ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Geberation 2 : Part 8


__ADS_3

Alina langsung berlari ke arah Rafael yang berjalan ke arahnya lalu memeluk Rafael dengan erat seakan dia begitu rindu tak bertemu dengannya dari tadi.


"Kak Rafa kemana aja?"tanya Alina.


"Maafin kakak, tadi ada sedikit masalah yang harus diurus"ucap Rafael.


Melihat Alina bersama Rafael, Alvan langsung memutar balik motornya lalu meninggalkan tempat itu.


"Adik kecil ayo pulang"ucap Rafael melepas pelukannya.


Alina hanya mengangguk dengan ucapan Rafael.


"Apa kau lapar?"tanya Rafael memegang pipi Alina dengan kedua tangannya.


"Tidak"ucap Alina.


"Jangan-jangan karena laparnya sudah kelewat ya"ucap Rafael.


"Gak kak, eh......tunggu, tangan kakak kasar sekali"ucap Alina.


Alina mengambil tangan Rafael lalu dia melihatnya dengan seksama. Telapak tangan itu terlihat menggembung dan merah.


"Kakak habis ngapain, tangannya sampai kapalan dan merah gini?"tanya Alina.


"Gak habis ngapa-ngapain, ayo pulang"ucap Rafael tersenyum pada Alina.


Alina mengangguk, merekapun pulang ke kontrakkan. Alina menaruh ranselnya dilantai sedangkan Rafael masuk ke toilet untuk mandi.


"Alina banyak hal yang tidak bisa ku ceritakan padamu, aku tidak ingin membuatmu khawatir"batin Rafael saat sedang mandi di toilet itu.


Alina membersihkan kontrakkannya, dia melihat ransel milik Rafael terbuka, dia hendak merapikan buku didalam ransel milik kakaknya itu tapi justru dia menemukan sebuah surat pemberitahuan dari kampus Rafael.


"Kak Rafael belum bayar uang semesteran dan SPP nya, kenapa dia tidak cerita ini padaku, apa.....?" ucap Alina.


Alina memikirkan sesuatu tentang Rafael, dia tidak tahu kalau Rafael menyembunyikan hal itu darinya.


"Selama ini Kak Rafa mencari uang sendirian, dia tak pernah mengeluh ataupun bilang tak punya uang padaku, aku merasa tak berguna jadi adiknya. Aku hanya menyusahkannya"batin Alina.


Alina meletakkan surat itu ke dalam ransel Rafael lagi. Dia kembali membersihkan kontrakkannya hingga bersih lalu dia duduk dilantai. Tak lama Rafael yang keluar dari toilet menghampiri Alina.


"Adik kecil ayo makan bakso?"tanya Rafael.


"Aku sudah kenyang kak"ucap Alina.


"Beneran? padahal baksonya enak loh"ucap Rafael.


"Gak mau, tadi aku sudah makan dirumah teman sampai aku kekenyangan"ucap Alina.


"Temanmu yang mana? seingat kakak, kau tak pernah menceritakan satu temanpun pada kakak"ucap Rafael.


"Ada, aku belum cerita aja sama kakak"ucap Alina.


"Baiklah, kalau gitu kakak mau keluar dulu, nanti mau dibeliin apa?"tanya Rafael.


"Aku hanya ingin kakak pulang dengan selamat, Alina hanya punya kakak"ucap Alina sambil meneteskan air matanya.


Rafael menghapus air mata di pipi Alina.


"Adik kecil, aku akan selalu disisimu, sampai aku melihatmu bahagia tanpaku"ucap Rafael.


"Kakak jangan bicara seperti itu, Alina maunya sama kakak"ucap Alina.


"Oke-oke, kakak berangkat dulu, jangan lupa sholat dan mengaji, Ustadz Sanusi kemarin bilang sama kakak hari ini beliau ada kepentingan keluarga jadi adik kecilku yang mengajar mengaji"ucap Rafael.


"Siap Bos"ucap Alina.

__ADS_1


Rafael keluar dari kontrakkannya. Dia pergi ke sebuah rumah sakit. Sampai di rumah sakit itu Rafael masuk ke ruang rawat inap.


"Selamat sore"ucap Rafael.


"Sore nak"ucap Pak Yusron dan Ibu Tika.


Rafael menghampiri Ibu Tika dan Pak Yusron yang duduk di kursi samping ranjang.


"Bagaimana keadaannya Bu?"tanya Rafael.


"Alhamdulillah baik nak"ucap Ibu Tika.


"Tadi sebelum ke ruangan ini, saya sudah melihat bayi ibu, tampan dan lucu"ucap Rafael.


"Terimakasih ya nak, karena kebaikanmu istri saya bisa melahirkan dengan lancar. Entah uang dari mana saya bisa membayar biaya operasi caesar yang cukup besar. Untung ada nak Rafael, sekali lagi terimakasih"ucap Pak Yusron.


"Iya nak terimakasih"ucap Ibu Tika.


"Sama-sama Pak, Bu, semoga Ibu dan bayinya sehat selalu, saya pamit pulang dulu"ucap Rafael.


"Iya nak Rafael"ucap Pak Yusron dan Ibu Tika.


Ibu Tika dan Pak Yusron seorang pemulung rongsokan, Pak Yusron tak bisa membayar biaya operasi ceasar istrinya sampai dia menawarkan ginjalnya pada Rafael yang kala itu tak sengaja bertemu dengannya. Rafael merasa iba, dia tidak jadi membayar uang semesteran dan SPPnya lalu memberikan uangnya pada Pak Yusron.


Rafael berjalan keluar dari rumah sakit setelah menemui Pak Yusron dan Ibu Tika. Ketika berjalan di tepi jalan Rafael melihat pedagang kacang rebus. Dia menghampirinya lalu membeli kacang rebus itu.


"Pak setiap hari mangkal disini, ramai ya Pak?"tanya Rafael.


"Kadang ramai, kadang sepi namanya juga dagang nak"ucap Pak Kosim.


"Coba mangkal di dekat lapangan serdadu, disana kalau sore ramai dipenuhi anak-anak abg, bapak-bapak dan ibu-ibu yang nongkrong sore selain itu banyak orang pulang kerja melewati tempat itu"ucap Rafael.


"Makasih sarannya ya nak, kebetulan saya juga lagi nyari tempat mangkal yang ramai"ucap Pak Kosim.


"Sama-sama Pak"ucap Rafael.


Rafael melihat Alina sedang mengajar mengaji.


"Alina seperti bidadari surga yang tak bersayap, bersinar terang dan menyejukkan hati"batin Rafael.


Rafael duduk di teras masjid menunggu Alina selesai mengajar. Tak lama Alina keluar dari dalam masjid menghampiri Rafael dan menutup matanya.


"Adik kecil"ucap Rafael menebak seseorang yang menutup matanya.


"Kakak kok tahu"ucap Alina.


"Aku tahu semua tentangmu adik kecil"ucap Rafael.


Alina melepas tangannya dari mata Rafael.


"Alina ayo pulang"ucap Rafael.


"Iya Kak"ucap Alina.


Alina berjalan bersama Rafael. Dia berjalan perlahan-lahan hingga membuat Rafael merasa kalau Alina kelelahan.


"Adik kecil, ayo kakak gendong"ucap Rafael.


"Aku sudah besar sekarang kak"ucap Alina.


"Kakakmu ini masih kuat menggendongmu seperti dulu"ucap Rafael.


"Oke, aku kangen digendong kakak"ucap Alina.


Rafael menggendong Alina dibelakang punggungnya.

__ADS_1


"Kak, besok Alina mau nyari kerja ya"ucap Alina.


"Hei anak SMA mau kerja apa?"tanya Rafael.


"Kakakku sayang aku bisa kerja apa saja, akukan sudah besar sekarang"ucap Alina.


"Adik kecil, selama ada kakak, kau tidak usah bekerja"ucap Rafael.


"Gak mau, aku mau belajar mandiri kaya kakak"ucap Alina.


"Boleh, tapi ingat harus pekerjaan yang halal dan tidak boleh menyita waktu sekolah"ucap Rafael.


"Siap Bos"ucap Alina.


Alina tidur di punggung Rafael karena kelelahan.


"Adik kecil maafkan aku belum bisa membahagiakanmu, aku akan berusaha lebih keras lagi untuk membahagiakanmu"batin Rafael.


Malam itu hujan deras, kontrakkan yang ditempati Alina dan Rafael bocor dimana-mana. Semua atap terdapat titik-titik bocor hingga air hujan itu menetes ke lantai.


"Alina kemarilah, disini tidak bocor"ucap Rafael.


Alina berjalan menghampiri Rafael, kakinya terpeleset air tetesan hujan itu.


"Aaaaaa........."ucap Alina berteriak saat terpeleset.


Rafael langsung menangkap Alina yang terjatuh ke arahnya, dia memeluk Alina dalam dekapannya. Mata mereka saling memandang. Wajah cantik putih bersih itu terlihat semakin cantik saat Rafael menatapnya dari dekat. Tatapan mata Rafael kali ini pada Alina penuh rasa kekaguman.


"Kenapa jantungku terus berdebar, rasanya seperti kemarin, tidak, apa sih aku ini"batin Rafael.


"Adik kecil kau tak apa-apa?"tanya Rafael.


"Gak apa-apa, kan ada kakak"ucap Alina tersenyum pada Rafael.


Alina berada dipelukan Rafael, dia merasa nyaman dipeluk kakaknya. Dari kecil mereka memang begitu dekat. Alina selalu tidur bersama Rafael hingga saat Alina baligh dia tidur di kamar terpisah. Tapi kedekatannya dengan Rafael tak pernah berubah.


"Adik kecil kau ngantuk?"tanya Rafael.


"Iya kak"ucap Alina.


"Kita duduk dipojok situ sepertinya tidak bocor"ucap Rafael.


Alina mengangguk, dia dan Rafael duduk dipojok kontrakkan itu.


"Tidurlah dipangkuan kakak, sini"ucap Rafael.


Alina tidur dipangkuan Rafael, dia sangat mengantuk. Kemudian Rafael menyelimuti tubuh Alina dan mengelus kepalanya. Tak lama Rafael juga ikut tertidur.


**********


Hari mulai pagi, suara adzan terdengar berkumandang. Rafael dan Alina tidur berpelukan dipojok kontrakkan itu. Rafael yang sudah terbangun duluan melepas pelukannya. Dia duduk disamping Alina yang sedang tertidur pulas.


"Apa aku tidur memeluk Alina semalaman? seingatku Alina tidur dipangkuanku. Kenapa dengan perasaanku? aku takut dengan perasaan ini. Aku dan Alina kakak adik, begitulah hubungan kami dari sejak kecil"batin Rafael.


Rafael begitu takut memiliki perasaan yang lebih dari seorang kakak pada Alina. Dia tidak ingin menghancurkan persaudaraannya bersama Alina yang sudah terjalin sejak mereka masih kecil.


Rafael membangunkan Alina dengan menepuk lengannya perlahan.


"Adik kecil bangun...bangun...bangun..."ucap Rafael.


Alina membuka matanya, dia melihat Rafael di sampingnya.


"Kakak aku senang sekali saat bangun ada kakak"ucap Alina.


"Iya, kakak juga senang saat bangun ada kamu.

__ADS_1


Oya sudah adzan sholat subuh dik"ucap Rafael.


Alina mengangguk, dia wudhu lalu sholat subuh.


__ADS_2