
"selamat pagi semuanya" sapa Rehan dalam kelas. Rehan adalah ketua kelas reguler 1 semester satu ini. Setiap sampai di kelas, dia selalu menyapa teman-temannya. Berbeda denganku, aku terkenal dengan sikap pendiam, dingin, cuek tapi peduli, dan murah senyum. Sifat ini merupakan turunan dari ayahku.
"pagi katingku" sahut cewek-cewek yang ngefans berat dengan ketua kelasku ini. Maklum, dia merupakan anak keluarga terpandang. Ayahnya bekerja sebagai dosen ahli bedah sementara ibunya kepala sekolah di sekolah yayasan milikku. Ya, kami memang memiliki darah kekeluargaan itu pun dari mamaku, mamaku adalah kakak dari mamanya rehan. Ayahku memilih mamanya rehan sebagai kepala sekolah yayasan bukan karena dinasti keluarga, tapi mamanya rehan ini terkenal dengan peraih gelar profesor termuda yaitu 25 tahun di kotaku sehingga ayahku sangat mengandalkannya di dunia pendidikan.
"teman-teman, hari ini saya ada dua kabar. Yaitu kabar baik dan kabar buruk. Sebelum saya sampaikan, kalian semua mau pilih kabar baik terlebih dahulu atau kabar buruk? tanya rehan ke semua teman-temannya. Rehan ini sangat suka membuat teman-temannya penasaran.
"kabar baik dulu ting" sahut siska teman kami yang terkenal cerewet ini.
"iya ting, kabar baik dulu ting" sahut beberapa teman yang lain.
"oke, tenang semuanya. Jangan sampai keributan kita mengganggu kelas sebelah belajar" jawab rehan menenangkan teman-temannya yang sedikit memulai suasana kelas menjadi seperti pasar.
"jadi gini, hari ini bapak". rehan melanjutkan
"pasti pak Eki gak masuk kan ting" potong Oki yang sangat suka dengan suasana tanpa dosen ini.
"kalau kalian semuanya ribu saya tidak akan melanjutkan!. (ia menunggu sampai semuanya benar-benar tenang). Baiklah, semuanya dengarkan. Hari ini Dr Eki tidak bisa masuk dikarenakan sedang ke luar kota" jawab rehan sembari menunggu semuanya benar-benar tenang barulah menyampaikan pengumuman itu.
"asyikkkk. pulang cepat,,pulang cepat" potong lagi okta dan di ikuti teman-teman yang lain. suasana kelas menjadi ribut lagi.
"brakkk"..rehan memukul meja yang membuat semuanya berhenti dari ribut karena baru sekali ini mereka melihat rehan marah.
__ADS_1
"kabar buruknya adalah, Dr Eki meminta jadwal hari ini diganti hari minggu jam 08.00. Dan Bliau mentolerir keterlambatan 5 menit setelah bliau mengajar, jika ada mahasiswa yang lebih dari itu silahkan masuk tetapi pintu di tutup dari luar" jawab rehan dengan nada agak keras menyampaikan pesan dari Dr eki dosen Kalkulus ini.
"yah ting, apa nggak bisa diganti hari lain. Hari minggu kan hari mager sedunia dan juga hari liburan ting, berilah kami liburan ting, kan kamu dekat tu dengan Dr Eki, jadi kamu bisa sedikit merayu bliau" timpal serly yang tak rela hari liburnya digunakan itu.
"tidak bisa, karena ini permintaan bliau.!" jawab rehan mempertegas.
"yahh,,ayoklah kita pulang" sahut beberapa teman yang lain yang sudah mulai kecewa dan mereka pun meninggalkan kelas untuk pulang.
"han, kamu langsung pulang atau gimana" tanyaku ke rehan keponakanku ku ini. Walaupun ibu kami kakak beradik, tapi kami lahir hanya selisih 5 hari dan lahirnya duluan rehan.
"enggak, mungkin nongkrong di kantin kalau gak ya di gedung E cari wifi" jawabnya. Gedung E adalah gedung terbuka untuk mahasiswa yang disana disediakan perlengkapan mahasiswa seperti wifi, mesin atm, fotocopy. Dikenal gedung E karena bangunannya menyerupai huruf E.
"kita main ke SMA yuk, aku kangen nih jajanan kantin disana. Itung-itung sekalian nostalgia disekolahan lama" pintaku menawari rehan
"ayoklah.. aku traktir ni". rayu ku ke rehan
"hmmm,,ayoklah"rehan pun menuruti ajakanku.
kita pun segera keparkiran untuk mengambil motor kita. Kami berdua memang dilarang menggunakan mobil, terlebih kami hanya memiliki sim c. Rehan dengan motor kesayangannya New CBR sementara aku dengan motor CBR jadul yang dimodifikasi ala film dilan. motor ini saat SMA jarang aku pakai karena dilarang oleh ayahku.
Meskipun ayahku pemilik yayasan, hanya mamanya rehanlah dan pak Cokro sahabat ayahku yang anaknya masih duduk di bangku kelas X ini. Pak Cokro ini dikenal sangat tegas, meskipun usianya sudah 45 tahun lebih tua 2 tahun dari ayahku, tapi wajah pak Cokro masih seperti orang berumur 30an. Anak pertamanya berada di amerika untuk sekolah militer, sedangkan anak keduanya saat ini kuliah di inggris sementara anak terakhirnya yang memiliki paras cantik dan baik hati ini masih duduk di bangku SMA.
__ADS_1
sesampainya di SMA.
"oh, mas randi dan mas rehan. Silahkan masuk mas". sapa pak totok penjaga gerbang sekolahan sembari membukakan gerbang.
"makasih pak" sahut kami berdua bersamaan sambil menundukan kepala dan sedikit senyum
"mau cari ibu ya mas rehan?" tanya pak totok kepada rehan yang sudah akrab dengan keluarga rehan ini.
"enggak pak, saya dan randi hanya mampir ke sekolahan sekalian mau makan di kantin" jawab rehan ke pak totok
"iya pak, kami kangen sama masakan mbok darmi" sahutku menimpal jawaban rehan.
"walah, walah, mas randi ini baru juga beberapa bulan yang lalu lulus udah kangen aja sama masakan mbok darmi. Nanti kalo pesen makanan jangan lupa sama bapak ya" jawab pak totok sambil bercanda ke randi.
"aman pak, kita masuk dulu ya pak. Motornya saya titipkan di dekat pos bapak aja ya" pintaku sembari menitipkan motor dekat pos pak totok.
"iya mas, gak papa mas, tarok aja disitu mas pasti bapak jagain kok" jawab pak totok
"oke pak, makasih pak" jawabku
" sama-sama mas" jawab pak totok
__ADS_1
mereka berdua pun meletakkan motornya di samping pos pak totok dan langsung ke kanting mbok darmi. Kantin mbok darmi ini terletak di belakang ruang kelas duabelas di paling ujung sekolahan. Ayahku juga tidak meminta pungutan untuk para penjual di kantin ini, tetapi mereka hanya membayar uang kebersihan setiap bulan sebesar 10.000 yang langsung mereka bayarkan ke pihak kebersihan.