ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 67


__ADS_3

Seminggu Kemudian. Aku mulai bekerja di kantor milik Om Farel. Perusahaannya sangat besar. Itu merupakan perusahaan gabungan dari tiga perusahaan. Perusahaan peninggalan Leo Ariendra, Parusahaan milik Kakek Rehan dan Perusahaan milik Om Farel sendiri. Perusahaannya sangat besar, luas dan tinggi. Entah berapa ribu karyawannya. Di sini hanya perusahaan pusat. Tidak melayani klien. Lebih kepada semua laporan dan penilaian hasil kinerja perusahaan-perusahaan yang bergerak dibawah naungan perusahaan pusat. Om Farel mengajakku berkeliling dibeberapa divisi. Beliau begitu ramah dan santun meskipun Bos besar di perusahaan itu.


Setelah selesai berkeliling kami menuju ruanganku. Aku tak punya pengalaman kerja dan baru lulus SMA. Om Farel memberiku pekerjaan sebagai asistennya yang membantunya menyiapkan semua kebutuhannya di kantor. Aku diberi tempat duduk di luar ruangannya dekat ruangan sekretaris. Fungsinya agar lebih cepat jika dia membutuhkan sesuatu.


Aku duduk di kursiku. Sekarang aku akan mulai bekerja. Ku lihat laptop di meja. Beberapa berkas. Baru kali ini aku merasa jadi dewasa. Dulu aku hanya Aara yang bodoh. Tapi berkat Albern dan teman-teman aku berhasil menjadi lebih baik. Aku jadi teringat Albern. Sedang apa dia di sana apakah kami akan bertemu kembali?


Aku coba mengikhlaskan semuanya aku yakin jika memang kami berjodoh pasti Allah akan mempertemukan kita bagaimana caranya.


Saat jam istirahat aku bertemu pinky boy itu lagi. Kenapa dia ada di kantin. Membuat selera makanku hilang. Aku melewatinya begitu saja. Namun penasaran makhluk seperti dia makan apa?


"Hah makan daun? Apa kau itu kambing?" tanyaku sambil melihat kotak pink berisi daun-daunan mentah.


"Hei aku tidak akan membayar kritikus pembawa virus sepertimu," sahut Rangga.


"Paling tuh daun ada uletnya, iiih ...," ucapku.


"Siapa bilang? Ini daun yang ku petik khusus di kebun, masih fresh," ujar Rangga. Dia tak memperdulikan apa kataku, langsung menyuapkan daun ke mulutnya.


"Geli ..., apain nih?" ujar Rangga menghentikan kunyahannya.


"Mungkin saja ulat atau kotoran burung," jawabku.


"Masa sih? Ini daun terbaik yang dipetik saat embun menetes pertama kalinya," ucap Rangga.


"Ribet juga hidupmu, apa pemerintah bisa menerima masyarakat sepertimu?" ujarku.


"Enak saja, aku ini makhluk paling bersih dan sterill," sahut Rangga.


"Di mulutmu kayanya ada ulet tuh," ucapku.


"Mana mung ..., Eh ini apa?" Rangga memegang kepala ulet di mulutnya.


Uweek ....


Rangga langsung muntah. Mukanya pucat melihat ulat itu masih bisa bergerak dilantai.


Bruuug ...


Rangga pingsan di lantai. Segera ku tolong makhluk pinky ini. Begitupun karyawan lainnya yang juga ikut menolongnya.


"Rangga ... Rangga ...," ucapku memanggilnya sambil menepuk pipinya.


"Udah pakai bau kentut aja pasti bangun."


"Iya, kalau gak bau ketek juga cepet bikin dia balik dari alam barzah."


"Nih sampah botol susu gue yang kemarin, bisa membuat dia sadar."


Sepertinya staf lain tahu Rangga tak bisa kotor sedikit. Itu sebabnya mereka menyarankanku untuk menggunakan hal-hal kotor dan bau untuk menyadarkannya.


Aku punya ide. Ku lepas kaos kakiku. Ku taruh di dekat hidungnya.


"Neng masukin aja ke mulutnya pasti bangun."


"Kurang bau kali, punyaku aja seminggu belum ganti."

__ADS_1


Boleh juga ide yang brilian. Ku ambil kaos kaki yang seminggu belum dicuci. Ku letakkan di depan mukanya. Benar saja dia sadar.


"Eh ini apa-apaan? Jangan perkosa aku beramai-ramai," ujar Rangga.


"Siapa juga yang mau perkosa kau, tadi tuh kau pingsan, inget?" tanyaku.


Rangga langsung bangun. Mengeluarkan semprotan disinfektan menyemprotkan ke tubuhnya. Seolah kami semua kuman,bakteri dan virus.


"Tolong minggir! Aku tak mau tertular penyakit," ujar Rangga menyuruh semuanya menjauh darinya.


"Kenapa ya makhluk sterill sepertimu ada di sini, tinggal aja sana di planet Mars pasti gak akan ada yang nularin penyakit," ujarku. Kesal sekali makhluk pinky boy ini bukannya terimakasih malah kaya gini. Lebih baik ku tinggalkan saja dia.


Semua orang juga ikut bubar. Percuma meladeni manusia sterill itu. Semua dianggap penyakit olehnya.


"Hei Nona virus kau marah?" tanya Rangga memanggilku yang berjalan meninggalkannya.


Aku tak menggubris. Capek debat dengannya. Mau sterill? Tinggal aja di bulan sana sendirian.


Sore itu aku berdiri di depan lobi mau pulang. Hujan turun deras. Sepertinya aku tidak bisa naik kendaraan umum. Om Farel juga masih di dalam. Dia menyuruhku pulang duluan. Tiba-tiba mobil Rangga berhenti di depanku.


"Nona Virus naik!" pinta Rangga.


"Ngapain? Lebih baik aku berdiri di sini, nanti virusku berjatuhan di mobilmu," ujarku.


"Aku sudah mengenakan APD nih," ucap Rangga.


Whats?


Makhluk pinky ini gila apa? Masa pakai APD segala cuma buat numpanginku naik mobilnya.


Baiklah aku hargai usahanya. Aku berjalan ke mobilnya. Ku buka pintu mobil. Benar saja dia mengenakan APD. Tinggal kepalanya yang belum.


"Terus aku duduk di mana?" tanyaku melihat Rangga yang memegang stir. Sepertinya dia menyetir sendiri tanpa supir.


"Di belakang. Kau lihat sudah ku batasi dengan plastik tempat dudukmu," jawab Rangga menunjukkanku tempat duduk di belakang yang dibatasi plastik.


Makhluk pinky dasar sok sterill. Emangnya aku ini virus yang harus diisolasi. Tapi ya sudahlah. Aku menutup kembali pintu depan. Membuka pintu belakang. Duduk dan diam. Mobil melaju menuju rumah Keluarga Ariendra.


***


Albern mengangkat beberapa tangkapan ikan. Dia menjadi kuli nelayan. Semenjak tsunami, Albern terbawa arus, ditemukan nelayan yang kebetulan berlayar. Dia dibawa pulang mereka karena kondisinya yang parah. Albern sempat koma selama dua bulan. Dia baru sadar dan mulai membantu nelayan untuk menenuhi kebutuhannya sehari-hari, membayar hutang pada orang yang membayar biaya rumah sakitnya selama tiga bulan. Albern mencicilnya sedikit demi sedikit karena upahnya kecil. Albern belum memiliki uang untuk kembali ke kota tempatnya tinggal. Dia berada di negara yang berbeda dengan negara tempatnya tinggal.


Albern duduk di tepi laut usai menurunkan hasil tangkapan. Dia melihat lautan yang luas. Rasa rindu begitu besar padaku.


"Aku belum bisa kembali sayang, secepatnya ku lunasi hutangku dan mengumpulkan ongkos untuk kembali," ujar Albern.


Harapannya terlukis di hatinya. Dia ingin segera menemuiku. Garis takdir sudah memisah. Bukan karena Allah tak sayang namun ini ujian cinta kami.


"Albern come here! there is work for you."


Albern hanya mengangguk. Dia menghampiri orang yang memanggilnya. Setiap pekerjaan dilakukannya demi melunasi hutang dan mengumpulkan ongkos. Dia yakin esok atau lusa dia akan menemuiku.


***


Satu bulan kemudian aku mendaftar kuliah ditemani Om Farel dan Tante Alina sebagai waliku. Mereka memasukkanku ke dalam kartu keluarganya. Aku dianggap anak oleh mereka. Begitupun dengan Adelina yang juga menemaniku. Kebetulan aku kuliah di kampusnya.

__ADS_1


"Aara selamat ya, semoga kau bisa menuntut ilmu dengan baik di sini," ujar Adelina.


"Iya, terimakasih Adelina," sahutku.


"Om dan Tante akan membantumu, jadi kau tidak perlu merasa merepotkan, karena kita sekarang keluarga," sahut Farel.


"Iya Nak, mulai sekarang kita keluarga, jadi kau anggota Keluarga Ariendra," tambah Alina.


Entah mengapa Farel dan Alina merasa begitu menyayangiku. Sampai aku dimasukkan ke dalam anggota Keluarga Ariendra dan seluruh anggota keluarga setuju. Seperti semuanya dipermudah. Aku senang bisa berada ditengah-tengah mereka.


"Adelina antar Aara jalan-jalan melihat mengelilingi kampus!" perintah Alina.


"Siap Ma," sahut Adelina.


Segera Adelina menemaniku berjalan-jalan di kampus. Kampusnya sangat besar dan lengkap dengan segala fasilitas. Kata Adelina ini kampus yang dibangun Kakek Leo Ariendra usai tsunami 20 tahun lalu. Saat itu semua kampus di kota A rusak. Kakeknya yang membangun kampus itu. Untuk siswa berprestasi dan yang tak mampu diberi bea siswa untuk kuliah di kampus ini.


"Kakek Leo baik sekali ya," ucapku.


"Kakek buyut memang sangat baik, beliau orang yang selalu peduli pada siapapun, Aara tahu saat kakekku meninggal karangan bunga untuknya memenuhi jalan-jalan di kota A bahkan sampai luar kota," ujar Adelina.


"Beliau pasti orang yang sangat baik," kataku.


"Baik sekali, setiap orang mengenal kakek sebagai orang yang dermawan yang ramah. Kakek mengawali karirnya dari nol bersama Nenek buyut," ujar Adelina.


Aku jadi penasaran seperti apa sosok Kakek Leo. Beliau pasti orang yang selalu membantu siapapun yang membutuhkan bantuan. Adelina menceritakan Kakek Leo membangun banyak lapangan kerja untuk masyarakat. Apalagi setelah tsunami. Kakek Leo yang bisnisnya sudah go internasional, memiliki perusahaan di luar negeri yang kini dikelola anaknya yang tinggal di luar negeri sedangkan yang di dalam negeri dikelola anaknya yang ada di dalam negeri.


Aku kagum mendengar sosok Leo Ariendra. Mengawali hidupnya dari kosan kecil bersama Zara Kanaya. Mereka dulu hanya dua siswa putih abu-abu yang sering menahan lapar dan kini jadi orang terkaya di Negara A. Aku jadi semangat menjalani hidupku. Jika mereka bisa kenapa aku tidak.


"Aara mau ke kelas Kak Rangga? Dia cowok paling tampan di kampus ini," ucap Adelina.


"Manusia sterill itu?" tanyaku keceplosan.


Adelina tertawa. Ku kira dia akan marah mendengarku memanggil kakaknya manusia sterill.


"Kakakku memang begitu, tapi dia mahasiswa tercerdas di kampus," ujar Adelina.


"Yang benar? Memangnya dia sudah menghasilkan apa dengan ke sterillannya?" tanyaku.


"Sebuah perusahaan jasa yang bisa merekrut banyak pekerja," ujar Adelina.


"Masih kuliah sudah punya perusahaan?" Aku terkejut.


"Iya, semua karyawannya bisa bekerja dari rumah," ujar Adelina.


"Hebat juga, memang otaknya seencer itu?" ucapku.


"Meskipun begitu dia sangat peduli pada orang miskin, ya walau sikapnya suka keterlaluan kalau soal kebersihan," ujar Adelina.


Aku terdiam. Makhluk sterill itu ternyata baik juga. Meskipun sikapnya menyebalkan.


"Paru-parunya mudah sensitif sejak saat itu, dia terkadang sering sesak nafas, ketakutan dan tak bisa main dengan siapapun," ujar Adelina.


Aku tercengang . Kasihan juga makhluk sterill itu.


"Sebenarnya dia kesepian tapi tubuhnya sudah terbiasa sterill dari kecil. Dia tak bisa kotor, itu membuatnya tersiksa ketika melihat teman-temannya main bola," ujar Adelina.

__ADS_1


Aku terdiam. Ternyata makhluk sterill itu kesepian.


"Kak Rangga," ucap Adelina memanggil Rangga yang sedang dikerumuni wanita namun dia terlihat kesulitan menjauhkan mereka.


__ADS_2