
Bagian 4 : Perjalanan
☆ ☆ ☆
Langit senja yang berwarna jingga tampak sangat bersih tanpa ada setitik awan pun yang menghiasinya.
Bukan hanya awan yang menghilang dari pemandangan senja. Lokasi yang biasanya di tutupi hutan belantara seluas ribuan mil itu, kini tampak tandus kehilangan pohonnya sama sekali.
Gempa besar yang kemudian di susul oleh badai topan yang terjadi selama 3 hari 2 malam, telah menumbangkan seluruh pepohonan di area bekas hutan belantara tersebut.
Di tengah tanah tandus yang telah bersih oleh sapuan badai, nampak sosok wanita yang duduk meringkuk dengan memeluk kedua lututnya.
Sudah selama 3 hari 2 malam ia berada di sana, tanpa makan, tanpa minum, bahkan tak bergerak se-mili pun dari tempat duduknya.
•••
Udara di pagi itu terasa sedikit sejuk dan menyegarkan, setelah dalam beberapa minggu belakangan, udara di tepi aliran sungai tersebut terasa sangat panas dan tidak nyaman.
Bencana alam yang terjadi di wilayah Elf Klan Api yang telah memusnahkan hutan belantara yang telah menjadi rumah tinggal mereka itu, membuat udara bersih dan sejuk yang selalu ada bersama mereka benar-benar menghilang seketika.
Peral, salah satu dari dua panglima perang Klan Api, yang sedang berjaga bersama 3 Elf prajurit kepercayaannya, akhirnya mengajak ketiga bawahannya tersebut untuk kembali ke tenda mereka masing-masing setelah puas menghirup udara segar yang baru pertama kali mereka rasakan setelah berminggu-minggu lamanya.
Saat Peral tiba di depan tenda miliknya, ia menghentikan langkah kakinya dan menoleh pada tenda kecil yang berada tepat di sebelah tenda nya.
Peral akhirnya memutuskan untuk pergi ke tenda itu, untuk memeriksa tahanan yang ada di sana bersama Sylph, salah satu bawahan kepercayaannya.
Begitu ia tiba di dalam tenda, Peral langsung pergi ke tepi ranjang kayu, dimana tubuh seorang wanita muda terbaring di sana.
Sudah selama 5 minggu lebih wanita muda itu tidur dengan nyenyak tanpa pernah bangun bahkan bergerak sedikit pun dari posisi tidurnya semula.
Peral kemudian memeriksa gelang kayu yang melingkar di tiap pergelangan tangan dan kaki wanita itu, untuk memeriksa sihir pembelenggu energi Mana, untuk memastikan apakah sihir itu masih memiliki khasiat yang baik untuk menetralkan energi sihir penggunanya.
Walaupun Peral tahu bahwa makhluk itu tampaknya bukanlah seorang petarung, dari merasakan energi Mana yang tidak dimilikinya, namun ia tetap membelenggu makhluk tersebut hanya untuk berjaga-jaga.
Wanita itu sendiri, adalah makhluk yang Peral temukan di tengah tanah tandus, bekas wilayah Klan Api berada.
__ADS_1
Melihat sosoknya yang sangat mirip dengan bangsa pemburu yang keluar dari gerbang dalam sebuah zona perang, Peral akhirnya membawa wanita itu sebagai tahanan.
Awalnya, Peral mengira wanita itu sebagai penjajah yang muncul dari balik gerbang dan menghabisi seluruh klan nya. Namun, setelah penyihir dari klan nya memeriksa wanita itu, ia ternyata hanya makhluk biasa tanpa memiliki energi Mana pada tubuhnya.
Pemeriksaan lebih lanjut akhirnya di lakukan. Pemimpin klan meminta tabib untuk memeriksa kondisi tubuhnya, namun wanita itu terlihat sangat baik dan sehat.
Tabib dari Elf Klan Api yang sudah memeriksa kondisi tubuhnya secara seksama, juga tidak menemukan adanya luka luar atau pun luka dalam yang dialami wanita tersebut.
“Tidak ada bekas luka akibat pertarungan. Dia hanya sedang tertidur.”
Ucap tabib terbaik di Klan Api kala itu.
"Tapi, dimana kau menemukannya, Peral?" tanya Legalos, panglima perang veteran Klan Api, yang merupakan panglima senior angkatan ayah Peral.
Peral kemudian menceritakan pertemuannya dengan wanita itu.
°°°
Peral, yang baru saja pulang dari patroli di perbatasan wilayah klan nya dan Klan Angin, terkejut saat menemukan wilayah tinggal klan nya menghilang begitu saja.
Wilayah Klan Api yang sebelumnya merupakan sebuah hutan belantara yang sangat luas, tiba-tiba berubah menjadi padang tandus tanpa ada satu pohon pun lagi di datarannya.
Pada saat itu, Peral mengenali ciri-ciri wanita itu sebagai makhluk pemburu yang biasanya keluar dari gerbang, saat sebuah wilayah berada di dalam zona perang.
Saat Peral mendekat dan hendak memeriksa keadaan wanita itu, tiba-tiba saja tubuh wanita itu jatuh terkulai, tidak sadarkan diri.
Peral dan para pengikutnya pun akhirnya membawa wanita itu bersama mereka untuk di jadikan tahanan, sembari mencari apakah Elf dari klan nya ada yang masih hidup dan mengungsi ke tempat lain.
Setelah berjalan sejauh ratusan mil, Peral akhirnya menemukan lokasi pengungsian klan nya, yang mengambil tempat dan membangun perkemahan darurat di tepian sungai besar.
Setelah bertemu kembali dengan anggota klan nya, Peral akhirnya mengetahui penyebab menghilangnya hutan luas di wilayah kediaman mereka.
Bukan karena masuk ke dalam zona perang seperti dugaannya.
Ternyata, wilayah Klan Api menghilang di akibatkan oleh sebuah gempa dan badai besar yang menenggelamkan dan membawa pergi seluruh pohon yang berada di dataran wilayah mereka.
Untungnya, seluruh anggota klan selamat dan berhasil melarikan diri meninggalkan wilayah yang terkena bencana seperti kutukan tersebut.
__ADS_1
•••
“Apakah dia sama sekali belum membuka matanya?” tanya Peral pada Sylph, yang di tugaskan untuk menjaga tahanan itu.
“Seperti biasanya, dia bahkan tidak pernah menggerakkan tubuhnya sedikitpun dari posisi saat Anda meletakkannya di atas tempat tidur tempo hari, tuan Peral.”
Peral menghela nafas panjang. Elf pria itu sebenarnya sangat penasaran, ingin mengetahui asal wanita itu dan menginterogasinya.
Peral akhirnya berbalik dan pergi ke lemari penyimpanan anggur milik Sylph dan mengambil kendi kayu dari sana, lalu membawanya ke kursi kayu yang masih memiliki aroma samar dari getah pohon.
Bukan hanya kursi itu. Semua perabotan yang berada di dalam tenda itu seluruhnya masih memiliki aroma getah yang samar.
Seluruh perabotan yang berada di dalam tenda itu masih baru di buat dengan tergesa-gesa beberapa minggu lalu, karena mereka baru saja kehilangan tempat tinggal beserta isinya setelah bencana alam.
Peral meminum langsung anggur merah dari dalam kendi, dan mengosongkan lebih dari setengah isinya dalam satu kali tegukan.
“Tuan Peral, bolehkah saya bertanya?” ucap Sylph dengan suara pelan.
“Katakan saja."
“Belakangan, saya mendengar desas-desus mengenai ramalan yang tertulis dalam gulungan peninggalan para tetua. Mungkinkah makhluk ini adalah utusan yang tertulis dalam ramalan?”
Peral langsung menggelengkan kepala, begitu Sylph menyelesaikan kalimatnya.
“Ramalan para tetua tidak pernah salah. Dan bencana alam itu bukan tanda yang datang sebelum para utusan datang,” Peral menghela nafas panjang, sebelum melanjutkan, “Kau jangan terlalu memikirkan desas-desus yang sudah menyimpang dari ramalan.”
Sylph menundukkan kepalanya, saat merasa malu dengan apa yang baru saja ia tanyakan.
Untuk menghilangkan rasa malunya, Elf wanita itu kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu menghampiri makhluk yang tampak tertidur lelap di atas ranjang kayu.
Sylph mengambil sepotong kain yang terlipat rapi di atas meja kecil di samping ranjang, lalu mencelupkannya ke dalam ember kayu yang terletak di meja itu juga.
“Tuan Peral, saya ingin membersihkan tubuhnya sekarang,” ucap Sylph, yang secara tidak langsung meminta Peral untuk pergi meninggalkan tenda.
Peral mengangguk, lalu pergi dengan membawa kendi kayu bersamanya keluar dari tenda.
Setelah Peral keluar, Sylph mulai membersihkan tubuh wanita itu, dimulai dari bagian wajah dan lehernya.
__ADS_1
Ia menatap wajah cantik dan anggun itu dengan penuh kekaguman. Sylph yakin, tidak ada Elf yang memiliki wajah secantik dan seanggun makhluk tersebut.
•••