
"Anakku lah, anak siapa lagi," sahutku.
"Kau hamil di luar nikah?" tanya Axel.
"Mau tau ya, kepo?" tanyaku sambil tersenyum melihat wajah Axel penasaran. Dia tahu sebelumnya aku tak pernah terlihat hamil atau perutku buncit, agak aneh kalau tiba-tiba punya bayi, kecuali aku bertelur kaya ayam terus dipanasin, netes deh, baru teori yang masuk akal, tapi aku ini manusia berkembang biak dengan melahirkan atau vivipar.
"Gak, bukan urusanku." Axel langsung buang muka. Dia kesal aku tidak memberitahunya. Biarkan saja, toh siapa suruh tadi udah menghinaku terus.
Sepanjang perjalanan aku menunjuk ini itu, maklum belum pernah jalan-jalan. Melihat yang aneh dikit membuatku penasaran, namun Axel hanya diam menutup kedua telinganya dengan headset dan mendengarkan musik dari handphone-nya.
Sampai di rumah besar. Aku dan Axel turun dari mobil. Rumah itu bagus, luas dan megah. Baru kali ini aku melihat rumah sebesar itu, biasanya hanya melihat di televisi di warung atau di tetangga kosanku kalau nonton drakor rame-rame.
"Lemot ingat, jangan banyak tanya atau norak," ujar Axel.
"Gaklah, paling juga numpang makan, laper," ungkapku pada Axel dengan polosnya.
"Ku kira cuma lemot, ternyata pengemis juga," ujar Axel.
"Bukannya aku tamu? biasanya dikasih makankan?" tanyaku.
Axel tersenyum tipis, dia berpikir aku ini pede banget dan gak gampang sakit hati mau dihujat kaya apapun.
"Ayo masuk!" ajak Axel.
"Tunggu dulu bawaanku banyak," jawabku.
Aku sibuk membawa barang bawaanku tapi Axel terus berjalan ke depan meninggalkanku, dia masuk ke dalam rumah duluan, sedangkan aku menyusulnya dari belakang.
"Axel rumahmu besar gini, kira-kira aku boleh numpang jualan? pasti pembantumu banyakkan? siapa tahu mereka mau beli keripikku," celotehku yang terus bawel.
"Lemot kau bisa diam tidak?" tanya Axel.
"Aku hanya memikirkan peluang bisnis, maklum gara-gara harus belajar, aku belum sempat jualan lagi, keripikku masih sisa," ujarku.
Axel hanya diam berjalan masuk ke ruang makan. Di meja banyak makanan berjejer, perutku meronta minta makan, apalagi tuh makanan udah godain dari tadi.
"Axel kira-kira ini semua boleh ku makan?" tanyaku.
"Siapa bilang untukmu? kau nasi sama bawang goreng aja tuh," jawab Axel.
"Kaya tak menjamin dermawan, ternyata kayanya karena pelit," ledekku.
Axel tak memperdulikan ucapanku, dia duduk di kursi mengambil piring. Dia meletakkan lauk pauk di piring tanpa mengajakku makan.
"Axel laper, kok gak ditawarin?" tanyaku.
__ADS_1
"Kau lapar lemot?" tanya Axel.
"Gak, aku robot jadi dicas aja juga kenyang," sahutku.
Tiba-tiba datang seorang gadis cantik berseragam yang sama denganku. Dari logo seragamnya dia bukan dari SMA Kejora.
"Hai selamat siang." Gadis cantik itu menyapaku. Dia berdiri di sampingku.
"Hai juga," jawabku.
"Itu bayimu?" tanyanya melihatku menggedong Bobo.
"Iya bayiku," ujarku.
"Namaku Raina Humaira," ujar Raina.
"Aara Amelia, panggil saja Aara," balasku.
"Bolehkah aku menggendong bayimu?" tanya Raina.
"Ee ..., boleh," jawabku.
Aku memberikan Bobo pada Raina. Dia terlihat senang sekali menggendong Bobo. Cara dia menggendong dan memperlakukan Bobo sangat luwes, padahal baru bertemu tapi dia terlihat begitu menyukai Bobo.
"Iya, boleh," jawabku.
Raina membawa Bobo pergi ke kamarnya, sedangkan aku duduk di kursi makan bersama Axel. Jiwa kepoku meronta, ingin rasanya ku ulik dan selidik siapa gadis cantik tadi?
"Axel, Raina itu siapa?" tanyaku.
"Tadi aku sudah bilang jangan banyak tanyakan?" jawab Axel.
"Iya sih, tapi gak mungkin itu saudaramu atau mungkin pacarmu ya?" tanyaku semakin ingin tahu.
Braaag ...
Axel memukul meja dengan tangannya. Dia terlihat marah padaku.
"Tadi sudah ku bilang, jangan banyak tanya," pekik Axel.
"Oke-oke," jawabku takut juga. Kira-kira kalau Axel marah kaya film psikopat gak yah? aku dipotong berkeping-keping terus dibikin boneka atau dia jombie yang siap memakanku. Astaga pikiranku liar.
"Makanlah tadi kau lapar bukan!" perintah Axel.
"Sip-sip tahu aja aku laper," jawabku.
__ADS_1
Tak perlu memperpanjang kekepoanku, lebih baik makan, perutku udah miscall dari tadi, alhamdulilah untung banyak, lanjutkan.
"Lemot kau makan atau vacum cleaner, baru sebentar lihat apa yang sudah kau bersihkan?" ujar Axel melihatku makan.
"Enak, baru kali ini aku makan banyak dan gratis," sahutku.
Mumpung gratis ya hajar, lupakan diet toh tiap hari ikat perut biar gak laper. Ngapain diet-dietan, tiap hari kelaparan.
"Alhamdulillah, nikmat," ujarku.
"Kau makan atau merampok?" tanya Axel.
"Iya ya, abis semua, tapi tenang aku bisa cuci piring, nyapu atau ngepel sebagai gantinya," jawabku yang merasa bersalah telah menghabiskan semua makanan di atas meja makan.
"Ayo naik!" ajak Axel.
"Mau ngapain? jangan aneh-aneh ya, umurku lebih tua darimu dua tahun," ujarku.
"Bukannya kau ingin belajar denganku?" tanya Axel.
"Eh iya lupa," jawabku.
Aku mengikuti Axel naik ke lantai atas baru mau naik tangga, seorang ibu paruh baya turun dari tangga menatapku sinis, dia menghampiri kami.
"Axel siapa lagi yang kau bawa? sudah cukup satu gadis miskin di rumah ini, jangan tambah lagi," ujarnya.
"Mi, ini urusanku, bukan urusan Mami," jawab Axel.
Axel menarik tanganku naik ke lantai atas melewati Maminya, aku hanya bisa tersenyum pada Maminya yang menakutkan itu, untung pas lagi makan gak nongol kalau tidak gak jadi makan gratis aku.
Axel membawaku ke balkon di lantai atas, kebetulan di balkon itu ada taman bunganya, tempatnya teduh dan anginnya berhembus kencang jadi menyegarkan, berasa di puncak gunung.
"Lemot, diem sini, jangan ngerayap kemana-mana, gue ambil buku dulu," ujar Axel.
"Siap Pak guru!" jawabku.
Axel meninggalkanku masuk ke dalam rumah. Aku berdiri melihat pemandangan dari atas balkon, tiba-tiba ku dengar suara Bobo menangis.
"Uuueeek ... uuuueeek ... uuuueeek ...." Suara Bobo terdengar di telingaku.
"Bobo," ucapku.
Mendengar suara tangisan Bobo, hatiku tak nyaman. Segera aku masuk ke dalam rumah. Mencari ke beradaan Bobo. Ternyata Bobo sedang berada di kamar Raina, untung kamarnya tak di tutup rapat aku bisa melihat dari luar walau sedikit tapi ada pemandangan yang mengejutkanku.
"Raina men ...," ucapku yang masih berdiri di depan pintu melihat Raina yang menggendong Bobo.
__ADS_1