
"Kau? kenapa ada satu ranjang denganku?" tanya Aksa.
"Tadi kita habis melakukan hal yang romantis sayang ucap Marsya sambil meraba dada Aksa.
Aksa langsung melepas tangan Marsya dari dadanya.
"Tidak mungkin, tadi aku..." Aksa coba mengingat kejadian sebelumnya.
Marsya meraba pipi Aksa, tapi Aksa melepas tangan gadis cantik itu.
"Kenapa sayang? bahkan tadi kita sudah melakukan yang lebih dari ini" ucap Marsya.
"Tidak, kau pasti berbohong. Aku tidak mungkin melakukan hal itu" ucap Aksa.
"Nikahi aku sayang, kalau tidak" ucap Marsya.
Marsya menunjukkan foto-foto mereka berdua berbaring diranjang yang ada diponselnya.
"Gimana? kalau kau kabur dari tanggungjawabmu, aku akan menyebar foto ini" ucap Marsya mengancam Aksa.
Marsya berdiri, berjalan mengambil pakaiannya yang berserakan. Dia mengenakan kembali pakaiannya.
"Aku menunggumu mengenalkanku pada keluargamu, itu kartu namaku dimeja, hubungi aku segera ya ayang" ucap Marsya.
Masya berjalan keluar dari kamar hotel. Aksa hanya terdiam. Dia marah pada dirinya sendiri. Dia berdiri memakai kembali pakaiannya dan berdiri didepan cermin. Aksa mengepal memukul cermin didepannya.
Tuaar...
Darah mengalir dari tangannya. Aksa hanya meratapi kesalahan fatal yang dilakukannya.
"Bagaimana caranya aku bilang Papa dan Mama?" batin Aksa.
Aksa keluar dari kamar hotelnya. Dia berjalan menuju mobilnya diparkiran hotel itu. Dia melihat Marsya sedang asyik mengobrol dengan seorang lelaki didekat mobil yang terparkir tak jauh dari mobilnya. Bahkan lelaki membelai rambut Marsya.
"Wanita murahan" batin Aksa.
Aksa menghampiri Marsya, dia menarik lengan Marsya berjalan meninggalkan lelaki itu.
"Sayang, lepaskan tanganku" ucap Marsya.
Aksa berhenti melangkah. Dia menatap Marsya dengan tatapan tajam.
"Kau minta aku menikahimu, tapi kau malah asyik menggoda lelaki lain seperti wanita murahan" ucap Aksa.
Marsya membelai pipi Aksa, dia mencium pipinya.
Cup
"Sayang kau cemburu ya" ucap Marsya.
"Aku tidak mungkin cemburu dengan wanita murahan sepertimu" ucap Aksa.
"Baiklah, kalau gitu aku kencan dulu, bye" ucap Marsya.
Marsya berbalik dan hendak berjalan meninggalkan Aksa, tapi tangan Aksa menariknya masuk ke mobilnya. Dia duduk berdua dikursi belakang bersama Aksa.
"Dengarkan aku, jika kau ingin aku tanggungjawab. Jangan jadi wanita murahan. Aku tidak mau istriku liar" ucap Aksa.
Marsya meraih kerah kemeja Aksa. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Aksa.
"Bukannya lelaki suka wanita murahan, bahkan mereka selalu memujanya. Menjadikan hiasan cadangan dirumahnya. Atau bahkan jadi simpanannya" ucap Marsya.
Mata Marsya berkaca-kaca saat bicara seperti itu. Aksa melihat sesuatu yang berbeda dari mata Marsya. Gadis centil itu terlihat berbeda saat bicara seperti itu.
__ADS_1
Senyuman sinis keluar dari bibir Marsya, dia melepas tangannya dari kerah kemeja Aksa.
"Ayang mau mengajakku kemana?" tanya Marsya kembali bersikap centil dan manja.
"Pak Joni" panggil Aksa pada supir pribadinya.
"Iya Bos" sahut Pak Joni.
"Pulang ke rumah" perintah Aksa.
"Oke Bos" ucap Pak Joni.
Mobil melaju ke rumah besar Rehan. Disepanjang perjalanan Marsya terus menggoda Aksa dengan segala kegenitannya. Sampai dirumah, Aksa mengajak Marsya masuk ke rumahnya. Mereka masuk ke ruang keluarga. Disana Rehan dan Cinta sedang bersantai disofa.
"Assalamu'alaikum" ucap Aksa.
"Wa'alaikumsallam" ucap Rehan dan Cinta.
Mata Rehan dan Cinta tertuju pada gadis cantik dan seksi disamping Aksa.
"Duduk nak" ucap Cinta.
"Iya Ma" ucap Aksa.
Aksa dan Marsya duduk disofa bersama Rehan dan Cinta.
"Pa, Ma, aku ingin menikah" ucap Aksa.
"Apa? menikah?" Rehan dan Cinta terkejut. Ini kali pertama Aksa meminta menikah. Aksa yang dikenal mereka begitu dingin dan jutek pada perempuan, hari ini meminta untuk menikah.
"Iya Pa, Ma. Ini Marsya, aku akan menikah dengannya" ucap Aksa memperkenalkan Marsya pada orangtuanya.
"Hai Om, Tante. Aku Marsya, senang bertemu dengan kalian" ucap Marsya.
"Aksa kok gak cerita sama Mama?" ucap Cinta.
"Maaf Ma, semuanya dadakan" ucap Aksa.
Rehan dan Cinta terdiam sesaat. Mereka merasa ini semua dadakan.
"Pa, Ma, gimana?" tanya Aksa.
"Menikahlah jika itu memang sudah menjadi pilihanmu" ucap Rehan.
Selesai bicara dengan orangtuanya, Aksa mengantar Marsya pulang ke kosannya. Aksa penasaran dengan Marsya, dia mengantarkannya sampai pintu kosannya.
"Ayang masuk dulu, mau nambah gak?" ucap Marsya genit sambil memegang lengan Aksa.
Aksa berusaha melepas tangan gadis centil itu.
"Marsya bersikaplah yang baik, kita belum mahrom" ucap Aksa.
"Ayang bukannya kita sudah...." ucap Marsya.
"Cukup! jangan dibahas lagi" ucap Aksa.
"Oke-oke" ucap Marsya.
Gadis centil itu membuka pintu kamar kosannya.
Kemudian Aksa meninggalkan tempat itu. Marsya masuk ke kamar kosannya yang masih gelap belum dinyalakan lampunya.
"Kau sudah menangkap buruanmu?"
__ADS_1
"Bos" ucap Marsya terkejut.
"Ingat janjimu padaku"
"Beri aku waktu, tak mudah menjinakkan singa yang liar" ucap Marsya.
"Aku ingin hasil, bukan kata gagal"
"Aku tahu itu" ucap Marsya.
Orang yang berbicara dengan Marsya pergi begitu saja. Marsya menyalakan lampu kamar kosannya. Dia berbaring diranjang mengistirahatkan tubuhnya.
************
Barra semakin tidak enak badan, perutnya mual dan sering muntah. Deena membawa Barra ke rumah sakit. Dia duduk mengantri bersama Barra. Kepala suaminya itu bersandar padanya.
"Om masih kuat?" tanya Deena.
"Masih sayang, lemes banget" ucap Barra.
"Muka Om pucet banget" ucap Deena.
"Iya sayang, kira-kira aku beneran hamil?" tanya Barra.
"Om yang hamil itu aku" ucap Deena.
Barra mengelus perut datar Deena.
"Dede sayang, gak papa kalau Papa yang tersiksa maboknya, asal jangan Mama" ucap Barra.
Deena tersenyum dengan celotehan suaminya. Dia senang suaminya rela menanggung rasa mual dan muntah karena kehamilannya. Tak lama Barra dan Deena masuk ruangan Dokter kandungan. Deena menceritakan perihal suaminya dan datang bulan yang telat. Dokter segera melalukan USG pada Deena. Setelah itu mereka kembali duduk.
"Selamat ya Tuan atas kehamilan istrinya" ucap Dokter.
"Alhamdulillah" ucap Barra dan Deena.
"Kehamilan Nyonya Deena baru menginjak 5 minggu jadi dijaga baik-baik. Saya akan meresepkan beberapa obat dan vitamin" ucap Dokter.
"Sekalian obat mual dan muntah untuk suami saya Dok" ucap Deena.
"Loh, inikan obat untuk ibu yang hamil, bukan bapak yang hamil" ucap Dokter.
"Oh gitu ya Dok" ucap Deena.
Tak lama Barra dan Deena keluar dari ruangan Dokter. Mereka kembali ke rumah. Sampai rumah Barra muntah-muntah. Deena terus mendampinginya dan memijat leher dan pundaknya.
"Om mau teh anget?" tanya Deena.
"Sayang aku pengen tidur aja" ucap Barra.
Deena mengantar Barra berbaring diranjang. Suaminya terlihat lemas. Dia menemani Barra berbaring diranjang. Barra memeluk Deena. Rasa mualnya sedikit berkurang saat berada didekat istrinya.
*********
Seorang wanita berwajah cacat menjemput seorang wanita cantik dibandara. Mereka bertemu dan berbincang mengenai suatu kesepakatan bersama.
"Kau datang juga"
"Sesuai permintaan Anda, padahal sudah sangat lama aku pergi dari negara ini"
"Aku butuh kau untuk suatu misi"
"Asal bayarannya sesuai"
__ADS_1