ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Terakhir


__ADS_3

Aku dan Albern pulang ke rumah Axel. Kami duduk di ruang tamu. Sama-sama membicarakan masalah yang terjadi. Mereka juga merasa masalah ini harus diselesaikan baik-baik. Biar bagaimanapun masalah ini juga menyangkut kepentingan mereka berdua.


"Bagaimana kalau kita menghadap orangtua Aara, kita bicarakan baik-baik masalah ini," ujar Axel.


"Maafkan aku Axel, Abang jadi merepotkanmu dan Raina," ujar Albern.


"Gak papa kitakan keluarga, sudah seharusnya saling membantu Bang," sahut Axel.


"Lagi pula semua ini menyangkut masalah kita juga," tambah Raina.


Aku dan Albern mengangguk.


"Kalau begitu ayo kita berangkat ke rumah Aara untuk menjelaskan semuanya," ucap Axel.


"Iya, lebih cepat lebih baik," sahut Albern.


Akhirnya kami berempat berangkat bersama ke rumah Keluarga Ariendra. Diperjalanan Albern terus memegang tanganku. Dia coba menguatkanku. Semua masalah pasti akan berakhir dengan baik.


Sampai di rumah Keluarga Ariendra. Kami turun dari mobil. Masuk ke dalam rumah. Ternyata Papa dan yang lainnya juga sedang ada di dalam ruang keluarga. Aku, Albern, Axel, Raina dan Bobo masuk ke dalam ruang keluarga. Kami duduk bersama mereka.


"Pa, aku dan Raina akan menjelaskan semuanya," ujar Albern.


"Bagus, Papa gak perlu memintamu untuk menjelaskan," sahut Papa.


Albern dan Raina menceritakan semua yang terjadi pada semua orang. Begitupun dengan aku dan Axel. Tak ada yang ditutupi lagi. Semuanya, tanpa ada yang ditutupi lagi.


Papa terdiam. Raut wajahnya terlihat dingin. Membuat aku dan yang lainnya takut. Kami tak berani bicara apapun lagi. Menunggu Papa bicara.


"Setiap orang punya masa lalu, tidak ada manusia satupun yang luput dari kesalahan, begitupun dengan kakek di masa lalu," ujar Rehan.


"Aku juga," ucap Barra yang baru datang dengan Deena.


Semua orang terkejut. Melihat ke arah Barra dan Deena yang baru datang ke ruang keluarga.


"Assalamu'alaikum," sapa Barra dan Deena.


"Wa'alaikumsallam," sahut semuanya.


"Barra, Deena, ayo duduk!" ajak Cinta.


"Iya Ma," sahut Barra dan Deena. Mereka berdua duduk bersama kami semua.


"Aku dulu juga bukan orang baik-baik, tapi bidadariku Deena membuatku berubah, begitupun dengan menantu kita Albern," ujar Barra.


"Lebih baik mantan preman, dari pada mantan ustad Farel," tambah Deena.


Papa terdiam. Memikirkan ucapan kakek, Om Barra dan Tante Deena.


"Saat Mama tahu masa lalu ayahmu, Mama tidak menyalahkannya, justru membantunya kembali ke jalan yang benar dan memberi support padanya," ucap Cinta.


"Yang lalu biarlah berlalu, toh Albern dan Aara sudah bahagia, begitupun Axel dan Raina," tambah Rehan.

__ADS_1


"Tadinya aku berpikir semua ini aneh dan salah, tapi setiap orang punya takdir dan jodohnya masing-masing," ujar Rangga.


"Aku juga terlalu menganggap diriku paling benar, padahal apa salahnya menerima orang lain yang berusaha memperbaiki kesalahannya," tambah Adel.


"Mama juga merasa setiap orang berhak bahagia, meskipun masa lalu mereka dulu kelam, yang penting sekarang mereka sudah memperbaiki kesalahannya," sahut Mama.


Satu per satu orang memberi masukan. Mereka berusaha membujuk Papa yang masih terdiam. Aku dan Albern menunggu tanggapan Papa.


"Ayo kita makan, mumpung semua anggota keluarga kumpul," ucap Papa sambil tersenyum. Senangnya melihat senyuman itu.


Alhamdulillah. Ternyata Papa sudah bisa menerima semua yang terjadi sebagai bagian masa lalu. Dan menyambut masa depan yang indah.


Kami semua mengangguk. Kemudian makan malam bersama. Rasanya itu makan malam paling spesial. Kami semua bisa makan bersama keluarga dan bersenda gurau bersama setelah makan.


***


Satu bulan berlalu. Aku dan Albern menginap di rumah Keluarga Ariendra. Begitupun Rangga dan Adelina. Sudah sebulan kami tinggal di rumah kami masing-masing. Hari ini kami ingin melepas rindu dengan Papa dan Mama. Aku dan Adelina makan rujakan bersama di teras. Akhir-akhir ini kami sering makan rujak. Rasanya segar makan rujak di siang hari ditambah makannya bersama.


"Aara udah beberapa hari ini makan rujak mulu," ucap Albern.


"Adel juga gitu, tiap pagi mual mulu," sahut Rangga.


"Sama, Aara juga gitu, iyakan sayang?" tanya Albern.


"Iya suamiku," sahutku.


"Emang Adel masuk angin?" tanyaku pada Adel.


"Gak, mual doang tapi pagi hari," jawab Adelina.


"Coba cek, bisa jadi kalian hamil," ucap Mama yang baru datang menghampiri kami dengan membawa mangga muda. Kemudian Mama duduk di antara kami.


"Hamil Ma?" tanyaku.


"Iya, biasanya yang hamil ditandai mual di pagi hari, apalagi kalian tiba-tiba suka rujakan setiap hari," jawab Mama.


"Iya sayang kata Mama ada benernya," sahut Albern.


"Iya, jangan-jangan kalian hamil," tambah Rangga.


Aku dan Adelina langsung tersenyum bahagia.


"Udah test pack dulu," usul Mama.


"Iya ya Ma," sahutku dan Adel.


Tak lama Papa datang. Menghampiri kami semua yang lagi asyik rujakan di teras. Papa melihat rujak yang begitu banyak yang sedang kami nikmati.


"Makan rujak serut emang enak siang-siang gini," ujar Papa.


"Ayo Pa gabung," ajakku.

__ADS_1


"Oya Pa, ayo!" tambah Adelina.


"Sini Pa duduk deketku!" ajak Albern.


Papa mengangguk. Kemudian duduk bersama kami makan rujak bersama. Kebersamaan itu sangat menyenangkan. Tidak ada harta yang lebih berharga selain keluarga.


Setelah makan rujak aku dan Adelina melakukan test pack. Kami masuk ke toilet yang ada di ruang keluarga. Semua anggota keluarga menunggu kami ke luar. Mereka tak sabar menunggu hasil test pack kami.


Tak lama aku dan Adelina ke luar. Kami menghampiri semua anggota keluarga yang duduk di sofa. Kami duduk bersama mereka.


"Bagaimana hasilnya," tanya Papa.


"Aku hamil Pa," jawabku sambil menunjukkan hasil test pack itu.


"Alhamdulillah," sahut semuanya.


Albern yang duduk di sampingku langsung memelukku. Yang mencium keningku dan mengelus perut ku.


"Adel gimana?" tanya Mama.


"Aku juga hamil," sahut Adelina.


"Alhamdulillah," ucap semua orang.


Rangga langsung memeluk Adelina yang duduk di sampingnya dan mencium keningnya. Tak lupa dia juga mencium perut Adelina. Dia senang sekali dengan kehamilan.


"Alhamdulillah atas karunia nikmat dan berkah yang Allah berikan kepada kita semua," ucap Papa.


"Amin," sahut semuanya.


Kami semua tersenyum bahagia dengan kabar kehamilan aku dan Adelina. Di rumah besar Keluarga Ariendra, akan semakin ramai dengan hadirnya anak-anak yang akan meramaikan rumah besar itu. Keluarga Ariendra akan semakin besar dan berkembang kami semua akan menjadi keluarga besar. Kakek Leo dan nenek Zara pasti bahagia disana melihat kebahagiaan kami semua.


***


Lima bulan kemudian. Aku dan semua anggota Keluarga Ariendra berziarah ke makam kakek Leo dan nenek Zahra. Mumpung kami semua sedang berkumpul bersama. Pemakaman tempat kakek dan nenek berada di tanah khusus yang dibeli Papa dan Mama untuk pemakaman keluarga besar Ariendra. Di sana baru ada dua makam. Makam kakek Leo dan nenek Zara. Kami semua duduk dan mendoakan kakek dan nenek. Begitu banyak jasa mereka pada keluarga masyarakat dan negara. Setiap hari begitu banyak yang datang berziarah ke makam mereka. Mungkin karena mereka orang yang baik dan dermawan.


Ini kali pertama ku datang ke makam kakek dan nenek. Selama ini aku hanya mendengar cerita dari Papa dan Mama. Namun melihat banyak orang silih berganti masuk berziarah ke makam kakek dan nenek, dari situ aku sudah membaca kalau kakek dan nenek bukan orang biasa. Pasti mereka orang yang baik dan disegani banyak orang. Begitu banyak bunga yang selalu ada di atas maka mereka. Begitu banyak cerita tentang kebaikan mereka padahal mereka sudah lama tiada. Dari OB, tukang sapu jalanan, pemulung sampai orang yang berdasi sekalipun mereka mengenal kakek Leo dan nenek Zara.


Sungguh mereka orang yang baik membuatku kagum dan membuatku termotivasi untuk menjadi orang yang jauh lebih baik lagi.


Aku dan semua anggota keluarga mendoakan kakek Leo dan nenek Zara agar tenang di sana, diampuni segala dosa-dosanya dan ditempatkan di tempat yang terbaik.


Perutku dan Adelina kini sudah mulai kelihatan setiap anggota keluarga mengusap perut kami dan mengucapkan doa agar ibu dan anaknya sehat sampai proses kelahiran nanti.


"Ayo pulang," ajak Papa.


Semua orang mengangguk.


Kami semua keluar dari pemakaman itu naik ke mobil masing-masing, satu persatu meninggalkan tanah pemakaman itu. Menuju ke rumah keluarga besar Ariendra. Di depan halaman sudah ada fotografer yang siap memfoto kami semua. Pagi itu kami semua berfoto untuk kenang-kenangan agar bisa dikenal oleh seluruh anggota keluarga dan keturunan kami kelak.


Seperti kakek Leo dan nenek Zara yang selalu dikenang sepanjang masa. Kami akan terus mewujudkan cita-cita dan meneruskan kebaikan mereka.

__ADS_1


Selamat jalan kakek Leo dan nenek Zara. Kebaikan kalian akan selalu dikenang oleh semua orang. Semoga kami semua bisa seperti kalian.


Ending ...


__ADS_2