ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 44


__ADS_3

"Nenekku ulang tahun," jawab Albern.


"Selamat ya Bos, semoga nenek anda sehat selalu," ujar Nico mendoakan.


"Ya," sahut Albern masih lesu.


"Ada masalah lagi Bos? bingung pilih kado?" tanya Nico.


"Bukan itu," elak Albern.


"Lalu apa?" tanya Nico.


"Di pesta nanti nenek akan mengenalkanku dengan cucu sahabat karibnya," jawab Albern.


"Perjodohan Bos?" tebak Nico.


"Semacam itu," sahut Albern.


Nico terdiam. Dia memikirkan sesuatu untuk Bosnya. Dia tahu Bosnya pasti bingung. Belum menemukan jalan ke luar dari masalahnya.


"Datang saja dulu Bos, berkenalan dan tolak baik-baik," saran Nico.


Albern memikirkan saran Nico. Dia memang tidak mungkin bisa menolak langsung, apalagi neneknya memiliki penyakit jantung. Dia terpaksa harus datang dan bertemu dengan gadis yang akan dijodohkan dengannya.


"Thanks Nico," ucap Albern.


"Oke Bos," sahut Nico.


Albern akan mencoba saran yang diberikan Nico. Dia akan datang ke pesta ulang tahun neneknya.


Malam itu aku nonton film sambil main dengan Bobo menunggu Albern pulang. Sebagai pemimpin perusahaan besar Albern memang sibuk tak jarang pulang larut malam. Hari ini dia belum pulang. Aku berbaring di sofa panjang yang mirip dengan kasur. Rasanya empuk. Bobo ku baringkan di dekatku. Dia mengoceh dan mulai tengkurep walau belum sempurna.


"Ba ... ba ... ca ... ca ...," ucap Bobo mengoceh.


"Bobo seneng ya bisa tengkurep?" ujarku.


Bobo mulai penasaran dengan apapun yang dipegangnya. Albern membelikan Bobo banyak mainan terutama yang dipegang. Bobo menggigit mainan itu, gemas. Mungkin giginya gatal. Ingin rasanya mainan dimakannya semua.


"Bobo gak boleh dimakan, dengerin kata Momy." Aku berusaha menasehati Bobo. Dia melihat ke arahku dan tersenyum. Lucu deh.


Lama-kelamaan aku mengantuk. Namun Bobo belum tidur, ku tahan rasa kantukku. Hanya demi Bobo yang mulai bisa tengkurep. Aku takut dia jatuh. Sekarang dia udah bisa bolak balik, bisa jatuh ke lantai kalau aku ketiduran.


"Bobo tidur yuk, Momy ngantuk," ujarku. Bobo malas tertawa mendengarku bicara seperti itu.


Aku berusaha menahan mataku dengan cuci muka. Memplaster mataku ke atas agar ke buka, bola matanya jadi mau tak mau melotot. Aku minum kopi juga biar gak nganruk. Aduh ngantuk banget, bantal dan huling meronta minta ditemenin tidur namun aku harus mengabaikan rayuannya dan berjuang agar tak mengantuk.


Sampai akhirnya Bobo tidur karena kelelahan bermain.


"Alhamdulillah Bobo tidur juga, mataku dah sepet dari tadi," ujarku.


Aku memindahkan Bobo tidur di ranjang bayi, kemudian aku berbaring di ranjang dengan nyaman. Baru satu jam tidur, tiba-tiba ciuman mendarat di pipiku. Aku terkejut dan melihat orang di depanku.


"Kau pasti setan jualan tikus ya? tadi udah ku cekek kok masih idup?" tanyaku yang masih belum sadar, suasana mimpi masih terasa. Di dalam mimpi aku bertemu setang jualan tikus putih.


"Iya, aku setan mana mati dicekik," jawab Albern.


"Tapi setannya kok ganteng ya? Dimimpi bopengan, kudisan, kurapan, kutuan dan panuan. Apa udah oplas ya jadi ganteng?" tanyaku.

__ADS_1


"Benar aku oplas dulu, emang cuma manusia yang boleh oplas," jawab Albern.


"Mirip suamiku setannya, apa kau berubah kaya ranger jadi suamiku?" tanyaku.


"Iya aku berubah, jadi suamimu, habis kau cantik," jawab Albern.


"Ganjen juga setan ya, jangan-jangan manusia diajarin sama dia, pantes pelakor banyak," ujarku.


Albern tertawa. Kemudian dia memelukku. Menciumku sepuasnya. Aku jadi sadar hanya Albern yang membuat jantungku berdebr saat di dekatnya.


"Suamiku," ujarku.


"Udah gak ngelindur lagi?" tanya Albern.


Aku menggeleng.


"Suamiku baru pulang?" tanyaku.


"Iya sayang, maaf ya," jawab Albern.


Aku mengangguk dan tersenyum. Albern berbaring di sampingku, dia memelukku erat. Hangat dan nyaman.


"Kau lelah?" tanya Albern.


"Tidak," jawabku.


Kami mengobrol beberapa saat kemudian tidur karena kelelahan.


***


Bel istirahat berbunyi. Raina berjalan menuju kantin sendirian karena aku masih mengajari Dodo dan Ami yang remedial ulangan matematika.


Dari belakang Patrick menyusul Raina. Dia berjalan di sampingnya.


"Cantik mau ke mana?" tanya Patrick.


"Mau ke kantin," jawab Raina.


"Boleh ikut gak? kebetan aku laper," ujar Patrick.


"Boleh," jawab Raina.


Mereka berdua ke kantin bersama. Di kantin sudah ada Axel dan geng fakboy. Mereka juga makan di sana. Patrick dan Raina duduk tak jauh dari mereka.


"Lihat anak baru, udah selangkah lebih maju dari kita," ucap Bruno.


Axel dan yang lainnya melihat ke arah Raina dan Patrick.


"Iya, nyebelin banget, nyembat cemceman gue," ujar Grey.


"Si cantik bikin kumbang kelabakan, nempel terus," kata Blue.


Axel hanya menunjukkan ekpresi dinginnya. Dia agak kesal melihat Patrick begitu caper dan terang-terangan mengejar Raina.


"Samperin yuk, Rainakan milik gue," ujar Bruno.


"Iya, gak rela calon istri gue sama makhluk dari planet asing," ucap Blue.

__ADS_1


"Amankan ayang kita," kata Grey.


Axel berdiri.


"Ke mana Bos?" tanya Bruno.


"Balik kelas," jawab Axel.


Axel berjalan meninggalkan tempat duduknya melewati meja Raina dan Patrick. Terlihat Patrick begitu dekat dengan Raina. Dia memuji kecantikannya. Membuat Axel geram. Menghentikan langkahnya dan menghampiri Patrick.


"Jadi cowok gak usah lebay," ucap Axel.


Patrick terkejut, Axel tiba-tiba mengomelinnya.


"Hei santai aja Bos, kita gak ganggu lo kan?" ujar Patrick.


"Axel," sapa Raina.


"Gak lucu merayu cewek di sekolah," ujar Axel.


"Suka-suka gue, toh si cantik gak protes, kenapa lo protes, suka juga?" tanya Patrick.


Axel terdiam. Tangannya mengepal, namun dia bisa menahan emosinya, kemudian memilih pergi meninggalkan mereka berdua.


***


Malam itu Albern datang sendiri ke pesta ulang tahun neneknya. Semua anggota keluarga sudah berkumpul. Termasuk ayah, ibu, ibu tiri dan adik tirinya Axel. Albern menghampiri neneknya Karina Rebecca. Seorang sosialita yang begitu berkelas dan elegant diusianya yang sudah 60 tahun.


"Nek," sapa Albern.


"Albern, cucuku," sahut Nenek Karina.


"Selamat ulang tahun," ujar Albern.


"Makasih cucuku tersayang," sahut Nenek Karina.


Albern memberikan kado yang dibawanya untuk neneknya. Mereka berbincang sebentar, tak lama datang seorang gadis cantik menghampiri keduanya.


"Nenek," sapa gadis itu dengan senyuman cerianya.


"Lisa," sahut Nenek Karina.


"Happy birthday," ucap Lisa.


"Thanks you," sahut Nenek Karina.


Albern hanya tersenyum.


"Albern ini Lisa Zaski, cucu Nenek Cicilia, kamu ingatkan?" tanya Nenek Karina.


"Iya Nek," jawab Albern.


"Dia calon istrimu," ujar Nenek Karina.


"Apa?" Albern terkejut.


NB

__ADS_1


Maaf ya kemarin tidak jadi up dikarenakan author ikut masukin karya author di salah satu platform. Karena waktu pendaftarannya terbatas, author harus kejar up di sana.


__ADS_2