Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 65 - Dungeon Break (3)


__ADS_3

Di lokasi Dungeon Break…


13 Hunter yang tersisa sedang berjuang untuk mempertahankan hidup mereka, alih-alih sebagai seorang pahlawan yang hendak membasmi para monster yang telah keluar dari gerbang.


Hunter-hunter itu sudah mulai terkepung oleh 8 High Orc yang jauh lebih kuat dari mereka.


Hanya ada 5 Hunter berperingkat C disana. Tentu saja, mereka bukan lawan yang pantas untuk High Orc yang rata-rata memiliki kekuatan yang setara dengan Hunter berperingkat A.


Hunter-hunter yang sekarang sedang berada di antara batas hidup dan mati itu adalah gabungan dari Hunter yang bertugas sebagai penjaga gerbang dan Hunter yang kebetulan akan melakukan pergantian jaga.


Semua Hunter tersebut berasal dari guild Black Diamond.


“Sialan, kenapa bantuan dari guild dan Asosiasi sangat terlambat sekali!” Umpat salah seorang di antara mereka. Dia bahkan berani 'menyumpahi' guild nya sendiri saat kematian nampak di depan mata.


Di antara mereka, ada seorang Hunter yang telah terluka sangat parah. Dia kini bahkan hanya bisa duduk diantara Hunter lain yang sedang berusaha untuk melindunginya.


Sebenarnya, Hunter-hunter itu tidak sedang melindunginya. Mereka hanya kebetulan telah terpojok setelah berlari dengan cukup jauh dari gerbang, untuk menyelamatkan diri dari amukan monster-monster yang memburu mereka.


Hunter-hunter itu kini terpojok dalam bentuk lingkaran kecil dan memunggungi Hunter yang sedang duduk dan terluka parah itu di tengah-tengah.


Hunter yang terluka parah itu adalah Robin Lloyd, yang kebetulan datang untuk memeriksa keadaan Dungeon, yang guild Black Diamond gunakan sebagai gudang penyimpanan asset, berupa kristal-kristal sihir.


Sialnya, saat Robin baru masuk kedalam Dungeon, ia bertemu dengan pasukan High Orc yang sedang dalam perjalanan menuju gerbang ke Bumi.


Robin langsung menjadi bulan-bulanan pasukan High Orc yang langsung menyerangnya tanpa ampun.


Walaupun sedang bernasib sial, untungnya Robin yang saat itu baru saja kembali dari raid di Dungeon lain, masih mengenakan armor nya dengan lengkap dan masih membawa pedang bersamanya. Jika tidak, dia tentu sudah mati saat itu juga.


Robin akhirnya memberikan perlawanan kecil, sembari berlari pergi keluar Dungeon.


Rekan-rekannya yang berjaga di luar gerbang, yang tidak diizinkan untuk masuk ke dalam gerbang atas perintah Brandon Lloyd, sangat terkejut saat Robin keluar dengan di ikuti oleh puluhan High Orc.


High Orc yang sangat kuat, dengan mudah menghabisi beberapa dari mereka. Bahkan rekan-rekan Robin yang datang bersamanya setelah melakukan raid di Dungeon lain, tewas dengan sangat cepat.


High Orc yang jauh lebih kuat itu seperti hanya bermain-main dengan para Hunter. Sementara Orc yang keluar belakangan dari gerbang, pergi ke bangunan-bangunan rumah penduduk dan menghancurkannya.


Untungnya, semua penduduk yang tinggal disekitar tempat itu masih dalam pengungsian saat gerbang itu terbuka beberapa hari yang lalu.


Mereka enggan untuk kembali karena melihat gerbang itu masih berada disana, walaupun guild Black Diamond sudah menjamin bahwa Dungeon itu telah kosong dan memberikan bayaran sebagai kompensasi atas hadirnya gerbang diantara tempat tinggal penduduk.


Robin yang adalah putra sulung dari pemilik guild tentu saja dilindungi rekan-rekannya dengan mati-matian. Karena itulah, rekan-rekannya tewas lebih cepat dibandingkan para penjaga gerbang.


Robin yang kehilangan orang-orang yang melindunginya pun akhirnya terluka dengan sangat parah.


High Orc yang melihat lawannya sangat lemah, mempermainkannya dengan melemparkan tubuh Robin kesana-kemari seperti sebuah mainan lempar yang tak berarti.


Robin yang sudah memiliki pandangan kabur, melihat sekelilingnya.


Hanya ada 12 Hunter disana yang telah berada dalam kepungan puluhan High Orc, sementara Hunter bantuan yang telah mereka hubungi tampaknya masih belum tiba.


Robin terkekeh.


“Inilah pembalasan dari langit,” gumamnya.


Dia tiba-tiba teringat pada saudari tirinya yang malang, yang ia tahu telah di bunuh oleh saudari kandungnya sendiri.

__ADS_1


Robin tidak mengetahui kejadian itu secara langsung. Dia tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Brandon Lloyd dan asisten pribadinya, Rudyard Lau, saat dia hendak mengetuk pintu ruangan kantor ayahnya.


Walaupun Anna adalah saudari tirinya, dia tidak membenci Anna. Namun, dia juga tidak memerdulikan saudari tirinya itu secara khusus.


Tapi, seharusnya dia melaporkan perbuatan jahat Cassey dan ketidakpedulian ayahnya pada Asosiasi. Itulah yang saat ini disesalinya.


“Kenapa saat aku masih bisa melakukannya, aku tidak berani melaporkannya?” pikir Robin, menyesali kepengecutannya.


Tangggg… tangggg…!!!


Suara perisai Hunter yang beradu dengan pentung High Orc membuyarkan lamunan Robin. Dia hampir lupa jika dia sedang berada dalam kepungan High Orc.


Dengan sisa-sisa kekuatannya, Robin berusaha bangkit berdiri dengan menggunakan pedang ditangannya sebagai penyangga.


Bertepatan dengan itu, High Orc mulai maju menyerang.


Crakkkk… crakkk…!


Hunter-hunter itu benar-benar bukan tandingan High Orc. Saat mereka bertarung di awal tadi, High Orc hanya sedang menguji kekuatan bertarung para Hunter dan akhirnya hanya mempermainkan mereka.


Namun, saat High Orc merasakan bosan mempermainkan lawan yang lemah itu, merekapun langsung menyerang dan membunuh Hunter-hunter yang sudah mereka kepung.


Robin dapat merasakan cipratan darah menghantam wajahnya, saat pedang pendek High Orc telah memisahkan kepala seorang Hunter dari tubuhnya.


Ada 4 Hunter yang tumbang di saat yang bersamaan.


Robin berusaha mengangkat pedangnya yang terasa berat, untuk memberikan sebuah serangan pada salah satu High Orc.


“Paling tidak, aku akan membawa salah satu dari mereka untuk mati bersama ku!” umpat Robin. Suaranya hanya terdengar seperti sebuah gumaman.


Robin menatap High Orc dengan pandangannya yang mulai kabur dan berusaha mengangkat pedang dengan kedua tangannya untuk menusuk monster itu.


High Orc yang memiliki tinggi 2 meter itu menendang pedang di tangan Robin. Monster itu kemudian terkekeh sambil mengangkat pentungan di tangan kirinya, lalu mengayunkannya tepat ke kepala Hunter malang itu.


Crack… crack… crack…!!!


Robin yang sudah tidak memiliki kekuatan lagi di kedua lututnya, jatuh dengan posisi berlutut.


Ia menatap pada sosok High Orc yang kehilangan setengah tubuhnya.


'Hah?! Apa yang terjadi?'


Robin mengedip-ngedipkan kedua matanya yang memiliki pandangan kabur, lalu menggosoknya dengan kedua tangannya.


Bammm…


Tubuh High Orc yang tadi hendak mengayunkan pentung ke kepalanya itu jatuh berdebum di hadapannya dengan hanya tersisa bagian pinggang ke kakinya saja.


Robin menatap ke sekitarnya dan melihat puluhan High Orc yang tadi mengepung mereka memiliki nasib yang hampir serupa.


Dia kemudian menatap beberapa rekannya yang masih hidup yang sedang menangis ketakutan dengan wajah pucat mereka, sedang duduk ditanah. Sebagian dari mereka ada yang dalam posisi bersujud sambil menutupi kepala, tampak takut dengan kematian.


Walaupun mereka adalah Hunter profesional, namun saat kematian berada di depan mata, mereka juga bisa merasakan takut akan kematian itu.


Hanya ada satu orang yang berdiri disana sekarang.

__ADS_1


“Orang? Atau Beruang? Atau orang berkostum Beruang?” pikir Robin. Ia menggosok-gosok lagi kedua matanya dengan punggung tangannya sebelum menatap kembali pada sosok tersebut.


Walaupun kostum yang dikenakannya tidak pas di tubuhnya dan tampak kedodoran. Robin dapat memastikan bahwa dia adalah seorang cosplayer.


Cosplayer beruang itu kemudian berjalan menghampiri Robin.


Robin mendongak untuk menatap pada cosplayer yang tampaknya juga sedang menatapnya dengan seksama.


°°°


Anna memiliki perasaan sedih saat melihat saudara tirinya itu tampak terluka parah.


Dia memiliki banyak kenangan tentang Robin, yang walaupun hampir tidak pernah mengajaknya ngobrol secara langsung, namun selalu menjadi orang pertama yang memberikan hadiah ulang tahun padanya sejak dia berusia 8 tahun.


‘Aku tidak tahu apakah ini cukup untuk membalas kenangan baik yang selalu kau beri untuk ku setiap tahun, tapi aku senang karena tidak terlambat untuk menyelamatkan mu.’


Anna yang berada di dalam kostum beruang kemudian berbalik, meninggalkan Robin yang masih menatapnya dengan linglung.


Masih banyak High Orc disana.


Belasan High Orc sudah berlari menghampiri Anna dengan senjata di tangan. Anna juga berlari ke arah mereka dengan cepat, untuk menjaga jarak jangkauan mereka dari Robin yang masih tersungkur dibelakangnya.


High Orc yang sebelumnya menyerang dengan semangat menggebu, kebingungan saat makhluk yang mereka tuju lenyap dari pandangan.


Hanya beberapa detik berselang, suara benda patah, pecah, bahkan meledak, memenuhi sekitar area itu.


Salah satu High Orc yang berada dalam pasukan penyerbuan, menatap ngeri pada tubuh-tubuh kawannya yang tiba-tiba meledak tanpa ia ketahui siapa yang melakukannya.


Tapi tak lama kemudian, makhluk yang tampaknya menjadi dalang kematian kawan-kawannya itu telah menampakkan wujudnya.


Dalam pandangan High Orc itu, ia adalah makhluk kecil aneh berbulu tebal yang tampaknya sangat kurus dan kelaparan, atau makhluk yang memiliki usia sangat tua.


High Orc melihat seluruh kulit di tubuhnya tampak kendor dan kedodoran seperti kulit keriput Orc yang telah hidup selama ratusan tahun di dunianya.


“Apa yang kau perhatikan?”


Makhluk itu tiba-tiba berbicara padanya.


High Orc terkejut saat mendengar makhluk tersebut bisa berbicara dengan bahasa mereka.


“S-siapa kau?”


“Kau tidak perlu tahu siapa aku.” Sahut Anna. Ia kemudian menunjuk pada pasukan High Orc lain yang berlarian ke arah mereka.


“Siapa pemimpin mereka?” tanya Anna pada High Orc.


High Orc ragu untuk menjawabnya. Namun saat makhluk itu mengangkat senjatanya dan mengarahkan padanya, dia menjadi takut.


“Raja… Raja kami ada di dekat gerbang," sahut High Orc.


Makhluk itu mengangguk. Gerakannya lucu karena kepalanya bergerak-gerak dengan aneh. High Orc hampir tertawa, namun ia tak punya nyali untuk melakukannya.


Anna hendak bersiap untuk pergi ke gerbang. Namun, ia merasakan adanya Hunter lain yang baru tiba di sekitar tempat itu.


“Energi Mana nya…,” Anna berbalik dan menoleh pada pemilik energi Mana itu.

__ADS_1


Ia sangat terkejut saat melihat orang yang baru saja tiba, tepat seperti orang yang sedang dipikirkannya. Sampai-sampai, tanpa disadarinya, ia mundur beberapa langkah.


•••


__ADS_2