
Balok es besar yang menyimpan tubuh seorang wanita itu retak secara perlahan sebelum akhirnya benar-benar pecah.
Wanita muda yang sebelumnya tampak seperti mayat yang di bekukan itu melayang-layang di udara sebelum akhirnya berdiri menapak tanah dan membuka kedua matanya secara perlahan.
Ia kemudian menatap bola kristal biru, menganggukkan kepalanya 1 kali, sebelum akhirnya pergi menghampiri Anna.
•••
Sejak kemunculan balok es itu, tatapan Anna sudah terpaku pada sosok wanita yang berada di dalamnya, terutama saat wanita muda itu kini berdiri di hadapannya.
Sama seperti yang Anna lakukan, 3 dewa lain yang sedang berlutut di bawah bola kristal biru juga menatap wanita muda itu dengan heran.
Bukan karena pakaiannya yang compang-camping bak seorang gembel yang tak mengurus diri, namun karena wanita itu bisa tetap berdiri dengan normal bahkan berjalan seperti biasa.
"Dia bisa berdiri saat berada di hadapan perantara dewan pengawas para dewa?!"
Pikir dewa Igigi, dewa Anu dan dewi Ki dengan tatapan kosong, menatap wanita muda tersebut.
°°°
Wanita dengan pakaian gembel itu kemudian berjongkok di hadapan Anna dan tersenyum lembut padanya. "Akhirnya kita bertemu," ucapnya seraya menepuk pelan pundak Anna.
Ia kemudian tertawa.
"Aneh rasanya saat aku menepuk pundak ku sendiri," ucapnya lagi.
Anna yang tersadar dari keheranannya setelah tepukan pelan itu, akhirnya membuka mulutnya. "K-kau siapa? Kenapa tubuh ku ada bersama mu?"
"Tubuh mu sangat lemah untuk menampung kekuatan ku jika kau tidak sedang berada di planet tempat ku berlatih. Jadi, aku membantu mu untuk memperkuat tubuh mu." Sahut wanita muda itu.
"A-apa?"
"Kau tidak perlu mengucapkan terima kasih."
Anna tercengang.
'Siapa yang ingin berterima kasih?'
"Apa maksud mu?" tanya Anna sekali lagi, karena ia sebenarnya tidak mengerti dengan apa yang wanita itu katakan.
"Aku harus memperkuat tubuh mu untuk bisa menampung energi Mana ku. Jadi, saat jiwa mu sudah kembali ke tubuh ini, tubuh mu ini tidak akan hancur."
"..."
"... Lupakan."
Wanita itu kemudian menyentuh kening Anna dengan satu jari telunjuknya, "Ayo kembali ke tubuh kita masing-masing," ucapnya kemudian.
__ADS_1
Setelah ia mengucapkan kalimat itu, Anna tiba-tiba merasakan pandangannya menggelap. Ia juga sempat merasa kehilangan kesadaran walaupun kejadiannya sangat cepat, hanya hampir selama 1 detik.
Pada saat itulah mereka bertukar tubuh. Kedua jiwa telah kembali ke tubuh mereka yang sebenarnya.
Sosok wanita yang tadi keluar dari dalam balok es, yang sebelumnya berjongkok, tubuhnya tiba-tiba bergerak sendiri dan mengubah posisi kakinya dari berjongkok menjadi berlutut, menghadap bola kristal biru.
Sementara tubuh Ann Arnix yang tadinya di gunakan Anna dan sedang dalam posisi berlutut, kini telah berdiri.
Mengetahui hal itu, Anna akhirnya sadar bahwa wanita yang baru muncul itu pasti sangat kuat. Ia tahu bagaimana dirinya tidak bisa melawan kekuatan belenggu dewan pengawas walau sudah mencobanya sekuat tenaga. Dan wanita itu sepertinya tidak terpengaruh dengan kekuatan membelenggu tersebut.
"Sekarang, sepertinya kita bisa berkenalan dengan benar, karena kita sudah berada di tubuh masing-masing," ucap wanita itu, yang kemudian mengusap pelan kepala Anna. "Aku Ann Arnix."
Anna menatapnya dalam diam. Saat tubuh itu sudah kembali ke pemiliknya, kulit tubuhnya menjadi lebih terang dan Anna bisa melihat bintik metalik keemasan pada kulit tubuh Ann Arnix.
Warna rambut yang sebelumnya hitam mengkilap juga telah kembali ke warna aslinya, pirang-platinum.
Begitu juga dengan warna manik matanya yang berubah dari biru langit menjadi warna emas yang lembut.
"Jadi ini kah dewi Ann? Dia jauh lebih cantik dan anggun dibandingkan saat aku masih berada di tubuhnya." puji Anna dalam hati, mengagumi kecantikan asli dewi Ann.
'Yah, walaupun dewi Yolin jauh lebih cantik.'
Sebelumnya, Anna memang bisa menebak bahwa jiwa yang berada di dalam tubuhnya adalah dewi Ann. Tapi saat dewi cantik itu memperkenalkan dirinya sendiri, ia baru benar-benar meyakininya.
•••
Dewi Ann menoleh pada bola kristal biru, lalu menatap ketiga dewa yang sedang berlutut untuk pertama kalinya sejak kedatangannya ke planet Nibiru.
"Kau menyuruh ku menghabisi mereka?" tanya dewi Ann pada bola kristal biru.
Mendengar itu, ketiga dewa yang sedang berlutut terkejut. Bukan hanya karena pertanyaan yang dewi Ann ajukan pada dewan pengawas, tapi juga karena cara bicara yang seakan menganggap dewan pengawas seperti temannya saja.
"Yang maha tinggi dewan pengawas, mengapa Anda tidak menghukum dewa yang berbicara dengan kurang sopan pada Anda?" tanya dewa Anu, tidak terima dengan perlakuan berbeda sang dewan pengawas pada dirinya dan dewi Ann.
Dewan pengawas yang kehilangan wibawa : "..."
"Oh, kami sudah berteman sejak kecil, milyaran tahun lalu. Kau tidak tahu?" tanya dewi Ann pada dewa Anu.
"A-apa? Bagaimana bisa Anda yang di utus untuk menghakimi? Dan kenapa Anda tidak membelenggunya seperti yang Anda lakukan pada kami?" protes dewa Anu.
"Aku tidak bisa melakukannya. Dia terlalu kuat." sahut dewan pengawas dengan nada kesal.
"A-apa... Jadi pertarungan itu... Anda mempermainkan kami?!" dewa Anu mengumpat marah. Ia berpikir, jika dewan pengawas saja tidak bisa membelenggu dewi Ann, maka mereka pasti akan tewas di tangannya.
"Kau?! Aku mengingat suara mu itu!"
Seru seseorang tiba-tiba.
__ADS_1
Dewi Ann menoleh ke arah suara, lalu tertawa saat melihat wajah merah Anna yang tampak menahan marah menatap bola kristal biru.
"Kau mannequin sialan!"
Setelah Anna mengumpat, mereka dapat mendengar suara batuk dari dalam bola kristal.
"Ann, kau uruslah mereka. Aku masih banyak pekerjaan." Ucap dewan pengawas yang merasa benar-benar kehilangan wibawanya.
"Kau mau pergi?"
"Aku mau bersemedi." Sahut dewan pengawas.
Bola kristal biru itu kemudian menghilang begitu saja.
Setelah bola kristal menghilang, belenggu sihir pada tubuh ketiga dewa bangsa Anunnaki, dan juga Anna, menghilang. Mereka pun bisa bergerak kembali dengan normal.
Saat itu juga, dewa Anu dan dewi Ki langsung mengambil kesempatan untuk menyerang dewi Ann terlebih dahulu dengan kekuatan sihir terkuat mereka.
Wusssshhh...
Namun, tubuh mereka tiba-tiba tidak bisa digerakkan kembali saat hembusan angin dingin dari telapak tangan dewi Ann tiba-tiba menghebus ke arah mereka.
Lagi-lagi, ketiga dewa bangsa Anunnaki itu jatuh berlutut tanpa mereka kehendaki.
Ketiga dewa itu gemetar. Terutama saat mereka merasakan kekuatan pembelenggu itu jauh lebih kuat dibandingkan sihir dewan pengawas. Mereka bahkan tidak diizinkan untuk berbicara sama sekali. Bibir mereka terkatup rapat tanpa bisa mereka buka.
Hanya Anna yang masih berdiri bebas di belakang dewi Ann.
"Aku akan mengurus kalian segera. Jangan terburu-buru," ucap dewi Ann yang kemudian berbalik menghadap Anna kembali.
"Kau suka bertarung menggunakan tombak, kan?" tanya dewi Ann pada Anna.
Anna mengerjapkan kedua matanya dan hanya menatap wajah bercahaya dewi cantik itu dengan tatapan bingung, tidak mengerti arah pertanyaan tersebut.
"Aku juga akan memberikan mu sebuah armor yang sangat bagus." Ucap dewi Ann lagi, saat tidak mendapatkan jawaban dari Anna yang menatapnya dengan linglung.
Dewi Ann berpaling lagi, menatap ketiga dewa yang wajah nya sudah pucat memutih. Ia kemudian menatap lurus pada dewa Igigi.
"Kau tadi meremehkan sihir keluarga Arnix, kan? Sekarang aku akan menunjukkan pada mu kekuatan sihir keluarga kami yang sebenarnya."
Dewi Ann kemudian menoleh kembali pada Anna, lalu berbicara, "Lihat, begini kekuatan asli dari bab pertama kitab keluarga dewa Arnix yang kau pelajari. Kau harus mempelajari cara menyalurkan energi Mana mu dengan benar jika kau ingin hasilnya seperti yang ku lakukan." Ucapnya, yang kemudian berbalik menghadap dewa Anu dan dewi Ki sembari mengarahkan telapak tangannya pada kedua dewa tersebut.
"Conqueror of Darkness, part 1. Punishing Hand."
Suaranya terdengar datar saat dewi Ann mengucapkan mantra sihir tersebut. Tapi, hasil dari mantra sihir yang dia ucapkan sangat-sangat mengerikan.
•••
__ADS_1