
Pagi buta Rafael sudah bangun. Setiap hari dia bangun sebelum adzan subuh untuk membangunkan Alina sholat shubuh. Pagi itu dia meraba sampingnya, Alina tidak ada disampingnya. Dia baru ingat setelah matanya benar-benar terbuka lebar.
"Oya aku menginap di rumah seorang kakek baik hati" ucap Rafael.
Rafael langsung beranjak dari ranjangnya. Tak sengaja dia melihat setumpuk uang gepokan lembaran seratus ribuan di atas lemari kecil dekat ranjang tempat Rafael tidur.
"Mungkin ini uang milik kakek itu" ucap Rafael.
Rafael mengacuhkan uang itu. Dia ke toilet untuk cuci muka lalu keluar dari kamarnya. Rafael bertemu Leo yang hendak ke kamar Rafael untuk mengajaknya sholat subuh.
"Nak apakah kau seorang muslim?" tanya Leo.
Leo mau memastikan terlebih dahulu sebelum mengajak Rafael sholat subuh.
"Bukan kek, saya seorang nasrani" ucap Rafael.
"Kakek pikir kau seorang muslim, tadinya ingin mengajakmu sholat berjamaah di masjid" ucap Leo.
"Tapi apa saya boleh ikut ke masjid walaupun saya tidak sholat?" tanya Rafael.
"Boleh, mari" ucap Leo.
Rafael mengikuti Leo pergi ke masjid dekat rumah Leo. Dia masuk ke dalam masjid memperhatikan bangunan masjid yang indah dan kokoh.
"Semoga masjid dipinggir sungai besar itu juga seperti ini" ucap Rafael.
Ketika semua sholat, Rafael duduk di teras menunggu Leo sholat berjamaah dengan yang lainnya. Seusai sholat Leo dan Rafael pulang ke rumah. Leo mengajak Rafael sarapan bersama dengan keluarganya. Leo hanya tinggal berdua dengan Zara. Raka sudah punya rumah pribadi bersama Azkia, Cinta tinggal bersama Rehan di rumah pribadinya begitupun dengan Marwa yang tinggal di luar negeri ikut suaminya. Rafael duduk bersama Leo dan Zara.
"Nak dari kemarin kakek belum memperkenalkan diri padamu. Nama kakek Leo Ariendra dan disamping kakek ini Zara Kanaya istri tercinta kakek" ucap Leo.
"Leo Ariendra? pengusaha kaya raya di Negara A.
Aku bahkan baru melihatnya secara langsung meskipun sering melihatnya di majalah bisnis ataupun dibicarakan di televisi, kalau beliau tidak memperkenalkan diri aku tidak akan tahu" batin Rafael.
"Nak....nak...." Leo memanggil Rafael yang masih terkesima melihat seorang Leo Ariendra yang sangat terkenal di dunia bisnis.
"Iya kek" Rafael baru tersadar.
"Siapa namamu?" tanya Leo.
"Rafael Stevanus, senang bisa bertemu kakek Leo dan Nenek Zara" ucap Rafael.
"Melihatmu mengingatkanku pada cucuku Aksa" ucap Zara.
__ADS_1
"Mama pasti rindu pada Aksa" ucap Leo.
"Iya Pa, Aksa kuliah diluar negeri jadi tidak setiap hari kita bisa bertemu" ucap Zara.
"Maaf ya nak Rafael jadi mendengarkan curhatan seorang kakek dan nenek" ucap Leo.
"Tidak apa-apa kek" ucap Rafael.
"Ayo dimakan, pagi ini nenek masak khusus untukmu sebagai tamu di rumah ini" ucap Leo.
"Terimakasih kek, nek" ucap Rafael.
"Sama-sama" ucap Leo dan Zara.
Rafael makan bersama Leo dan Zara. Kemudian Leo mengajaknya bicara santai di ruang keluarga.
Mereka berdua duduk di sofa. Leo mulai menanyakan tujuan kedatangan Rafael ke kota A.
"Saya datang ke kota ini untuk mencari donatur yang mau mendanai pembangunan masjid di kota B. Ada sebuah masjid yang hampir roboh, sementara warga sekitarnya berada digaris bawah kemiskinan, sehingga masjid belum bisa di renovasi" ucap Rafael.
Leo berpikir sejenak. Dia memperhatikan anak muda disampingnya. Lelaki muda itu seorang nasrani tapi dia begitu peduli pada masjid tempat ibadah umat muslim, rasanya seperti mendapatkan sentilan dari apa yang dilakukan Rafael.
"Nak Rafael berapa biaya pembangunan masjid yang dibutuhkan?" tanya Leo.
"Saya ambil proposalnya dulu kek" ucap Rafael.
Rafael mengambil proposal dana pembangunan masjid di kamar tamu tempatnya beristirahat dari semalam. Kemudian dia memberikannya pada Leo. Seketika Leo langsung membuka dan membacanya.
"Saya akan mendanai masjid ini sampai selesai dan seterusnya untuk biaya perbaikan ke depannya selama saya masih hidup dan keturunan saya mau meneruskannya" ucap Leo.
"Kenapa kakek tidak ragu? kenapa kakek percaya pada proposal ini? bisa saja saya penipu" ucap Rafael.
Selama mencari donatur, banyak yang menolak proposal yang diajukan Rafael bahkan tak jarang dia dimaki sebagai penipu yang mengatas namakan masjid. Tapi Rafael heran Leo tidak menanyainya apapun dan langsung bersedia jadi donatur pembangunan masjid.
"Kalau kau seorang penipu anak muda, mungkin kau akan mengambil setumpuk uang yang ada di atas lemari kecil itu. Bahkan jumlahnya lebih banyak dari jumlah yang ada di proposal ini" ucap Leo.
Rafael langsung terdiam. Sepertinya Leo sudah mengujinya terlebih dahulu tanpa disadarinya. Dia begitu kagum dengan sosok Leo yang terlihat santai tanpa harus berucap kasar atau menuduh dengan kata-kata menyakitkan hanya untuk mengetahui sebuah kebenaran. Dia hanya melakukan hal kecil yang Rafael sendiri tidak menyadarinya.
"Kakek Leo Ariendra, Anda memang orang hebat,
saya beruntung bisa bertemu dengan Anda secara langsung" ucap Rafael.
"Kau juga anak yang hebat anak muda, tak banyak anak muda yang peduli untuk hal seperti ini" ucap Leo.
__ADS_1
"Saya ucapkan terimakasih, kakek bersedia jadi donatur pembangunan masjid ini" ucap Rafael.
"Justru sayalah yang berterimakasih sebagai umat muslim, karena kau mau peduli pada rumah ibadah kami" ucap Leo.
Rafael mengangguk. Leo bangga melihat Rafael yang masih muda tapi memiliki hati yang begitu luas. Dia tak pandang bulu. Leo merasa anak muda di depannya ini akan jadi orang hebat nantinya. Dia jadi teringat masa mudanya. Banyak hal yang dilewatinya hingga kini jadi seorang Leo Ariendra yang kaya raya dan hanya duduk di rumah, uang bekerja untuk dirinya.
"Apa kau punya orangtua atau saudara?" tanya Leo.
"Orangtua saya sudah meninggal, selama ini saya dan adik saya tinggal bersama orangtua angkat kami. Tapi orang tua angkat kami juga sudah meninggal beberapa bulan yang lalu" ucap Rafael.
"Jadi kalian yatim piatu, apakah adikmu saudara kandungmu?" tanya Leo.
"Bukan, kami sama-sama diadopsi dari panti asuhan" ucap Rafael.
"Begitu ya, siapa nama adikmu?" tanya Leo.
"Alina Clemira" ucap Rafael.
"Adikmu perempuan ya" ucap Leo.
"Iya, meskipun orangtua angkat kami dan saya nasrani, tapi dia seorang muslim seperti kakek" ucap Rafael.
Leo terkejut mendengar ucapan Rafael. Seorang keluarga nasrani merawat dan membesarkan seorang anak muslim. Bahkan mereka hidup berdampingan dan hidup rukun.
"Nak Rafael masih sekolah?" tanya Leo.
"Masih kek, saya kuliah" ucap Rafael.
"Berarti kau kerja sambil sekolah nak?" tanya Leo.
"Iya kek" ucap Rafael.
"Kakek ingin memberimu bea siswa untuk sekolah" ucap Leo.
"Tidak usah kek, saya ingin kuliah dari hasil jirih payah saya sendiri" ucap Rafael.
Rafael bukan tidak ingin mendapatkan bantuan dari Leo tapi dia ingin membiayai kuliahnya dari hasil jirih payahnya sendiri.
"Kau memang anak muda yang membuatku bangga, banyak orang yang menginginkan bea siswa tapi kau malah menolaknya" ucap Leo.
"Ketika suatu saat nanti saya sukses, rasanya akan manis karena hasil jirih payah saya sendiri" ucap Rafael.
"Kau benar" ucap Leo menepuk bahu Rafael.
__ADS_1
Tak lama Rehan memasuki ruangan itu.
"Assalamu'alaikum" ucap Rehan.