
"Kau yakin ingin bertemu dengannya?"tanya Pak Hermawan.
"Iya Pa, aku harus bertemu dengannya"ucap Zhafira.
"Dia bukan orang yang mudah diajak bicara dan mungkin berbahaya"ucap Pak Hermawan.
"Aku ingin ayahku menjadi wali nikahku, aku akan menemuinya"ucap Zhafira.
"Maaf, Papa tidak bisa mengantarmu, dia bisa membunuh Papa karena membawa Ibumu pergi" ucap Pak Hernawan.
"Tidak apa-apa Ma, aku ngerti kok"ucap Zhafira.
"Jangan pergi sendirian kesana, tempat itu terlalu berbahaya untukmu"ucap Pak Hermawan.
"Iya Pa"ucap Zhafira.
Pak Hermawan meninggalkan Zhafira ke lantai atas dia masuk ke kamar Ibu Murni dan mengambil sesuatu dilaci kamar itu. Lalu Pak Hermawan turun ke lantai bawah kembali ke ruang keluarga menghampiri Zhafira.
"Fira ini kalung milik ibumu, satu-satunya pemberian dari ayahmu yang dibawa ibumu saat pergi dari tempat itu"ucap Pak Hermawan memberikan kalung yang berliontin love.
Zhafira menerima kalung itu, dia memegang kalung itu ditangannya.
"Ini pemberiaan ayahku untuk ibu"ucap Zhafira.
"Dulu mereka saling mencintai, saat ayahmu sukses dengan bisnis gelapnya, dia memberikan kalung itu pada ibumu, kalung itu menjadi kenangan satu-satunya yang dibawa ibumu"ucap Pak Hermawan.
"..........."Zhafira terdiam.
"Semoga kau bisa bertemu dengannya. Dan dia bisa menjadi wali nikahmu"ucap Pak Hermawan.
"Amin, makasih Pa"ucap Zhafira.
"Iya nak"ucap Pak Hermawan.
"Aku pulang dulu ya Pa"ucap Zhafira.
Pak Hermawan mengangguk, Zhafira mencium tangan Pak Hermawan. Lelaki paruh baya itu sudah menjadi ayahnya selama bertahun-tahun lamanya. Walaupun sekarang dia meninggalkannya tapi dulu saat dia kecil Pak Hermawanlah yang menjaga dan melindunginya.
Bahkan dia jadi suami ibunya meskipun pada akhirnya dia berselingkuh, tanpa dia mungkin hidup ibunya akan menderita bersama ayah kandungya yang merupakan pelaku kejahatan sekala besar.
Zhafira berjalan keluar dari rumah Pak Hermawan. Dia naik ke mobilnya lalu mengendarai mobilnya ke sebuah masjid ditepi jalan. Zhafira sholat dhuhur dimasjid itu. Dia berdzikir dan membaca alqur'an untuk menenangkan hatinya yang sedang memiliki masalah.
Selesai mengaji, Zhafira berbincang dengan seorang ustadzah. Dia menceritakan semua masalah yang sedang mengganggu pikirannya pada Ustadzah itu.
"Betapapun buruknya orangtua kita, mereka tetap orang tua kita. Sebagai anak kita tetap harus berbakti dan mendoakannya. Memaafkan kesalahan mereka, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Sungguh mulia jika kita memaafkan tanpa menunggu orang yang berbuat salah pada kita meminta maaf duluan"ucap Ustadzah Annisa.
"Semoga saya bisa menjadi orang yang seperti itu ustadzah, amin"ucap Zhafira.
"Mendekatkan diri pada Allah, sholat, berdzikir, membaca al qur'an dan shodaqoh, Insya Allah hatimu akan tenang dan damai. Semua masalah akan terasa ringan dan mudah diselesaikan karena Allah senantiasa bersama kita"ucap Ustadzah Annisa.
"Iya Ustadzah"ucap Zhafira.
__ADS_1
Setelah berbincang dengan Ustadzah Annisa, Zhafira merasa lebih lega. Dia berjalan ke mobilnya yang terparkir didepan masjid itu. Dia mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.
*************
Black Hunter dan Cinta pergi ke asrama tempat mereka dulu tinggal bersama. Ditempat itu begitu banyak kebangan untuk mereka berdua. Dari situlah cinta mereka berdua tumbuh. Black Hunter dan Cinta masuk ke ruangan kamar asrama itu.
"Manisku apa ini tempat kita mojok dulu?"tanya Black Hunter.
"Kak Rehan, mana mungkin kita mojok sih. Dulu aku masih SMA, bahkan dulu kau menyamar jadi wanita"ucap Cinta.
"Apa? aku menyamar jadi wanita?"tanya Black Hunter.
"Iya, kau cantik dan imut. Namamu dulu Reni" ucap Cinta.
"Reni? terdengar menggelikan"ucap Black Hunter.
"Dulu kau memakai bra isi bola pimpong"ucap Cinta sambil menahan tawa.
"Bra isi bola pimpong?"ucap Black Hunter terkejut dengan kelakuannya dulu.
"Iya, kau juga memakai bedak, lipstik transparan, dan jepit rambut"ucap Cinta.
"Ha....ha......ha....yang benar saja. Sekalian aku mengenakan wig, rok dan bando lalu jadi cheerleaders saat pertandikan basket akan dimulai"ucap Black Hunter.
"Betul kok tahu"ucap Cinta.
"Apa? aku pernah jadi cheerleaders juga?"tanya Rehan.
"Iya, lucu deh"ucap Cinta.
"Tapi justru karena itu kita semakin dekat dan akhirnya saling mencintai"ucap Cinta.
"Gak papa deh, itukan perjuanganku mendapatkanmu manisku"ucap Black Hunter.
"Dulu kita sering mengobrol diranjang ini"ucap Cinta sambil duduk diranjang kamar itu.
"Tempatnya kecil tapi terlihat nyaman. Apakah dulu kita tidur berdua?"tanya Black Hunter sambil berbaring diranjang itu.
"Tidak, aku tidur diranjang ini dan Kak Rehan tidur diranjang sebelahku itu"ucap Cinta sambil menunjuk ke arah ranjang disebelahnya.
Black Hunter mendekati Cinta dan membaringkan kepalanya dipangkuan Cinta.
"Manisku, apa dulu aku genit? misal menciummu saat kau tidur?"tanya Black Hunter.
"Tidak, Kak Rehan dulu gak genit tapi romantis" ucap Cinta.
"Jadi kau tidak suka aku yang sekarang?"tanya Black Hunter.
"Apapun itu aku tetap mencintai Kak Rehan, bagiku Kak Rehan tetap orang yang sama, mau hilang ingatan ataupun tidak"ucap Cinta.
"Terimakasih manisku"ucap Black Hunter.
__ADS_1
"Kak Rehan sholat yuk, sudah waktunya sholat ashar"ucap Cinta.
"Nanti dulu, udah nyaman dipangkuanmu"ucap Black Hunter.
"Tidak baik menunda-nunda sholat, ingat ketika kita memiliki keinginan apakah enak dinanti-nanti? pasti bikin penasaran dan kesel sendiri. Jadi anggaplah sholatpun begitu. Sebagai manusia kita banyak permintaannya pada Allah SWT tapi apa yang sudah kita berikan untukNya. Sholat menunda-nunda terkadang lupa, dzikir jarang bahkan tak pernah, mengaji malas bahkan lebih asyik main handphone, shodaqoh sayang uang lebih baik beli kuota untuk nonton berbagai hal yang terkadang banyak mudarotnya. Sesungguhnya Allah mencintai hambanya yang taat"ucap Cinta.
"Kau benar manisku, ayo kita sholat"ucap Black Hunter.
Black Hunter dan Cinta sholat, berdzikir dan mengaji bersama. Cinta mengajari Black Hunter seperti dulu lagi.
"Ternyata hatiku tenang dan damai ya setelah sholat, dzikir dan mengaji"ucap Black Hunter.
"Itulah manfaat yang kita dapatkan, apa yang Allah perintahkan pasti untuk kebaikan manusia itu sendiri dan apa yang Allah larang itu juga untuk kebaikan manusia itu sendiri. Sesungguhnya Allah Mengetahui segala sesuatunya"ucap Cinta.
"Aku bersyukur memiliki istri sholehah sepertimu manisku, rasanya seperti memiliki harta yang tak ternilai"ucap Black Hunter.
Cinta langsung memeluk Black Hunter.
"Aku juga bersyukur memilikimu Kak Rehan"ucap Cinta.
Rehan mencium Cinta, mereka berlanjut memadu cinta ditempat itu. Sore itu menjadi sore yang indah. Selain cinta yang menggelora ditambah nostalgia masa lalu yang membuat mereka saling memiliki satu sama lain.
***********
Raka mengajak Azkia ke suatu tempat. Dia ingin memberikan sebuah hadiah pernikahan untuk istrinya itu. Raka dan Azkia turun disebuah padepokan. Tempat itu tidak jauh dari rumah besar Leo. Raka dan Azkia masuk ke dalam padepokan itu.
"Sayang kenapa kita kesini?"tanya Azkia.
"Coba tebak untuk apa?"tanya Raka.
"Kita akan berlatih disini supaya kita bisa mempersiapkan diri untuk melindungi Cinta"ucap Azkia.
"Kura-kura cantik, tempat ini untukmu mengajar bela diri, jadi kau tidak akan kesepian saat aku bekerja dikantor"ucap Raka.
"Apa? tempat ini untukku mengajar bela diri?" tanya Azkia.
"Iya, ini hadiah untukmu sayang"ucap Raka.
Azkia langsung memeluk Raka.
"Makasih sayang"ucap Azkia.
"Iya sayang, tapi aku juga minta hadiah ya nanti"ucap Raka.
Azkia tersenyum malu-malu dia tahu apa yang diinginkan Raka.
"Sayang cantik deh"ucap Raka menggoda Azkia.
"Sayang kau biasa meledekku, bukannya menggodaku"ucap Azkia.
"Aku ingin menggoda istriku setiap hari biar pipinya sekalu merah dan senyumnya manis"ucap Raka.
__ADS_1
"Sayang....."ucap Azkia semakin malu.
Raka meraih muka Azkia dan menciumnya. Tempat itu sepi hanya ada mereka berdua. Raka bisa mencium Azkia dengan leluasa.