ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 47


__ADS_3

Aku dan Albern berangkat ke rumah neneknya. Untuk saat ini Albern melarangku membawa Bobo. Albern khawatir neneknya akan terkejut dua kali, jadi dia memutuskan untuk memberi tahu pernikahan kami barulah nanti perlahan mengenalkan Bobo.


Sampai di rumah nenek Albern, aku tercengang. Bukankah ini rumah nenek yang waktu itu. Aku hanya diam belum berani bertanya ataupun berspekulasi macam-macam. Aku juga tidak tahu apa hubungan Albern dengan nenek pemilik rumah ini. Sudahlah, aku berpikir positif. Toh aku belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku yakin Albern akan memberi tahuku semuanya.


Albern memintaku menunggu di luar kamar neneknya. Sementara dia masuk ke dalam untuk berbicara terlebih dahulu. Aku hanya mengangguk menyetujui permintaannya. Aku diam di luar kamar menantinya. Berdoa agar nenek menerimaku.


Albern menghampiri neneknya yang sedang merajut sweater untuknya. Nenek memang gemar merajut dikala senggang. Sweater buatannya sangat bagus, bahkan sempat ikut dalam pameran dan ditawar dengan harga fantastis. Nenek hanya membuat sweater untuk Albern dan Axel. Kedua cucu kesayangannya.


"Nenek," sapa Albern yang berjalan menghampirinya.


"Albern, tumben kau datang tak menelpon dulu," ujar Nenek Karina. Bisanya Albern selalu memberi tahu dulu via telpon jika ingin bertemu.


"Aku ingin memberi surprise untuk nenek," ucap Albern.


"Surprise apa?" tanya Nenek Karina. Rasa penasaran membuatnya ingin tahu surprise yang akan diberikan Albern.


"Ada," jawab Albern.


"Duduklah di sampingku," pinta Nenek Karina.


Albern mengangguk. Duduk di samping nenek.


Dia memperhatikan neneknya yang sudah tua namun masih bisa merajut. Mungkin sekejar mengusir rasa bosan atau mencari kesibukan agar terlihat bekerja.


"Sweater untukku?" tanya Albern melihat sweater berwarna biru tua. Sweeater dengan motif list kotak-kotak di dadanya membuatnya terlihat keren.


"Iya, sudah lama nenek tak membuatkan sweater hangat untukmu," jawab Nenek Karina.


"Terimakasih Nek," ucap Albern. Dia senang neneknya masih memperhatikannya yang sudah besar bahkan sudah menikah.


Nenek membalas dengan senyuman. Sejenak Albern berpikir, dia harus merangkai kata yang benar untuk menyampaikan dengan tepat. Jangan sampai salah, hubungannya denganku harus mendapatkan restu. Dia tak ingin berpisah dariku dan menikahi wanita lain.


"Nek, ada yang ingin ku bicarakan," ucap Albern.


"Apa?" tanya Nenek Karina. Dia masih terlihat santai.


"Aku tidak bisa menikah dengan Lisa," ujar Albern.


"Kenapa? kau dan Lisa sudah sejak lama dijodohkan, Lisa juga anak yang baik dan cantik," timpal Nenek Karina. Dia ingin Albern menikahi gadis yang sudah dipilih olehnya.


"Aku mencintai gadis lain," ujar Albern.


"Albern, tidak sembarang gadis bisa kau cintai, dia harus memiliki bobot, bibit dan bebet yang baik," kata Nenek Karina. Sebagai seorang konglomerat, dia tak bisa menerima gadis sembarangan menjadi menantu di keluarganya.


Albern tahu neneknya pasti akan menolak. Namun dia harus berusaha, agar hubungan kami legal dimata keluarganya. Terutama neneknya dulu.


"Nek, gadis yang ku cintai itu baik dan pekerja keras meskipun hidupnya sulit, dia seorang yatim piatu tapi dia mampu membiayai hidupnya dengan kerja keras dan tekadnya," ungkap Albern.


Nenek mendengarkan ucapan Albern.

__ADS_1


"Albern nenek tahu kau jatuh hati padanya tapi kau tidak bisa bersamanya, Lisa tetap calon istrimu," ujar Nenek Karina.


"Aku tidak bisa menikahi Lisa karena aku sudah menikah dengan Aara, gadis yang ku cintai," ungkap Albern.


"Apa?" Nenek terkejut langsung memegang dadanya. Segera Albern mendekat dan membantu nenek menenangkan stressnya. Barulah setelah nenek mulai stabil Albern kembali bicara.


"Maafkan aku Nek," ucap Albern.


"Kau menikah tanpa memberitahu keluargamu?" tanya Nenek Karina.


"Maaf Nek, pernikahan kami dadakan, saat itu kami terpaksa menikah karena tuduhan, tapi akhirnya kami saling mencintai satu sama lain," ujar Albern. Dia juga menceritakan awal pertemuannya denganku. Statusku yang masih siswa dan Bobo yang ku asuh. Albern menceritakan semuanya pada neneknya.


"Dia mengasuh bayi yang bukan anaknya?" tanya Nenek.


"Iya," jawab Albern.


"Baik sekali dia, sangat jarang ada anak yatim piatu miskin, masih sekolah mau merawat bayi terlantar," ujar Nenek Karina.


"Itulah Aara, dia gadis yang unik dan baik, nenek akan senang mengenalnya," ucap Albern.


Nenek mengangguk.


"Dia sekolah di sekolah milikmu?" tanya Nenek Karina.


"Iya," jawab Albern.


"Sekolah itukan mahal, dia pasti harus kerja keras untuk bisa sekolah di sana," ujar Nenek Karina.


Albern mengangguk.


"Siap Nek," ucap Albern. Segera dia ke luar kamar nenek. Menghampiriku yang menunggu di luar. Kecemasanku mereda saat Albern datang.


"Aara," panggil Albern.


"Iya, ada apa? apa nenekmu marah? dia tidak setuju?" tanyaku maraton.


"Nanti kau akan tahu, sekarang nenek ingin bertemu denganmu," ujar Albern.


Deg


Jantungku berdebar. Apa aku mampu berperilaku sesuai keinginan neneknya. Aku hanya orang miskin yang mungkin cara berbicara dan bersikap sangat berbeda dengan keluarga Albern.


"Jangan bengong sayang, ayo!" ajak Albern.


"Aku ...," ucapku.


Cup


Sebuah ciuman penyemangat di keningku dari Albern.

__ADS_1


"Semangat! kita lewati bersama, apapun," ujar Albern.


Aku mengangguk.


Albern mengenggam tanganku. Mengajakku masuk ke dalam kamar neneknya. Tercengang saat aku dan nenek saling bertemu, menatap satu sama lain. Sebelumnya kami pernah bertemu.


"Selamat sore Nek," sapaku.


"Sore," balasnya.


Albern mengajakku duduk bersama neneknya.


"Nek, ini Aara Amelia, istriku," ujar Albern.


Nenek langsung tersenyum melihatku.


"Nenek setuju, dia pantas jadi istrimu," ujar Nenek Karina.


"Benarkah Nek?" tanya Albern.


"Iya, dia gadis yang baik, kemarin dia menolong nenek saat kambuh di jalan," jawab Nenek Karina.


"Alhamdulillah, makasih Nek," ucap Albern.


"Justru nenek yang ingin berterimakasih pada Aara, kemarin belum sempat berterimakasih," ucap Nenek Karina.


Aku tersenyum lega. Hampir saja aku takut disembur nenek karena menjadi istrinya Albern ternyata pertemuanku pagi itu menjadi jalan untukku bertemu nenek dan mendapat persetujuannya.


"Terimakasih ya Aara, kau harus bersabar menjadi istri cucuku yang nakal ini," ujar Nenek Karina.


"Iya Nek, sama-sama," jawabku.


"Nenek jangan buka kedokku di depan istriku" ucap Albern.


"Dia harus tahu seberapa nakalnya dirimu," ujar Nenek Karina.


Aku hanya tersenyum mendengar nenek dan Albern berdebat. Mereka terlihat akrab dan saling menyayangi. Bahagianya punya keluarga. Dan kini aku diterima sebagai istrinya Albern.


Di mobil, Albern menyandarkan kepalaku di bahunya, sambil terus menggenggam tanganku.


"Sayang, akhirnya hubungan kita direstui, tinggal mengenalkanmu pada keluarga besarku, tapi tidak sekarang, ibu tiriku akan menjatuhkanku jika dia tahu tentangmu," ujar Albern.


"Ibunya Axel?" tanyaku.


"Iya, baginya ibuku sudah merebut suaminya. Dia tidak akan tinggal diam jika tahu hubungan kita," ujar Albern.


"Aku ngerti," jawabku.


"Nanti setelah kau lulus barulah kita beri tahu hubungan kita pada keluargaku," ucap Albern.

__ADS_1


Aku mengangguk.


__ADS_2