ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM


__ADS_3

Lelaki tampan itu berdiri di depan mobil, terlihat menelpon seseorang. Tak lama Axel datang menghampirinya. Sungguh jiwa kepoku meronta, susah dipungkiri, aku ingin tahu apa yang terjadi. Udah nyungsep ke semak atau ngintip ke samping mobil, kemon.


Aku ingin mendengarkan percakapan dua tampan ini. Mana tahu mereka sedang memperebutkanku. Kebayang film drakor yang selalu ada satu cewek dua cowok, cewek sebagai female leader, cowok pertama sebagai main leader dan cowok kedua sebagai second leader. Dan kebanyakan penonton selalu condong ke second leader sebagai tokoh sad boy. Udah lupakan lamunanku yang tak mungkin tapi ...


"Aara aku cinta padamu."


"Aku juga cinta padamu."


"Pilih mana? kalian ganteng semua, gimana kalau ngeharem aja biar adil?" ucapku dalam lamunan indahku, tapi semua itu tak terjadi pada kenyataannya, paling jika mereka memperebutkanku, itu karena.


"Aara ambilkan aku minum!"


"Aara pijati kakiku pegal."


"Tuan muda dan paduka yang mana dulu yang harus ku lakukan?" tanyaku.


"Ikuti perintahku dulu!"


"Enak saja, lakukan dulu perintahku!"


Seperti itu kenyataan yang mungkin terjadi. Tak mungkin lah aku diperebutkan kedua tokoh utama dalam drakor ini. Paling juga mentok jadi babu mereka, sungguh nasib lemot selalu terpojok.


Sudah kembali ke laptop. Kebanyakan melamun ketinggalan berita utama. Fokus pada tujuanku nguping, cekidot.


"Untuk apa kau ke sini?" tanya Axel.


"Aku hanya ingin melihat perkembangan sekolah ini, sekalian bertemu denganmu, sudah lama kita tak bertemu," jawab lelaki tampan itu.


"Tapi aku tidak ingin ada yang tahu, kau kakakku," sahut Axel.


Lelaki tampan itu kakak Axel pantas wajahnya sedikit mirip dengannya, adiknya saja tampan apalagi abangnya. Paling tidak kalau ditolak adiknya masih ada abangnya, ya kalau ditolak abangnya gak mungkin juga ma kakeknya.

__ADS_1


"Oke, aku harus meeting, see you," ucap lelaki tampan itu meninggalkan Axel begitu saja. Axel hanya diam tanpa kata. Sudah cukup untukku mendapat informasi yang tak penting ini, cabut sebelum bel masuk berbunyi tapi tiba-tiba kerah bajuku ditarik dari belakang. Aku menoleh ke belakang.


"Axel," ujarku. Bisa kena palu thor gara-gara nguping pembicaraan yang tak penting tadi. Bagaimana caraku menyelamatkan diri, Axel terlihat dingin.


"Kau menguping?" tanya Axel.


"Gak, aku sedang mencari belalang untuk praktik biologi," ujarku.


"Kau bohong, hari ini tidak ada praktik biologi," elak Axel.


"Oke aku ngaku, tadi gak sengaja nguping," jawabku.


Axel melepas tangannya dari kerah bajuku. Dia berbisik di telingaku.


"Jangan sampai ada yang tahu kalau lelaki tadi kakakku, awas kalau kau berani buka mulut!" ancam Axel.


Axel meninggalkanku setelah mengancamku. Lagi pula apa untungnya aku beritahu semua orang kalau kakak Axel si tampan yang tadi. Udah ah lebih baik aku pergi ke kantin.


"Dia siapa? kenapa kepala sekolah akrab dengannya?" tanyaku.


Entahlah jiwa kepoku merajalela mesti terpecahkan seketika. Aku terpaksa membuntuti mereka sampai masuk ke ruangan kepala sekolah. Untung saja ruangan kepala sekolah terpisah dari ruangan lainnya, berada di samping taman sekolah. Aku berdiri di bawah jendela ruangan kepala sekolah. Rasa penasaranku harus terjawab, siapa lelaki tampan itu dan apa hubungannya dengan sekolah ini.


"Aku ingin sekolah ini lebih maju dan modern," ucap lelaki tampan itu.


"Saya setuju," ucap Pak Hasan kepala sekolah di SMA Kejora. Beliau sudah 15 tahun jadi kepala sekolah, seluk beluk dan sejarah sekolah ini beliau hafal betul. Termasuk nunggaknya aku sampai dua kali.


"Dari catatan yang ada di kesiswaan, ada siswa dari SMA Kejora yang tidak lulus sampai dua kali, ini sangat mencoreng nama baik sekolah kita," ujar lelaki tampan itu.


"Maaf Bos," kata Pak Hasan.


SMA Kejora ini ternyata milik lelaki tampan itu, pantas saja dia datang ke sekolah menemui kepala sekolah.

__ADS_1


"Aku tidak ingin sekolah ini mendapat image yang buruk. Sebelum kelulusan anak yang tidak lulus itu harus dikeluarkan!" perintah lelaki tampan itu.


Astaga dia lebih kejam dari ibu tiri, repot juga kalau aku dikeluarkan. Sekolah mana yang akan menerimaku. Lagi pula aku harus mengeluarkan uang lagi kalau pindah sekolah, orang tampan ini harus ku bikin dadar gulung biar dia tahu rasa hidup ini tak mudah, dia sih enak karena kaya, lah aku miskin, buat makan aja masih berupa harap-harap cemas.


"Tapi Bos, anak itu yatim piatu, tak tega rasanya megeluarkannya, dia anak yang ceria dan baik, walaupun nilainya kurang," ujar Pak Hasan.


"Nilainya bukan kurang tapi setiap hari nol, siswa terbodoh yang tidak bisa diharapkan dan mencoreng akreditasi sekolah ini," ungkap lelaki tampan itu.


"Apa tidak bisa diberi kesempatan, agar tahun ini dia berusaha untuk belajar lebih keras lagi, siapa tahu nilainya akan lebih baik," saran Pak Hasan.


"Kalau gagal, ini ketiga kalinya dia tidak lulus, mau dibawa kemana harga diri sekolah ini, di majalah, koran bahkan media sosial terpampang namanya yang menjadi siswa satu-satunya yang tidak lulus dan itu berasal dari sekolah kita," ujar lelaki tampan itu.


Pak Hasan hanya menunduk. Dia tahu aku memang tidak bisa diharapkan. Kalau sampai kelulusan tahun ini, aku tidak lulus, nama baik sekolah akan tercoreng.


"Keluarkan dia atau anda yang keluar dari sekolah!" ancam lelaki tampan itu.


Lelaki tampan itu berdiri, dia keluar dari ruangan kepala sekolah. Hatiku hancur seketika. Kalau benar aku dikeluarkan, bagaimana ini. Aku tidak punya uang untuk mencari sekolah baru.


"Ya Allah, apa yang harus ku lakukan?" keluhku padaNya.


Aku kembali ke kelas dengan muka yang lesu. Ami dan Dodo terlihat kepo. Mereka langsung bertanya-tanya padaku. Aku hanya diam. Tak biasanya aku menyimpan kesedihanku sendiri, mereka tempatku berbagi rasa sedih tapi kali ini aku tidak ingin mereka tahu. Tak lama seorang guru memanggilku. Aku dipanggil ke ruang kepala sekolah.


Deg


Jantungku berdebar kencang. Aku sudah tahu apa tujuan kepala sekolah memanggilku. Perlahan dengan langkah yang berat aku berjalan ke ruangan kepala sekolah. Padahal dekat tapi rasanya jauh, puluhan kilometer, tak ingin rasanya sampai di ruangan kepala sekolah. Langkahku terhenti saat melewati kantin sekolah. Ku lihat Bobo digendongan Bi Siti terlihat anteng.


"Aku punya Bobo sekarang, jangan cengeng, bukankah Aara tak pernah cengeng, semangat hari esok lebih baik!" ucapku menyemangati diriku sendiri.


Aku berjalan dengan penuh semangat kepahlawanan yang rela mati di medan perang. Tak peduli badai menghadang, atau tsunami datang, langkahku takkan terhenti, pintu kepala sekolah ku buka dengan semangat 45.


Krek

__ADS_1


"Yah gagang pintunya rusak," ucapku sambil memegang gagang pintu. Belum ketemu kepala sekolah kenapa sudah bikin ulah, habis aku kena omel berlapis kaya wafer coklat yang sering diiklankan dengan kata coklat berlapis atas bawah.


__ADS_2