Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 278 - Senang Bisa Bertemu Kalian Lagi


__ADS_3

Sebagai kapten dari masing-masing 100 Hunter Asosiasi Kota C, Lucy dan Yola tentu saja menjadi Hunter yang berada di barisan terdepan, tepat di sebelah Davina.


Saat 99 gerbang Dungeon muncul di tengah-tengah Kota C, hampir tidak ada Hunter Kota C yang datang ke lokasi gerbang untuk membantu.


Hampir semua Hunter yang ada hanyalah Hunter-hunter dari Asosiasi dan beberapa instruktur Akademi.


Jo Fizer, ketua Akademi Hunter adalah salah satu Hunter yang datang dengan sukarela untuk membantu.


Hunter paruh baya peringkat A itu sebenarnya tahu bahwa ia mungkin saja akan langsung mati saat monster-monster itu baru keluar dari gerbang. Tapi, dia tentu tidak mungkin tidak datang saat melihat dua mantan siswinya dan satu mantan instruktur Akademi berada di barisan terdepan dari Hunter-hunter yang akan berjuang mempertahankan Kota C.


"Aku tidak pernah membayangkan kalian berdua akan berada di barisan terdepan seperti ini," puji Jo Fizer pada dua mantan siswinya, Lucy Logan dan Yola Silvia.


"Kami hanya ingin membantu sebisa yang kami mampu, tuan Fizer," sahut Lucy pelan, sembari tersenyum pahit.


Jo menatap Lucy dengan penuh keharuan. Ia tahu, Lucy adalah satu-satunya penerus keluarga Logan yang tersisa setelah kedua kakaknya tewas dalam sebuah kecelakaan raid.


Jika Jo memiliki pilihan lain dan masih banyak Hunter kuat yang datang, ia pasti akan membujuk Lucy untuk pergi ke barisan paling belakang dan tidak bertaruh nyawa seperti sekarang.


Tapi, selain Lucy, Yola dan Davina yang sama-sama berperingkat SS, tidak ada lagi yang bisa memimpin ratusan Hunter itu untuk bertarung.


Sebenarnya masih ada pria brewok dan pria bertubuh besar yang berperingkat S dalam pasukan itu.


Juga ada Robin, Cassey dan Andrew Lloyd yang walaupun berperingkat rendah dan dilarang kakek mereka untuk datang membantu, namun mereka tetap datang.


Saat Jo menoleh ke samping kirinya dan tanpa sengaja bertatapan dengan Cassey, ia tiba-tiba teringat pada Anna.


"Seandainya dia ada, Kota C mungkin akan selamat," ucap Jo, dengan diakhiri helaan nafas panjang.


"Maksud Anda, Anna, tuan Fizer?"


Jo tertawa canggung. Ia merasa bersalah karena baru saja berharap Anna ada sedangkan ada ratusan Hunter yang berbaris di belakangnya siap bertaruh nyawa. Ia tiba-tiba merasa tak enak karena seakan meremehkan kemampuan semua Hunter itu.


Untungnya, Yola memecah kecanggungan itu dengan menunjukkan tayangan berita di smartphone nya.

__ADS_1


Beberpa Hunter yang berada di dekat Yola melirik ke arah smartphone yang Yola pegang, sementara Hunter lain yang kebetulan membawa smartphone mereka langsung melihat tayangan yang berasal dari kota Beijing itu sendiri.


Mereka menyaksikan bagaimana Miyuki membuat puluhan gerbang yang dapat mengembalikan para monster ke tempat asal mereka, lalu membuat puluhan ribu pisau terbang yang langsung mebunuh ribuan monster hanya dalam sekali serang.


"Dia benar-benar luar biasa. Aku memang sudah menduga dia itu sangat hebat sejak pertama kali melihat teknik bertarungnya di Akademi dulu. Padahal avatar yang dia gunakan hanya peringkat E tapi dia bisa mengalahkan banyak monster virtual peringkat D," ucap Jo.


Davina mengangguk. "Saya sebagai instruktur juga malu saat itu. Saya baru bisa berdamai dengan rasa malu itu saat sudah tahu bahwa Miyuki sebenarnya memang memiliki kekuatan yang sangat mengerikan," ucap Davina yang kemudian tertawa.


Tapi, tawanya segera menghilang saat melihat Miyuki pada akhirnya terjatuh. Dari ekspresi Gina yang langsung datang menghampiri Miyuki, ia bisa menebak bahwa Miyuki yang luar biasa itu akhirnya kehabisan energi Mana.


Semua orang yang sudah tau bagaimana kuatnya Miyuki, menelan ludah mereka secara hampir bersamaan.


Jika Miyuki yang terkenal sebagai pembantai sadis saja bisa kelelahan seperti itu, bagaimana dengan mereka?


Memikirkan hal itu, Hunter-hunter yang sedang menyaksikan siaran langsung melalui smartphone mereka, mendadak menggigil membayangkan sekuat apakah monster yang akan keluar dari balik gerbang.


Pertanyaan itu terjawab tak lama kemudian, saat gerbang sudah terbuka.


Mereka bahkan langsung kesulitan bernafas saat aura dari energi sihir para monster hadir di hadapan mereka.


"Sialan. Kita akan langsung mati," gumam Davina, yang berada di posisi paling depan pasukan.


Puluhan ribu monster yang baru saja keluar dari 99 gerbang itu langsung menatap pasukan kecil itu dalam diam. Tapi hanya beberapa detik saja.


Melihat mangsa ada di hadapan mata, monster-monster yang bersenjata tombak bermata trisula itu pada akhirnya berlarian dan beterbangan menghampiri pasukan Hunter, yang seketika itu juga langsung kehilangan nyali untuk bertarung.


Tapi, monster-monster itu secara serempak tiba-tiba saja berhenti.


Mereka secara bersamaan menatap ke satu arah, pada sebuah gerbang sihir kecil yang tiba-tiba muncul diantara pasukan monster dan pasukan Hunter.


Tak lama kemudian, seorang wanita ramping berparas cantik-anggun, keluar dari dalam gerbang dengan menunggangi seekor kuda.


Di bahu kiri wanita itu, bertengger seekor hewan berwajah imut dengan bulu kecoklatan. Sementara di pundak kanannya, ada hewan lain berbulu kemerahan yang tak kalah imutnya.

__ADS_1


Wanita itu kemudian mengeluarkan sebuah besi kecil dari balik lengan panjang catsuit nya. Saat ia mengangkat besi itu ke atas kepalanya, besi itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah tombak hitam panjang yang berkilap di bawah sinar matahari.


Ia kemudian mengebaskan tombak itu sekali ke arah puluhan ribu pasukan monster, dan seluruh pasukan monster itu meledak seketika.


Baaaaaaaaaaaaaaannngggg!!!


°°°


"Oh, senang sekali bisa bertarung lagi setelah 30.000 tahun," ucap Anna pelan, sembari menampakan senyum indahnya.


"Apakah ini bisa disebut pertarungan? Ini pembantaian," ucap dewa Ogun dari pundak kanan Anna.


"Ah... Kau benar... Hehe..." Anna kemudian menatap ke sekeliling tempat itu dan agak kaget saat melihat ada puluhan gerbang disana. "Kenapa gerbangnya banyak sekali? Ku kira hanya ada dua atau tiga saja."


Dewi Ezili menghela nafas pelan, "Kau sudah terlalu kuat untuk mengurusi ini. Makanya kau hanya mengira ada sedikit gerbang saja disini."


"B-begitu..." Anna mengangguk pelan dengan wajah tersipu. "Kalau begitu gerbang-gerbang yang kurasakan ada di tempat jauh itu apa sebanyak ini juga?"


"Mungkin. Kami tidak bisa merasakannya seperti kau merasakannya," sahut dewi Ezili.


Anna akhirnya menoleh ke arah kiri, lalu tersenyum pada orang-orang yang sudah sangat dirindukannya.


"Senang bisa bertemu kalian lagi," ucap Anna, yang kali ini tidak melupakan teman-temannya itu walaupun sudah berada lama di planet asing tempatnya berlatih.


°°°


Walaupun Davina, Lucy dan Yola sangat merindukannya, namun apa yang Anna lakukan pada semua monster itu membuat mereka menganga hingga lupa bahwa mereka sangat ingin memeluknya.


Anna menjalankan kudanya pelan, menghampiri teman-temannya, tanpa memerdulikan puluhan ribu monster yang baru keluar lagi dari gerbang.


Semua orang awalnya kaget saat melihat monster keluar lagi padahal mereka mengira monster-monster sudah berhasil dikalahkan.


Tapi, yang membuat mereka lebih kaget adalah saat monster-monster itu tampak enggan maju menyerang saat melihat Anna ada disitu.

__ADS_1


__ADS_2