ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 88


__ADS_3

"Farhan sangat baik Bu, dan Aksa sangat lugu," ucap Kiara.


"Keduanya punya kelebihan masing-masing, kau taukan maksudku? kalau kau bisa menikahi salah satunya dan berhubungan dengan yang satunya. Kau akan menggenggam dua tahta ditanganmu," ujar Ibu Yesi.


"Ibu, aku tidak tertarik dengan keduanya. Justru aku tertarik dengan seseorang yang ada didalam keluarga Ariendra," sahut Kiara.


"Siapa?" Tanya Ibu Yesi.


"Ada deh, ibu kepo ya." Kiara sengaja merahasiakan orang yang membuatnya tertarik dari ibunya.


"Kau fokus saja pada keduanya, masalah yang itu kita urus nanti setelah kau dapatkan keduanya," ucap Ibu Yesi.


"Terserah ibu, aku mandi dulu, nanti kalau Farhan mencariku, suruh tungguin ya Bu," kata Kiara.


"Oke, dandan yang cantik biar Farhan tambah cinta," saran Ibu Yesi.


"Iya."


Kiara meninggalkan ruang tamu. Dia masuk ke dalam toilet. Sementara itu diluar Farhan masih berbicara dengan Aksa.


"Aku tidak menyalahkanmu kalau kau suka pada Kiara, tapi seharusnya kau bisa menjaga sikap dan jarakmu dari Kiara," ucap Farhan.


"Aku hanya akan melakukan apa yang baik untuk Kiara selama dia masih single," kata Aksa.


"Oke, karena kau tidak ingin mundur, jadi kita akan bersaing secara sehat, siapa yang akan menikahi Kiara?" Ucap Farhan.


Aksa hanya mengangguk. Farhan berbalik dan berjalan memasuki rumah Kiara sedangkan Aksa berjalan memasuki mobil pribadinya. Aksa meninggalkan rumah Kiara.


Didalam ruang tamu Farhan duduk bersama ibu Yesi. Dia sudah akrab dengan ibu Yesi sejak Farhan masih SMA. Dari dulu Farhan selalu antar jemput Kiara sekolah dan sering main ke rumah Kiara. Ibu Yesi tahu sekali kalau Farhan sangat mencinta Kiara.


"Farhan, Kiara tuh tiap hari naik bus, kadang taksi bahkan angkot. Ibu kasihan melihatnya, tapi demi menjadi tulang punggung keluarga dia rela melakukan itu semua," ujar Ibu Yesi.


Farhan langsung memikirkan ucapan Ibu Yesi. Dia tak tega kekasihnya itu harus menderita seperti itu. Apalagi selama ini Kiara tak pernah mengeluh.


"Tante nanti Farhan belikan mobil untuk Kiara agar dia tidak lagi naik angkutan umum," ucap Farhan.


"Terimakasih sekali nak Farhan," sahut Ibu Yesi.


Ibu Yesi senang sekali ternyata lebih mudah meminta sesuatu pada Farhan.


"Ibu tuh pengen nelpon Kiara kapanpun, video call gitu, tapi handphone ibu jadul ya ndak bisa. Mau minta Kiara beliin handphone baru tapi ndak enak. Ngumpulin dari dagang kosmetik tapi belum juga terkumpul, bingung jadinya," ucap Ibu Yesi.


"Tenang tante, nanti Farhan beliiin handphone terbaru untuk tante, biar tante bisa sepuasnya video call sama Kiara," ucap Farhan.


"Kemarin itu Kiara diuber sama rentenir gara-gara hutang yang belum bayar, tahu sendiri nak Farhan selama ini Kiara yang membiayai biaya berobat bapaknya, ibu baru tau kalau dia sampai pinjem sama rentenir, hik hik hik ibu kasihan sama Kiara," ucap Ibu Yesi.


"Tante punya no telpon rentenir itu?" Tanya Farhan.


"Punya, waktu itu Tante sengaja mengambil tanpa sepengetahuan Kiara," ucap Ibu Yesi.


"Kalau gitu saya minta nomor telpon rentenir itu," ucap Farhab.


"Oke," kata Ibu Yesi.


Ibu Yesi menulis nomor telpon rentenir itu dikertas lalu memberikannya pada Farhan. Dia yakin masalah keluarganya akan selesai ditangan Farhan yang cinta mati pada Kiara.


"Tante gak usah khawatir, rentenir itu tidak akan mengejar Kiara lagi, tapi aku minta satu hal sama tante," ujar Farhan.


"Terimakasih nak Farhan, oya apa yang kau minta?" Tanya Ibu Yesi.

__ADS_1


"Tolong yakinkkan Kiara untuk memilih saya yang jadi suaminya, itu saja Tante," kata Farhan.


"Beres, lagi pula hanya nak Farhan yang dari dulu bersama Kiara," ucap Ibu Yesi.


"Aku sih maunya dapet dua-duanya, biar double pemasukannya," batin Ibu Yesi.


Ibu Yesi sedang putrinya diperebutkan Farhan dan Aksa. Keduanya cucu dari Leo Ariendra, salah satu orang terkaya dinegara A. Apapun bisa dimilikinya kalau putrinya menikahi salah satunya atau justru bisa memiliki keduanya.


************


Sore itu Aksa pergi ke rumah Leo Ariendra, kakeknya. Sudah lama tak berkunjung ke rumahnya. Kakeknya adalah orang yang menjadi motivator dalam hidupnya. Bagaimana tidak Leo mengawali semuanya dari nol. Dia harus berjuang mati-matian untuk diposisinya sekarang. Tapi yang membuat Aksa bangga, Leo selalu rendah hati dan sikap dermawannya itu tiada duanya. Aksa menghampiri kakeknya yang sedang duduk dimushola pribadinya. Setelah tua Leo lebih banyak menghabiskan waktu dimushola dan masjid. Dia lebih mendekatkan diri pada Allah. Aksa duduk disamping Leo yang sedang berdzikir.


"Mukamu masam, apa kau sedang patah hati?" Tanya Leo.


"Kok kakek tahu," jawab Aksa.


"Hemmm, kakek sudah banyak makan asam garam, tentu tahu apa yang kau rasakan," sahut Leo.


"Kek, orang yang ku suka disukai saudaraku juga, apa yang harus ku lakukan?" Tanya Aksa.


"Ikhlas," ucap Leo.


"Loh kok ikhlas kek?" Tanya Aksa.


"Memperebutkan sesuatu yang belum tentu jadi milikmu tidak akan membuatmu senang, tapi jika kau ikhlas, dia akan kembali padamu kalau memang jodohmu. Dari pada kamu babu hantam atau bertengkar dengan saudaramu sendiri hanya karena satu orang wanita," ujar Leo.


Aksa memikirkan nasihat Leo, dia terlanjur menyukai Kiara, akan sulit untuk melupakannya dengan mudah.


"Tapi kek, melupakan seseorang yang kita sukai itu sulitkan, gimana caranya?" Tanya Aksa.


"Perbanyak mendekatkan diri pada Allah, ingat! kita tidak boleh mencintai apapun didunia ini melebihi cinta kita pada Allah, semua orang mungkin saja berkhianat dan meninggalkanmu tapi tidak dengan Allah. Dia akan selalu ada untukmu, kapanpun dan dimanapun," ucap Leo.


Leo menepuk bahu Aksa perlahan.


"Kau masih muda, banyak hal yang akan membuatmu belajar. Tapi satu hal yang harus selalu ada," ucap Leo.


"Apa kek?" Tanya Aksa.


"Imanmu pada Allah, itu saja. Apapun akan mudah kau lalui," ucap Leo.


Aksa tersenyum. Benar kata kakeknya, apapun akan mudah dilalui selama ada Allah dalam hati dan pikiran kita.


**********


Barra, Deena, Alvan, Haura, Farel, Alina dan Kaisar naik kapal menuju Pulau Pohon. Mereka berdiri dipembatas kapal sambil menikmati pemandangan pagi hari dilautan yang terbentang luas. Angin sepoi-sepoi hilir mudik, matahari mulai terbit dan suara burung-burung camar berterbangan. kapal-kapal nelayan mulai berlabuh ke tepi. Ikan lumba-lumba terlihat berenang kesana kemari.


"Sayang kalau kaya gini berasa bulan madu beneran," ucap Barra.


"Emangnya kita ini gak lagi bulan madu, Om?" Tanya Deena.


"Bulan madu, gak sabar," ucap Barra.


"Jangan genit disini Om, gak enak sama pasangan lainnya," ucap Deena.


"Mereka lebih gragas tuh, kita aja yang kalem," ucap Barra.


"Yang bener?" Tanya Deena.


Barra menunjuk ke arah pasangan lainnya. Deena terkejut melihat Alvan ciuman dengan Haura, Farel memeluk Alina. Dan Kaisar mencium si Bolo dan Lolo.

__ADS_1


"Tuh kan mereka lebih gragas, kita yuk," ajak Barra.


"Jangan disini, cari tempat yang sepi," ucap Deena.


"Aku tahu yang," ucap Barra.


Barra dan Deena pergi ke belakang kapal. Mereka berdiri sambil memancing ikan.


"Iya sih sepi, tapi dimana romantisnya coba," ucap Barra.


"Om memancing itu kegiatan romantis, kalau dapet ikankan sekalian buat sarapan," ucap Deena.


"Bener sih, tapi gimana mau dapet ikan kalau kamu minta gendong juga," ucap Barra.


Barra menggendong Deena sambil satu tangannya menancing.


"Inikan kita udah romantis Om, satu kali berlayar dua tiga pulai terlampaui," ucap Deena.


"Kalau gitu cium dulu biar semangat," pinta Barra.


Cup


Deena mencium pipi Barra.


"Enaknya dapet ciuman istri cantik," ucap Barra.


"Om, jangan mikirin itu terus. Tuh pancingnya gerak, pasti dapet ikan," ujar Deena.


"Eh iya sayang," ucap Barra.


Deena turun dari gendongan Barra. Mereka menarik pancingnya sekuat tenaga. Mungkin saja ikannya besar. Mereka terus menarik hingga tertarik ke atas kapal.


"Wah dapet banyak ya Om," ucap Deena.


"Iya sih, tapi gak ikan hiu pakai rok juga yang kita pancing," ucap Barra.


"Eh iya ikan hiunya pakai rok, lucu." Deena sampai tertawa melihat ikan hiu memakai rok.


"Udah sayang kita lepasin lagi kasihan."


"Oke," ucap Deena.


Barra mengambil ikan hiunya, baru memegang tangannya digigit ikan hiu.


"Aw...sakiiiiit," ucap Barra.


"Om jarimu digigit hiu." Deena menghampiri Barra dan memegang tangannya yang luka.


"Iya sayang, mungkin hiunya lagi pms atau suaminya direbut pelakor jadi gini deh," ujar Barra.


Deena tertawa dengan ucapan suaminya. Dia mengobati luka dihari Barra kemudian melepaskan ikan hiu itu lagi ke laut.Mereka kembali memancing hingga mendapatkan banyak ikan.


"Wah sayang sepertinya kita dapet ikan banyak, dari tadi udah berapa ekor ya yang ditangkap," ucap Barra.


"Iya, coba lihat sayang," ucap Deena.


Barra berbalik sambil menggendong Deena.


"Loh ikannya pada kemana?" Tanya Barra.

__ADS_1


"Iya Om," ucap Deena.


__ADS_2