ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 54


__ADS_3

"Hai juga Kak Helsa" ucap Alina.


"Eh ada Kak Rafa, pasti ngapelin Haurakan" ucap Haura menghampiri Rafael dan menggandengnya.


"Eee..., kalian mau kemana?" tanya Rafael sambil melepas tangan Haura dari lengannya.


"Ke puncak Kak Rafa, ikut gak biar kita bisa berduaan disana" ucap Haura yang sengaja memanasi Alina.


Melihat Haura genit pada Rafael, Alina langsung menghampiri Rafael. Dia menarik lengan Rafael meninggalkan tempat itu. Haura hanya tersenyum melihat Alina membawa Rafael pergi.


"Adik kecil tunggu, kita mau kemana?" tanya Rafael.


"Pergi ke puncak tapi berdua aja" ucap Alina.


Alina berlari bersama Rafael naik ke dalam bus.


Mereka berdiri dilorong kursi sambil tersenyum-senyum.


"Adik kecil jadi ingat saat kita SMP dulu" ucap Rafael.


"Alina malu kak, jangan diingat lagi" ucap Alina.


Rafael dan Alina mengingat masa SMP saat bersama. Saat itu Rafael kelas 3 SMA dan Rafael kelas 2 SMP. Alina dan Rafael naik bus bersama.


Tak sengaja Rafael melihat rok Alina tembus.


"Adik kecil rokmu bagian belakang merah" ucap Rafael.


"Apa iya kak?" tanya Alina.


"Apa ada luka atau kau sakit?" tanya Rafael.


"Kak Alina malu" ucap Alina menutupi rok bagian belakang dengan tangannya. Melihat itu Rafael melepas seragam bagian atasnya dan mengikatkan bajunya pada pinggang Alina agar rok Alina yang ada darahnya tertutup baju Rafael.


Tapi Rafael sendiri tubuh bagian atasnya terbuka.


Semua orang didalam bus memperhatikan mereka.


"Kak Rafa bajunya kok dikasih Alina, nanti kakak jadi malu" ucap Alina.


"Lebih baik kakak yang malu dari pada kamu yang malu adik kecil" ucap Rafael.


Alina senang sekali, kakaknya rela memberikan pakaiannya demi menutupi rok Alina.


"So sweet....." ucap Ica.


"Andai....aku jadi dia...." ucap Kira.


"Cute banget....." ucap Dina.


"Dadanya bikin gak tahan" ucap Nia.


"Sabar Neng abang lebih oke nih" ucap Gatot.


Gatot membuka pakaian atasnya lalu menunjukkan pada Nia.


"Bang itu perut buncit amat, hamil berapa bulan?" ucap Nia.


"Ini cacingan Neng, biasa fakir miskin" ucap Gatot.


"Bang yang dibawah mohon diportal, jangan kebuka juga, kok itu dari brukat ya Bang" ucap Nia.


"Dibikinin emak dari kain perca, malah ada bunga mawarnya segala, mau pesen neng?" tanya Gatot.


"Saya pesennya yang dari bludru aja, terus pasangin AC ya Bang biar dingin" ucap Nia.


Kenangan masa lalu itu selalu diingat Alina dan Rafael. Banyak kenangan manis yang dilalui bersama. Sampai di puncak, Rafael memegang tangan Alina mengajaknya masuk tempat wisata alam itu. Mereka bertemu Deena, Haura, Kaisar. Mereka semua menuju ke area persawahan. Mereka belajar menanam padi, membajak sawah, memupuk, dan memanen padi.


Rafael dan Alina menanam padi bersama. Rafael mengoleskan tangannya yang berlumpur ke pipi Alina.


"Kakak" ucap Alina.


"Kau makin cantik jadinya adik kecil" ucap Rafael.


Alina membalas Rafael. Dia mengokeskan lumpur dipipi kanan dan kiri Rafael.


"Gantengnya kakakku" ucap Alina.

__ADS_1


Rafael sengaja membuat bajunya penuh lumpur lalu memeluk Alina.


"Kak Rafa ampun....aku kotor semua" ucap Alina.


"Biarin, biar kita sama-sama kotor" ucap Rafael.


Rafael menggendong Alina dipunggungnya lalu berlari-lari diatas lumpur. Alina terus tertawa sambil berpegangan erat.


"Kak Rafa awas ya jatuh, Alina takut" ucap Alina.


"Bukannya seru kalau jatuh berdua dilumpur" ucap Rafael.


"Kakak" ucap Alina.


Haura dan Deena hanya jadi nyamuk diantara mereka berdua yang asyik berduaan dilumpur.


"Senengnya liat Alina bahagia" ucap Haura.


"Iya dia se..neng banget a..da Kak Rafael" ucap Deena.


"Aku kesana dulu ya", ucap Haura.


"Iya" ucap Deena.


Haura pergi meninggalkan tempat itu. Dia pergi ke area permainan trampolin dewasa. Haura melompat-lompat sampai dia puas dan senang.


Lalu pergi ke permainan menembak, dia berhasil beberapa kali mengalahkan musuh. Sampai dipermainan berkuda. Dia tak sengaja bertemu Alvan.


"Tampan kau ada disini juga" ucap Haura.


"Haura" ucap Alvan.


"Kau mau berkuda?" tanya Haura.


"Iya, kau juga?" tanya Alvan.


"Iya" ucap Haura.


Haura dan Alvan naik kuda mereka masing-masing. Mereka saling kejar mengejar.


Kuda milik Haura mulai tak terkendali, kuda Haura melaju ke tepi jurang. Alvan yang mengetahui itu mengejar kuda yang dinaiki Haura.


"Alvan......tolong aku, kudanya tidak bisa dikendalikan" ucap Haura.


"Tenang aku pasti akan menolongmu" ucap Alvan.


Alvan terus mengejar Haura. Hingga saat kuda Haura hendak loncat ke jurang, Alvan lompat ke kuda Haura. Dia duduk dibelakang Haura mengendalikan kudanya. Lalu mereka pergi dari tepi jurang itu. Haura melihat ke wajah Alvan, dia senang sekali bisa selamat.


"Kenapa?" tanya Alvan.


"Kau pandai juga berkuda" ucap Haura.


"Apa yang aku gak bisa?" ucap Alvan.


"Oke kau hebat" ucap Haura.


Haura dan Alvan terus berkuda berdua. Hingga mereka turun lalu pergi ke toko topi. Haura memilih-milih topi kesukaannya. Tiba-tiba Alvan memakaikan Haura topi pantai.


"Kau cantik memakai itu" ucap Alvan.


Haura tersenyum. Baru kali ini dia senang sekali saat dipuji seorang lelaki. Haura gantian memilihkan topi berwarna merah.


"Tuhkan tambah ganteng" ucap Jaura.


Alvan langsung merapikan topi yang dipakaikan Haura.


"Aku suka topi ini" ucap Alvan.


"Kau harus memakainya, itu pemberian dariku" ucap Haura.


"Oke" ucap Alvan.


Haura dan Alvan pergi ke tempat memeras susu sapi. Mereka berdua memeras susu sapi. Alvan terlihat kaku saat memeras susu sapi. Haura mengerjainya dengan mengarahkan susu sapi ke arah muka Alvan hingga basah terkena susu sapi.


"Haura kau...." ucap Alvan.


Alvan membalas Haura dengan hal yang sama.

__ADS_1


"Alvan mukaku basah terkena susu sapi" ucap Haura.


Haura berdiri ke arah Alvan menyiramkan susu sapi yang tadi perasnya ke muka Alvan.


"Haura...." ucap Alvan.


Alvan berdiri lalu mau menangkap Haura tapi Haura berlari menjauh. Dia mengejar Haura hingga jatuh ke kubangan tai sapi. Tubuh mereka kotor tai sapi. Alvan menangkap Haura saat ada dikubangan tai sapi itu.


"Kena kau" ucap Alvan.


"Alvan bajumu penuh tai, iiih" ucap Haura.


"Biarin, biar kau kebauan" ucap Alvan.


"Kau ini, lepas" ucap Haura.


Alvan membopong Haura lalu menjatuhkannya dikubangai tai sapi itu.


"Alvan...." ucap Haura.


"Impas...impas" ucap Alvan.


"Alvan ganteng sini ku peluk" ucap Haura yang sudah dipenuhi tai sapi.


Alvan berlari. Haura mengejar hingga memeluknya.


"Rasain nih baukan" ucap Haura sambil memeluk erat Alvan.


"Haura bau banget" ucap Alvan.


"Kau harus lebih kotor dariku" ucap Haura menegaskan.


Alvan mengoles tai sapi dipipi Haura, dia terlihat tersenyum lebar saat mengoleskan tai sapi itu.


"Maskeran dulu ya Neng" ucap Alvan.


Haura membalas Alvan dengan hal yang sama.


Dia mengoles tai sapi dipipi Alvan.


"Masker alami ini bagus untuk kulit mukamu" ucap Haura.


Haura tak sengaja melihat ke mata Alvan. Dia merasakan sesuatu hal dihatinya.


"Aduh...jantungku berdebar" batin Haura.


"Hei kau jangan bengong, ayo ke sungai bersih-bersih badan" ucap Alvan.


"Apa?" tanya Haura yang belum paham ucapan Alvan.


Alvan langsung membopong Haura. Dia berlari sambil membopong Haura.


"Alvan pelan-pelan tar jatuh" ucap Haura.


"Takut ya" ucap Alvan..


Alvan sengaja berlari lebih cepat hingga sampai disungai. Dia menjatuhkan diri ke sungai bersama Haura.


Byuuuur.......


Tubuh Alvan dan Haura basah kuyup. Alvan membersihkan kotoran dibaju Haura dengan tangannya.


"Kotor banget gadis cerewet" ucap Alvan.


Haura memperhatikan Alvan yang membersihkan kotoran tai sapi dibajunya.


"Dia tampan dan menyenangkan" batin Haura.


"Alvan, Alina juga ada disini" ucap Haura.


"Alina ada disini?" tanya Alvan.


Haura mengangguk. Alvan langsung berhenti dan berjalan meninggalkan Haura.


"Aku mencari Alina dulu gadis cerewet" ucap Alvan yang berjalan meninggalkan Haura.


Haura hanya bisa melihat Alvan meninggalkannya. Dia merasa tidak sedih saat Alvan meninggalkannya.

__ADS_1


"Apa sih? kok aku jadi begini? Alvankan memang suka sama Alina" batin Haura.


__ADS_2