
Pak Theo turun dari mobilnya bersama anak buahnya. Dia masuk ke Markas Api itu menuju ke ruang berpikir. Rehan terlihat lemah setelah semalaman kedua tangannya dirantai dan dicambuk berkali-kali. Pak Theo menghampiri Rehan yang sedang menundukkan kepalanya.
"Rehan aku sudah memberimu waktu berpikir, kau ikut denganku menghancurkan Leo Ariendra atau menjadi pengkhianat"ucap Pak Theo.
"..........."Rehan hanya terdiam.
"Ingat jika kau memilih ikut denganku menghancurkan Leo Ariendra, aku akan menjamin keselamatan Cinta. Tapi jika kau memilih jadi penghianat maka aku akan membunuh Cinta saat ini juga"ucap Pak Theo.
"Aku ikut denganmu menghancurkan Leo Ariendra"ucap Rehan.
"Bagus......aku suka keputusanmu itu"ucap Pak Theo.
"Pengawal bebaskan Rehan"ucap Pak Theo.
"Baik Bos besar"ucap Anak buah Pak Theo.
Anak buah Pak Theo membebaskan Rehan. Seketika Rehan duduk karena lelah semalaman berdiri dengan kedua tangannya dirantai.
"Bawa Rehan ke kamar atas, obati dia"ucap Pak Theo.
"Baik Bos besar"ucap Anak buah Pak Theo.
Rehan dibawa ke kamar atas Markas Api itu. Kamar itu berada dilantai tiga. Rehan masuk ke kamar itu lalu duduk diranjang kamar. Dia melepas pakaian atasnya lalu melihat luka cambuk dipunggungnya didepan kaca lemari. Luka cambuk itu memenuhi punggungnya. Rehan menyentuh luka cambuk itu dengan tangannya.
"Aw........lukanya cukup menyakitkan"ucap Rehan.
"Aku sudah menyetujui untuk menghancurkan Leo Ariendra yang telah membunuh ibuku, Cinta maafkan aku"ucap Rehan.
Seorang anak buah Pak Theo masuk ke kamar itu dan mengobati punggung Rehan.
"Aw...........Cinta"ucap Rehan saat berteriak memanggil Cinta.
Rasa perih dipunggungnya saat diobati tak sesakit rasa dihatinya. Rehan begitu terluka saat berada diantara cinta dan kebencian. Setelah lukanya diobati Rehan mengendarai mobilnya menuju ke tempat pemakaman ibunya di Pemakaman Mawar Hitam. Pemakaman itu terlihat sepi, Rehan membawa seikat bunga mawar merah untuk ibunya. Dia duduk disamping batu nisan itu.
"Ma, Rehan datang kesini untuk mengunjungi Mama. Maafkan Rehan selama ini sibuk dan jarang mengunjungi Mama"ucap Rehan.
"Haruskah aku membalas atas kematianmu Ma?" ucap Rehan.
"Aku mencintai Cinta yang ternyata anak dari Leo Ariendra, orang yang telah menabrak Mama"ucap Rehan.
Rehan terdiam sesaat lalu meletakkan seikat mawar merah itu didepan nisan ibunya. Kemudian dia berjalan keluar dari pemakaman itu.
************
Cinta sarapan bersama keluarganya diruang makan. Dia terlihat tak ***** makan. Tatapan matanya kosong memandangi sendok yang terus mengaduk-ngaduk nasi dipiringnya. Pikirannya terus memikirkan Rehan.
"Cinta, apa masakan Mama tidak enak sayang?"tanya Zara.
"Enak Ma"ucap Cinta.
"Kalau enak kenapa tidak dimakan?"tanya Zara.
"Ma, Kak Cinta pasti sedang merindukan Kak Rehan"ucap Marwa.
"Cinta, Rehan belum ada kabarnya sampai sekarang?"tanya Leo.
"Belum Pa"ucap Cinta.
"Biar nanti Kak Raka yang mencari orang asing tak tahu diri itu"ucap Raka.
"Cinta, setidaknya kamu harus tetap makan nak, nanti kalau sakit, Rehan pasti sedih"ucap Zara.
"Iya Ma"ucap Cinta yang terlihat tidak bersemangat itu.
Cinta mulai makan satu dua suap makanan itu. Meskipun mulutnya menolak, dia hanya memikirkan Rehan yang entah berada dimana.
Setelah makan Cinta pamit pada Leo dan Zara untuk pulang ke rumahnya.
"Pa, aku pulang dulu ke rumah ya, mungkin saja Kak Rehan ada dirumah"ucap Cinta.
"Iya nak, kalau ada apa-apa kabarin Papa ya"ucap Leo.
__ADS_1
"Iya Pa"ucap Cinta.
"Kalau kau sudah bertemu Rehan, kabarin kita ya nak"ucap Zara.
"Iya Ma"ucap Cinta.
"Cinta, Kak Raka antar ya"ucap Raka.
"Boleh Kak"ucap Cinta.
"Pa, Ma aku pulang dulu ya"ucap Cinta kembali pamitan.
"Iya nak, hati-hati dijalan"ucap Leo dan Zara.
"Pa, Ma aku antar Cinta dulu, assalamu'alaikum" ucap Raka.
"Wa'alaikumsallam"ucap Leo dan Zara.
Raka mengantarkan Cinta pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Cinta terlihat murung. Raka tahu begitu berarti Rehan untuk adiknya itu. Rehan sudah mengisi hati terdalam Cinta, hingga kehadirannya begitu penting untuk Cinta. Raka coba menghibur Cinta.
"Cinta kalau orang asing itu macam-macam diluar sana nanti Kak Raka sunatin sampai nangis"ucap Raka.
"Kak Raka, ada-ada aja"ucap Cinta sedikit tersenyum.
"Tenang Kak Raka akan cari orang asing itu sampai ke lubang belut sekalipun"ucap Raka.
"Ha...ha.....Kak Raka lucu"ucap Cinta.
"Nah gitu dong tersenyum Kak Raka jadi seneng ngeliatnya"ucap Raka.
Mobil itu melaju ke rumah milik besar Rehan. Sampai dirumah besar itu, Cinta pamitan pada Raka.
"Kak Raka makasih ya dah diantar pulang"ucap Cinta.
"Iya Cinta"ucap Raka.
"Aku turun ya Kak"ucap Cinta.
Cinta turun dari mobil Raka kemudian masuk ke rumahnya. Saat baru masuk Cinta langsung bertanya pada Mba Tin-tin.
"Kak Rehan sudah pulang atau belum ya Mba Tin-tin?"tanya Cinta.
"Sudah Non Cinta yang cantik bak rembulan malam"ucap Mba Tin-tin.
"Beneran?"tanya Cinta.
"Tapi ditemani duri-duri menyakitkan disekelilingnya Non"ucap Mba Tin-tin.
"Yaudah, aku ke atas dulu ya Mba Tin-tin"ucap Cinta.
"Hati-hati Non Cinta siapkan hati yang akan tersayat pisau tajam"ucap Mba Tin-tin.
Cinta berlari ke kamar atas menuju ke kamarnya. Saat membuka pintu kamar itu Cinta kaget saat melihat Rehan duduk diranjang dikelilingi wanita-wanita cantik dan seksi disamping kanan dan kirinya.
"Kak Rehan......"ucap Cinta berurai air mata yang menetes dipipi tanpa sadar.
"Sayang kau sudah pulang? maaf aku membawa simpananku ke rumah"ucap Cinta.
"Tidak....pasti ini hanya mimpi, Kak Rehan tidak mungkin seperti ini"ucap Cinta.
"Sayang inilah aku yang sebenarnya, kemarilah gabung bersama mereka memuaskanku"ucap Rehan.
Cinta mencubit tangannya sampai kesakitan hanya untuk membuktikan ini mimpi atau bukan.
"Sakit.....ini bukan mimpi hik...hik...."ucap Cinta.
Rehan berdiri dan menghampiri Cinta yang menangis melihat Rehan.
"Gadis kecil jangan menangis, kau harus tahu siapa aku yang sebenarnya"ucap Rehan.
"Tidak, Kak Rehan yang ku kenal tidak seperti ini" ucap Cinta.
__ADS_1
"Kau polos sekali gadis kecil, namanya penjahat tetap akan jadi penjahat, dan wanita bagiku hanya pemuas ***** belaka"ucap Rehan.
"Tidak, kau bohong ini pasti bukan dirimu yang sebenarnyakan hik.....hik....."ucap Cinta sambil menangis.
"Ya beginilah aku yang sebenarnya, kau hanya tertipu rayuan manisku kemarin"ucap Rehan.
"Aku tidak percaya, bagiku Kak Rehan tetap sama, aku tetap mencintaimu seperti sebelumnya Kak Rehan hik...hik....hik...."ucap Cinta.
"Ladies keluarlah"ucap Rehan pada semua wanita itu.
"Oke sayang"ucap Semua wanita itu.
Semua wanita itu keluar dari kamar itu. Kemudian Rehan menarik Cinta dan melemparnya ke ranjang.
Bruuuuuuug...........
"Kak Rehan kenapa kau kasar padaku?"tanya Cinta.
"Aku akan menunjukkan padamu betapa kasarnya aku"ucap Rehan.
Rehan memegang kedua tangan Cinta dengan tangan kirinya kemudian dia merobek-robek pakaian yang dikenakan Cinta. Dia menerkam Cinta dengan sangat kasar dan memburu.
"Kak Rehan sakit....."ucap Cinta.
Rehan tak menggubris dia terus menerkam Cinta sampai semua keindahan yang biasa mereka lalui berubah menjadi air mata Cinta yang kesakitan. Setelah dia menyudahi keinginannya dia keluar dari kamar itu. Cinta hanya menangis, dia tak percaya Rehan yang bersamanya tadi begitu buas seperti binatang yang memburu mangsanya.
"Kak Rehan....kenapa kau seperti ini padaku hik....hik....."ucap Cinta sambil menangis.
Cinta masuk toilet untuk mandi kemudian dia mengambil pakaian untuk dikenakannya. Dia berjalan keluar kamar itu sambil menangis. Air matanya terus menetes disepanjang jalan keluar dari rumah itu. Kebetulan Raka masih dihalaman depan rumah itu. Saat melihat Cinta keluar dari rumah itu dalam keadaan menangis, Raka menghampirinya. Cinta langsung memeluk Raka.
"Kak Raka hik...hik.....Kak Rehan....hik...hik...." ucap Cinta sambil menangis.
"Apa yang dilakukan orang asing itu padamu?" tanya Raka.
"Hik...hik.......hik....."Cinta hanya menangis.
"Kurang ajar, aku harus membuat perhituangan dengannya"ucap Raka.
Raka melepas pelukan Cinta.
"Cinta diam disini, aku harus membuat perhitungan dengan orang asing itu"ucap Raka.
"Hik...hik....hik....."Cinta hanya menangis.
Raka masuk ke dalam rumah itu baru sampai didepan tangga itu Raka langsung berteriak-teriak.
"Orang asing keluarlah pengecut"ucap Raka.
"Kau memang hanya bisa bersembunyi penakut"ucap Raka.
Rehan menuju tangga itu, lalu dia menuruni tangga menghampiri Raka yang berada dilantai dasar.
"Bocah sialan kenapa kau ada disini?"tanya Rehan.
"Aku ada disini untuk memberimu pelajaran, agar kau tidak lagi menyakiti adikku"ucap Raka.
"Menyakiti adikmu? dia sendiri yang datang padaku dan ingin memuaskanku"ucap Rehan.
"Kau....."ucap Raka memukul Rehan.
Dug..............
"Ha...ha......bocah sialan sepertimu hanya mengandalkan otot saja"ucap Rehan.
"Lawan aku jika kau jantan, jangan beraninya menyakiti perempuan"ucap Raka.
"Oke aku akan meladenimu bocah sialan"ucap Rehan.
Rehan dan Raka bertarung didalam ruangan itu. Mereka mengeluarkan semua kekuatan mereka satu sama lain. Tak peduli seberapa keras dan menyakitkan mereka terus bertarung hingga keduanya babak belur. Satu jam penuh mereka bertarung hingga para pelayan dan securiti memisahkan mereka.
"Ingat, hari ini aku masih baik padaku karena adikku, tapi lain kali aku akan benar-benar menghajarmu" ucap Raka.
__ADS_1
Raka melepas pegangan securiti itu lalu keluar dari rumah itu. Tapi dia tak menemukan Cinta ada didepan rumah itu. Raka langsung masuk mobil dan mengendarai mobilnya keluar dari gerbang rumah besar itu. Dia mencari keberadaan Cinta.