
Gina Stewart dan Kevin Jung terbelalak saat melihat puluhan sosok Orc yang memiliki sayap dan terbang di antara ratusan pasukan High Orc.
Selain karena mereka belum pernah melihat wujudnya, Orc bersayap itu juga memiliki energi sihir yang sangat-sangat besar.
Mungkin, mereka menebak, satu di antara Orc bersayap itu saja memiliki kekuatan yang setara dengan Hunter berperingkat SS.
“Apakah mereka jenis Orc juga?” tanya Gina.
“Ya. Tunggulah, aku akan mengurus mereka sebentar.” Sahut Anna.
Setelah itu, Anna melepaskan genggamannya dari Gina dan Kevin.
Tubuhnya melayang secara perlahan dan semakin lama ia terbang semakin tinggi meninggalkan Gina dan Kevin yang kini terbungkus di dalam cahaya keemasan miliknya.
Kevin mengamati cahaya keemasan yang mengelilingi dirinya dan Gina Stewart. Ia merasakan bahwa energi sihir di dalam tubuhnya seakan tertidur tanpa bisa ia kendalikan sama seperti yang ia rasakan sebelumnya.
‘Jadi energi Mana yang mirip seperti barrier ini dapat menetralkan energi sihir orang lain?’
Merasa takjub, Kevin mendongak untuk menatap Anna yang terbang agak tinggi di atas mereka. Ia melihat Anna saat itu sedang merentangkan kedua tangannya.
Sementara itu, ratusan High Orc berlarian menuju tempat mereka berada.
Kevin Jung menatap agak ngeri pada ratusan High Orc yang datang menyerang dengan kekuatan penuh.
Walaupun dia berperingkat SSS, namun jika harus bertarung dengan High Orc yang setidaknya setara dengan Hunter peringkat A dengan jumlah sebanyak itu, ia merasa mungkin akan kewalahan juga dan pasti akan menguras banyak energi Mana.
Namun, dengan matanya sendiri, ia melihat ratusan High Orc yang sedang berlari itu tiba-tiba berjatuhan seperti salah menginjak sesuatu dengan kaki mereka.
Detik berikutnya Kevin mendengarkan suara tulang-tulang patah yang menggema di sekelilingnya.
Dengan terburu-buru, Kevin berputar untuk melihat keadaan di sekelilingnya. Ia melihat semua High Orc yang berada di barisan paling depan jatuh tersungkur lalu mengerang kesakitan.
Kevin akhirnya mendongak kembali dan menatap Anna yang sedang merentangkan kedua tangannya dengan kedua telapak tangannya yang menggenggam dan *******-***** kuat.
“Dia… kekuatannya benar-benar di luar nalar…” gumam Kevin dengan suara bergetar.
Mendengar itu, Gina menoleh pada Kevin. “Aku membayangkan bagaimana dia menahan diri untuk tidak membunuh mu seperti dia meremukkan tubuh-tubuh High Orc itu."
Kevin menoleh juga pada Gina dan bergidik saat membayangkan apa yang baru saja Gina katakan jika benar-benar terjadi padanya.
Kevin kembali menatap Anna, "Jadi dia tadi sudah menahan diri..." pikir Kevin. Bulu kuduknya meremang seketika.
Hanya dalam 1 menit, semua High Orc yang sebelumnya hendak menyerang mereka kini tewas dengan semua tulang di tubuh mereka patah-patah.
Anna mendarat kembali di depan Kevin dan Gina.
"Tunggu sebentar, aku akan mengurus Orc yang terbang itu." Ucap Anna, sambil berjongkok dan menarik sebatang akar dari dalam tanah.
"Untuk apa itu?" tanya Kevin seraya menatap akar tumbuhan panjang di tangan Anna.
"Senjata."
"Apa itu bisa dipakai menjadi senjata?!" tanya Kevin lagi dengan heran.
Gina juga menatap akar yang sedang digulung Anna di tangannya dengan heran. Namun dia tidak berpikir seperti yang Kevin pikirkan. Ia sudah pernah melihat sebuah stand hanger saja bisa Anna gunakan sebagai senjata. Gina cuma bingung bagaimana akar tipis itu bisa digunakannya sebagai senjata.
"Tentu saja." sahut Anna.
__ADS_1
Kevin akhirnya mengangguk pelan. Kemudian, dengan sedikit ragu dia bertanya, "Apa kau butuh bantuan?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mencoba berbicara dulu pada mereka. Karena itulah aku tidak membunuh mereka bersama para High Orc."
'Berbicara?'
Kevin menoleh pada Gina dan melihat wanita itu tampak tidak terganggu dengan kata-kata Anna.
'Apa aku salah dengar?'
Anna akhirnya terbang menghampiri Orc bersayap yang sebenarnya sudah berada tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.
Wussshhhh... Wushhh... Wush...
Baru saja Anna tiba di dekat Orc bersayap, makhluk-makhluk itu langsung menyemburkan nafas api yang menelan tubuh Anna yang baru saja berada di hadapan mereka.
Namun, delapan Orc bersayap yang berada di barisan paling depan terkejut saat merasakan energi sihir mereka seakan terhisap. Sihir api yang mereka semburkan melalui mulut tak kunjung padam saat mereka hendak menghentikannya.
Malahan, seluruh energi Mana dalam tubuh delapan Orc bersayap terkuras. Beberapa saat kemudian mereka akhirnya mengetahui penyebabnya.
Makhluk dihadapan mereka telah menyedot semua energi sihir mereka dan menghisap kobaran api langsung ke dalam mulutnya.
Setelah semua energi yang berada di tubuh mereka terhisap habis, kedelapan Orc bersayap jatuh dengan tubuh mereka yang kering kerontang dan tewas.
Anna menatap marah pada Orc bersayap yang memiliki tubuh jauh lebih besar di bandingkan pasukannya. Anna tahu, makhluk dengan badan sebesar sebuah villa itu adalah raja mereka.
Anna menarik nafasnya panjang, lalu ia menghembuskannya dari mulutnya.
Kobaran api yang berasal dari mulut Anna menyebar dan membakar sepuluh Orc bersayap yang baru hendak menyerangnya.
Kobaran api itu mengandung energi sihir yang jauh lebih besar dibandingkan yang tadi disemburkan delapan Orc bersayap.
Tubuh kesepuluh Orc bersayap hangus seketika. Bahkan, belasan Orc bersayap yang berada di belakangnya sebagian ikut mengalami luka bakar yang lumayan parah.
Melihat apa yang Anna lakukan, Kevin terkejut sampai membelalakkan kedua matanya.
"Dia menyedot api mereka dan mengembalikannya?!"
Sementara itu Gina hanya ternganga tanpa bisa berkata apapun.
Anna melontarkan akar tipis di tangannya yang melesat menuju kaki pemimpin Orc bersayap.
Serangan tersebut datang dengan begitu cepat hingga makluk itu terlambat menyadari saat salah satu kakinya sudah terjerat senjata lawannya.
Begitu Anna menarik akar yang ia gunakan sebagai tali, tubuh makhluk raksasa itu melesat cepat menuju lawannya tanpa bisa ia kendalikan.
Braakkkkkkk!!!
Anna meninju dahi makhluk raksasa itu dan membuat tubuh Orc bersayap terpental kembali. Saat tubuh lawannya sudah agak jauh, Anna menariknya lagi lalu menghempas-hempaskannya berulang kali di tanah.
Bannngg... Bangg... Bang...!!!
Lubang-lubang berukuran sedikit lebih besar dibandingkan tubuh Orc bersayap tercipta setiap kali tubuh makhluk itu di hempaskan ke tanah.
Setelah merasa cukup untuk menghukum makhluk itu, sekaligus memberikan efek kejut pada Kevin, Anna mengebaskan tangannya untuk melenyapkan debu yang menghalangi pandangan.
Anna mendarat tepat di atas perut pemimpin Orc bersayap yang jatuh terlentang.
__ADS_1
Anna tidak sembarangan berdiri disana. Saat makhluk itu ingin bangkit, ia merasakan ada tenaga besar yang membuatnya tak bisa bergerak. Ia akhirnya menyadari bahwa lawannya telah mengekang tubuhnya di tanah.
"Kalian memang selalu menyerang tanpa basa-basi." ucap Anna dengan menatap kesal pada makhluk itu.
Mendengar lawannya berbicara dengan menggunakan bahasa yang biasa ia gunakan, Orc bersayap terkejut.
Anna mengabaikannya. Dia mendongak ke atas lalu mengarahkan tangannya pada puluhan Orc bersayap yang terbang hendak menyerangnya.
Wush... Bammm... Bammm... Bammm...!
Begitu Anna menurunkan tangannya, seluruh Orc bersayap jatuh terhempas dan melubangi daratan dengan tubuh mereka.
Anna akhirnya mengembalikan fokusnya pada Raja Orc bersayap. "Apa kau tidak bisa bicara? Aku akan membunuh kalian semua jika kau tidak bisa berbicara."
"Bisa! Hamba bisa berbicara, dewi agung!" sahut makhluk itu ketakutan.
Mendengar kata dewi agung lagi, Anna memutar bola matanya.
'Entah kenapa bangsa Orc ini begitu puitis.'
"Aku memiliki penawaran untuk mu. Kau jadilah pengikut ku, atau aku akan meledakkan tubuh mu."
"Ya. Hamba bersedia." sahut Raja Orc bersayap tanpa berpikir panjang.
Sebenarnya, bukan karena dirinya telah di hempaskan berkali-kali dan tubuhnya akhirnya diinjak hingga membuat Raja Orc bersayap itu langsung menyerah.
Orc adalah bangsa petarung yang sangat suka bertarung dengan brutal. Raja Orc bersayap tentu saja ingin menyerang Anna dengan banyak kemampuan sihir yang belum ia gunakan sama sekali.
Namun, yang membuat makhluk itu langsung menyerah adalah karena ia merasakan energi sihir mengancam yang menjalar ke seluruh tubuhnya dari kaki lawan.
Enegri sihir itu memompa energi sihirnya sendiri dan terasa siap meledak kapanpun jika lawannya inginkan.
Anna melompat turun dari tubuh makhluk itu.
"Kau bicara pada mereka dan katakan bahwa kalian akan menjadi pengikut ku." perinta Anna pada makhluk itu. "Tunggulah sebentar disini. Aku akan segera kembali."
Raja Orc bersayap seketika merasakan beban berat dan energi sihir lawan dalam tubuhnya menghilang saat 'tuan' barunya itu turun dari atas tubuhnya.
°°°
Kevin Jung kini menatap takut pada Anna. Seumur hidupnya, ia baru melihat ada Hunter yang bisa merobohkan puluhan makhluk yang memiliki kekuatan setara Hunter berperingkat SS hanya dengan satu kebasan tangan.
Terutama saat ia melihat Anna sepertinya benar-benar berbicara dalam bahasa Orc.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu? Pertunjukan belum berakhir. Tunggu sebentar, aku akan menghancurkan pilar sihir terlebih dulu.
"Y-ya???"
Anna terbang dan melesat pergi dari tempat itu dengan meninggalkan Kevin yang memiliki wajah linglung.
Kevin menatap pada Raja Orc bersayap yang memiliki energi Mana dua kali lipat darinya. Kevin dapat merasakan aura mengerikan dari makhluk tersebut.
"K-kau merasakannya juga kan?" tanya Kevin pada Gina seraya menunjuk pada Raja Orc bersayap.
Gina menelan ludahnya sebelum mengangguk dan berbicara, "Y-ya... Energi Mana nya mungkin sama besar dengan gabungan seluruh Hunter di dua atau tiga kota."
"Ya, kan? Dan... dia mempermainkan makhluk itu hanya dengan seutas akar?"
__ADS_1
•••••••