
Pagi itu Alina bersiap untuk berangkat interview. Kebetulan dia sudah memasukkan surat lamaran kerjanya diberbagai perusahaan. Alina sudah berpakaian rapi dan sopan. Tak lupa berdandan supaya penampilannya tambah menarik. Alina keluar dari kamar kosannya. Dia turun dari kosan berjalan ke tepi jalan menunggu bus atau taksi. Satu jam menunggu tak kunjung datang. Ada sebuah motor berhenti disampingnya. Kaca helmnya dibuka, lelaki itu tetangga kosannya yang menyebalkan.
"Ratu kegelapan mau ikut nebeng gak? nanti kesiangan rejekimu keburu dipatok ayam" ucap Lelaki itu.
"Lebih baik dipatok ayam dari pada nebeng lelaki jalangkung sepertimu" ucap Alina.
"Wah kau masih marah ya, betah juga" ucap Lelaki itu.
Alina memalingkang mukanya. Dia malas menatap lelaki menyebalkan itu.
"Naiklah ditepi jalan sini suka ada orang gila main peluk orang" ucap Lelaki itu.
"Orang gilanya itu kaukan?" ucap Alina.
"Itu dia kesini" ucap Lelaki itu.
Benar saja kata lelaki jalangkung ini seorang orang gila berjalan menghampiri Alina. Dia hendak mencium dan memeluk Alina. Lelaki itu langsung menarik Alina naik ke motornya. Dia mengendarai motornya meninggalkan tempat itu.
"Aku bilang apa? kau tak percaya" ucap Lelaki itu.
Alina hanya diam saja malas berkomentar.
"Namaku Axel Fernando" ucap Axel.
"Gak mau tahu" ucap Alina.
"Cukup didengar saja, kali aja besok kau butuh ditemani tidur, aku siap" ucap Axel.
Plaaak....
Alina menampar punggung Axel yang menggodanya.
"Aw...ternyata selain ratu kegelapan kau galak juga Nona" ucap Axel.
"Turunkan aku, aku lebih aman dan nyaman naik kendaraan lain dari pada bersamamu" ucap Alina.
"Gak bisa seenaknya menurunkan tumpangan dikota ini, harus dihalte atau tempat tujuan" ucap Axel.
"Kalau gitu turunkan aku di mini market itu saja" ucap Alina.
"Oke" ucap Axel.
Axel mengantarkan Alina sampai mini market. Alina turun dari motor Axel.
"Makasih" ucap Alina dengan suara pelan.
"Gak denger pelan banget ngomongnya" ucap Axel.
"Makasih, puas" ucap Alina dengan suara lebih kencang.
__ADS_1
"Nah gitu dong, bye" ucap Axel.
Axel meninggalkan tempat itu. Alina masuk mini market untuk membeli tisu dan permen. Dia berkeliling didalam mini market itu. Saat dia hendak mengambil tisu dari belakang seseorang juga mau mengambil tisu yang hampir dipegang Alina. Tangan mereka saling berpegangan. Alina menoleh ke belakang. Ternyata lelaki dingin yang di bandara itu. Ketika melihat wajah Alina, dia melepas tangannya. Lalu pergi begitu saja. Alina mengambil tisu dan permen membayarnya dikasir. Dia keluar mini market seusai membayar barang yang dibelinya. Tiba-tiba hujan turun deras. Alina berdiri diteras mini market. Angin bertiup kencang. Alina mulai kedinginan. Dari belakang sebuah jas hitam menutupi tubuhnya. Alina melihat lelaki dingin itu berdiri tepat disampingnya.
"Lain kali bawa payung, musim hujan" ucap Farel.
"Iya, oya terimakasih" ucap Alina.
Baru mau tanya namanya, lelaki dingin itu sudah dijemput sektretarisnya.
"Bos ayo ke mobil" ucap Beni sambil membawa payung ditangannya.
"Berikan payungmu padanya" titah Farel pada Beni.
Beni melihat ke samping Bosnya, seorang gadis cantik yang sedang berteduh.
"Tapi nanti Bos kehujanan" ucap Beni mengingatkan.
"Jangan bantah aku" ucap Farel.
"Baik Bos" ucap Beni.
Beni memberikan payung yang dipegangnya pada Alina. Lalu dia dan Farel berjalan ke mobil dengan hujan-hujanan. Mobil itu melaju meninggalkan mini market itu. Didalam mobil Beni berbincang dengan Farel.
"Bos, Anda selalu peduli pada gadis itu, bahkan bahkan Anda menyiapkan kejutan untuknya kemarin. Apa dia sangat spesial untuk Anda?" tanya Beni.
"Iya Bos" ucap Beni.
Beni tak berani berbicara lagi. Bosnya sedang tidak ingin bicara yang menyangkut Alina. Farel hanya diam melihat ke arah kaca sepanjang perjalanan.
*************
Alina sudah beekeliling seharian ikut interview dadakan tapi hasilnya nihil. Dia sampai lelah memasukkan surat lamaran kerjanya kesana sini. Tiba akhirnya Alina sampai disebuah perusahaan besar. Dia interview ditempat itu kebetulan sedang ada lowongan kerja. Alina masuk ke ruangan intervieuw. Dia duduk bersama orang yang menginterviewnya. Beberapa pertanyaan silih berganti dijawab Alina.
"Nona Alina, diperusahaan ini hanya tersedia lowongan pekerjaan sebagai OB, apa Nona bersedia?" tanya Pak Tohir.
"OB" ucap Alina terkejut.
Alina lulusan S1 dari luar negeri dengan nilai terbaik, haruskah dia bekerja menjadi seorang OB. Dia terus berpikir dan berpikir. Akhirnya Alina memutuskan.
"Baik Pak saya bersedia" ucap Alina.
"Apa?...Nona bersedia?" tanya Pak Tohir terkejut.
Pak Tohir tak percaya Alina yang lulusan S1 luar negeri mau bekerja sebagai OB. Dia sampai geleng-geleng. Padahal tadi dia hanya bercanda menawari Alina pekerjaan OB. Walaupun memang benar hanya lowongan pekerjaan sebagai OB yang ada diperusahaannya saat ini.
"Iya saya bersedia" ucap Alina.
"Baru kali ini ada lulusan S1 luar negeri mau kerja jadi OB, saya salut" ucap Pak Tohir.
__ADS_1
"Menjadi OB bukan pekerjaan yang memalukan atau rendahan, tetapi pekerjaan yang halal" ucap Alina.
Setelah selesai interview Alina keluar dari ruangan itu. Dia berjalan memasuki lift. Didalam lift hanya ada dia dan seorang lelaki. Saat Alina menegok ke samping lelaki itu ternyata Farel.
"Anda ada disini juga?" tanya Alina.
Farel hanya diam saja, dia tak menjawab pertanyaan Alina. Tatapan matanya lurus ke depan.
"Sepertinya dia susah diajak bicara. Apa lebih baik aku diam saja, tapi dia sudah menolongku tadi" batin Alina.
Alina berpikir untuk memberanikan diri bicara dengan lelaki itu lagi, meskipun nanti diacuhkan lagi.
"Terimakasih atas yang tadi" ucap Alina.
Lift sampai dilantai dua, lelaki itu keluar dari dalam lift tanpa menjawab ucapan terimakasih dari Alina.
"Benar-benar aneh, bingung kalau berhadapan dengan lelaki seperti itu, gimana kalau jadi istrinya?" batin Alina.
Lift kembali turun ke lantai satu. Alina keluar dari lift setelah sampai lantai satu. Dia berjalan menuju lobi, tak sengaja berpapasan dengan lelaki jalangkung.
"Kita berjodoh bertemu lagi" ucap Axel.
"Maaf jodoh yang ditolak" ucap Alina menegaskan.
"Aku tadi menolongmu ya ratu kegelapan" ucap Axel.
"Tadi aku sudah berterimakasih. Lagi pula menolong harus ikhlas tahu" ucap Alina.
"Oke, kau kesini untuk apa?" tanya Axel.
"Melamar kerjalah" ucap Alina.
"Paling jadi OB" ucap Axel.
"Kok tahu?" tanya Alina.
Alina heran lelaki seperti Axel ada diperusahaan itu dan tahu kalau Alina melamar pekerjaan sebagai OB.
"Memohon dulu, baru aku kasih tahu kenapa aku tahu" ucap Axel.
"Gak mau, gak penting. Lebih baik aku pulang" ucap Alina.
Alina melangkah maju dari Axel tapi Axel memegang lengan Alina.
"Alina jangan pergi aku rindu padamu" ucap Axel.
Alina berbalik melihat Axel. Dia terkejut melihat tatapan mata Axel. Mata Rafael yang dilihatnya.
"Kak Rafa" ucap Alina.
__ADS_1