaranya sama seperti suara yang pernah ku dengar dulu!’
Anna tiba-tiba mengingat suara itu.
Walaupun ini adalah pertama kalinya dia mendangar suara si wanita, namun dia pernah mendengar dan ingat dengan suara sang pria.
Suaranya adalah suara yang sama seperti suara yang memberitahunya tentang berapa lama dia tinggal di planet asing saat pertama kali berada di apartemen Gina dulu.
Namun, ini bukanlah saat yang tepat untuk mengobati rasa penasarannya.
__ADS_1
Saat penggunaan energi Mana nya sudah mencapai 99%, Anna kehilangan kesadarannya dan ia pun pingsan.
•••••••