Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 202 - Peperangan Di Planet Elf


__ADS_3

Seluruh pasukan Elf yang sudah bersiap di setiap lumbung dan tempat penambangan kristal sihir akhirnya melihat sebuah gerbang berwarna hitam yang tiba-tiba muncul di dekat wilayah mereka.


Anna yang sedang berdiri bersama Tzaca dan Tzullu merasa bingung kenapa mereka bisa membuka gerbang tepat di dekat tempat penyimpanan kristal sihir bangsa Elf.


"Bagaimana mereka bisa membuka gerbang di dekat sini?" ucap Anna pelan.


“Sepertinya mereka memang pernah meninggalkan sihir pendeteksi di planet ini, dewi agung,” ucap Tzaca, menjawab pertanyaan Anna yang sebenarnya sedang berbicara pada dirinya sendiri.


Anna mendongak, menatap Tzaca yang tiba-tiba memberikan jawaban untuknya.


“Benarkah? Lalu, bagaimana sihirnya bisa bertahan selama ribuan tahun tanpa diketahui para tetua bangsa Elf dan Elf pendahulu?”


“Saya tidak tahu soal itu, dewi agung.”


"Mungkin mereka mencampurkannya dengan energi alam?"


"Sepertinya begitu, dewi agung."


Mereka kemudian memerhatikan Fael yang dipilih sebagai panglima perang sementara, untuk memimpin pasukan menggantikan ayahnya, Legalos.


Fael langsung memerintahkan para pasukan Elf untuk memasuki gerbang hitam itu, untuk menyerang bangsa penjajah terlebih dahulu sebelum mereka diperbolehkan keluar oleh sihir pembatas gerbang seperti yang biasa terjadi di dalam zona perang.


Namun, saat mereka hendak masuk ke dalam gerbang, betapa terkejutnya Fael dan pasukannya, karena bangsa penjajah itu keluar lebih dulu dari dalam gerbang.


Anna yang menyaksikannya juga terkejut. Ia juga awalnya menyangka bahwa gerbang itu sama seperti gerbang Dungeon yang berada di Bumi. Ia mengira makhluk dari dalam gerbang tidak akan bisa keluar sebelum sihir penghalang menghilang.


Selain itu, Anna juga terkejut saat melihat makhluk yang baru saja keluar dari dalam gerbang tersebut ternyata memiliki rupa dan wujud yang sama seperti para Elf. Hanya saja, ukuran tubuh mereka dua kali lipat lebih besar dari pada ukuran tubuh bangsa Elf.


•••


Fael dan pasukannya yang sudah terlanjur berkumpul di depan gerbang, mundur secara tidak teratur.


Sementara itu dari pihak lawan, 3 utusan yang sebenarnya akan membawa titah dari panglima perang mereka juga terkejut saat melihat bangsa Elf sudah berkumpul di dekat gerbang.


Sebelumnya, mereka mengira bahwa bangsa Elf tidak akan berada di sana. Hal itu sangat jauh dengan yang mereka pikirkan, karena bangsa Elf terlihat sudah sangat siap untuk berperang.


Melihat lawan yang sudah siap untuk bertempur itu, salah satu utusan akhirnya masuk kembali ke dalam gerbang, sementara utusan lain tampak sedang sibuk membuat sebuah menara kecil di dekat gerbang.


Utusan ketiga, yang sebelumnya berada di posisi paling depan, sudah langsung bertarung melawan Fael yang ia anggap berbahaya, sementara Peral dan Legalos mengatur pasukan Elf yang tadi mundur secara tidak teratur untuk berbaris agak jauh di belakang.


Eleanor dan Glynka juga mengatur pasukan penyihir dan pemanah lagi, lalu bersiap di tempat yang agak jauh bersama pasukan Orc yang di pimpin Drucalla sebagai pasukan bantuan tambahan jika diperlukan.


°°°


Memiliki perbedaan tinggi dan lebar tubuh dua kali lipat lebih kecil dari lawan, Fael bergerak dengan sangat lincah dalam menghindari dan melukai tubuh lawan yang bersenjatakan tombak panjang.

__ADS_1


Anna tahu Fael jauh lebih mengungguli lawannya. Walaupun demikian, Anna tetap saja khawatir karena mungkin saja lawannya itu hanyalah pengintai yang memang tidak memiliki kekuatan tempur baik seperti pasukan tempur inti mereka.


Seandainya semua bangsa penjajah memiliki kekuatan seperti makhluk itu, Anna akan merasa sangat lucu karena bangsa itu telah berhasil menjajah bangsa Elf pendahulu selama ribuan tahun sebelum mereka akhirnya pergi sendiri meninggalkan planet Elf dengan barang jarahan.


Namun, Anna benar-benar sangat terkejut saat pasukan bangsa penjajah itu akhirnya keluar dari gerbang dan merasakan energi Mana mereka sedikit lebih rendah dari 3 makhluk sebelumnya.


“Apa mereka memang selemah itu?”


Mendengar itu, Tzullu tersenyum. Mimik wajahnya terlihat lucu ketika Orc itu melakukannya.


“Jika Anda membandingkannya dengan tuan Fael, mereka memang sangat lemah, dewi agung. Tapi jika Anda membandingkan dengan bangsa Elf yang telah lama berdiam di sini, maka hanya Zobyr saja yang memiliki kekuatan sedikit di atas pasukan itu.”


Tzullu mengatakan hal itu karena ia tahu Anna sedang mengunci energi Mana nya agar terhindar dari rasa sakit kepala yang selalu menyiksa.


Anna sudah menceritakan hal itu pada seluruh pemimpin pasukan kepercayaannya seperti Tzullu, Tzaca, Drucalla dan para pemimpin dari Elf pengikutnya.


Karena itu juga, Tzullu akhirnya tahu bahwa Anna tidak bisa mendeteksi energi Mana dengan baik.


Kini giliran Anna yang tersenyum canggung.


•••


Di medan pertempuran, Eleanor sudah mulai membakar semua pasukan musuh yang baru saja keluar dari gerbang dengan api biru nya. Sementara itu Glynka, menembak prajurit musuh yang berhasil terhindar dari badai api ciptaan Eleanor.


Sejak keduanya tahu kekuatan lawan, mereka meminta semua Elf yang berada dalam komando mereka untuk menyimpan energi Mana dan amunisi anak panah saja.


Fael sendiri, yang sejak tadi sudah membunuh utusan yang datang terlebih dahulu, kini telah bertarung dengan makhluk yang memiliki ukuran tubuh 3 kali lebih besar dari tubuhnya.


Dengan kapak besar di tangannya, walaupun kuat, gerakan makhluk tersebut terlihat sedikit lebih lambat di bandingkan prajuritnya sendiri. Apalagi jika harus membandingkannya dengan Fael, yang kini bertarung dengan wajah bingung.


'Kenapa mereka tidak semengerikan yang para tetua ceritakan?'


Dalam pertarungan itu, Fael dengan dua pedang pendeknya terlihat sangat unggul. Secara perlahan, ia berhasil membuat banyak luka pada kedua kaki lawannya sebelum akhirnya menyerang bagian tubuh lawan dengan melompat-lompat di antara kedua paha lawannya.


°°°


Di tempat yang agak jauh dari mereka, Anna menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Tzullu dan Tzaca mulai bertaruh atas waktu kemenangan Fael dalam menghabisi lawannya. Tapi, Anna hanya membiarkan pemandangan itu, yang ia tahu sudah menjadi kebiasaan bangsa Orc.


Bahkan, saat ia menoleh ke arah kirinya, ia sudah melihat Drucalla, yang menganggur akibat Glynka meminta mereka untuk bersiaga saja karena dia ingin menangani perang bangsa mereka sendiri, akhirnya menjadi bandar taruhan atas pasukannya.


Beberapa waktu berselang, Anna melihat sebagian pasukan Drucalla yang tampaknya memenangkan taruhan, bersorak sorai bahkan dengan lebih bahagia dibandingkan pasukan Elf yang harusnya jauh lebih senang saat melihat Fael memenggal leher panglima perang musuh.


‘Cara pikir Orc memang sangat sederhana.’


Anna juga ingat perkataan dewi Yolin padanya, bahwa bangsa Elf akan menang jika para Elf pengikutnya membantu.

__ADS_1


"Jadi dia sudah tahu semua ini makanya dia mau berbicara pada ku? Ternyata dia tidak sejahat itu dan masih memikirkan para Elf," ucap Anna dalam hati.


•••


Setelah kemenangan itu, Anna memeriksa mayat bangsa penjajah yang bergelimpangan di sekitar area gerbang.


Karena kalah kekuatan dengan 3 Elf tempurnya, pasukan penjajah bahkan tidak bisa masuk ke dalam batas pertahanan pasukan Elf yang berada agak jauh dari gerbang.


“Tzaca, coba kau lihat mayat-mayat ini. Apakah energi Mana mereka ini bisa di ekstrak?”


Setelah Tzaca memeriksa salah satu mayat, ia tersenyum dengan wajah yang sangat lucu.


“Bisa, dewi agung,” sahut Tzaca kemudian.


Mengetahui itu, Anna juga langsung tersenyum sumringah.


“Ayo bawa mereka semua ke tempat kita dan ekstrak energi Mana nya.”


“Ya, dewi agung.”


Anna kemudian membuka gerbang menuju dunia buatannya dan meminta seluruh pasukan Orc untuk membawa mayat bangsa penjajah yang berjumlah ribuan itu ke dunia ciptaannya.


Tahu jika mayat-mayat tersebut bisa di ekstrak, Anna akhirnya menggunakan energi Mana untuk berteleportasi ke wilayah Klan Angin, ingin meminta mereka juga membawa mayat-mayat bangsa penjajah ke dunia buatannya.


Sesampainya Anna di wilayah Klan Angin, ia melihat seluruh pasukan Klan Angin yang berada di bawah komando Nobara sudah bersiap untuk meninggalkan wilayah mereka, pergi ke wilayah Klan Api karena pertempuran di wilayah mereka juga telah selesai.


Saat Nobara melihat Anna tiba-tiba muncul di hadapan mereka, ia dan para pasukannya langsung berlutut di hadapan Anna dan memberikan laporan kemenangan atas bangsa penjajah.


Namun, perhatian Anna justru teralih pada karung-karung besar yang di pikul oleh masing-masing Elf.


“Apakah yang berada di dalam karung itu kristal sihir?” tanya Anna pada Nobara.


“Ya, dewi agung. Kami membawanya untuk kami persembahkan pada Anda.” Sahut Nobara


“Apa?”


"Karena dulu kami pergi bersama Anda dengan terburu-buru, jadi kami tidak bisa membawa kristal sihir yang berada di tambang dan lumbung penyimpanan," Nobara menjelaskan.


"Bukan itu sih yang aku tanya?" pikir Anna, seraya tersenyum bangga pada Nobara.


Mengetahui Anna sepertinya senang, Nobara dan seluruh pasukannya justru terlihat lebih bahagia lagi.


Anna sendiri merasa sedikit terkejut saat mendengar hal itu. Ia merasa terharu saat melihat kesetiaan dan pengabdian bangsa Elf itu padanya, yang sangat berbeda dengan bangsa nya sendiri, bangsa manusia, yang bahkan langsung mengkhianatinya setelah apa yang ia lakukan untuk mereka.


“Terima kasih, Nobara,” ucap Anna dengan rasa haru di hatinya.

__ADS_1


•••••••


__ADS_2