
"Disini kalau sakit tidak ada Dokter atau tenaga kesehatan dan...?" ucap Nenek Inem.
"Dan apa Nek?" tanya Alina balik penasaran. Dia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Nenek Inem.
"Kalau sakit dia tidak boleh dirumah harus menepi dan menyendiri," ucap Nenek Inem menjelaskan.
"Menepi, menyendiri, apa maksudnya Nek?" tanya Alina ingin tahu yang sebenarnya.
"Dia harus tinggal dibawah pohon besar sampai sembuh atau mati," ucap Nenek Inem.
"Kenapa harus begitu? diakan butuh obat Nek bukannya harus sendiriaan menghadapi rasa sakitnya," ucap Alina.
"Itu sebabnya jangan sampai ada yang tahu kalau temanmu sakit, kalau tidak kepala suku dan warga akan membawa temanmu ke pohon besar dihutan dekat pantai," ucap Nenek Inem.
"Kenapa harus begitu?" tanya Alina. Dia merasa peraturan yang aneh. Seharusnya orang sakit diobati bukannya malah disuruh menyendiri sampai sembuh atau mati.
"Ceritanya panjang, dulu desa ini terkena wadah penyakit yang ditularkan oleh seorang warga. Hampir seluruh penduduk tertular penyakit misterius itu. Banyak warga yang mati dadakan. Hingga diputuskan bagi yang sakit harus menepi dan menyendiri dibawah pohon sampai sembuh atau mati, itu semua dilakukan agar wadah tak menjangkiti yang lain," ucap Nenek Inem.
"Tapi Nek, tidak semua penyakit itu menular, ada penyakit akan sembuh tanpa dengan mudah, bahkan tidak menyebabkan kematian," ucap Alina.
"Iya nenek juga merasa seperti itu, hanya saja kepala suku membuat peraturan yang harus dipatuhi semua warganya," ucap Nenek Inem.
"Apa disini tak ada tenaga kesehatan?" tanya Alina.
"Tidak, kepala suku melarang. Kayanya tenaga kesehatan membawa wadah yang akan menyebar ke seluruh warga," ucap Nenek Inem.
"Aneh, tenaga kesehatankan membantu kita untuk bisa sembuh kembali, dia akan mendiagnosa sakit kita dan memberi obat," ucap Alina.
"Nenek hanya memberi tahu, apapun itu terserah kalian," ucap Nenek Inem.
"Terimakasih Nek," ucap Alina.
Alina membawa es batu yang belum keras ke ruang tengah. Dia memberikan es batu itu pada Kaisar. Pikirannya terus mengingat perkataan Nenek Inem.
"Aw...aw...aw...perutku sakit, tolongin," ucap Kaisar.
"Sabar ya Kaisar," ucap Alina.
"Kaisar minum airnya ya?" tanya Deena sambil menyodorkan air minum.
"Apa kita bawa ke puskesmas dekat sini?" tanya Barra.
"Disini tidak ada tenaga kesehatan satupun," jawab Farel.
"Apa?" Alvan terkejut. Di Pulau Pohon tidak ada tenaga kesehatan.
"Kok bisa?" tanya Deena.
"Dari zaman dulu tidak boleh ada tenaga kesehatan disini," ucap Alina.
"Kalau orang sakit gimana?" tanya Haura.
__ADS_1
"Dia harus menepi dan menyendiri dibawah pohon besar dihutan dekat tepi pantai," ucap Alina.
Semuanya terkejut mendengar ucapan Alina. Terdengar seperti lulucon yang aneh. Tapi dari wajah Alina tak tampak dia berbohong. Mereka yakin apa yang dikatakan Alina itu benar.
"Masa iya orang sakit malah suruh menepi dan menyendiri dibawah pohon?" ujar Haura.
"Yang ada tambah parah," ucap Deena.
"Kalau dia semakin parah bisa dipastikan malah mati," ucap Alvan.
"Aku rasa peraturan seperti itu pasti ada penyebabnyakan?" ucap Barra.
Alina akhirnya menceritakan semua yang didengar dari Nenek Inem. Semua cerita itu membuat mereka merasa tak masuk akal. Tenaga kesehatan yang seharusnya ada malah dilarang. Warga yang sakit malah disuruh menepi dan menyendiri dibawah pohon sampai sembuh atau mati. Sekilas mereka teringat ucapan Kaisar malam lalu.
"Berarti apa yang dilihat Kaisar tadi malam itu benar," ucap Farel.
"Bisa jadi, orang yang kesakitan malam-malam itu..." ucap Barra.
"Orang sakit yang ada dibawah pohon besar," ucap Alvan.
"Iya betul," ucap Semuanya.
"Berarti pola pikir kepala suku dan warga salah," ucap Deena.
"Kita harus meluruskan semua ini," ucap Haura.
"Aku setuju, biar bagaimanapun peraturan semacam ini salah, dan justru membuat orang yang sakit jadi tersiksa," ucap Alina.
"Malah semakin tambah sakit karena tidur diluar malam hari, udaranya kan dingin," ucap Deena.
"Hik hik hik aku gak mau menepi dan menyendiri teman-teman," ucap Kaisar.
Kaisar takut harus sendirian dibawah pohon. Apalagi sebelumnya dia melihat jasad berserakan dibawah pohon. Belum lagi tulang belulang yang menumpuk dan jasad yang busuk hingga menimbulkan bau yang menyengat. Dia tidak bisa membayangkan kalau harus seperti itu.
"Berarti kita harus menyembunyikan Kaisar, jangan sampai ada yang tahu kalau dia sakit," ucap Barra.
"Betul, hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini," ucap Farel.
"Setuju," ucap yang lainnya.
Mereka semua sepakat untuk tidak memberitahu siapapun tentang sakit yang diderita Kaisar. Hanya cara itu yang sekarang bisa dilakukan dan berusaha mengobati Kaisar.
"Teman-teman perutku semakin sakit...sakit...aduh," ucap Kaisar.
"Aku akan mencari obat-obatan tradisional," ucap Farel.
"Aku akan membeli sesuatu dipasar siapa tahu akan meredakan rasa sakitnya," ucap Deena.
"Harus ada yang menjaga dipenginapan menjaga Kaisar," ucap Alvan.
"Kalau begitu, Farel dan Alina cari dan membuat obat-obatan tradisional, aku dan Deena ke pasar, Alvan dan Haura disini menjaga Kaisar," ucap Barra.
__ADS_1
"Oke setuju," ucap Semuanya.
Akhirnya semua membagi tugas mereka. Kaisar terus memegang perutnya yang semakin sakit. Sementara yang lain pergi keluar penginapan sesuai tugas mereka.
***********
Farhan pulang ke rumah orangtuanya. Dia memarkirkan mobil diparkiran halaman depan. Turun mobil, berjalan memasuki rumahnya. Diruang tamu sudah ada Lilia dan keluarganya. Farhan menyapa dan tersenyum menyambut mereka. Dia duduk diruang tamu bersama semuanya.
"Farhan, kamu ingatkan ini siapa?" tanya Azkia menunjuk ke arah Lilia anak Andra-Zhafira.
"Ingat, waktu nikahan Om Barra dan Deena kita sempat bertemu," ucap Farhan.
"Ini anaknya Om Andra dan Tante Zhafira," ucap Azkia.
"Oh anak Om Andra dan Tante Zhafira," ucap Farhan.
"Iya nak Farhan, ini Lilia adik Hanan," ucap Andra.
"Sudah lama ya kita tak ngumpul bareng, padahal dulu waktu kecil Farhan sering main sama Hanan dan Lilia," ucap Zhafira.
"Iya tante, ya walaupun itu dulu, Farhan masih ingat," ucap Farhan.
"Farha, Lilia ini lulusan luar negeri seperti kamu. Dia lulusan terbaik loh," ucap Azkia memuji Lilia.
"Bukan hanya itu, Lilia juga seorang Dokter terbaik dikota kita," ucap Raka yang juga ikut memuji Lilia.
"Om dan Tante terlalu memuji," ucap Lilia.
Dari pembicaraan kedua orangtuanya Farhan tahu arah pembicaraan mereka kemana. Dia sadar betul orangtuanya ingin mendekatkan dia dan Lilia.
"Pa, Ma, Om, Tante, Lilia, aku naik ke kamar dulu," ucap Farhan.
"Iya," ucap Andra, Zhafira, dan Lilia.
"Farhan baru juga datang, mengobrol dulu disini," ucap Raka.
"Maaf Pa, aku capek," ucap Farhan.
Farhan berdiri, berjalan menuju ke arah tangga. Azkia membuntutinya. Dia menarik lengan kemeja Farhan.
"Farhan," panggil Azkia.
"Apa sih Ma? Farhan capek," ucap Farhan.
"Farhan tidak baik meninggalkan tamu sebelum mereka pulang," ucap Azkia.
"Kan ada Papa dan Mama," ucap Farhan.
"Mereka kesini atas undangan Mama, agar kau dan Lilia...," ucap Azkia.
"Dijodohkan? iyakan Ma?" tanya Farhan.
__ADS_1
NB :
Kalau ada saran atau keluhan mengenai novel ini bisa chat group ya. Kebetulan group baru dibuat. Disana saya Insya Allah menjawab pertanyaan reader lebih mudah dan cepat.