
Tiga hari kemudian. Aku masih termenung. Tak ada kegiatan yang ku lakukan selain berdiam diri di tenda. Aku hanya diam tak berbicara sepatah katapun. Meskipun semua orang lulu lalang di depanku. Anak-anak menangis. Dan para orang tua mengeluh. Semangat hidupku seakan menghilang. Apalagi ku dengar banyak mayat yang ditemukan diberbagai tempat. Identitas mereka sulit dikenali karena mayatnya sebagian utuh, sebagian tidak utuh bahkan ada yang mulai membusuk.
Aku sudah tak punya harapan. Mungkin semua orang yang ku kenal mati. Aku tak berani melihat mading tempat nama-nama orang meninggal yang dipajang tak jauh dari tenda tempatku berada.
Adelina masuk ke tenda menghampiriku. Selama tiga hari ini, sesekali dia datang menghibur dan mengajakku mengobrol disela-sela kegiatan kemanusiaannya.
"Apa kau ingin berkeliling?" tanya Adelina.
Aku hanya diam. M€r€mas baju di pangkuanku. Sejujurnya hatiku sesak. Tak ada lagi sisa yang bisa membuatku tersenyum.
"Di luar ada taman dadakan yang baru dibuat," ujar Adelina.
"Pergilah!" pbentakku pada Adelina.
"Astagfirullah," ucap Adelina terkejut.
"Jangan pedulikan aku," ucapku.
"Kalau kau seperti ini terus, semua tidak akan berubah. Jangan menunggu orang lain merubah keadaanmu sekarang jadi lebih baik tapi kau sendiri yang bisa merubahnya," ujar Adelina.
"Kau tidak tahu sakit yang ku rasakan, aku kehilangan semuanya," ujarku.
"Mungkin aku memang tidak merasakan yang kau rasakan tapi semua orang yang ada di sini merasakan yang sama denganmu," ucap Adelina.
Aku terdiam. Mataku melihat ke depan. Kosong dan hampa.
"Lihat anak kecil itu, semalam dia menangis merindukan ayah, ibu dan kakaknya. Semua anggota keluarganya meninggal. Dia masih kecil untuk menjaga dirinya saja tak bisa. Bagaimana dia bisa tertawa?" ujar Adelina sambil menunjuk ke arah anak kecil yang sedang bermain sendirian. Aku tahu dari semalam dia menangis memanggil ayah, ibu dan kakaknya. Tapi hari ini dia sudah berhenti menangis dan tak lagi memanggil anggota keluarganya. Dia terlihat sudah beradaptasi dengan keadaannya.
"Semua punya ujiannya masing-masing tapi bagaimana caranya bangkit dan merubah getir jadi senyuman," ujar Adelina.
Mataku melihat ke sekeliling. Beberapa orang yang terluka dan kehilangan anggota keluarganya sudah mulai bangkit dan menerima takdir mereka. Kenapa aku tak bisa?
"Aku mau pergi ke taman, menghibur anak-anak, kalau kau tertarik menyusullah," ucap Adelina.
Bahuku di tepuk perlahan oleh Adelina. Kemudian dia ke luar dari tenda.
Awalnya aku tidak tertarik. Tapi benar juga aku harus merubah keadaanku. Kembali memulai kehidupan baik ada Albern atau tidak.
Ku langkah kan kaki ke luar. Ternyata sangat ramai. Banyak orang melakukan berbagai kegiatan dari membantu petugas evakuasi, gotong royong mendirikan tenda baru, mengantri pembagian makanan, air bersih, ke toilet, sebagian membantu dapur umum, ada juga yang sedang mengikuti terapi healing, dan lebih kegiatan lainnya. Ternyata banyak yang ku lewatkan tiga hari ini. Sepertinya hanya aku yang terpuruk. Padahal semua orang di sini merasakan hal yang sama denganku. Tapi kenapa aku merasa paling sedih.
"Aara," panggil sebuah suara yang ku kenal.
Aku menoleh ke samping. Ternyata hanya halusinasiku. Ku kira Ami atau Dodo. Mungkin kalau ada mereka tak seperti ini paling tidak bibir ini akan tersenyum tipis.
Aku melihat orang-orang berkerumun di depan mading. Sebenarnya hatiku berat untuk melihat siapa saja korban yang sudah dapat diindentifikasi tapi aku ingin memastikan keluarga, teman dan kenalan masih hidup. Aku berjalan menuju mading. Bersabar sampai ke giliranku untuk melihat daftar itu.
"Anakku hik hik hik."
"Suamiku meningal, semua ini bohong hik hik hik."
Air mataku menetes di pipi. Aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Betapa perih dan getirnya harus kehilangan orang yang dicintai dan disayangi.
Ku langkahkan kaki maju lebih dekat dengan papan mading. Tanganku berat untuk mengudara mencari satu per satu nama yang ingin ku temukan.
"Nona cepatlah yang lain mengantri!"
"Iya," sahutku.
Aku mulai mencari dengan cepat. Mereka benar bukan hanya aku yang ingin tahu. Kalau aku hanya berdiam diri kasihan yang lain di belakangku.
Mataku naik turun mencari nama semua orang yang ku kenal.
"Ami, Dodo," ucapku lemas melihat nama mereka ada di mading. Rasanya tubuhku ini tak bisa digerakkan. Aku baru mendapati nama Ami dan Dodo sebagai daftar orang yang meninggal saja sudah tak ada tenaga. Gimana kalau aku ...
"Tidak, aku harus tahu," batinku.
Aku kembali melihat daftar nama. Ternyata semua anggota keluarga Albern meninggal dari nenek, ayah, dan ibunya. Begitupun beberapa teman dan orang yang ku kenal di sekolahku.
"Hik hik hik." Aku menangis. Tak mampu membendung air mataku.
Aku tak tahan. Ku langkahkan kaki ke luar dari kerumunan itu. Aku belum siap jika nama Albern, Bobo, Axel dan Raina ada di daftar itu.
Aku kembali berjalan menundukkan kepalaku. Tak sengaja aku bertubrukan dengan seorang lelaki yang sedang menelpon.
Tuaaar ...
__ADS_1
Handphone-nya terjatuh ke bawah. Namun aku masa bodoh. Tetap berjalan. Lelaki itu marah, menghampiriku.
"Nona handphone-ku jadi jatuh, lihat!" protesnya.
Aku menghentikan langkahku. Melihat handphone-nya yang terjatuh ke bawah. Handphone dengan casing pink. Membuatku melihat ke arahnya. Apa? Bahkan jas yang dipakainya pink juga.
"Itu handphone-mu?" tanyaku.
"Iya dong, handphone kesayanganku," ujarnya.
Lelaki itu mengambil handphone yang terjatuh. Dan memarahiku hanya karena casing handphone-nya kotor, tidak higenis, tercemar virus dan lecet.
"Tempat apa ini? Bajuku, barang yang ku pakai, tubuhku bisa tercemas virus dan bakteri," ujarnya.
"Kakak!" panggil Adelina melambai dari kejauhan ke arah lelaki berjas pink itu.
"Adel," sahutnya melambai.
Adelina menghampiri kami. Dia hendak memeluk kakaknya namun langsung disemprot menggunakan disinfektan yang dikeluarkannya dari sakunya.
"Pasti tubuhmu penuh kuman, bakteri dan virus, aku dan barangku bisa tertular," ujarnya.
"Kakak, di sini bersih," ucap Adelina.
"Perlu miskroskop untuk membuktikan tempat ini benar-benar bersih," ujarnya.
Aku terdiam melihat lelaki pinky yang superbersih ini. Baru beberapa menit, dia sudah bicara tentang penyakit dan kebersihan. Apalagi aku dan semua hal disini dianggap pembawa kuman, bakteri dan virus.
"Kak kenapa ke sini?" tanya Adelina.
"Mama menyuruhku menyusulmu, padahal tempat ini sangat tidak sterill, tahu gitu aku pakai baju APD, biar aman dan terhindar dari segala penyakit," ucapnya.
Adelina tersenyum mendengar kakaknya. Matanya beralih padaku. Dia memperhatikanku yang terdiam heran melihat kakaknya.
"Kak kau membuat ulah apa?" tanya Adelina.
"Siapa yang membuat ulah? Gadis jorok ini menyenggol handphone-ku. Lihat casing pinky kesukaanku kotor, penuh kuman, bakteri dan virus, lecet lagi," keluhnya.
"Sudahlah, nanti beli lagi," ucap Adelina. Mereka terlihat berbincang. Sepertinya Adelina sudah terbiasa dengan kebiasaan kakaknya.
Lelaki yang ku pikir maco, keren, kuat dan tangguh runtuh seketika saat melihat lelaki yang dipanggil kakak oleh Adelina. Lebih tepatnya gemulai.
"Iya, aku Aara," sahutku.
"Tadi ada yang mencarimu," ucap Adelina.
"Apa yang mencariku Albern?" tanyaku antusias.
"Bukan, namanya Axel dan Raina bersama seorang bayi bernama Bobo," jawab Adelina.
Hatiku sedikit kecewa. Ku pikir Albern yang mencariku ternyata bukan. Tapi mendengar Axek, Raina dan Bobo selamat aku ikut bahagia.
"Di mana mereka?" tanyaku.
"Ada di dekat tenda 10," jawab Adelina.
"Terimakasih Adelina," ucapku.
Adelina mengangguk.
Segera aku pergi menuju tempat yang diberi tahu Adelina. Meskipun dari belakang lelaki gemulai itu memanggilku.
"Nona kau masih punya hutang denganku, casing cantikku rusak!" teriaknya.
"Sudahlah Kak, ikut aku ke pos," ujar Adelina.
"Sorry, Kakak bawa tenda pribadi lebih sterill dan indah," sahutnya.
Aku menggeleng. Terus berjalan meninggalkan mereka.
Sampai di dekat tenda 10 aku melihat Axel, Raina dan Bobo. Aku berlari ke arah mereka dengan air mata di pipiku yang tak kuasa menetes.
"Axel, Raina," teriakku.
"Aara," sahut Axel dan Raina.
__ADS_1
Raina langsung memelukku. Sedangkan Bobo ada digendongan Axel. Aku menangis sejadi-jadinya di bahu Raina. Kesedihanku benar-benar pecah. Melihat mereka semakin membuatku mengingat Albern.
"Raina syukurlah kalian selamat," ujarku.
"Iya Aara, kami selamat," sahut Raina.
Kami duduk bersama menceritakan semua yang terjadi. Termasuk apa yang terjadi pada Albern. Axel terlihat sedih. Dia sampai mengepalkan tangannya. Matanya berkaca-kaca. Begitupun dengan Raina.
"Sabar ya Aara," ucap Raina padaku.
"Iya Raina," sahutku.
Setidaknya kehadiran mereka meringankan dukaku atas kepergian Albern. Kami saling berbicara. Sambil melihat kota kami yang sudah diterjang tsunami. Tinggal lahan yang kosong tanpa gedung-gedung tinggi dan kesibukan manusia yang pergi dan pulang kerja. Kami menatap masa depan baru.
Satu bulan berlalu. Aku ikut terjun merapikan kota dari sampah dan tumpukan bangunan yang tersisa. Sekalian mulai membangun kota kembali. Semua korban yang tidak ditemukan dinyatakan meninggal. Aku dan ratusan orang yang tak menemukan jasad dari orang tercinta kami hanya bisa berharap mereka baik-baik saja.
Adelina juga masih ada di kotaku. Dia membantu segala hal yang bisa dibantunya dari mengajar, terapi healing, dan hiburan untuk anak-anak. Bukan hanya itu Adelina yang seorang Dokter anak membantu pemerintah memberikan konsultasi gratis. Dia memeriksa anak-anak korban tsunami. Kakak Adelia yang merupakan seorang lelaki higenis yang sweet juga sesekali datang ke kotaku dengan segala alatnya yang anti kuman, bakteri dan virus. Seperti biasa dia sangat anti berdekatan atau tersentuh siapapun. Kemanapun suka memakai pakaian pink. Baik itu kaos, kemeja atau jas. Makhluk langka yang baru ku tahu.
***
Tiga bulan setelah tsunami perekonomian sudah mulai pulih. Bangunan-bangunan mulai berdiri di atas tanah. Keramaian jalanan mulai terdengar bising. Air bersih tak lagi langka. Pasar-pasar dan sekolah mulai beroperasi normal. Fasilitas umum yang melayani masyarakat sudah mulai dibuka dan memberikan pelayan. Seperti kantor polisi, rumah sakit umum bukan rumah sakit darurat lagi, kantor pemerintahan dan lainnya. Aku berdiri di depan kuburan massal. Jasad-jasad yang tak bisa diidentifikasi di kubur di situ. Aku membawa seikat bunga mawar ku letakkan di nisan kuburan massal. Mungkin saja Albern ada disalah satu jasad itu. Aku ingat persis dia terluka di pelipisnya, selain itu kedinginan dan terbentur berbagai benda saat terbawa arus. Kemungkinan selamat atau hidup sangat kecil. Hanya mukjizat Allah yang bisa membuatnya kembali. Dan aku selalu berdoa agar suatu hari nanti dia kembali.
Air mataku tak sanggup ku bendung kala mengingat Albern. Entah kapan kami bisa berjumpa lagi. Mungkin di surga nanti.
Dari belakang Axel, Raina dan Bobo menghampiriku. Mereka menguatkan ku.
"Aara Allah punya rencana yang indah baik itu untukmu atau abangku," ujar Axel.
"Iya, semua akan indah pada akhirnya," sahutku.
"Semua yang terjadi, hanya ikhlas yang membuat kita bisa melangkah ke depan," ucap Raina.
Aku mengangguk. Menyeka air mataku. Aku rasa jauh di sana Albern juga memikirkan hal yang sama denganku.
"Ayo pulang," ajak Raina.
"Iya," sahutku.
Kami berjalan meninggalkan kuburan massal itu. Kembali ke rumah sederhana pemberian pemerintah. Hampir ribuan rumah yang dibangun pemerintah untuk masyarakat. Baik itu dari dana pemerintah ataupun dana yang berasal dari donatur.
Rumah yang kami tinggali hanya memiliki dua kamar, ruang tamu dan dapur yang berdekatan dengan toilet. Kini Axel bekerja di sebuah parbrik baru. Sedangkan Raina membuka tempat makan.
Semua orang memulai hidup baru mereka. Berjuang dari nol kembali. Tak ada orang yang kaya, semua harta benda terbawa tsunami tak tersisa. Kesombongan yang dulu dibanggakan hilang ditegur alam. Kami semua kini sederajat. Tinggal di rumah sederhana dari pemerintah. Hanya pengusaha-pengusaha baru dari luar kota yang punya modal dan membangun usaha di kota kami.
Aku duduk bersama Raina dan Axel di ruang tamu.
"Aara kau akan pergi ke kota A?" tanya Raina.
"Iya, aku ingin memulai hidup baru di sana," jawabku.
"Kau akan kuliah?" tanya Raina.
"Aku tak punya uang untuk kuliah, mungkin aku akan kerja sambil kuliah di hari sabtu dan minggu," jawabku.
"Kenapa tidak di sini saja?" tanya Axel.
"Kalau di sini aku akan selalu teringat Albern dan merindukannya," jawabku.
Axel dan Raina terdiam. Mereka ikut merasakan apa yang kini ku rasakan. Tak mungkin mereka menghentikanku atau melarangku untuk tinggal. Sementara di tempat ini penuh kenangan untukku dan Albern.
"Kau harus sering menghubungi kami Aara," ujar Raina.
"Kalau kau butuh sesuatu beritahu kami, sebisa mungkin kami akan membantumu," ucap Axel.
Aku mengangguk.
"Bobo pasti akan merindumanmu," kata Raina.
Aku langsung berdiri menghampiri Bobo yang sudah bisa berdiri dan berbicara berbagai hal.
Ku peluk Bobo, mungkin esok aku tidak akan bertemu dengannya dalam waktu yang cukup lama.
"Bobo, Momy harus pergi, Bobo harus jadi anak yang baik, pinter dan sehat terus ya," pamitku pada Bobo sambil berurai air mata. Berat rasanya harus meninggalkan Bobo. Sejak kecil aku sudah merawatnya.
"Mo-mi ... Mo-mi ...," ucap Bobo.
__ADS_1
Ku peluk erat Bobo. Melihatnya seperti melihat Albern. Matanya, wajahnya, dan kebiasaannya mirip Albern. Aku jadi teringat dan rindu padanya.
Sejak saat itu aku memutuskan pergi ke kota A. Pertama aku bersilaturrahmi ke rumah Keluarga Besar Ariendra. Keluarga yang sangat kaya dan terkenal di kota A. Mereka sering disebut crazy rich dermawan.