ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 60


__ADS_3

"Untuk apa kau ke sini?" tanya Axel.


"Kau tak mengundangku? Apa kau lupa siapa aku?" tanya Ibu Jonita.


"Pergilah! Aku tak butuh kau datang," sahut Axel kesal.


"Axel," ucap Raina sambil memegang dadanya. Berharap Axel bisa lebih tenang menghadapi ibunya.


"Dasar wanita miskin, kau membuat anakku lupa daratan," ujar Ibu Jonita.


"Hentikan ocehanmu, ini acara peresmian toko, bukan acara buliian yang kau inginkan," ujar Albern membela Axel.


Mata Ibu Jonita melirik Albern yang tak jauh dari tempat Axel berada.


"Anak pelakor, ternyata kau ada di sini juga," ujar Ibu Jonita.


"Kau boleh menghinaku Nyonya, tapi jangan sekali-kali menghina ibuku," ujar Albern.


"Anak dan ibu sama, hobinya merebut. Ibunya merebut suamiku dan sekarang anaknya merebut simpati anakku," ucap Ibu Jonita.


"Stop! Jangan mempermalukan dirimu di sini, acara ini hanya untuk orang waras, bukan wanita gila harta sepertimu," ujar Axel makin kesal.


"Axel," ucap Raina perlahan.


"Biar Raina, wanita tua ini lebih sayang hartanya dari pada aku, dia takut hartanya berkurang jika aku bersamamu," ujar Axel.


"Axel! Kau berani padaku!" pekik Ibu Jonita. Emosinya mulai naik. Dia tidak percaya Axel sekarang semakin berani melawannya.


"Selama ini aku berusaha menghormatimu karena kau ibuku, tapi apa kau lakukan padaku sudah keterkaluan Ma, berhentilah! Jangan membuatku membencimu," ujar Axel.


"Kau lebih memilih membenci ibumu dari pada meninggalkan wanita miskin itu?" tanya Ibu Jonita.


"Aku tidak akan membencimu, hanya saja aku takkan meninggalkan Raina apapun itu," ujar Axel.


"Axel!" pekik Ibu Jonita.


"Pergilah! Di sini bukan tempatmu," ujar Axel.


"Aku akan membawamu pulang, lihat saja," ujar Ibu Jonita.


Tiba-tiba sekumpulan orang bertubuh kekar datang. Berdiri di belakang Ibu Jonita. Menunggu komando darinya.


"Nyonya, lihat ini!" ujar Albern menunjukkan sebuah handphone aktif yang sedang menelpon polisi.


"Jika anda membuat kerusuhan, polisi akan segera datang menangkap anda dan anak buah anda, tidak maukan nama baik anda tercireng," ancam Albern.


"Sial!" ujar Ibu Jonita.

__ADS_1


"Pergilah! Selagi bisa," ucap Albern.


Ibu Jonita tak punya pilihan. Akhirnya dia pergi juga. Suasana terkendali kembali. Acara juga dilanjutkan lagi. Axel dan Raina memotong tali pita itu. Tepukan orang yang hadir meramaikan suasana pemotongan pita. Sahabat dan teman mengucapkan selamat. Warga juga mulai berbelanja. Dodo dan Ami kebagian membagikan doorprise dan hadiah semacam payung, dompet, piring, gelas, tas, goodie bag, dan sebagainya. Sedangkan Aara dan Albern ikut melayani pembeli bersama Axel dan Raina.


Setelah acara selesai, Axel duduk bersama Albern di tempat coffe yang tersedia di dalam mini market. Mereka meneguk kopi bersama-sana dan saling berbincang.


"Sekarang bukan alkohol lagi yang kau teguk," ujar Axel menyindir Albern.


"Semenjak bersama Aara aku ingin lebih baik, kopi lebih enak dari alkohol," ucap Albern.


"Aara sudah menjinakkanmu Bang," ujar Axel.


"Iya, hidupnya membuatku berkaca, aku jauh lebih baik darinya," ujar Albern.


"Dia pekerja keras dan pantang menyerah meskipun harus membawa Bobo," ujar Axel.


"Kau benar, itu yang membuatku jatuh cinta," sahut Albern.


"Kau beruntung bisa bersamanya, jangan sia-siakan dia Bang," ujar Axel.


"Pasti, kau juga jangan sia-siakan Raina, wanita baik yang rela mati untukmu tak datang dua kali," ujar Albern.


"Pasti," jawab Axel.


Keduanya tersenyum dan kembali meneguk kopi ekspreso di cangkir mereka.


"Kata-kata yang ku rindukan dari mu," ujar Albern.


"Aku akan sering mengucapkannya nanti, asal kau tetap seperti ini," ujar Axel.


"Tentu, aku akan semakin baik, lihat saja," ujar Albern.


"Syukurlah, jangan sampai aku memukulmu lagi," ujar Axel.


Albern tertawa. Akhirnya kehangatan di antara keduanya kembali lagi. Sudah lama tak bicara seperti itu. Kini hubungan mereka akrab kembali. Begitupun dengan adanya istri mereka dan sahabat unik seperti Ami dan Dodo.


***


Satu bulan kemudian. Aku dan teman-teman berlompat kegirangan setelah dingatakan lulus. Aku tak menyangka bisa lulus dengan nilai yang terbaik. Begitupun Ami dan Dodo yang juga lulus dengan nilai di atas standar. Kami riang gembira di depan mading usai melihat nilai kami.


"Yes, akhirnya aku bisa lulus," ujar Dodo.


"Siapa bilang, pasti guru salah ketik itu," ujar Axel.


"Masa sih Xel? aku dah bener ngitung kancingnya," ujar Dodo.


"Yaelah, lulus karena keberuntungan itu mah, untung kancingnya bener kalau copot satu pasti beda jawabannya," ujar Ami.

__ADS_1


"Ha ha ha." Kami tertawa.


"Dari pada kamu Mi, sok genit sama Budi, padahal cuma mau jawabannya doang, tuh Budi siap melamarmu bawa kerbau sama cengkeh," ujar Dodo.


Aku dan yang lainnya melihat ke arah Budi.


"Ami love you," ujar Budi membawa kertas di dadanya bertuliskan siap melamar Ami dengan kerbau dan cengkeh.


"Ha ha ha." Kami tertawa bersama.


"Udah Mi, terima aja, hidupmu akan bahagia," ujarku.


"Setidaknya makan gak pakai kepala ikan asin tapi kepala kerbau Mi," ucap Raina.


"Meskipun gak memperbaiki keturunan, paling tidak otak encernya yang diturunkan," sahut Axel.


"Ha ha ha." Kami tertawa sampai perut sakit. Setidaknya ada saja yang membuat kami tertawa dan semakin bahagia selain berita kelulusan itu.


"Aku bawa makanan, ayo makan bersama," ajak Raina.


"Ayo, aku juga bawa," sahutku.


"Aku juga bawa setoples kepala ikan asin," ujar Ami.


"Yaelah, udah lulus juga ngerayainnya elitan dikit napa?" ujar Dodo.


"Tak ada yang lebih baik dari kepala ikan asin," sahut Ami.


"Boleh lah, buat dibikin sama sambel," sahut Raina.


"Iya, enak sambel pakai kepala ikan asin," ujar Ami.


"Ya udah, ayo kita makan, laper," sahut Axel.


"Go!" ucap kami semua.


Aku dan teman-teman makan di bawah pohon. Eh tiba-tiba Albern datang. Untung saja kami baru memulai.


"Gak ajak-ajak," ujar Albern.


"Ayo Bang makan bareng," ajak Axel.


"Oke, selamat ya kalian semua lulus," ujar Albern.


"Makasih Bang atas ucapannya," sahut Axel.


"Kami juga," sahut kami berempat.

__ADS_1


Siang itu kami makan bersama penuh dengan kegembiraan. Terasa nikmat saat makan bersama meskipun lauknya sederhana. Tak ada suatu yang lebih menyenangkan selain kebersamaan kita.


__ADS_2