
"Nek sudah siap?" tanya Dodo.
"Siap? siap apa?" tanyaku dan Ami.
"Siap mati, lihat nenek sakaratul maut," jawab Dodo sok tahu.
Plaaak ...
Ami menampar lengan Dodo.
"Enak aja sakaratul maut, nenek mau BAB tahu," elak Ami.
Aku menggeleng. Kedua sahabatku jadi tim diagnosa yang sok tahu. Keburu mati nenek kalau mereka berdebat unfaedah.
"Udah-udah, kalian membuat nenek semakin stress," ucapku.
"Iya ya, nafas nenek ngap-ngapan, apa karena ucapan julid kita," ujar Dodo.
"Maaf Nek kita hanya berspekulasi, tidak bermaksud membuat akhir hidup nenek ngenes," ujar Ami.
Sudahlah. Nenek bukannya sembuh malah tambah ngap-ngapan.
"Nek tidak apa-apa? ada yang sakit?" tanyaku dengan sopan.
"Nenek kambuh, tolong antar nenek pulang," ujar Nenek Karina.
"Iya Nek, kami akan mengantar nenek pulang," jawabku.
Aku dan kedua temanku membantu nenek bangun tapi ternyata nenek sudah tidak bisa berjalan. Tubuhnya lemas.
"Kita nyari helikopter dulu, biar cepet sampai rumah," usul Dodo.
"Roket lebih cepat," tambah Ami.
"Pinter kalian begonya, ke buru mati nenek kalau kita nyari helikopter atau roket. Apalagi di bulan gak terima orang-orang abnormal seperti kita," ujarku.
"Benar juga, terus kita bawa nenek pakai apa?" tanya Dodo.
"Aku tahu, naik permadani terbang, biar cepet kaya Aladin," usul Ami.
"Kebangetan pinternya, kita ini hidup di zaman apa? kehidupan nyata atau dongeng?" tanyaku.
"Nyata ya, benar juga, otakku kebanyakan asin jadi agak melenceng dari zona waras," jawab Ami.
"Kalau gitu kita pakai pintu ke mana saja Doraemon, pasti semenit juga sampai," usul Dodo.
__ADS_1
"Usul yang bagus, kira-kira pesan di mana pintu Doraemon, ada yang jual? aku mau beli buat satu kelas," jawabku.
"Kamu kebanyakan menghirup tai kambing jadi eror terlalu dalam," ujar Ami.
Dari pada mendengarkan usul kedua temanku yang terkadang tak ada di alam kami, lebih baik aku berinisiatif yang lainnya, yang jelas tidak menggunakan cara-cara aneh dan gak normal seperti mereka.
Aku menggendong nenek di punggungku. Berjalan sambil mencari taksi, Ami dan Dodo mengikutiku dari belakang.
"Nak, nenek berat," ucap Nenek.
"Tidak apa-apa Nek, kita akan sampai di rumah nenek secepatnya," ujarku.
"Kau anak yang baik, terimakasih," ucap Nenek.
"Sama-sama," jawabku.
Aku menggendong nenek beberapa menit kemudian taksi datang. Kami bertiga mengantar nenek pulang ke rumahnya.
Sampai di rumah nenek, kami menunggu di ruang tamu. Sepertinya nenek sudah ditangani Dokter pribadinya. Kami duduk di teras menunggu kabar dari dalam.
"Aara apa kita pulang? Cacingku sudah demonstrasi dan menyuarakan pendapatnya, jangan sampai mereka merusak fasilitas umum," ujar Ami.
"Kuman di perutku lagi pesta, berharap aku mati karena busung lapar," ungkap Dodo.
"Aku akan siapkan kain kafan dan keranda gratis, semoga amal ibadah kalian diterima ya," ucapku bercanda.
"Kita masih ingin hidup Aara, jangan sampai kambing-kambingku melayat," ucap Dodo.
"Habis kalian rewel, kita tunggu kabar nenek dulu," ujarku.
"Sampai kapan? jangan nunggu sampai bangkotan," ujar Ami.
"Apalagi sampai, film perselingkuhan tiada, nanti Emakku galau," ucap Dodo.
"Ha ha ha." Aku tertawa. Mereka memang temanku yang unik. Ada aja yang bikin kita tertawa.
Karena bosan. Dodo mendekati kandang ayam, lucu dan montok. Ami dan Dodo gemas, mereka mengelus ayam itu. Kompak keduanya dipatuk habis-habisan sampai tangan mereka benjol.
"Mi, lagi diselingkuhin nih ayam, ngegas banget," ujar Dodo.
"Ku rasa suaminya belum gajian, tanggal tua, jadi sewot," ucap Ami.
Mereka tak mau diam. Kembali melihat ular di kandang yang tak terlalu besar.
"Do, aman?" tanya Ami melihat tangan Dodo dibelit ular.
__ADS_1
"Ular sawah, aman kok, masih kecil lagi," jawab Dodo.
Aku penasaran. Menghampiri Dodo dan Ami.
"Do itukan uler piton, lepas! atau kau bisa mati karena tanganmu dibelit sampai patah," ujarku.
Belum juga Dodo melepas tangannya, benar saja, tangannya dibelit semakin kuat dan kencang.
"Mi, Ra, tolongin, gue masih ingin idup, belum punya amal kalau mati sekarang," ujar Dodo.
"Gak papa, nanti aku suruh Babe dan Enyakmu jual seluruh kambingmu buat sedekah, jadi amalmu meroket drastis," ujar Ami.
"Nanti ku carikan simpatisan sebanyak mungkin untuk like, agar doaku untukmu di like jutaan orang," ucapku.
"Tolongin, Dodo masih ingin idup, belum siap ketemu malaikat maut, malu CD Dodo bolong, warna pink lagi, pinjem punya Enyak," ujar Dodo.
"Ha ha ha." Aku dan Ami tertawa.
"Buruan, jangan tertawa keburu mati nih," ujar Dodo ketakutan. Segera aku dan Ami menolongnya. Untung saja tangan Dodo bisa dilepaskan.
"Alhamdulillah, masih idup," ujar Dodo.
Tak lama seorang pembantu dari dalam menghampiri kami. Menyampaikan kabar nenek yang sudah membaik. Kami pun bisa pulang dengan tenang.
***
Sore itu Albern mengajakku pergi ke rumah neneknya. Dia memintaku dandan dengan cantik dan elegant. Dia menyiapkan fashion stylist dan MUA, aku di-make over total. Setelah selesai, aku ke luar dari dalam ruangan rias. Berjalan menghampiri Albern yang duduk menungguku. Dia menatapku tanpa berkedip. Tercengang melihat penampilanku.
"Suamiku," panggilku padanya yang masih tercengang melihatku.
"Cantik sekali istriku, aku makin cinta," puji Albern padaku.
Aku tersenyum malu mendapat pujian dari suamiku. Dia berdiri menghampiriku dan mencium keningku.
"I Love You," ujar Albern menatapku.
"I Love You Too," jawabku.
"Aku beruntung memilikimu Aara, terimakasih sudah hadir dihidupku," ujar Albern.
Aku langsung memeluk Albern. Karena bukan hanya dia yang beruntung tapi aku juga. Hari-hariku tak kesepian lagi, ada Albern di sisiku.
"Ayo ke rumah Nenek, kau harus dapat pengakuannya," ujar Albern.
"Apa aku pantas?" tanyaku.
__ADS_1
"Iya, kau sangat pantas," jawab Albern