
Pagi itu semua orang sarapan di ruang makan.
Terlihat suasana kekeluargaan begitu kental. Rumah itu semakin ramai dengan adanya anggota keluarga baru dan tamu yang datang. Rehan dan Cinta juga sudah kembali usai bertemu anak-anaknya yang lainnya. Menu makanan penuh dari ujung meja ke ujung. Alina sengaja meminta koki masak banyak karena di rumahnya sedang banyak orang.
"Alhamdulillah, sarapan pagi ini nikmat sekali," ucap Farel.
"Alhamdulillah," ucap yang lainnya. Pagi itu memang begitu nikmat. Bisa makan bersama dengan keluarga tercinta. Setelah semua perjuangan sulit di masa lalu.
"Papa dengar Aara dan Adelina akan menikah?" tanya Rehan. Kakek tahu kabar itu dari Mama yang memberitahu kakek nenek saat mereka main ke rumah Om Alvan dan Tante Haura.
"Iya Pa, mereka akan menikah besok hari minggu," jawab Alina.
"Apa semuanya sudah disiapkan?" tanya Cinta.
Mama menyebutkan apa saja persiapan yang sudah disiapkan. Dari gedung, wedding organizer, katering, undangan, dan butik yang sudah dipilih. Termasuk seragam yang akan dikenakan keluarga besar.
"Jadi pagi ini kau akan pergi mengantar Aara dan Adelina fitting gaun pengantin?" tanya Cinta.
"Iya Ma, waktunya mepet kalau tidak dipersiapkan ya Mama tahu sendiri, ujar Alina.
"Kalau gitu Mama ikut melihat Aara dan Adelina fiting gaun pengantin," ucap Cinta.
"Iya ayo Nek, biar rame ada Nenek yang nemenin," ujarku. Senang rasanya bisa tinggal bersama mereka. Hidupku kini penuh kebahagiaan dan suka cita.
"Iya, nanti nenek liat gaun pengantinku bagus tidak," sahut Adelina.
Cinta mengangguk.
"Papa dan Albern mau pergi ke perusahaan," ujar Farel.
"Ajak Riffai biar dia tahu kantor kita," ujar Rehan.
"Riffai mau ikut ke kantorku Kek," ujar Rangga.
"Iya Kek, sekarang Riffai asisten pribadinya Rangga," sahut Riffai.
"Ya udah, hari ini kalian semua sibuk, tapi jangan lupa sholat," ujar Rehan.
__ADS_1
"Iya Kek," sahut semuanya.
Mereka semua tersenyum bahagia. Makan bersama dan berbincang sedikit usai makan.
Pagi itu aku, nenek, mama, dan Adelina pergi ke Butik Alexsandra. Meskipun Alexsandra sendiri sudah meninggal namun anak dan cucunya meneruskan butik tersebut. Aku dan Adelina fitting gaun pengantin. Kami mulai mengenakan baju pengantin yang sudah dipesan di hari sebelumnya. Kami terlihat cantik dan anggun dibalut gaun pengantin putih bertahta berlian putih disekitar gaun itu.
Nenek dan Mama tercengang melihat kami begitu cantik dengan balutan gaun berwarna putih itu.
"Cantik banget cucu nenek," puji Cinta.
"Iya, kedua anak Mama cantik-cantik," puji Alina.
"Terimakasih Nek, Ma," sahutku dan Adelina.
"Kalau begini semua orang akan tercengang melihat kalian," ujar Alina.
"Secantik Mamamu saat seusia kalian," gumam Cinta.
Aku dan Adelina tersenyum. Kami senang bisa fitting gaun pengantin ditemani Nenek dan Mama. Pagi itu akan menjadi pagi yang tak terlupakan sepanjang waktu.
***
Gedung pernikahan yang sangat luas dan megah dengan nuansa white silver memenuhi ruangan itu. Gedung yang mampu menampung ribuan orang itu tampak elegant dan glamour. Semua tamu undangan hadir di acara pernikahan kami. Baik keluarga, sanak saudara, kenalan, sahabat, rekan bisnis, dan semua orang yang terlibat. Pagi itu yang akan melakukan akad nikah hanya Rangga dan Adelina. Aku dan Albern sudah melakukan akad nikah.
Aku dan Adelina sudah cantik dan anggun mengenakan gaun pengantin kami. Ke luar diiringi rombongan pengantin wanita. Rangga dan Albern sudah menunggu di dalam ruangan.
Pagi itu aku dan Adelina duduk di tempat akad untuk perempuan. Sedangkan Rangga bersiap akad ditemani Albern. Riffai dan Om Barra jadi saksi pernikahan mereka.
Akad itu dimulai. Papa dan Rangga melakukan akad nikah. Rangga terlihat tegang dan grogi. Namun lancar mengucapkan kalimat akad nikah itu.
"Alhamdulillah," ucap semua orang di ruangan itu.
Rangga tersenyum. Melihat Adelina yang duduk di seberang. Matanya terus menatap Adelina yang cantik dan anggun.
Setelah acara akad, acara resepsi digelar meriah. Artis dan penyanyi terkenal unjuk kebolehan. Papa sengaja menyewa mereka semua. Aku dan Alber berdiri di pelaminan begitupun Rangga dan Adelina.
Semua Keluarga Ariendra hadir di acara itu. Aku tak bisa menyebutkannya satu-satu karena Keluarga Ariendra menjadi begitu banyak. Dari keturunan Tante Haura, Tante Deena, Om Aksa, Om Farhan, dan yang lainnya. Aku bahkan tak ingat semua namanya. Namun kekeluargaan di antara kami terjaga meskipun Kakek Leo Ariendra dan Nenek Zara Kanaya sudah tak ada di sisi kami lagi. Perbuatan baik mereka menurun ke semua anak dan cucunya.
__ADS_1
Siapa yang tak mengenal Kakek Leo Ariendra. Beliau orang terkaya di Negara A. Orang yang baik dan dermawan. Satu hal yang selalu diingat orang, kakek selalu membantu siapapun yang membutuhkan bantuannya.
Acara pernikahan itu sangat meriah. Aku dan Albern sampai berdiri seharian menyalami tamu undangan. Sesekali duduk karena rasa lelah. Meskipun begitu kami senang mereka bersedia hadir menghadiri acara pernikahan kami.
Setelah acara selesai, Rangga dan Adelina pergi ke hotel duluan. Sedangkan aku dan Albern pergi ke rumah baru yang diberikan Papa untuk kami. Albern sengaja mengajakku ke rumah baru itu. Dia tidak memilih ke hotel. Kami tiba di rumah itu pukul 8 malam.
Rumah itu cukup besar. Dari luar dihiasi lampu-lampu hias dan bunga-bunga serta balon warna-warni. Mungkin itu sudah dirancang Albern untuk menyambut kedatanganku ke rumah itu.
"Bagus gak sayang?" tanya Albern.
"Iya bagus suamiku," jawabku.
"Semua ini aku persiapkan dari kemarin saat Papa memberi rumah ini untuk kita," ujar Albern.
"Aku suka, kita akan tinggal di sini?" tanyaku.
"Iya, anak-anak kita akan lahir dan tumbuh di sini," ujar Albern.
Aku memeluk Albern. Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Perasaan baru kemarin ditinggal Albern menjalankan misi dari Papa tapi sekarang kita sudah bersama lagi.
Albern mencium keningku. Turun ke bawah mencium bibirku.
"I Love You," ucap Albern usai menciumku. Matanya melihat mataku.
"I Love You Too," sahutku sambil tersenyum.
Albern membopongku. Masuk ke dalam rumah itu. Tak ada orang di dalamnya. Baik pelayan atau pembantu. Di luar hanya ada sekuriti.
"Kok sepi suamiku?" tanyaku.
"Biar puas malam pertamanya hanya berdua," jawab Albern. Dia berusaha untuk menggodaku. Maklum selama ini kita terpisah. Sesekali bersikap mesum di depan istrinya tidak masalah. Toh kami sudah halal.
Aku tersenyum malu. Mendengar ucapan Albern yang begitu menggoda.
"Kita bisa jelajahi semua tempat," ucap Albern.
Aku kembali tersenyum malu.
__ADS_1
Albern membopongku naik ke lantai atas. Kami masuk ke dalam kamar pengantin. Kamar yang dihias begitu indah untuk malam pertama yang akan kami habiskan bersama