Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 35 - Ujian Masuk Akademi (2)


__ADS_3

Arena ujian virtual yang berukuran 50 x 50 meter itu kini kosong saat ujian ketiga akan segera dimulai. Seluruh calon siswa peserta ujian kini berada di tribun bagian depan untuk antri mengikuti ujian ketiga.


Tak lama kemudian, tim pertama yang akan mengikuti ujian dipersilahkan untuk turun ke arena.


Di pinggir arena, seperti tadi, meja dan rak tempat rompi dan senjata-senjata calon siswa, telah di sediakan.


Anna melihat sebagian besar calon siswa di tim pertama mengambil perisai sebagai senjata mereka. Hanya sedikit calon siswa yang mengambil pedang dan tombak yang merupakan senjata untuk menyerang.


Anna mengerutkan keningnya saat melihat pilihan yang di ambil calon siswa di tim pertama itu.


“Mengapa kebanyakan mereka mengambil perisai?” Gumam Anna yang merasa keputusan mereka itu lucu.


“Karena kita hanya harus bertahan. Perisai adalah senjata terbaik.” Jawab pria dengan poin rendah yang merupakan rekan setimnya saat mendengar apa yang Anna gumamkan.


"Mengapa tidak sekalian mengambil pedang juga? Menggunakan pedang dan perisai akan jauh lebih baik, kan?"


Beberapa dari mereka, anggota tim Anna, menoleh padanya.


"Dalam panduan sudah dikatakan. Hanya boleh memakai satu senjata." Sahut Lucy Logan.


"Oh..." Anna sedikit tersipu. Dia sama sekali tidak pernah membaca panduannya.


“Tapi..., bukankah ini akan lebih menguntungkan untuk mereka yang memiliki kelas Mage?” Ucap Anna lagi.


Kini, semua calon siswa di timnya, menoleh pada Anna.


“Tidak ada yang diuntungkan dari sebuah kelas Hunter. Monster-monster itu di desain dengan lebih kuat menerima serangan Mage di bandingkan serangan fisik Warrior dan Assassin. Serangan jarak jauh hanya akan membuat monster menyadari kehadiran kita dan menyerbu kita bersamaan.” Lucy Logan kembali menjelaskan


“Oh...” Anna mengangguk.


“Tapi, kenapa kau belum tahu itu? Apakah di ujian sebelumnya kau langsung pulang saat gagal?” Tanya calon siswa lain padanya.


“Ini adalah pertama kalinya aku mendaftar dan ikut ujian ini.” Sahut Anna sambil memperbaiki posisi maskernya yang sedikit melorot.


“Apa?!” Semua calon siswa di tim nya terkejut.


“A-ada apa?” Anna juga ikut terkejut melihat reaksi rekan setimnya.


“Ini adalah pendaftaran pertama mu?!”


“Ya...”


“Astaga, bagaimana mungkin kau menjadi kapten tim kami tanpa adanya pengalaman?!”


Anna tampak bingung saat melihat wajah rekan-rekannya yang tampak kesal.


Sementara mereka menggerutu, ujian tim pertama akhirnya dimulai.


•••


Tim pertama saat ini berada di tengah-tengah arena dan berdiri menunggu ujian final mereka dimulai.


Sementara di layar monitor raksasa, di empat sisi bagian atas tribun, disana di tampilkan kesepuluh orang calon siswa itu kini sedang berada di tengah arena.


Beberapa detik kemudian, tampilan dalam layar berubah. Seluruh penonton memfokuskan tatapan mereka pada monitor raksasa itu. Tampak disana kesepuluh calon siswa kini berada di sebuah padang rumput luas.


Tim itu kemudian bergerak dengan mengendap-endap, saat kapten tim mengarahkan mereka ke sebuah daerah bukit kecil yang dipenuhi dengan bebatuan yang kebanyakan seukuran meja atau kursi.


Suasana menjadi sangat hening. Kapten tim mengarahkan timnya untuk bersembunyi di balik bebatuan hanya menggunakan isyarat tangannya.


Sementara itu, tampak puluhan monster muncul di arah berlawanan dan bergerak tidak teratur kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu.

__ADS_1


Monster-monster itu mirip seperti manusia dewasa namun memiliki tubuh yang sedikit lebih tinggi. Tubuh monster-monster itu sedikit bungkuk, dengan kedua lengan mereka yang panjangnya dua kali ukuran tangan manusia. Mereka adalah monster virtual yang diciptakan menyerupai monster yang berada di Dungeon berperingkat E, Dungeon dengan level terendah.


Perusahaan raksasa nomor 1 asal Jepang, Sato Corp menciptakan monster virtual dengan bentuk dan kemampuan yang hampir mirip dengan aslinya. Walaupun demikian, monster-monster virtual untuk ujian masuk Akademi hanya memiliki seperempat kemampuan dari kemampuan aslinya.


Tim pertama menggunakan bukit kecil itu sebagai tempat persembunyian mereka sementara kapten tim memanjat ke atas bukit kecil itu untuk memantau monster-monster itu dari jauh.


Saat monster-monster itu mendekati tempat persembunyian mereka, kapten tim memerintahkan tim itu untuk berpindah ke daerah semak belukar yang berada 10 meter dari tempat mereka berada.


Saat Anna sedang menonton tayangan itu, rekan-rekan setimnya sesekali menoleh ke arahnya secara berganti-gantian.


Awalnya, dia mengira orang-orang itu sedang mencuri pandang padanya seperti yang tadi orang-orang lakukan saat melihatnya di ruang pendaftaran.


“Bukannya aku memakai masker dan tudung kepala?” Pikir Anna yang akhirnya mengabaikan tatapan mereka. Dia sudah terbiasa di tatap pria-pria sejak masih bersekolah dulu dan dia juga tahu penyebabnya.


Namun, saat hal itu terjadi berulang-ulang, Anna mulai merasa ada yang aneh pada mereka, dan bertanya.


“Ada apa? Ada yang aneh di wajah ku?”


Saat Anna bertanya, dia malah dihujani beberapa kalimat peringatan.


“Kami hanya ingin memastikan kau melihat dan mempelajari apa yang dilakukan tim lain.”


“Kau harus mempelajari semua tim sebelum giliran kita. Kau harus ambil pelajaran dari ujian mereka.”


“Ya. Nasib kita ada di tanganmu.”


“Ah... o-oke...” Sahut Anna, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang berada di balik tudung hoodienya.


Anna kembali menatap pada layar.


Tim pertama kini sudah berada di semak-semak dan bersembunyi di dalam semak rimbun tersebut.


Salah satu monster tampak berjalan menuju semak tempat tim pertama bersembunyi. Kapten tim yang melihat pergerakan monster, memerintahkan timnya untuk tetap diam.


Melihat apa yang sedang dilakukan tim pertama di monitor raksasa, orang-orang di tribun berkomentar.


“Sepertinya mereka akan menyergap monster itu.”


“Ada kemungkinan mereka berhasil, monster-monster lain jauh darinya.”


“Tapi, seandainya mereka diam saja di bukit batu itu, harusnya mereka akan tetap aman. Monster-monster tadi berbalik arah dan tidak menuju kesana.”


“Ya…, tapi terkadang kita tidak bisa memprediksi kemana monster-monster itu pergi, kan?”


Saat monster itu lengah, salah satu anggota tim menyergap monster yang sedang memeriksa ke dalam semak.


Mereka kemudian mengeroyok dan memukuli monster yang tidak bersenjata itu berkali-kali. Sementara monster yang memiliki tubuh bungkuk dan bertangan panjang itu, menyerang membabi buta untuk membela diri, tanpa memerdulikan serangan-serangan beberapa calon siswa yang beberapa bersarang ke bagian-bagian tubuhnya.


Setelah menerima banyak serangan, monster itu akhirnya jatuh tersungkur. Tak lama kemudian tubuhnya menghilang dari layar.


Setelah pertarungan, tampak di bagian atas layar monitor raksasa itu tertera health point calon siswa yang terbagi dalam 10 kotak persegi panjang.


Dalam sebuah persegi panjang tertera nama peserta dan jumlah health point mereka yang masing-masing memiliki 3 bar health point.


Ada beberapa calon siswa di tim itu yang menderita kerugian kehilangan 1 bahkan 2 bar health point akibat lengah dan menerima serangan monster tadi, yang menyerang secara dengan membabi buta.


Calon siswa yang terkena serangan itu tampak meringis kesakitan akibat dampak serangan yang mereka terima terasa nyata walau mereka tidak menderita luka fisik.


“Sepertinya mereka akan gagal. Lihat, monster-monster mulai berlarian menuju semak itu.” Ucap Lucy Logan yang duduk di sebelah Anna.


Sementara itu, tim yang tidak menyadari datangnya monster, masih berada di dalam semak dan membantu rekan mereka yang kesakitan untuk duduk atau berdiri.

__ADS_1


Instruktur penanggung jawab tim pertama itu langsung berteriak mengingatkan mereka saat tak satupun dari mereka tampak menyadari kedatangan monster-monster.


“Lari dari sana! Lari dari sana!” Seru instruktur.


Mendengar itu, kapten tim segera melihat keadaan di luar semak dan terkejut saat beberapa monster sudah berlarian mendekat.


Dia memerintahkan anggota timnya untuk lari, namun dia tidak memiliki rencana akan menuju kemana.


Tim yang mulai kehilangan koordinasi itu berlari secara sembarangan dan akhirnya terpencar.


Karena kepanikan mereka, monster-monster kini dapat melihat keberadaan mereka dan memburu mereka satu persatu.


Saat monster-monster itu sudah berada dekat dengan mereka, tak ada jalan lain selain melawan.


Namun, walaupun hanya dengan seperempat kekuatan aslinya, monster yang di desain semirip mungkin dengan Dungeon tingkat dasar itu terlalu kuat untuk mereka jika harus dilawan perorangan.


Hanya membutuhkan waktu beberapa detik, semua peserta dari tim pertama mengalami kegagalan akibat amukan monster yang mempecundangi mereka.


Melihat kegagalan itu, para penonton terdengar mendesah dan tampak menyesal atas kegagalan tim pertama tersebut.


“Sial, ujian ini memang sangat berat.”


“Ya itulah kenapa setiap tahun tidak pernah lebih dari 50 siswa yang bisa lulus.”


Seluruh peserta dari tim yang gagal itu membuka kacamata virtual mereka dan tertunduk lesu. Sebagian dari mereka masih tiduran di lantai arena, menyesali kegagalan. Sebagian dari mereka, ada yang masih meringis kesakitan karena serangan-serangan monster virtual tadi.


•••


Setelah 5 tim mengikuti ujian, hanya 8 orang calon siswa yang berhasil lulus. Itu menandakan bahwa ujian ini benar-benar sangat berat.


Sementara itu, di pinggir arena, tim yang dipimpin oleh Anna kini mulai bersiap.


Biasanya, hanya anggota keluarga yang memberikan semangat pada tiap tim. Namun saat giliran tim mereka yang maju, hampir seluruh penonton di tribun bersorak, terutama saat Anna tampak pada layar monitor raksasa.


Penonton-penonton yang terpukau dengan aksi sederhana namun mematikan yang ditunjukkan Anna pada ujian kedua, bertepuk tangan dan bersorak memberikan semangat pada tim mereka.


Melihat antusias itu, Anna memandang sekeliling tribun sambil melambai-lambaikan tangannya.


Melihat kelakuan lucu dari ketua tim mereka, Lucy Logan tertawa lalu dengan bercanda ia mengejeknya.


"Kau narsis.”


“Oh, mereka menyemangati kita. Harusnya kau lakukan hal yang sama.” Sahut Anna.


“Kita akan jauh lebih malu kalau kita gagal nanti.” Sahut Lucy.


Mereka akhirnya memasang rompi lalu mulai memilih senjata yang akan mereka gunakan.


Saat melihat sebagian besar dari anggota timnya memilih pedang, Anna mencoba mengarahkan mereka.


“Mengapa kalian memilih pedang?”


“Ini akan berguna saat persembunyian kita disergap. Dari pada mencoba bertahan, lebih baik mencoba menyerang.” Jawab salah satu anggota tim setelah melihat kegagalan 5 tim sebelumnya yang mencoba bertahan dengan perisai.


Mendengar itu, anggota lainnya merasa apa yang dikatakan rekan mereka itu benar dan menukar senjata mereka dengan pedang atau tombak berukuran sedang.


“Tunggu. Jangan pilih senjata-senjata itu. Kalian semua ambilah perisai.” Pinta Anna.


“Apa?!” Seru hampir seluruh anggota tim bersamaan.


•••

__ADS_1


__ADS_2