ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 38


__ADS_3

Pagi itu aku berangkat ke sekolah di antar Albern. Senangnya dia mengantarku sekolah. Tak lupa membawakanku sarapan hasil masakannya sendiri. Albern menyuruhku sarapan di mobilnya.


"Apa nanti tidak mengotori mobilmu kalau aku tak bisa makan dengan benar," ujarku.


Albern mencubit pipiku.


"Sayang, mobilku ini mobilmu juga jadi kau bebas melakukan apapun di dalam mobil ini," kata Albern.


Benarkah? aku punya mobil ini, kalau begitu aku tak perlu capek-capek bawa keripik. Tinggal masukkin ke dalam mobil, wah banyak yang bisa ku bawa. Bisa cepet kaya kalau jualan keripik menggunakan mobil, banyak yang dibawa, bisa buat selfi orang yang mau beli keripik atau buat muterin anak-anak yang mau beli keripik.


"Dodol, bensinnya lebih mahal ya kalau buat muterin anak-anak, apalagi gratisan pasti pada ngantri, bukan untung malah buntung, belum lagi mobil babak belur," batinku sambil tertawa.


"Sayang kenapa kau tertawa?" tanya Albern.


"Aku mau jualan keripik menggunakan mobilmu," jawabku.


Albern langsung mengusap kepalaku.


"Kau tak perlu seperti itu lagi, mulai hari ini Nyonya Albern akan tinggal diistana Tuan Albern, semuanya sudah tersedia, jadilah ratunya," ucap Albern.


"Tapi aku sudah terbiasa bekerja keras," timbalku.


"Baiklah, kau boleh jualan keripik tapi hanya sekedar hobi, jangan terlalu capek, aku ingin kau bahagia sayang," ujar Albern.


Tanpa ragu, ku peluk Albern. Senangnya ada yang memperhatikanku seperti ini.


"Makasih suamiku," ujarku.


"Iya sayang," sahut Albern.


Aku sarapan di mobil Albern, sedangkan Bobo dipangku Albern. Dia selalu anteng bersama Albern. Tertawa, mengoceh dan tersenyum padanya. Terkadang aku berpikir Bobo mirip Albern, mereka berdua pantas jadi ayah dan anak.


Setelah sarapan aku turun dari mobil. Berjalan memasuki ruang kelasku. Axel terlihat berkumpul dengan geng fakboy. Dia acuh dan dingin padaku saat aku melewatinya. Aku jadi merasa bersalah padanya.


Tak sengaja aku terpeleset di depan kelas tak jauh dari Axel berada.


Bluuug ...


"Aw ...," ucapku yang terjatuh ke lantai. Semua orang yang berada di tempat itu mentertawakanku, begitupun geng fakboy. Hanya Axel yang diam dan membuang muka dariku.


"Bangunlah Aara, ayo ku bantu," ujar Ami. Untung saja sahabat sejatiku datang di saat yang tepat. Bobo juga aman di belakangku. Aku bangun dibantu Ami.


"Untung saja kau jatuh di lantai bukan di comberan," ujar Ami.


"Benar juga, mungkin aku banyak berbudi dengan lantai," jawabku.


Kami masuk ke dalam kelas. Aku tidak berharap Axel akan peduli. Dia memang marah padaku. Aku harus bisa menerima itu, butuh waktu untuk membuatnya kembali seperti dulu.


Aku duduk di meja, seperti biasa. Ku letakkan tas di kursi dan Bobo di meja. Bobo hanya menggerakkan tangan dan kakinya.


"Aara, kita harus remedial semua mata pelajaran kecuali pelajaran kesenian dan kebudayaan," ujar Dodo.

__ADS_1


"Wah hebat masih ada yang tidak remedial," ucapku.


"Iya, kau tahu tidak, nilai kesenianku 64,99" ujar Dodo.


"Pas-pasan banget, untung dilolosin," ucapku.


"Yoi, hanya beda 0,01tipis banget. Untung saja dilolosin," ucap Dodo.


"Lolos karena belas kasih, kalau gurunya kekeh harus 65, pasti gak lolos tuh," ujar Ami.


"Alhamdulillah, berarti usahamu tapa di gunung Rimbun ada hasilnya, nilai kesenianmu lolos," ucapku.


"Lolos cuma satu yang lainnya gagal, percuma tetep remedial," jawab Ami.


"Sabar ya temen-temen, gimana kalau kita belajar bersama," ajakku.


"Boleh, aku suka belajar bareng-bareng," ujar Dodo.


"Iya, lo aja bisa lolos dengan nilai yang bagus, gue salut, ajarin kita-kita," ucap Ami.


Aku mengangguk. Benar, aku juga ingin teman-temanku lolos dan tidak remedial lagi. Biar susah senang bersama-sama. Di saat aku susah mereka ada, apalagi sedang senang. Aku ingin lulus bersama Dodo dan Ami dengan nilai yang baik.


Bel berbunyi, aku sudah mengantar Bobo ke Bi Siti. Hari ini pelajaran Biologi. Aku dan teman-teman mendengarkan guru mengajar. Kini Axel duduk bersama geng fakboy lagi. Dia benar-benar marah padaku. Disela-sela guru menerangkan, dia juga memberi kami kuis.


"Axel maju ke depan, sebutkan sifat-sifat enzim!" perintah Bu Dedeh guru biologi.


Axel hanya berdiri dan berjalan ke depan. Dia menulis semua jawabannya di papan tulis. Entah kenapa jawabannya salah. Padahal Axel siswa paling pintar di kelas. Apa mungkin pikirannya tidak sedang ada di kelas ini?


"Axel jawabanmu salah semua, kau menulis apa? kenapa bumbu dapur kau tulis di papan? Bu guru paham bawang dan cabai lagi langka dan mahal, tak perlu dijelaskan lagi," ujar Bu Dedeh.


"Dodo maju!" perintah Bu Dedeh.


"Siap 86!" sahut Dodo dengan semangat 86.


Dodo maju ke depan berdiri di disamping Axel, menuliskan jawabannya.


"Do, kamu ngapain menuliskan sifat manusia, bukan sifat enzim? enzim kok pemarah, pemalu, ceria dan cool, kamu paham gak?" tanya Bu Dedeh.


"Saya pikir enzim memiliki sifat yang tak jauh beda dari manusia Bu guru," ujar Dodo.


"Huh." Surakan teman-teman terdengar ricuh.


"Ya sudah, tulis semua sifat enzim sepuluh lembar HVS lalu hafalkan! besok kau baca di depan kelas ya," ucap Bu Dedeh.


"Siap 86!" sahut Dodo.


Bu Dedeh gantian menyuruh Ami maju ke depan.


Kini giliran Ami menulis jawabannya di papan tulis.


"Ami, sifat Enzim bukan tukang jualan dodol warna warni," ujar Bu Dedeh.

__ADS_1


"Kirain sifat enzim seperti warna yang indah dan berwarna," ujar Ami.


"Huh." Sorak teman-teman sekelas.


"Aara maju!" perintah Bu Dedeh.


Aku maju ke depan. Menulis jawabanku. Untung setiap hari Albern mengajariku. Soal ini mudah untukku.


"Hebat, Aara jawabanmu benar," puji Bu Dedeh.


Aku tersenyum. Senangnya mendapatkan pujian dari guru. Selama ini hanya nasihat-nasihat agar aku bisa belajar dengan baik lebih seringnya diomelin.


Semua teman-temanku bertepuk tangan kecuali Axel. Dia juga terlihat menghindari tatapannya. Sama sekali tak melirik ke arahku. Padahal kami berdiri satu jajar.


Pulang sekolah, Albern sudah ada di parkiran. Dia menjemputku. Aku langsung berlari ke arahnya. Berdiri tepat di depannya.


"Suamiku kenapa menjemput di sini?" tanyaku dengan suara pelan. Aku tidak ingin orang-orang menggosipkan Albern. Apalagi dia pemilik sekolah.


"Memang kenapa? menjemput istri salah satu tugas suami yang baikkan?" tanya Albern.


Aku langsung menarik lengan Albern masuk ke dalam mobil sebelum semua siswa melihat kami. Di kursi belakang kami duduk bersama, aku memangku Bobo, sedangkan Albern merangkulku dari awal masuk ke dalam mobil.


"Suamiku, gimana kalau ada siswa atau pihak sekolah yang tahu, nanti ada gosip yang mencoreng nama baikmu," ujarku.


"Aku tak peduli, aku kangen istriku memangnya kenapa?" ujar Albern.


Aku langsung mencium Albern. Tak ku sangka dia lebih mementingkanku dari pada nama baiknya.


Albern membalas ciumanku. Sesaat kami berciuman mesra. Untuk usiaku yang sudah 20 tahun, bukan hal yang melanggar, karena aku dan Albern suami istri, aku juga bukan anak di bawah umur.


"Udah ah, nanti suamiku minta yang lain," ujarku usai berciuman.


"Baru mau minta nambah udah dipotong pajak," ujar Albern.


"Nanti saat aku sudah lulus, tak ada pajak lagi," ujarku.


Albern memelukku.


"I Love You," ujar Albern.


Aku terdiam. Malu mendapatkan kata-kata romantis itu.


"Jawab dong sayang!" pinta Albern.


"I Love You Too," jawabku.


Albern senang sekali. Dia tersenyum sepanjang perjalanan sambil memegang tanganku dan memangku Bobo.


"Kita mau ke mana? ini bukan jalan ke kosanku, tapi ...," ujarku.


"Ke rumah kita sayang, mulai hari ini kita tinggal bersama ya," ucap Albern.

__ADS_1


Aku mengangguk. Senangnya bisa tinggal dengan buaya lagi. Kangen berdebat, bercanda dan berduaan dengannya.


Sampai di rumah, aku dan Albern turun dari mobil. Kami masuk ke dalam rumah. Aku tercengang saat melihat Raina ada di dalam rumah.


__ADS_2