ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 72


__ADS_3

"Nanti aku turun" ucap Barra.


"Baik Tuan"


Pelayan itu kembali bekerja. Barra menutup pintu kamarnya dan menghampiri istrinya yang sedang duduk diranjang. Barra langsung berbaring dipangkuan Deena.


"Om bukan tadi ada tamu" ucap Deena sambil mengelus rambut suaminya.


"Males, pengennya berduaan sama kamu sayang" ucap Barra.


"Kata kakekku, kita harus memuliakan tamu" ucap Deena.


"Kakekmu itu memang orang yang baik, okelah" ucap Barra.


Cup


Barra memberikan satu ciuman dipipi Deena untuk penyemangatnya.


"Aku turun duluan sayang" ucap Barra.


Deena memegang kedua pipi Barra. Dia memandang wajah suaminya yang terlihat malas untuk keluar dari kamar.


"Nanti aku nyusul Om" ucap Deena.


"Iya sayangku" ucap Barra.


Barra beranjak dari ranjang keluar dari kamarnya.


Dia menuruni tangga menuju ke ruang tamu. Seorang gadis cantik mengenakan kaos pendek, rok mini, rambutnya panjang kemerahan sedikit ikat dibagian bawahnya. Dia terlihat modis dan centil.


"Hai Om sugar daddy ku" ucap Marsya.


"Ngapain kamu disini?" tanya Barra yang masuk ke dalam ruang tamu.


"Loh Om, lupa? aku udah nolong Om loh beberapa tahun lalu" ucap Marsya.


"Kau mau apa?" tanya Barra.


Marsya mendekati Barra, lansung bergelayut manja dilengannya.


"Om ganteng deh, dari dulu tipeku banget" ucap Marsya.


Tangan Marsya meraba dada Barra. Tapi dari belakang tubuhnya ditarik Deena dan dijatuhkan ke lantai.


Bruuug....


"Aw....sakit" ucap Marsya kesakitan saat terduduk dilantai.


Barra menengok ke belakang, istrinya sudah menghajar wanita yang menggoda suaminya.


"Sayangku memang jagoan" ucap Barra sambil menghampiri Deena.


"Kalau kau berani menyentuh suamiku, aku tak segan mematahkan tanganmu" ucap Deena.


"Ganas" ucap Marsya.


"Sudah...sudah..., sayang ini Marsya. Keponakan angkatku" ucap Barra.


Marsya bangun dan berdiri didepan kedua pengantin baru itu.


"Sorry Tante kecil, aku memang biasa bermanja-manja sama Omku" ucap Marsya.


Sikap Marsya memang sangat centil, tapi dia centil ke semua lelaki tampan bukan hanya Barra. Baginya Barra adalah Om sugar daddy-nya tapi itu hanya panggilan manjanya.

__ADS_1


"Sayang jangan salahfaham, Marsya memang centil ma siapa aja, gak bisa liat cowok ganteng nganggur" ucap Barra.


Barra takut istrinya marah sikap centil Marsya. Dia tak berani melihat istrinya marah padanya. Barra sampai pasang wajah baper biar istrinya tidak salahfaham.


"Om kau imut sekali, balik kamar yuk" ucap Deena menggoda Barra.


"Mau bangeeet" ucap Barra.


Deena menarik kerah baju Barra meninggalkan ruang tamu.


"Om sugar daddy ku, tante kecil jangan tinggalkan aku sendirian. Gak ada hantukan dirumah ini?" ucap Marsya.


************


Pagi itu Alina menyiapkan semua pakaian yang akan dikenakan Farel bekerja. Alina berusaha menjadi istri yang baik untuk Farel meskipun dia belum mencintainya. Alina tetap mencintai kakaknya Rafael. Dari belakang Farel memeluk Alina.


"Kak Farel...a..aku pikir siapa?" ucap Alina terkejut saat Farel memeluknya.


Farel memeluk dan mencium pipi Alina.


"Sayang seneng deh, tiap pagi ada kamu sekarang" ucap Farel.


"Iya kak" ucap Alina.


Farel hendak mencium bibir Alina tapi ditahan tangan Alina.


"Nanti kesiangan, aku siapkan sarapan ya" ucap Alina.


Farel tetap mencium Alina walaupun Alina menolak.


"Aku ingin kau hanya melihatku dan mencintaiku" ucap Farel seusai mencium Alina.


Alina hanya diam. Dia tahu suaminya berhak atas dirinya tapi dia mencintai Rafael.


Alina mengangguk. Farel mulai memakai bajunya. Alina membelakanginya. Dia tak berani melihat tubuh suaminya. Setelah itu, Farel mendekati Alina.


"Sayang, aku berangkat dulu. Ada meeting pagi ini" ucap Farel.


"Gak sarapan dulu kak?" tanya Alina.


"Gak sayang, nanti aku pulang cepet deh biar bisa berduaan sama kamu" ucap Farel.


"Iya kak" ucap Alina.


Farel mencium kening Alina lalu keluar dari kamarnya. Setelah Farel berangkat dan Alina merapikan kamar, dia ingin pergi ke pasar untuk membeli beberapa sayuran segar. Alina diantar supir menuju pasar tradisional. Sampai dipasar tradisional Alina membeli berbagai macam sayuran. Belanjaannya banyak sampai dua plastik besar. Dia tak hanya membeli sayur tapi membeli ayam, ikan dan daging. Saat Alina keluar dari pasar dia melihat tukang kuli panggul banyak, mengantri untuk membawakan barang belanjaan para pengunjung pasar yang membawa banyak barang belanjaan. Salah seorang ibu membawa barang belanjaan banyak. Dia berdebat dengan kuli panggul itu.


"Bang berapa duit membawa belanjaan saya sampai rumah?" tanya Ibu Yuni.


"Rumah ibu cukup jauh, kalau 15 ribu gimana?" tanya Maman.


"Kemahalan, 5 ribu aja kalau gak? gausah deh. Bisa bawa sendiri" ucap Ibu Yuni.


"Bu kalau 5 ribu jalan sejauh itu bawa barang berat apa ibu tidak kasihan sama saya" ucap Maman.


"Lah kalau jadi kuli panggung memang berapa upahnya? nyadar diri dong Bang" ucap Ibu Yuni.


"Kuli panggul juga manusia Bu, punya anak, punya istri yang menjadi tanggungjawab, kalau semua orang berpikir seperti ibu, kami makin tercekik. Istri dan anak kelaparan" ucap Maman.


Mendengar itu Alina tersentuh. Dia beruntung jadi dirinya sekarang baik dulu. Hidupnya berkecukupan. Terkadang manusia terus melihat ke atas lupa dibawah juga banyak yang masih hidup kekurangan dan pas-pasan. Alina menghampiri mereka.


"Pak antarkan ibu ini biar saya bayar" ucap Alina.


"Beneran neng?" tanya Maman.

__ADS_1


"Iya" ucap Alina.


"Neng lagi bagi-bagi duit nih" ucap Ibu Yuni.


Alina hanya tersenyum, dia membayar Pak Maman dengan uang seratus ribuan.


"Neng ini kebanyakan" ucap Maman.


"Selebihnya untuk istri dan anak bapak" ucap Alina.


"Makasih ya Neng, semoga Allah membalas kebaikan Neng" ucap Maman.


"Amin" ucap Alina.


"Yaudah buruan Bang, kedai sotoku keburu buka nih" ucap Ibu Yuni.


Pak Maman segera membawakan barang belanjaan Ibu Yuni. Itulah manusia, terkadang tak peka. Mereka selalu mengejar dunia, terlena, hidup ini tidak hanya tentang diri sendiri, tapi ada orang lain. Ingat hubungan sosial atau menurut agama hablum minannas.


Barang bawaan Alina dibawa kuli panggul sampai mobilnya. Dia membayar kuli panggul itu. Kemudian dia masuk ke dalam mobil. Alina lupa belum membeli tahu tempe, dia turun kembali. Alina berjalan menuju pasar. Baru beberapa langkah dua orang lelaki mendekati Alina. Mereka sok akrab. Salah satu dari mereka menodongkan pisau pada Alina.


"Serahkan dompetmu" ucap Lelaki pertama.


Alina hanya diam. Dia tahu kedua lelaki ini pasti mau memaksanya untuk menyerahkan uangnya.


"Bos kayanya dia butuh ancaman yang lain" ucap Lelaki kedua.


Mereka hendak mencolek pipi Alina tapi ditahan tangannya oleh Axel.


"Jangan berani menyentuhnya" ucap Axel.


"Berani sekali kau menantangku" ucap Lelaki pertama.


Kedua lelaki itu melawan Axel. Mereka babu hantam hingga kedua lelaki itu babak belur. Saat mereka sudah hampir kalah, salah satu dari mereka menusukkan pisau ke arah perut Axel tapi Axel berusaha menghindar hingga mengores punggung belakangnya.


"Aaaa...." ucap Axel kesakitan.


Darah mengalir dipunggung Axel. Melihat itu kedua lelaki itu kabur sebelum dikeroyok masa.


Alina menghampiri Axel.


"Axel kau tak apa?" tanya Alina.


"Tidak" ucap Axel.


"Punggungmu" ucap Alina.


"Tolong obatiku Alina" ucap Axel kesakitan.


Alina mengangguk. Dia membawa Axel ke mobilnya. Didalam mobil Alina mulai mengobati Axel. Dia hendak memberi obat luka dipunggung Axel. Dia tak sengaja melihat tanda harimau dilengan Axel. Tanda itu sama persis milik Rafael. Air mata Alina menetes tanpa disadari.


"Kak Rafa" ucap Alina.


Alina langsung memeluk Axel dari belakang.


"Ratu kegelapan kenapa kau memelukku?" tanya Axel.


"Kak Rafa jangan meninggalkan Alina lagi" ucap Alina sambil menangis.


Axel berbalik melihat Alina yang menangis. Dia menyeka air mata dipipi Alina.


"Alina, aku juga sangat merindukanmu" ucap Axel.


"Kakak" ucap Alina memeluk Axel kembali.

__ADS_1


__ADS_2