
Sampai di rumah Axel dan Raina, kami turun dari mobil Alpard keluaran terbaru. Berjalan memasuki rumah mereka. Ternyata di dalam keduanya sudah menunggu kami. Sepertinya mereka punya firasat. Meskipun kami belum cerita apapun. Raina yang kini sudah kembali rujuk dengan Axel terlihat bahagia. Tak ada kesedihan di matanya. Berarti sepenuhnya Axel sudah memberikan cinta padanya.
"Assalamu'alaikum," sapaku dan Albern.
"Wa'alaikumsallam," sahut Axel dan Raina.
Kami duduk bersama di sofa. Bobo terlihat gembira sampai mengoceh Papa dan Momy. Bahkan sudah bisa memanggil Raina bunda dan dan Axel ayah. Bobo tahu saja punya empat orangtua sekarang. Dia akan dibanjiri kasih sayang.
"Aku dan Aara datang ke sini ingin memberitahu sesuatu," ujar Albern.
Raina dan Axel nampak serius mendengar ucapan Albern. Mereka penasaran apa yang akan didengarnya.
"Apa?" tanya Axel.
"Kemarin saat Bobo sakit, dia membutuhkan transfusi darah Rh-null. Yang kalian tahu darah Rh-null itu sangat langka, hanya beberapa orang yang memeliki golongan darah Rh-null di dunia. Salah satunya aku dan Bobo. Jadi aku mendonorkan darahku pada Bobo. Tapi dibalik itu aku penasaran kenapa Bobo memiliki darah Rh-null, pikiran liarku berpikir mungkin saja Bobo anakku. Akhirnya aku memutuskan untuk tes DNA," ungkap Albern.
Kedua mata Axel dan Raina menatap Albern tajam. Mereka semakin penasaran dibuatnya.
"Lalu apa hasilnya?" tanya Axel.
"Iya apa hasilnya?" tambah Raina yang ingin segera mendengar kabar baik. Apalagi selama ini dia yakin anaknya masih hidup. Dia tidak percaya pada ibunya Axel kalau bayinya meninggal.
"Aku dan Bobo memang ayah dan anak," ujar Albern.
Raina dan Axel langsung tersenyum. Raina segera menghampiriku. Dia berlutut di depanku. Mengambil Bobo di pangkuanku. Memeluk Bobo begitu erat. Mungkin dia rindu pada Bobo. Mereka sudah terpisah cukup lama.
"Bobo ini Bunda, ibu kandungmu sayang, Bunda kangen," ucap Raina sambil menangis. Tak bisa dipungkiri dibalik kebahagiaannya ada rasa sedih karena rindu yang begitu lama dipendam.
Bobo hanya membalas dengan ocehan memanggil Bunda pada Raina meskipun belum lancar dan masih cadel.
Raina menciumi Bobo. Dia begitu menyayangi Bobo dari pertama bertemu di rumah Axel. Memang batin ibu dan anak tak bisa dipisahkan meski mereka tak saling mengenal.
Baru beberapa saat Bobo merengek ingin menyusu. Akhirnya Raina mengajakku ke kamarnya untuk menyusui Bobo. Kami pun meninggalkan dua lelaki tampan yang sedang mengobrol dan mulai pindah duduk untuk main game bersama.
Di kamar Raina, aku menunggu Raina selesai menyusui Bobo yang asyik menyusu sepuasnya. Dia sekarang tak harus menyusu dari botol. Asi Raina sangat mencukupi kebutuhannya. Itu disebabkan Raina selalu memompanya meskipun sudah tak menyusui. Karena dia yakin anaknya masih hidup, jadi dia harus menjaga agar asinya tidak kering.
"Wah Bobo asyik ya menyusu sepuasnya," ledekku pada Bobo yang asyik menyusu pada Raina sambil memegang tangan Raina.
"Iya nih, Bobo aus banget, nyusunya kuat," jawab Raina.
"Bobo memang kalau nyusu kuat banget, makanya anteng," sahutku.
"Anak Bunda hebat ya, jagoan harus kuat jadi nyusunya banyak," puji Raina pada anaknya.
Aku ikut senang. Akhirnya Raina bertemu dengan anak yang selama inj dirindukannya. Mungkin kalau aku diposisi Raina akan melakukan hal yang sama.
"Aara makasih ya, kalau bukan karenamu, Bobo mungkin sudah ...," ujar Raina.
Aku menghampiri Raina di ranjang. Aku duduk di sampingnya. Meraba kepala Bobo dan mengelusnya perlahan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Iya sama-sama. Lagi pula aku senang kok Raina bisa bertemu Bobo, hidupku jadi lebih teratur," sahutku.
"Kau malaikat penjaga Bobo, beruntung Bobo bertemu denganmu," ujar Raina.
"Aku juga beruntung bertemu Bobo, hari-hariku penuh warna," sahuku sambil meneteskan air mata yang tak terasa jatuh di pipi. Mungkin karena perasaanku begitu mendalam untuk Bobo. Aku sudah menganggap Bobo anakku sendiri. Banyak cerita yang ku lewati dengan Bobo. Susah, senang, semua hal kami rasakan dan lewatj bersama.
"Kau adalah ibu yang sebenarnya untuk Bobo," ujar Raina.
Aku langsung menangis. Ingat di mana saat aku menemukan Bobo. Rasanya baru kemarin tapi sekarang Bobo sudah bisa bicara yang merangkak.
Raina merangkulku sambil menangku Bobo yang sedang menyusu.
"Aara bertemu dengamu membuat semua yang dulu hilang kini kembali. Bobo dan Axel kini kembali padaku, kau lah perantaranya," ujar Raina.
"Kau wanita yang baik, ada tidak aku Allah akan mempertemukan dan mengembalikan mereka padamu," ujarku.
Aku bahagia kini Bobo sudah berkumpul dengan keluarganya. Baik ayah ataupun ibunya. Kini Bobo bisa tumbuh dengan baik berada diantara kasih sayang ayah dan ibunya.
Di luar kamar, Albern dan Axel masih asyik main game. Mereka sudah lama tak seru-seruan bersama seperti saat masih kecil dulu.
"Loe pasti kalah Bang," ujar Axel.
"Enak aja, gue gak mau kalah, meskipun lu adik gue," sahut Albern.
"Oke, buktikan saja, abang atau gue yang menang?" ujar Axel.
Mereka kembali bersaing di permainan game. Meskipun demikan kini mereka sudah akur layaknya abang dsn adenya.
"Bang maafin kesalahanku selama ini," ujar Axel.
"Tumben lo gak songong sama gue," sahut Albern.
"Itu semua karena Abang tak mau tanggungjawab saat itu. Gue kecewa, apalagi lo gonta-ganti cewek," ujar Axel.
"Bener juga sih, gue emang bejat saat itu wajar kalau lo benci gue," sahut Albern yang masih asyik dengan permainan game-nya tapi telinganya masih tetap mendengarkan Axel bicara.
"Untung Abang ketemu Aara, jadi sembuh dan taubat," celetuk Axel.
"Iya dong, bini gue itu spesial, bikin buaya kaya gue punya sarang tetap," ucap Albern.
"Jangan ngeres napa Bang, gue masih kecil," ucap Axel.
"Belum pernah itu ya?" tanya Albern.
"Belum," jawab Axel.
Albern tertawa puas mendengan pernyataan Axel.
"Puas tertawanya Bang?" ujar Axel.
__ADS_1
"Tenang, gue juga belum dah lama puasa," sahut Albern.
"Abang belum itu sama Aara?" tanya Axel antusias ditambah kepo maksimal.
"Belum, kan dia baru lulus, rencananya sih malam ini," ujar Albern.
"Kalau gitu gue juga ah," sahut Axel. Dia jadi berpikir ngeres juga. Ingin rasanya menghabiskan malam bersama Raina sebagai suaminya. Mungkin sudah waktunya.
"Enak aja, loe piket dulu malam ini," ujar Albern.
"Piket?" Axel gak paham maksud Albern.
"Malam ini jaga Bobo, karena gue mau malam pertamaan, besok baru giliran gue jaga Bobo, biar loe malam pertamaan," ujar Albern.
"Abang kan udah sering, gue dulu napa yang belum pernah," ucap Axel.
Albern kembali tertawa. Dia geli mendengar pengakuan jujur Axel yang belum berpengalaman.
"Fakboy kok gak punya cewek, jadi poloskan," ledek Albern.
"Gue fakboy mainnya ke mesjid Bang, emang Abang casanova di klubing mulu," balas Axel.
"Oke-oke, malam ini loe boleh duluan, tapi jangan keenakan lupa besok loe piket gantian," ujar Albern.
"Siap, jadi gak sabar," sahut Axel.
"Jangan ngeres duluan tar gak sesuai ekspektasi," ujar Albern pada Axel yang sudah cengar-cengir, otaknya travelling keliling dunia perkapukan.
"Ajarin dong Bang, loe kan dah mahir," ucap Axel.
"Gak usah diajarin juga, naluri lelaki akan menuntun loe ke jalan yang benar," ujar Albern.
"Apa gue mandi kembang dulu?" tanya Axel polos.
Albern tertawa terbahak-bahak mendengar kepolosan Axel.
"Sekalian loe minta tuh mbah dukun nyembur muka loe, biar awet semalaman," ujar Albern.
"Beneran awet?" tanya Axel makin gak mudeng.
"Nilai biologi loe berapa?" tanya Albern.
"Sembilan Bang," sahut Axel.
"Berarti otak loe yang gak normal, seharusnya loe tahu cara reproduksi manusia, gak perlukan gue praktekin sama Aara di depan loe?" ujar Albern.
"Gak lah, parah loe Bang, gini-ginj gue masih bersih, biarin polos juga," ucap Axel.
Albern tertawa. Dia begitu senang melihat Axel yang masih polos. Albern tahu adiknya itu belum pernah pacaran meskipun digandrungin banyak cewek di sekolahnya.
__ADS_1