
Axel pulang ke rumah. Rasa kecewa masih dirasakannya. Bagaimana tidak, ini kali pertama Axel jatuh cinta tapi justru menjadi patah hati yang pertama. Selama ini dia tak pernah mencintai seseorang, akulah orang pertama yang membuatnya jatuh cinta. Axel membuka pintu kamar. Tiba-tiba Renata berdiri membawa kue untuk Axel.
"Selamat ulang tahun Axel," ujar Raina.
Axel menatap Raina dengan datar dan tanpa ekspresi apapun.
"Aku membuat kue untukmu? ayo dipotong kita makan bersama," ucap Raina menyodorkan kue itu pada Axel.
Axel menangkis kue itu hingga terjatuh ke lantai.
"Aku capek, jangan sok perhatian padaku," bentak Axel pada Raina.
"Axel aku membuat kue untukmu karena hari ini kau ulang tahun bukan sok perhatian," ujar Raina.
Dia berjongkok mengambil kue yang jatuh di lantai kemudian membawanya ke luar.
Malam itu Axel berbaring di ranjang, dia tertidur sejak pulang tadi. Suara alarm membangunkannya. Dia mengambil handphone miliknya yang tergeletak di atas laci yang tak jauh dari ranjang. Axel membuka matanya lebar-lebar lalu melihat layar handphone-nya.
"Astaga sudah jam 1 malam," ujar Axel. Dia tak melihat Raina ada di sampingnya. Axel mengira Raina mungkin di toilet, dia kembali tidur. Jam 3 malam Axel kembali terbangun, dia tak melihat ada Raina. Axel bangun mencuci muka di wastafel kemudian mencari Raina. Dia tak menemukan Raina baik di kamar maupun di rumahnya.
"Raina kemana?"
Axel bingung. Dia menemukan sepucuk surat di atas meja.
"Surat dari Raina," ucap Axel. Segera membuka surat dari Raina.
Dear Axel
Terimakasih selama ini sudah baik padaku. Tanpa hadirnya di hidupku. Kau tak jadi suami tapi ayah untuk anakku. Kau membuat aku yang hina ini jadi terhormat. Terimakasih.
Selama ini aku berusaha jadi istri untukmu tapi sepertinya kau menganggapku hanya sebagai orang lain yang kau tolong. Aku paham, kau memang menikahiku karena rasa kasihanmu padaku. Sebatas itu aku mendapatkannya darimu. Aku tak bisa mendapatkan hal yang lebih, karena itu bukan untukku.
Aku pikir suatu hari kita bisa saling mencintai namun kenyataannya berbeda. Selamanya kau tak bisa mencintaiku. Aku pergi bukan karena kecewa padamu tapi aku tak mau jadi beban perasaan untukmu. Kau harus bebas dari rasa kasihan dan keterikatanmu dariku. Terimakasih Axel.
Raina
__ADS_1
Axel baru sadar Raina pasti terluka selama ini. Sikapnya membuat Raina hidup menggantung tanpa tujuan pasti, Axel tak bisa memberinya cinta hanya sebatas teman.
Axel berjalan ke luar dengan terburu-buru. Dia harus menemukan Raina. Apalagi sudah malam. Di luar tak aman untuknya. Axel naik mobil ke luar rumahnya untuk mencari Raina.
Di tepi jalan Raina berjalan sendirian. Malam begitu gelap seakan tahu keadaan hatinya yang tidak baik. Raina duduk di halte bus, kemudian naik bus. Dia turun di daerah sembarangan. Raina berjalan di antara rumah-rumah penduduk. Tak lama Raina jatuh pingsan.
Axel melihat jalan demi jalan. Menyapu tempat di di luar mobilnya. Tak ada Raina, Axel merasa bersalah. Tak seharusnya tadi marah pada Raina.
***
Mata Raina membuka. Dia sudah berada di sebuah kamar. Matanya menyapu ke sekeliling kamar. Dekorasi kamar yang elegant. Di tambah ukuran kamar itu luas. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar. Raina terkejut saat melihat orang itu.
"Kau!" ucap Raina. Dia mengambil selimut lalu menutup tubuhnya.
"Tidak usah takut, tadi aku menemukanmu tergeletak di jalan," ucap Albern.
Raina mengingat apa yang terjadi tadi. Memang benar tadi terjatuh dan pingsan. Albern menghampirinya dan berdiri di depan ranjang.
"Aku tahu kau takut padaku karena apa yang sudah ku lakukan dulu padamu," ujar Albern.
"Aku minta maaf Raina, maaafkan aku, aku memang salah sudah membuat hidupmu menderita," ujar Albern.
Raina terdiam. Air matanya jatuh di pipinya. Seakan permintaan maaf Albern terlambat. Dia bahkan kehilanhan anaknya.
Albern berlutut. Meminta maaf di depan Raina. Dia menundukkan kepalanya dengan bersungguh-sungguh menyesali perbuatannya dan meminta maaf.
"Aku tidak tahu, harus memaafkanmu atau justru marah padamu," ucap Raina.
"Aku tidak akan memaksa, kau berhak marah. Apa yang ku lakukan salah," ujar Albern.
"Hari itu hidupku hancur, aku harus membawa aib yang membuat semua orang mengusirku dan menghinaku. Aku berharap ada secerca harapan dengan meminta pertanggunjawabanmu tapi justru terjatuh semakin dalam dan tak ada harapan," ungkap Raina.
Albern terdiam. Dia tahu di mana letak kesalahannya. Wajar kalau Raina belum bisa memaafkannya.
"Saat itu aku benar-benar kehilangan segalanya, aku tak bisa melanjutkan hidupku, aku pikir untuk mengakhirinya tapi aku menemukan seorang lelaki yang baik hati mau menikahiku, kalau tidak mungkin aku hanya tinggal nama, pergi bersama bayiku," kata Raina.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku akan menebus semua kesalahanku," ujar Albern.
"Percuma, semua sudah terlambat, apa yang akan kau tebus?" tanya Raina.
"Apa kau butuh uang? atau hal lainnya, akan ku lakukan," ucap Albern.
"Semua tidak bisa dibeli dengan uang, harga diriku bukan barang," ucap Raina.
"Baiklah, kau boleh marah, aku akan menunggu sampai kau memaafkanku, dan memberiku kesempatan untuk menebus kesalahanku," ujar Albern. Dia berdiri lalu ke luar dari kamar.
Raina hanya menangis di dalam. Teringat buah hatinya yang meninggal. Raina tak menyangka akan kehilangan buah hatinya.
"Seandainya dede masih hidup setidaknya hati ini takkan terluka sedalam ini," ucap Raina.
Raina rindu pada anaknya. Dia selalu berharap anaknya akan kembali lagi. Dia ingin bersamanya.
***
Di ruang makan Axel makan berdua dengan ibunya pagi itu. Axel terlihat lebih dingin dari biasanya. Dia tak bicara sedikitpun pada ibunya.
"Axel kenapa kau diam? biarkan saja istri tak tahu diri itu pergi, tak ada gunanya juga di dalam rumah," ujar Jonita.
Axel hanya diam memakan makanannya.
"Dari dulu Mama tak pernah setuju dengannya. Udah miskin, hamil di luar nikah, kau kena getahnya," ucap Jonita.
Axel tak menggubris ucapan ibunya.
"Syukurlah dia pergi, kalau perlu gak usah balik lagi, untung anaknya mati kalau gak? kita harus membesarkan anak haram itu, mau ditaruh di mana kehormatan keluarga kita," ujar Jonita.
Axel meletakkan sendoknya di piring, dia berdiri dan meninggalkan ruang makan.
"Axel ...," panggil Jonita.
Axel terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, dia tak memperdulikan panggilan ibunya.
__ADS_1
"Dasar anak bodoh, untung saja aku pintar, anak haram itu sudah ku singkirkan," ucap Jonita.