
Alina keluar dari sekolah, dia berdiri di depan sekolah menunggu Rafael menjemputnya. Hari semakin siang, Alina masih berdiri didepan tugu sekolah. Tiba-tiba tangannya ditarik Alvan.
"Alvan lepas, kau mau membawaku kemana?" tanya Alina.
"Diamlah"ucap Alvan.
Sebuah bus berhenti didekat mereka. Alvan naik ke bus itu dengan menarik Alina di belakangnya.
"Kau mau mengajakku kemana? lepas"ucap Alina.
Alvan mendorong Alina hingga duduk di kursi kosong di sampingnya.
Bruuug.........
Alina duduk di kursi kosong, sedangkan Alvan duduk disampingnya.
"Aku mau pulang"ucap Alina.
"Diam"ucap Alvan menunjukkan pisau padanya.
Melihat pisau itu Alina langsung terdiam.
"Apa dia akan membunuhku? aku tidak boleh suudzon dulu"batin Alina.
Bus itu berhenti, Alvan menarik lengan Alina turun dari bus itu.
"Alvan kita mau kemana?"tanya Alina.
"Diamlah mainanku"ucap Alvan.
Di tepi jalan ada dua orang penodong, mereka menodong seorang ibu. Alvan melepas tangannya dari lengan Alina, dia langsung menghampiri kedua orang itu.
"Cemen, beraninya bawa benda tajam"ucap Alvan.
"Bocah berani sekali kau"ucap Jek.
"Habisi aja bocah ingusan ini"ucap Deni.
Alvan melawan kedua penodong itu. Mereka bertarung satu sama lain. Salah satu penodong itu menusuk Alvan hingga mengenai lengannya.
Creb.............
Lengan Alvan berdarah hingga menetes. Tapi dia masih bisa melawan kedua penodong itu hingga mereka pergi dari tempat itu.
"Terimakasih nak"ucap Ibu Mika.
Alvan tidak menjawab ucapan terimakasih ibu itu, dia kembali menghampiri Alina.
"Ikut aku"ucap Alvan.
"Tidak, aku tidak mau ikut kamu"ucap Alina.
Alvan tidak peduli dengan penolakan Alina, dia menarik lengan Alina berjalan mengikutinya hingga ke sebuah rumah besar. Rumah itu terlihat sepi dan tidak terurus. Alvan membawa Alina masuk ke rumah itu.
"Aku mau pulang"ucap Alina berlari ke arah pintu.
Krek.......krek.......krek.......
Alina memutar gagang pintu rumah itu.
"Cobalah keluar kalau kau bisa"ucap Alvan.
"Alvan apa maumu? kenapa kau membawaku kesini?"tanya Alina.
Alvan langsung melepas pakaian atasnya.
"Alvan......."ucap Alina menutup matanya dengan kedua tangannya.
Dia mendekati Alina dan menyudutkannya hingga mepet ke pintu rumah itu.
Dug............
Alina masih menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Alvan ku mohon jangan"ucap Alina.
"Alina obati lenganku"ucap Alvan.
Alina membuka matanya, dia melihat Alvan terlihat memohon padanya.
"Baiklah, apa kau punya kotak P3K?"tanya Alina.
"Diamlah disini, jangan berani kabur, atau kau akan menyesal"ucap Alvan.
Alina mengangguk, Alvan meninggalkan Alina dari tempat itu. Alina melihat rumah itu besar dan megah hanya seperti tidak terawat. Sepi dan juga sunyi, Alina melihat-lihat semua benda di ruang tamu itu. Ada sebuah foto didinding yang ditutup kain hitam. Alina penasaran dia hendak membuka foto itu tapi Alvan langsung memegang tangannya.
"Jangan berani menyentuh barang ditempat ini tanpa seizinku"ucap Alvan.
"Iya"ucap Alina.
"Cepat obati lenganku"ucap Alvan memerintah Alina.
"Oke"ucap Alina.
Alina duduk di sofa bersama Alvan. Dia mengobati luka tertusuk pisau dilengan Alvan. Alvan terlihat menahan rasa perihnya saat Alina mengobati lengannya.
"Apa perih?"tanya Alina.
"Diamlah, cepat obati"ucap Alvan.
Alina cemberut mendengar ucapan kasar Alvan padanya, lelaki itu sepertinya tidak bisa diberi kelembutan sedikitpun.
"Sudah, apa aku boleh pulang?"tanya Alina.
__ADS_1
"Kau harus masak untukku"ucap Alvan.
"Masakanku tidak enak, apa kau tidak masalah?" tanya Alina.
"Jangan banyak omong cepatlah masak"ucap Alvan.
"Iya, tapi dimana dapurnya?"tanya Alina.
Alvan berdiri dan membawa Alina ke dapur.
"Masaklah, aku lapar"ucap Alvan.
"Iya iya"ucap Alina.
Alina melihat dapur itu berantakan, semua barang tergeletak dimanapun, barang-barang yang ada di dapur itu dipenuhi debu, kotor dan usang.
"Apa kau tinggal sendirian, tempat ini mirip...." ucap Alina.
"Rumah kosong, asal kau tahu banyak setan gentayangan mengisap darah manusia"ucap Alvan.
Alina hanya menampakkan wajah datar saat Alvan bicara seperti itu padanya.
"Kau tidak takut?"tanya Alvan.
"Berarti kau juga setan"ucap Alina.
"Kau bilang aku setan?"ucap Alvan marah.
"Kau bilang tadi banyak setan, kau tidak menyebutkan ada manusianya"ucap Alina.
"Alina....."teriak Alvan.
"Aku mau masak jangan ganggu"ucap Alina.
Alvan langsung meninju dinding disampingnya.
Dug..............
Alina cuek, dia malah mencari bahan makanan di kulkas.
"Kau tak pernah belanja, kulkasmu kosong dan ini makanan basi masih ada dikulkas. Sayurannya juga kering, buah-buahannya sampai peot. Ikannya juga bau, ini pasti sudah terlalu lama dikulkas, tidak ada ayam atau daging. Apa yang bisa ku masak"ucap Alina.
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Alvan menarik tangan Alina,dia mengajak Alina ke belakang rumahnya. Sebuah kebun terlantar yang tidak terurus berada di belakang rumah itu.
"Wah ada sayuran"ucap Alina.
Alina langsung berlari ke arah sayuran di depannya.
"Alina awas"ucap Alvan.
Seekor tikus besar muncul didekat Alina.
"Aaaaaa........."Alina berteriak dan berlari ke arah Alvan.
Bluuuuug.......
"Aku sudah bilang awas"ucap Alvan.
"Kau tidak bilang ada tikus besar"ucap Alina.
"Cepatlah bangun, kau berat tahu"ucap Alvan.
"Oke"ucap Alina.
Alina dan Alvan bangun lalu berdiri.
"Diamlah disini, aku akan memetikkan beberapa sayuran"ucap Alvan.
"Aku ikut"ucap Alina.
"Bukan hanya tikus besar tapi ular besar juga ada"ucap Alvan.
"Kalau gitu aku disini saja deh"ucap Alina.
Alvan tersenyum tipis melihat Alina mengurungkan niatnya.
"Baru kali ini aku melihat Alvan tersenyum"batin Alina.
Alvan memetik sayuran di kebunnya ada bayam, wortel, jagung, dan kangkung didekat kolam ikan yang tidak terurus.
"Alvan itu kolam ikan?"tanya Alina.
"Sini, ku ceburkan kau ke kolam itu biar jadi makanan ikan"ucap Alvan.
"Jahat"ucap Alina.
Alvan langsung menarik lengan Alina dan menceburkannya ke kolam ikan itu.
Byuuuuuur..............
"Aaaaa......Al...van....aku....takut......a...ir....."ucap Alina yang masih menampakkan kepalanya di permukaan air.
Alina tenggelam ke dalam dasar kolam ikan itu.
"Alinaaaaa....."teriak Alvan.
Alvan langsung melompat ke dalam kolam ikan itu. Dia mencari Alina lalu membawa Alina ke atas kolam ikan itu.
Alina berbaring di tepi kolam ikan itu. Alvan menekan perut Alina, hingga keluar air dari mulut Alina.
"Alinaaa......Alinaaa....."teriak Alvan.
Tiba-tiba Alina terbangun dari pingsannya. Dia melihat ke sekelilingnya. Dia berada di sebuah kamar. Kamar itu rapi dan indah. Hanya barang-barang di kamar itu masih tempo dulu.
__ADS_1
"Aku dimana?"ucap Alina.
Alvan masuk ke kamar itu menghampiri Alina.
"Kau sudah bangun, tadi kau pingsan bodoh"ucap Alvan.
"Aku ingat, kau menceburkanku ke kolam ikan" ucap Alina.
"Baguslah kau ingat itu, apa kau mau yang lebih kejam dari itu?"tanya Alvan.
Alina melihat jam kuno didinding kamar itu.
"Aku belum sholat ashar"ucap Alina.
Alina langsung berlari menuju pintu kamar.
"Bodoh, dikamar ini ada toilet"ucap Alvan.
"Makasih"ucap Alina.
Alina berjalan memasuki toilet, dia berwudhu lalu keluar lagi dari toilet menghampiri Alvan.
"Alvan ada mukena, aku mau sholat"ucap Alina.
"Dilemari itu ada mukena, ambilah sendiri jangan manja"ucap Alvan menunjuk lemari kecil di kamar itu.
"Oke gak masalah"ucap Alina.
Alina mengambil mukena dan sajadah dilemari kecil itu. Lalu dia sholat ashar di samping ranjang di kamar itu. Alvan berdiri disamping ranjang memperhatikan Alina sholat. Selesai sholat, Alina melihat ke arah Alvan.
"Kau tidak sholat?"tanya Alina.
"Bukan urusanmu"ucap Alvan melempar buah apel ke samping Alina.
Pluuuuk............
Buah apel itu jatuh di samping Alina.
"Wah buah apel, kebetulan aku lapar"ucap Alina mengambil buah apel itu.
Alina berdoa lalu memakan buah apel itu.
"Ehm...manis"ucap Alina memuji buah apel yang dimakannya.
"Buah apel itu sudah ku beri racun, kau akan jadi putri tidur penghuni rumah kosong ini"ucap Alvan.
"Aku sudah menghabiskannya, Alvan kau benar menaruh racun? aku masih ingin bertemu kakakku"ucap Alina.
"Ha.....ha......ha.....bodoh"ucap Alvan.
"Ayo turun atau kau mau disini bersama ular piton"ucap Alvan.
"Alvan....."teriak Alina.
Alvan berjalan keluar dari kamar itu dibuntuti Alina dibelakangnya.
"Alvan rumahmu sangat besar, tapi sepi sekali, kau tinggal sendirian?"tanya Alina.
"Aku tinggal bersama setan dan binatang liar, kau puas"ucap Alvan.
"Alvan bisakah kau tidak bicara yang aneh"ucap Alina.
Alvan langsung menarik lengan Alina membawanya ke ruang makan. Di meja makan itu sudah tersedia ikan goreng, tumis kangkung, tempe goreng, bakwan jagung, dan sayur bayam.
"Habiskan semua makanan itu, jangan ada yang tersisa, kalau tidak aku akan mengurungmu selamanya dirumah ini"ucap Alvan.
"Baiklah, tapi ini banyak, apa aku bisa menghabiskannya?"ucap Alina.
Alvan melotot ke arah Alina.
"Oke, aku akan mencoba menghabiskannya"ucap Alina.
Alina duduk di kursi makan, dia berdoa lalu mulai makan.
"Enak, enak sekali makanan ini, apa Alvan yang memasaknya?"batin Alina sambil mengunyah makanan itu.
Karena makanan itu enak, Alina sampai menghabiskan semuanya.
"Alhamdulillah enak"ucap Alina.
"Kau sudah kenyang?"tanya Alvan.
"Iya, makasih"ucap Alina.
"Ayo pulang"ucap Alvan.
"Alhamdulillah aku boleh pulang"ucap Alina.
Alvan menarik lengan Alina keluar dari rumah besar itu. Dia mengambil motor gede miliknya di garasi rumahnya.
"Naik"ucap Alvan menyuruh Alina membonceng dibelakangnya.
"Gak mau, aku naik bus aja"ucap Alina.
Alvan menyalakan motornya hendak memabrak Alina, tapi Alina berlari secepatnya, Alvan terus mengendarai motornya mengejar Alina hingga Alina keluar dari gerbang rumah besar itu. Alina lari dijalanan, Alvan terus mengejarnya dengan motor gedenya.
Ngoooong....... ngooooong....... ngooooong......
Suara motor Alvan mengejar Alina yang berlari didepannya.
"Alvan kau gila....."ucap Alina sambil berlari dikejar motor Alvan.
Setelah berlari setengah jam dikejar Alvan, Alina melihat Rafael berjalan ke arah Alina.
__ADS_1
"Kak Rafa......"teriak Alina.
"Alina..........."ucap Rafael.