ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 33


__ADS_3

Alina menutup mulutnya. Dia berusaha menutup suara takutnya. Berbagai suara barang berjatuhan terdengar ditelinganya. Alina berusaha menahan diri, dia tak mungkin keluar dari kolong ranjang sementara dua lelaki dewasa itu masih ada.


"Sepertinya semuanya sudah kita pastikan tak ada bukti yang tertinggal"


"Coba dikolong ranjang, biasanya orang menyimpan sesuatu disana"


"Oke"


Mendengar ucapan dua lelaki dewasa itu Alina semakin takut. Dia tidak berani melakukan apapun.


"Keluar atau tidak ya?" Alina bingung, semuanya pilihan sulit untuknya.


"Ya Allah lindungilah hamba dari orang-orang itu" batin Alina.


Lelaki dewasa itu hendak mendoyongkan kepalanya ke bawah, tiba-tiba seekor tikus besar melintasi kakinya.


Cit....cit.....cit......


"Iiih.....gede banget tikusnya"


"Biasanya kalau ada tikus ada ular juga"


Ternyata benar, ular besar turun dari jendela masuk ke dalam kamar.


"Ayo pergi, ular itu lapar. Jangan sampai kita jadi santapannya"


Tak lama dua lelaki dewasa itu pergi meninggalkan kamar itu. Kemudian Alina keluar dari kolong ranjang. Dia melihat kamar itu berantakan. Penuh barang-barang berserakkan. Ular besar sedang meringkuk memakan tikus besar yang ditangkapnya disudut kamar itu.


"Alhamdulillah Ya Allah" ucap Alina.


Alina bersyukur bisa selamat dari dua lelaki dewasa yang asing dan entah untuk tujuan apa datang ke rumah itu.


"Ular terimakasih ya, kau makhluk Allah jangan mengganggu manusia. Hiduplah berdampingan tanpa mengganggu satu sama lain" ucap Alina.


Alina meninggalkan kamar itu. Dia melangkah ke lantai bawah sambil bergumam.


"Kenapa foto didinding hanya ada Alvan dan ayahnya? lalu ibunya dan Alvin kemana? kenapa mereka hidup terpisah?" ucap Alina bicara pada dirinya sendiri.


Alina yakin ada sesuatu yang dirahasiakan Alvan dan Alvin. Alina berpikir untuk menemui Alvin. Dia ingin tahu kenapa Alvan dan Alvin tidak tinggal bersama.


Alina keluar dari rumah besar itu. Dia naik bus pergi ke rumah Ibu Lesti. Saat sampai, rumah Ibu Lesti sudah sepi. Gerbang rumahnya juga dikunci.


"Oya, Alvin bilang kalau dia sedang berobat keluar kota. Tunggu, siapa yang sakit?" ucap Alina.


Alina baru ngeh dengan ucapan Alvin. Karena bersedih dengan kepergian Alvan, dia lupa kalau Alvin bicara akan berobat keluar kota.


"Kira-kira kapan Alvin kembali?" ucap Alina.

__ADS_1


Alina berjalan meninggalkan rumah Ibu Lesti. Dia belum bisa bertemu Alvan ataupun Alvin. Dia memutuskan kembali ke kontrakkannya. Saat sampai dikontrakkannya dia melihat Rafael dan Rehan berdiri didepan kontrakkan. Alina langsung berlari ke arah Rafael. Dia langsung memeluk kakaknya. Dari kemarin dia begitu merindukan Rafael.


"Adik kecil kau dari mana saja?" tanya Rafael.


"Aku dari rumah teman kak" ucap Alina.


Rafael dan Alina melepas rindu dengan saling memeluk. Kemudian mereka melepas pelukan itu.


"Alina, ini Om Rehan Darien" ucap Rafael.


"Alina Clemira, senang bertemu dengan Om" ucap Alina tersenyum pada Rehan.


Seketika Rehan seperti melihat Cinta saat masih muda. Alina sangat mirip dengan Cinta. Ketiga anak kembar Rehan memiliki wajah yang berbeda-beda meskipun mereka kembar. Alina mirip Cinta, Deena mirip Rehan, sedangkan Haura perpaduan Rehan dan Cinta.


Rehan tidak menjawab ucapan Alina tapi malah mendekati Alina lalu memeluknya. Dia merasa seperti memeluk putrinya sendiri.


"Aku yakin kau memang putriku Alina" ucap Rehan.


"Putri Om? apa maksudnya?" tanya Alina.


Rehan melepas pelukannya pada Alina.


"Kita bicara didalam" ucap Rehan.


"Iya Om, mari" ucap Rafael.


Rafael membuka pintu kontrakkannya. Mereka bertiga masuk ke dalam kontrakkan. Kemudian duduk bersama dilantai kontrakkan tersebut. Rehan mulai menceritakan semuanya pada Alina.


"Iya nak" ucap Rehan.


"Aku baru bertemu dengan Om, tapi rasanya nyaman sekali saat Om memelukku. Rasanya seperti dipeluk Papaku sendiri" ucap Alina.


"Saat Om melihatmu untuk pertama kalinya. Om seperti melihat istri Om saat masih muda dulu. Kalian seperti orang yang sama, mirip" ucap Rehan.


"Hik hik hik, apa benar aku anak Om?" tanya Alina.


"Om percaya kamu anakku Alina" ucap Rehan.


"Begini saja Om biar tak ada keraguan lebih baik melakukan test DNA agar lebih akurat" ucap Rafael.


Rafael memberi usul agar melakukan test DNA, supaya hasilnya lebih akurat. Dia tidak ingin menyerahkan Alina pada sembarangan orang kecuali itu memang keluarga kandungnya.


"Baiklah, besok kita akan melakukan test DNA" ucap Rehan.


"Saya setuju dengan itu" ucap Rafael.


"Alina bagaimana denganmu?" tanya Rehan.

__ADS_1


"Aku setuju juga Om" ucap Alina.


Mereka bertiga sepakat untuk melakukan test DNA antara Rehan dan Alina. Dengan test DNA bisa diketahui Alina anak Rehan atau tidak.


***********


Deena membaringkan Barra diranjang. Tubuhnya panas dan sedikit membiru dibeberapa bagian. Nafasnya mulai sesak dan jantungnya berdebar kencang. Deena berpikir Barra terkena racun langka. Deena membuka baju Barra. Ada sebuah jarum kecil mengenai dadanya.


"Ini jarum yang sudah diberi racun. Pasti Gengster Harimau sengaja menggunakan tembakan jarum beracun ini untuk melumpuhkan lawan" ucap Deena.


Deena menggunakan sarung tangan miliknya untuk mengambil jarum beracun itu. Dia menarik jarum beracun itu dan meletakkannya diwadah yang sudah disiapkannya.


"Untung aku pernah terkena jarum ini, jadi aku punya penawarnya" ucap Deena.


Deena mengambil sebuah obat yang berada disaku bagian dalam kostum miliknya. Dia coba meminumkan obat itu pada Barra perlahan-lahan.


"Minumlah, kalau tidak kau akan mati" ucap Deena.


Deena memasukkan obat itu ke dalam mulut Barra. Tiba-tiba Barra bangun dan menarik Deena kepelukannya.


"Seharusnya kau memberiku obatnya dari mulutmu agar aku mudah menelannya" ucap Barra.


"Kau mulai cabul lagi, padahal aku sudah menolongmu" ucap Deena.


"Kalau kau marah wajahmu semakin cantik, aku jadi ingin menciummu lagi" ucap Barra.


"Oh, kau mau merasakan tajamnya pedangku" ucap Deena.


Barra memandangi wajah gadis muda dipelukannya. Dia tak menyangka seorang gadis muda berani berurusan dengan kelompok gengster sadis.


"Raynor, dengar aku, jangan berurusan dengan Gengter Harimau. Kau lihat aku saja hampir mati demi menolongmu" ucap Barra.


"Tapi mereka pasti membuat ulah yang membahayakan banyak orang" ucap Deena.


"Kalau begitu jangan beraksi sendiri, biar aku bersamamu" ucap Barra.


Deena hanya tertawa mendengar ucapan Barra.


"Beraksi denganmu? paling kau kebanyakan cabulnya. Gimana aku harus beraksi?" ucap Deena.


"Aku tidak bisa memaafkanmu jika kau mati, ingat itu. Kalau perlu aku akan menyusul kau ke liang lahat" ucap Barra.


"Aku bisa menjaga diriku, lebih berbahaya jika aku bersamamu" ucap Deena.


Barra justru memeluk Deena dengan erat hingga dia susah bergerak.


"Lepas tidak?" ucap Deena.

__ADS_1


"Tidak, cium aku dulu baru ku lepaskan" ucap Barra.


Saat Barra mendekati bibir Deena, pintu kamarnya terbuka, Haura masuk ke dalam kamar itu. Dia melihat Barra dengan seseorang diatas ranjang.


__ADS_2