ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 53


__ADS_3

Deril masih melawan Axel. Dia tak mau mengalah. Waktunya sudah tak banyak lagi. Dia ingin menyelesaikan semuanya malam ini. Baku hantam di antara keduanya sengit. Axel terjatuh di lantai. Deril mrnghampirinya. Dia meraih kerah baju Axel. Hendak menonjoknya tapi ditahan tangan Albern. Pertarungan beralih pada Albern dan Deril diselingi pembicaraan di antara keduanya.


"Hentikan hal bodoh ini!" pinta Albern.


"Aku hanya punya waktu malam ini, besok mungkin aku akan mendekam di penjara," ucap Deril.


"Kenapa kau sia-siakan masa mudamu, kau masih sekolah, seharusnya itu lebih penting," ujar Albern berusaha menasehati Deril.


"Aku hanya mencari keadilan untukku dan temanku, aku muak bulliying yang mereka lakukan," ungkap Deril memberi opininya.


"Keadilan semacam apa yang sekarang kau lakukan dan dapatkan? Kau hanya melukai banyak orang, merugikan dirimu sendiri dan orang-orang yang tak ada sangkut pautnya dengan pembalasanmu," ujar Albern.


"Aku tidak peduli, aku ingin mereka merasakan sakitnya yang kurasakan," kata Deril.


"Bulliying tak akan berhenti karena hal ini, kau akan menyisakan dendam dan luka yang membekas pada para korban dan siapapun yang dirugikan," ungkap Albern.


Mereka terus berkelahi sambil berbicara satu sama lain. Deril tak ada lelahnya, ambisi dan dendam membuatnya terus bertahan tak ingin menyerah demi tujuannya. Albern terus mengimbanginya sambil mencari cara mengulur waktu, polisi akan segera datang.


"Anita akan sedih saat tahu apa yang kau lakukan sama saja dengan mereka yang membullimu," ujar Albern.


"Diam! Kau tidak boleh menyebut nama itu, hanya aku yang boleh menyebutnya," ucap Deril.


"Kau sama saja dengan mereka, hanya bisa melakukan kekerasan, dan merusak apa yang seharusnya dijaga," ujar Albern.


"Aku bukan mereka!" pekik Deril.


"Bukan mereka? Lihat dirimu, apa yang kau lakukan? Banyak teman-teman yang simpati padamu tapi kau membawa mereka dalam bahaya," ujar Albern.


Deril terdiam. Berhenti. Dia teringat teman-teman yang tak ada sangkut pautnya dengan masa lalunya. Benar kata Albern, teman-temannya itu jadi dalam bahaya dan rasa ketakutan.


"Kenapa kau sia-siakan semuanya, sang pembulli akan dapat balasannya, tak harus dari tanganmu, ada Allah yang akan bergerak dengan caranya, kau hanya perlu menunjukkan prestasi dan buat mereka malu dan mengakui kesalahan mereka di masa lalu, itu cara yang bijak untuk membalas semuanya," ungkap Albern.


Deri menangis. Dia teringat Anita dan luka di masa lalu akibat bulliying. Dia hanya anak sekolah biasa yang ingin sekolah dengan bahagia. Menjalani sekolahnya seperti umumnya. Namun bulliying tak terelakkan. Dia hanya tertindas yang tak mampu melawan saat itu.


"Aku selaku pemilik sekolah, berjanji, tak akan boleh lagi ada bulliying di sekolah ini, akan ku sampaikan pada semua orang betapa bahayanya dampak bulliying bagi pelaku dan korban," ujar Albern.


Deril mengambil bensin, membawanya ke dalam ruang kesenian. Mengunci pintu. Dia menyiram ruangan itu dengan bensin lalu menyalakan api. Deril ingin membakar dirinya, dia merasa semua sudah berakhir. Dia menyesal.


Albern di luar pintu bersama Axel berusaha mendobrak pintu. Api mulai merambat. Deril hanya berdiri terdiam.


"Axel kita harus bisa mendobrak pintu ini, Deril harus selamat," ujar Albern.


"Iya, lebih kuat lagi, pintu ini akan terbuka," ucap Axel.

__ADS_1


Mereka menggunakan seluruh tenaga yang tersisa untuk mendobrak pintu.


Bruuug ...


Axel dan Albern berhasil mendobrak pintu hingga terjatuh di lantai. Axel terjatuh dengan keras, dia sulit bangun karena punggungnya terbentur lantai dengan keras. Segera Albern menghampirinya.


"Axel kau tak apa-apa? tanya Albern.


"Selamatkan Deril!" pinta Axel.


"Tapi kau?" tanya Albern.


"Aku baik-baik saja Kak," jawab Axel tersenyum.


Albern terharu, mengusap kepala Axel dengan lembut.


"Jaga dirimu, kita akan bertanding bola lagi seperti dulu," ujar Albern.


"Kali ini aku akan menang," ucap Axel.


"Oke, kau berhutang menang padaku," sahut Albern.


Axel mengangguk. Dia senang hubungannya dengan kakaknya sudah membaik. Tanpa basa basi lagi, Albern menghampiri Deril. Mengajaknya ke luar sebelum api membakar semua ruangan itu.


"Aku ingin mati, biar ku tebus semua kesalahanku di sini," ujar Deril.


"Bukan begini caranya, kau pikir mati itu enak, pertanggunjawaban seperti apa yang akan kau bawa mati?" tanya Albern.


"Aku ...," ucap Deril.


"Masa depanmu masih bisa lebih baik, kau masih bisa mengukir prestasi, dengan cara apapun," ujar Albern.


"Aku gagal," ucap Deril.


"Setiap orang pernah gagal, aku juga pernah gagal, tapi bagaimana cara memperbaiki kegagalan itu, ku dengar kau siswa terpintar di sekolahmu dulu, kau bisa membuat robotik buatan bukan?" ujar Albern.


"Iya," jawab Deril.


"Aku akan memfasilitasi mu agar kau bisa mengembangkan bakatmu meski di dalam penjara, ketika kau ke luar nanti, kau sudah punya kemampuan yang tidak semua orang mampu sepertimu," ujar Albern.


"Kenapa kau memberiku kesempatan?" tanya Deril.


"Siapa pun berhak mendapatkan kesempatan, siapapun boleh berkarya dan mengejar mimpinya, tak ada jeruji besi yang mampu menghalangi sebuah mimpi dan karya," ujar Albern

__ADS_1


Deril tersenyum. Namun api semakin besar. Bahkan kayu dari atap terjatuh ke bawah. Albern segera menarik lengan Deril membawanya lari ke luar. Tinggal Axel yang masih di dalam. Dia tak mampu bangun, Axel sudah pasrah.


"Axel!" teriak Raina masuk ke dalam kobaran api di ruangan itu.


"Raina ... Raina ...," panggil Axel pelan.


Segera Raina menghampiri Axel. Membantunya bangun.


"Pergilah! Kau bisa mati terbakar," ujar Axel.


"Tidak, aku ingin pergi bersamamu," jawab Raina.


"Kalau kau tetap kekeh, kau akan mati bersamaku di sini," ujar Axel.


"Aku lebih senang mati bersamamu dari pada hidup tanpamu Axel, aku tidak ingin ke luar tanpamu, aku akan di sini bersama jika kita tidak bisa ke luar bersama," ungkap Raina.


"Jangan bodoh," ucap Axel.


"Orang bodoh ini hanya mencintaimu, aku ingin melakukan pengabdianku yang terakhir untuk suamiku jika ini yang terakhir," ujar Raina.


Axel meraih tangan Raina berusaha bangun.


"Aku harus menyelamatkan istriku, itu tugas suami," ucap Axel.


Raina tersenyum sambil membantu Axel bangun. Perlahan dan terus berusaha, akhirnya Axel bisa bangun dan berdiri.


"I Love You," ucap Axel.


"Ayo kita ke luar, api semakin besar," ujar Raina.


"Kau akan menjawabnyakan?" tanya Axel.


Raina mengangguk. Akhirnya mereka ke luar bersama. Di luar polisi baru datang, begitupun pemadam kebakaran. Semua siswa diamankan, Deril ditangkap. Albern segera membawa Aara ke rumah sakit. Mereka naik ambulan menuju rumah sakit.


Di perjalanan Aara terus memegang tangan Albern. Tak hentinya tersenyum dan menatap wajahnya.


"Sayang kau akan baik-baik saja, percayalah!" ujar Albern.


"Aku sudah bahagia jika harus pergi, terimakasih suamiku, aku mencintaimu," ucap Aara.


"Jangan mengatakan hal itu, aku ingin kau ada bersamaku selamanya sampai tua nanti," tolak Albern.


Aara tersenyum. Wajahnya sudah pucat. Albern membelai wajahnya. Mencium tangannya. Dia menangis, baru kali ini dia menangis dan sangat mengkhawatirkan seseorang dihidupnya. Dia sadar Aara sangat berarti untuknya.

__ADS_1


__ADS_2