ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 96


__ADS_3

"Maaf, aku terpaksa bicara seperti itu agar Neneng melepasmu," ucap Naira.


"Naira," panggil Aksa pada gadis disampingnya.


"Iya, ada apa?" tanya Naira.


"Jika itu benar aku tidak masalah," ucap Aksa.


Langkah Naira terhenti saat Aksa bicara hal itu.


"Aksa kau sedang bergurau?"


"Aku tidak ingin berpacaran lama terus putus ditengah jalan. Aku mau seseorang yang mau menikah denganku hari ini atau besok." Aksa menegaskan ucapannya.


"Menikah? apa tidak terlalu cepat? kau juga baru mengenalku, siapa tahu aku ini jahat," ucap Naira.


"Aku tahu itu, kita memang tidak saling kenal dan tidak saling mencintai. Tapi semua itu bisa tumbuh seiring waktu, aku ingin serius," ucap Aksa.


Naira terkejut, Aksa mengajaknya menikah. Padahal mereka belum saling mengenal ataupun akrab. Dia juga belum bisa melupakan calon suaminya yang sudah meninggal.


"Aku masih mencintai calon suamiku, aku tidak ingin membohongi dirimu," ucap Naira.


"Aku hanya ingin serius, tidak peduli kau suka orang lain. Ataupun aku belum mencintaimu. Biarlah waktu yang merubah semua itu," ucap Aksa.


Naira terdiam untuk berpikir. Dia harus mengambil keputusan yang akan merubah hidupnya kedepan.


"Gimana Naira?" tanya Aksa.


"Baiklah, aku mau menikah denganmu. Tapi beri aku waktu untuk bisa mencintaimu," ucap Naira.


"Iya, kita akan melakukan semuanya secara perlahan tanpa paksaan," ucap Aksa.


Naira tersenyum. Dia mau menikah dengan Aksa meskipun diantara mereka berdua belum ada rasa cinta. Mereka akan memulainya dari awal.


"Kalau begitu ikutlah denganku pulang ke rumah!" ajak Aksa.


"Untuk apa?" tanya Naira.


"Untuk mengenalkanmu pada orangtuaku," jawab Aksa.


"Apa mereka akan setuju, aku ini hanya gadis miskin?" ucap Naira.


"Kedua orangtuaku tak pernah memandang orang dari harta kekayaannya, jadi jangan khawatir," ucap Aksa berusaha meyakinkan Naira.


Naira mengangguk dengan ucapan Aksa.


"Sebelum ke rumah orangtuaku, aku akan ke rumahmu untuk memintamu pada ibumu," ucap Aksa.


"Iya," ucap Naira.


Aksa pergi ke rumah ibu Sopiah bersama Naira. Mereka duduk bersama diruang tamu.


"Ibu, aku ingin meminta putrimu untuk menjadi istriku," ucap Aksa.


"Ibu tidak akan menolak permintaanmu asalkan Naira mau," ucap Ibu Sopiah.


"Naira mau Bu," ucap Naira.


"Alhamdillah, berarti ibu akan menyetujuinya. Kalian bisa menikah," ucap Ibu Sopiah.


"Terimakasih Bu, aku akan berusaha membahagiakan Naira," ucap Aksa.

__ADS_1


"Iya nak, terimakasih," ucap Ibu Sopiah.


"Sama-sama Bu," ucap Aksa.


Aksa meminta sekretarisnya mengirimnya mobil. Dia akhirnya pergi dengan Naira naik mobil ke rumah orangtua Aksa. Naira hanya diam duduk dibelakang bersama Aksa.


"Naira ada yang kau pikirkan?" tanya Aksa.


"Aksa bolehkah aku mengunjungi makam Mas Ikhsan, aku ingin berziarah sebelum aku melangkah denganmu?" tanya Naira.


"Boleh, ayo kita kesana sekarang. Baru nanti ke rumah orangtuaku," ucap Aksa.


Aksa mengantar Naira ke pemakaman tempat calon suami Naira dikebumikan. Naira duduk disamping tanah pemakaman Ikhsan.


"Mas Ikhsan aku kesini untuk melepasmu, aku akan memulai hidup baru bersama Aksa. Sampai kapanpun aku akan terus mengenang semua yang sudah kita lalui, terimakasih Mas Ikhsan," ucap Naira.


Naira dan Aksa mendoakan Ikhsan lalu mereka keluar dari pemakaman itu. Mereka berdua pergi ke rumah orangtua Aksa. Naira sudah memantapkan hati untuk menjadi istri Aksa. Dia yakin cinta akan hadir seiring waktu berjalan.


Sampai didepan rumah orangtuanya, Aksa mengajak Naira masuk ke dalam rumah. Mereka bicara dengan Rehan dan Cinta diruang tamu. Aksa memperkenalkan Naira pada kedua orantuanya. Ini kali pertama Naira bertemu orangtua Aksa. Dia sedikit gugup.


"Aku ingin menikah dengan Naira Pa, Ma," ucap Aksa.


"Sebagai orang tua, Papa dan Mama hanya bisa merestui kalian," ucap Rehan.


"Mama ikut senang dengan tujuan kalian untuk menikah secepatnya, memang lebih baik seperti itu," ucap Cinta.


Mereka berdiskusi soal tanggal pernikahan, tempat pernikahan dan urusan lainnya. Naira hanya diam mendengarkan. Dia mempercayakan semuanya pada Aksa. Setelah itu Aksa mengajaknya ke kamarnya. Dikamar itu penuh foto mantan kekasih Aksa. Semua foto diturunkan Aksa.


"Kok diturunin?" tanya Naira.


"Akukan akan memulai hidup baru denganmu, jadi masa lalu harus ku lepaskan, agar pernikahan kita bahagia nantinya," ucap Aksa.


"Aku bantu ya?" tanya Naira.


Naira membantu Aksa menurunkan semua foto didinding dan diatas lemari. Naira melihat foto seorang gadis cantik. Dia yakin itu pasti orang yang dicintai Aksa dimasa lalu.


"Siapa nama gadis ini Aksa?" tanya Naira.


"Marisa Soraya," ucap Aksa.


"Dia sangat cantik," ucap Naira.


Aksa menghampiri Naira dan melihat foto yang dipegang Naira.


"Kau juga sangat cantik Naira," puji Aksa.


Naira langsung malu dengan pujian dari Aksa. Dia bingung menyembunyikan wajah memerahnya dimana.


"Jangan malu, aku bicara jujur. Kau memang sangat cantik," ucap Aksa.


"Aksa jangan bicara seperti itu, aku malu," ucap Naira.


"Nanti aku akan mengatakan hal itu setiap hari saat bertemu denganmu," ucap Aksa.


Naira tersenyum, dia merasa sudah yakin untuk melangkah bersama Aksa, membuka lembaran baru.


"Naira kau lapar?" tanya Aksa.


"Aksa sudah lapar? biar ku masakkan," ucap Naira.


"Aku ingin mengajakmu makan direstoran, anggap saja ini kencan pertama kita," ucap Aksa.

__ADS_1


"Baiklah," ucap Naira.


Setelah selesai menurunkan semua foto didinding. Mereka berdua pergi ke sebuah restoran. Aksa dan Naira duduk satu meja. Mereka mulai melihat-lihat daftar menu dibuku menu.


"Aksa ini mahal sekali, apa lebih baik kita makan dirumah, biar aku yang masak?" tanya Naira.


"Naira ini kencan pertama kita, tidak masalah soal harga. Aku ingin ini jadi moment yang tak terlupakan untuk kita," ucap Aksa.


"Oke, tapi aku tidak masalah kita makan dimanapun," ucap Naira.


"Mulai hari ini, aku ingin membahagiakanmu. Jadi biarkan aku memberikan semua yang ku punya untukmu," ucap Aksa.


Naira mengangguk. Dia tidak bisa menolak keinginan Aksa untuk membahagiakannya. Walaupun sebenarnya Naira tidak mempermasalahkan jika mereka harus makan ditepi jalan. Seusai makan, Aksa mengajak Naira ke pusat perbelanjaan. Aksa meminta Naira memilih dress yang cocok untuknya.


"Aksa apa ini tidak kemahalan? kita beli dipasar saja ya," ucap Naira.


"Naira, calon suamimu ini seorang pemimpin dari perusahaan besar, kau ambil semua baju disinipun aku sanggup membayarnya, jadi pilihlah yang kau suka," ucap Aksa.


"Tapi," ucap Naira.


"Tersenyumlah, dan pilih dress yang cantik," ucap Aksa.


Naira mengangguk. Aksa menemaninya berkeliling memilih dress yang ingin dipilih calon istrinya itu. Setelah membeli dress cantik, Aksa mengajak Naira ke butik tas branded. Naira hanya diam tak berani menyentuh barang didepannya.


"Naira kok diam?" tanya Aksa.


"Ini pasti sangat mahal, aku bekerja satu tahunpun tak mungkin bisa membeli ini," ucap Naira.


"Naira, aku ingin kau memilihnya. Calon suamimu ini yang akan membayarnya," ucap Aksa.


"Aksa apa ini tidak berlebihan?" tanya Naira.


Aksa tersenyum. Dia benar-benar menemukan wanita yang tidak memandangnya dari uang. Wanita yang sederhana. Dia bahkan terlihat tidak senang membeli barang-barang mahal.


"Naira aku ingin memanjakanmu sebagai calon istriku, jadi pilihlah yang kau suka. Aku menunggu disana ya," ucap Aksa.


Aksa dan Naira melihat-lihat tas branded yang akan dipilih Naira, tak sengaja Kiara melihat kebersamaan Aksa dan Naira.


"Siapa gadis itu, dia pasti gadis miskin yang membuat Aksa menolakku," ucap Kiara.


Kiara menghampiri Aksa dan Naira yang sedang berdiri tak jauh darinya.


"Oh ini wanita matre ini pacar barumu," ucap Kiara.


"Matre? maaf Nona saya tidak matre," ucap Naira.


"Kiara, jangan asal bicara. Naira bukan wanita matre. Dia gadis baik-baik," ucap Aksa.


"Aksa malam itu kau menolakku karena wanita inikan?" tanya Kiara.


"Bukan, tapi karena aku tidak ingin menyentuh wanita murahan sepertimu," ucap Aksa.


"Murahan? kau saja yang bodoh menolak wanita secantik diriku, Farhan saja tidak bisa menolakku," ucap Kiara.


"Itu karena Farhan belum tahu siapa kau yang sebenarnya, kau sampai menuduhku memperkosamu padahal kau sendiri yang menawarkannya padaku, untung aku tidak sudi menyentuhmu," ucap Aksa mulai marah.


"Itu karena aku ingin memberimu pelajaran karena kau sudah menolakku," ucap Kiara.


"Wanita murahan sepertimu tak pantas untuk Farhan," ucap Aksa.


"Aksa," ucap Kiara hendak menampar Aksa tapi tangannya ditahan Farhan.

__ADS_1


"Farhan," ucap Kiara terkejut saat Farhan ada ditempat itu.


__ADS_2